
Perlahan Faldi mendekat. Ia membuka jasnya dan melepas dasinya. Ia lalu duduk di ranjang disisi Bunga. Tangannya membelai wajah Bunga. Merasakan ada yang menyentuhnya, Bunga membuka matanya yang terasa sangat berat. Meski dalam pengaruh obat, Bunga masih bisa mengenali siapa yang ada di sisinya.
"Fal..di...." desah Bunga lirih.
"Iya.Ini aku!" jawab Faldi dengan suara serak karena menahan gairah yang mulai mendesak minta pelampiasan. Ia mulai membuka kancing kemejanya lalu melemparkannya ke sembarang arah. Ia mulai menghimpit tubuh Bunga dan menciumi wajah, leher dan bibir Bunga.
Bunga yang menyadari apa yanah akan diperbuat Faldi, tidak bisa menolaknya. Tubuhnya tidak bertenaga sama sekali. Jangan kan untuk mendorong tubuh Faldi, untuk membuka mata saja sangat berat.
"Faaaal!" teriakan Bunga yang lemah terdengar seperti desahan di telinga Faldi. Membuatnya semakin bersemangat.
Pengaruh obat membuat Faldi tidak sabaran. Ia menarik gaun Bunga ke atas. Tangannya mengelus paha Bunga.
Bunga melenguh. Air mata keluar. Ia ingin berteriak tapi tidak bisa. Obat yang ia minum membuatnya sangat pusing namun tidak sampai hilang kesadaran. Ia bisa merasakan semua apa yang Faldi lakukan.
"Jaaangaaan Faaall." rintih Bunga dengan suara lemah.
Faldi sudah melepas satu satunya kain tipis penutup bagian inti Bunga.
"Faall! Ku mohon jangan!"
Faldi yang susah memposisikan dirinya handak memasukkan tubuh Bunga, mengurungkan niatnya mendengar rintihan Bunga. Ia lalu melakukan hal lain untuk menyembuhkan dirinya dari efek obat. Hingga cairan hangat menyembur dan membasahi kedua paha Bunga.
__ADS_1
Dari tempatnya, Gerry melihat apa yang Faldi lakukan melalui ponselnya. Ya.. Gerry yang mengatur semuanya. Ia juga telah memasang kamera yang ia hubungkan dengan ponselnya.
Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku. Ke depannya, kamu harus berjuang sendiri. Selamat Akhirnya kau akan bisa mendapatkan tubuh dan hatinya. batin Gerry. Titik bening meluncur dari sudut matanya. Gerry segera menghapusnya.
"RI! Dimana Bunga?" tanya Kendra saat tidak melihat keberadaan Bunga.
"Tadi mbak Bunga pusing kak. Lalu aku antar ke kamar yang di sediakan oleh tuan rumah."
"Pusing? Bukankah tadi ia baik-baik saja." kata Kendra mulai merasa cemas. "Dimana kamarnya?"
"Mari ku antar kak." Riana membawa Kendra ke kamar Bunga. Ia kalau membuka kamar itu dan masuk.
Kendra dan Riana syok melihat pemandangan di depannya. Faldi tengah tidur memeluk Bunga. Tangannya memegang squishy Bunga. Tubuh atasnya tanpa pakaian sedangkan pakaian bawahnya sudah melorot sampai lutut.
Wajah Kendra memucat. Ia terhuyung hingga hampir jatuh
"Kak!" Riana menangkap tubuh Kendra. "Kak, jangan tertipu oleh apa yang kakak lihat. Belum tentu kenyataannya seperti apa yang kita lihat. Mbak Bunga sepertinya dalam pengaruh obat. Bisa saja ada yang sengaja menata posisi mereka seperti itu. Padahal tidak terjadi apa apa diantara mereka." Riana mencoba menenangkan Kendra.
"Kak. Kita bawa mbak Bunga keluar sebelum ada orang lain yang melihat. Kasihan Mbak Bunga."
Riana lalu melepaskan tangan Kendra. Ia berjalan ke arah Bunga. Riana melihat kalau Bunga sedang menangis.
__ADS_1
"Mbak! Mbak bunga sadar kan."
" Tolong!" rintih Bunga lirih. Kendra yang juga sudah mendekat ke Bunga bisa mendengar rintihan Bunga.
Riana merapikan pakaian Bunga. Ia menggeser tubuh dan tangan Faldi dari Bunga.
"Kak! Gendong mbak Bunga. Sekarang yang terpenting adalah membawa mbak Bunga keluar. Masalah lain dibicarakan saja nanti, kak." Riana membujuk Kendra yang masih diam mematung.
"Kak! Kalau ada orang yang lihat, harga diri kakak sebagai suami juga akan jatuh!" kata Riana lagi.
Kendra bergerak menggendong Bunga. Ia lalu membawa Bunga keluar dari kamar itu. Mereka membawa Bunga ke mobil.
"Kaka, kita bawa mbak Bunga ke dokter." ajak Riana.
"Aku akan membawanya pulang. Kau kembalilah. Bawa Zidan pulang bersamamu!"
Kendra lalu masuk ke mobilnya dan memacu kendaraan itu dengan kecepatan tinggi menuju rumahnya.
Sepanjang jalan Kendra merutuki kebodohannya sehingga bisa kecolongan dan akhirnya istrinya jadi korban.
Sesampainya di rumah, Kendra membopong tubuh Bunga ke kamar. Ia kemudian menelpon dokter kenalannya dan memintanya ke rumahnya.
__ADS_1
Dokter memeriksa kondisi Bunga lalu menjelaskan semuanya kepada Kendra.
...🌹🌹🌹🌹...