Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Talak Dua.


__ADS_3

Kendra meninggalkan hotel menuju tempat mobilnya berada. Di meninju pintu mobil itu saking kesalnya.


"Lisa!" Kendra teringat pada Lisa. Bagaimanapun Lisa tidak memiliki siapa siapa selain dirinya. Dan ia juga sudah berjanji pada orang tuanya untuk menjaga Lisa.


Kendra kembali ke hotel. Kali ini ia menuju kamar tempat Lisa berada. Saat akan berbelok ia melihat Tuan dan Nyonya Firmandana berjalan ke arah kamar Bunga. Kendra memutar. Kini ia menuju kamar Bunga.


Di kamarnya, Bunga menunggu untuk diminta turun ke tempat ijab qobul Ia ditemani Riana.


"RI. Kenapa perasaanku tidak enak ya?" tanya Bunga pada Riana.


"Mbak hanya gelisah saja. Tenang. Tidak akan terjadi apa-apa, mbak." Riana mengelus punggung Bunga menenangkan


Ponsel Riana bergetar. Telpon dari Martin. Riana mengangkatnya. Muka Riana memucat. Ia tampak terkejut.


"Ada apa Ri apa semua baik-baik saja?" tanaya Bunga.


Sebelum sempat Riana menjawab, pintu kamar Bunga diketuk dari luar. Riana beranjak membuka pintu.


"Paman Firmandana!" seru Riana. Bunga menoleh dan berdiri saat melihat Tuan dan Nyonya Firmandana datang ke. kamarnya.


"Duduk saja Bunga!" titah Tuan Firmandana. Bunga kembali duduk. Tuan dan Nyonya Firmandana masuk dan duduk. di kursi yang ada di kamar itu. Riana menutup pintu lalu duduk di sisi Bunga.


"Bunga! Apa kamu tahu kenapa papa meminta kalian menikah?" tanya Tuan Firmandana.


"Tahu, pa. Untuk membuat pernikahanmu lebih jelas dan berkah."


"Ya. Tapi ada tujuan kain juga." Kata Tuan Firmandana membuat Bunga mengernyitkan alisnya.


Saat itu Kendra tiba di depan kamar Bunga. Ia berdiri di depan pintu dan mulai mendengarkan percakapan yang terjadi di dalam. Riana memang tidak menutup pintu itu rapat-rapat. Tadi saat akan menutup pintu ia sempat melihat bayangan Kendra mendekat dari kaca yang ada di kamar depan kamar Bunga.


"Bunga! Kendra sudah meninggalkanmu selama lima tahun. Batas seorang suami meninggalkan istri tanpa kejelasan hanya tiga bulan kecuali ada udzur yang membuat dirinya tidak bisa memberi kabar pada keluarganya. Tapi Kendra nggak. Ia justru menyembunyikan dirinya dan memang berniat meninggalkanmu. Hubungan pernikahan kalian sudah berakhir saat ith."


Bunga menunduk.


Jadi selama sebulan ini kami telah melakukan hal yang tidak benar. batin Bunga penuh penyesalan.


"Bunga. Hari ini papa menikah kamu lagi. Tapi bukan sebagai istri Kendra. Melainkan istri Faldi."


Bunga terkejut. Ia mendongak.


"Tapi bagaimana bisa?" gumam Bunga.


"Bunga. Mama mohon. Terimalah Faldi. Mama tidak bisa melihat oenderitaannya lebih lama lagi." Nyonya Dea Firmandana memohon pada Bunga. Air matanya sudah penuh dengan genangan air mata.


"Saat kau masih bersama Kendra, Faldi berusaha keras menerima kenyataan itu. Mama tahh perjuangannya sangat berat. Tapi perlahan ia mampu mengatasinya. Sampai berita kematian Kendra datang. Harapan Faldi kembali mekar. Kebersamaan kalian selama lima tahun membuat cintanya kian dalam. Namun Faldi tetaplah Faldi dengan segala kebaikan hatinya. Ia berkata mendukungmu kembali pada Kendra. Dan ia memang melakukannya. Namun Faldi juga manusia biasa. Selama sebulan ini penderitaannya luar biasa, Bunga. Ia selalu melihat Zidan demi mengobati rindunya padamu. Ia melihat dirimu n pada diri Zidan." Nyonya Dea tidak kuat meneruskan ceritanya.


Bunga diam. Ia tahu luka yang dialami Faldi. Saat mereka bertemu terakhir seminggu sebelum pernikahan ini terjadi, ia sudah merasakan penderitaan Faldi.


Di luar pintu tangan Kendra terkepal gemetar. Kendra tersentak saat sebuah tangan menyentuh bahunya. Kendra menoleh dan melihat Lisa berdiri di belakangnya dengan mengenakan jin dan kaos, bukan kebaya untuk menikah.


"Lisa! Kenapa kamu tidak berpakaian pengantin?" tanya Kendra heran melihat Lisa yang datang dengan baju casualnya.


"Karena hari ini bukan hari pernikahanku, Paman." jawab Lisa. "Paman. Aku sudah melepaskan semuanya. Aku tahu om sama sekali nggak ada perasaan padaku. Ia terpaksa karena ingin melindungiku dari luka saat melihatmu bersama Bunga. Paman, selama satu bulan bersamanya, aku melihat betapa menderitanya om. Tapi ia tetap berusaha membahagiakan aku. Kini saatnya aku membalasnya. Aku merelakan dia menikahi Bunga. Paman. Bukankah masa lalu mereka selalu mengganggumu? Dan kamu menghilang selama lima tahun adalah untuk menyatukan mereka. Kini saatnya paman kembali meneruskan tujuan paman itu. Lepaskan Bunga untuk Om, Paman. Sudah penderitaannya. Kita kembali ke Jepang dan hidup seperti sebelumnya. Aku juga sudah memutuskan untuk mengambil S2 ku setelah ini. Aku akan ke Inggris."


Kendra tercengang mendengar penuturan Lisa. Bagaimana mungkin dalam waktu satu bulan, gadis yang biasanya manja itu bisa berubah dewasa.


"Kau benar. Ayo kita akhiri semuanya!" Kendra mengetuk pintu lalu membukanya.


"Mas!" desis Bunga begitu melihat Kendra masuk.


" Bunga, maafkan aku. Kebodohanku malah membawamu melakukan hal yang tidak benar. Aku tidak tahu apa aku masih punya hak mengatakan ini. Tapi untuk kejelasan hubungan kita, aku harus mengatakannya. Bunga, aku sudah meninggalkanmu dengan sengaja tanpa kabar dan tanpa memberi nafkah selama lima tahun. Seperti yang Tuan Firmandana katakan, hubungan pernikahan kita sudah berakhir. Meski begitu aku masih ingin mengucapkannya." Kendra menarik. nafas menguatkan hatinya, "Bunga, hari ini kucerai engkau dengan talak dua." Selesai berkata, Kendra berbalik dan keluar dari kamar Bunga. Lisa berlari mengejarnya.


Mata Bunga terbelalak tak percaya. Kini dirinya telah menjadi janda. Wajahnya pucat. Air mata mengalir deras.


"Ri! Apa ini bukan mimpi? Aku sudah menjanda lagi?" desis Bunga dengan suara bergetar. Riana memeluk Bunga sambil. menangis. Ia tidak tahu harus berkata apa untuk menenangkan Bunga.


"Bunga!" Nyonya Dea mendekat dan memeluknya juga.


Tuan Firmandana menghela nafas berat, "Istriku! Beri Bunga waktu untuk berpikir." setelah mengatakan hal itu, Tuan Firmandana keluar dari kamar Bunga.


Nyonya Dea mengecup kening Bunga, "Maafkan mama dan papa. Kelak jika Zidan sudah besar, kau akan mengerti alasan kami melakukannya. Mama pergi dulu ya! Riana, jangan kau tinggalkan Bunga!"

__ADS_1


"Iya tante." Riana mengangguk.


Nyonya Dea menyusul suaminya keluar dari kamar Bunga.


Bunga duduk mematung. Pandangannya kosong menatap ke depan. Bibirnya menyinggung senyum yang sangat menyedihkan.


"Riana! Apakah aku mempunyai kesalahan yang sangat besar hingga harus menerima hukuman seperti ini?"


"Mbak, jangan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin ini memang jalannya bagi kalian untuk bersama. Mungkin jalannya harus begini."


"Jadi kaupun ingin aku bersama Faldi."


Riana diam.


"Kenapa semua orang ingin aku bersama Faldi? Tidak tahukah mereka jasa mas Kendra padaku sangat besar. Aku berhutang banyak padanya."


"Jika mbak ingin bersama mas Kendra hanya untuk membayar hutang, maka mbak juga harus membayar hutang pada Faldi. Bukankah selama lima tahun ia selalu membantumu dan melindungimu mbak. Dan kemarin saat aku bilang Faldi bisa melupakan masa lalunya dan melupakan mbak, aku melihat ketidakrelaan di mata mbak. Mbak jangan bohongi dirimu lagi. Apa yang sebenarnya membuatmu enggan menerima Faldi?"


Bunga diam.


Pintu kamar diketuk, Faldi yang kali ini masuk ke kamar Bunga. Di tangan Faldi ada map. Faldi maju dan menaruh map itu di ranjang sebelah Bunga.


"Itu buku nikah kita. Semua aku serahkan pada mu, jika kau menerima pernikahan ini maka tanda tangani lah. Namun jika tidak maka hari ini juga aku akan menyudahinya. Keputusan di tanganmu." Faldi memutar tubuhnya hendakmkeluar.


"Tunggu!" seru Bunga, " Fal, kamu menginginkan kita bersama kan? Dan semua orang juga menginginkannya. Bahkan pria yang selama ini kuanggap suamiku telah menceraikanku demi agar kita bisa bersama. Jadi, kita akan bersama." Bunga membuka map, mengambil bolpoin yang ada di dalamnya dan menandatangani berkas pernikahan mereka. Setelah selesai ia menyerahkan semuanya pada Faldi. Tak ada senyum di wajahnya.


"Kita turun!" Faldi mengulurkan tangannya. Bunga menerimanya. Bergandengan mereka keluar dari kamar dan turun ke tempat ijab qobul.


Apa yang akan terjadi, terjadilah.Aku sudah tidak peduli. Mereka mau menghina dan mencercaku, silahkan. Aku wanita yang dicerai suaminya sebanyak dua kali. Dan menikahi tiga pria yang masih ada hubungan kerabat. Mereka akan mengataiku sebagai piala bergilir, silahkan. Aku sudah tidak peduli dengan nama baikku. Bahkan aku tidak peduli lagi dengan hidupku. batin Bunga.


Apa yang dikhawatirkan Bunga benar-benar terjadi. Saat dirinya turun dengan dibimbing Faldi, kasak kusuk tamu mulai terdengar. Faldi juga mendengarnya. Ia menggenggam erat tangan Bunga.


Percuma Fal. Genggaman tanganmu tak mampu menutup mulut mereka. Tak mampu menghalangi hatiku untuk tidak terluka.


Kini saatnya tamu yang sebagai anggota besar kerabat dan saudara dekat itu memberi ucapan selamat kepada kedua mempelai.


"Pengantin wanita nya memang sangat cantik. Pantas kalau jadi rebutan." seorang wanita memuji Bunga. Namun sebenarnya ada sindiran tajam dalam kalimatnya. Bunga tersenyum kaku.


Selesai akad nikah, Faldi membawa Bunga ke rumah kecil yang pernah ia hadiahkan pada Bunga dulu. Rumah yang selama lima tahun ditempati Bunga.


"Kita akan tinggal di sini." kata Faldi. Bunga diam. Ia langsung masuk ke kamarnya. Faldi membiarkan Bunga. Ia tidak menyusulnya. Ia malah masuk ke kamar satunya. Kamar yang selama ini dipakai Zidan.


Di kamarnya, Bunga membuka baju pengantin nya dan masuk ke kamar mandi. Ia membersihkan tubuhnya lalu mengganti bajunya dengan piyama tidur. Bunga merebahkan tubuhnya dan mencoba terlelap. Namun airmata terus mengalir.


Tidak. Aku tidak. boleh menangis lagi. Tapi kenapa aku merasa seperti barang yang dibuang lalu dipungut oleh orang lain. Sakit sekali. batin Bunga.


Faldi yang juga sudah selesai mebersihkan diri keluar dari kamar. Ia melihat pintu kamar Bunga masih tertutup.


Tok tok tok


"Bunga! Apa kamu sudah tidur. Makan dulu yuk! Kulihat tadi kamu belum makan siang."


Bunga diam mendengar panggilan Faldi.


"Bunga! Kamu mau makan apa? biar aku pesankan?"


Bunga masih bergeming di tempatnya.


"Bunga. Ingat Zidan. Jangan sampai kamu jatuh sakit karena nggak mau makan."


Mendengar nama Zidan disebut, Bunga bereaksi.


Astagfirullah. Aku lupa. Aku boleh tidak peduli hidupku tapi aku tidak boleh melupakan Zidan.


"Iya! Aku keluar!" jawab Bunga.


Faldi tersenyum. Zidan adalah kelemahan Bunga. Faldi lalu mengirim pesan kepada Martin agar mengantar Zidan ke rumahnya.


Bunga membuak pintu kamarnya. Ia keluar.


"Mau makan apa?" tanya Faldi lembut.

__ADS_1


"Seperti biasanya." jawab Bunga enggan. Ia lalu duduk di meja makan.


Faldi duduk di depannya. Ia memesan makanan via online. Selama menunggu makanan datang, keduanya tidak ada yang bicara. Faldi hanya menatap Bunga sedang Bunga menaruh kepalanya di atas meja. Tangan Faldi terukur untuk. mengelus rambut Bunga, namun berhenti ditengah jalan.


Aku harus sabar. Saat ini ia belum bisa menerima kenyataan ini, tapi lambat laun ia pasti menerimanya. Dia masih menyesuaikan diri dengan anggapan orang tentang dirinya.


Faldi bangkit saat mendengar suara bel. motor. Makan yang ia pesan tiba. Ia membawa dan menaruh makanan itu di meja makan.


"Kenapa banyak sekali?" tanya Bunga bingung.


Faldi tersenyum, "Zidan akan datang dan bukanlah saat gundah kamu sangat suka makan?"


Bunga menunduk malu. Itu kebiasaanya makan banyak saat hatinya gundah. Faldi memang sangat mengenalnya.


"Kenapa nggak di makan?" tanya Faldi saat Bunga membiarkan makanan tanpa menyentuhnya.


"Tunggu Zidan." jawab Bunga.


Mobil Martin berhenti di depan rumah Faldi. Faldi dan Bunga menyambutnya.


"Papaaa!" Zidan berlari dan memeluk Faldi. Bunga terkesima. Bahkan saat ada dirinya, Zidan memilih memeluk Faldi lebih dulu daripada dirinya.


"Mama nggak dipeluk nih?" tanya Bunga.


Zidan nyengir lalu memeluk Bunga.


"Fal! Aku langsung balik ya." kata Maryian sambil. melambaikan tangannya.


"Trima kasih Tin." balas Faldi.


Mereka bertiga lalu masuk.


"Zidan sudah makan? Kita makan bareng yuk!" ajak Bunga.


"Sama papa juga?" tanya Zidan


"Iya. Sama papa juga." jawab Bunga lirih. Mereka lalu makan bersama. Zidan nampak sangat gembira.


"Zidan senang bisa bersama papa dan mama. Zidan nggak mau kalau harus sama papa saja tapi nggak ada mama." celoteh Zidan sambil mengunyah makanannya. Faldi menelisik wajah Bunga melihat reaksinya menggali celotehan Zidan. Ia kecewa karena sepertinya Bunga sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Zidan


Ia masih sibuk dengan makannya.


Malam harinya, Bunga gelisah. Ia tidak bisa tidur karena khawatir Faldi akan masuk dan menuntut haknya.


Aku akan tidur dengan Zidan saja. batin Bunga.


Bunga bangun dan bergegas ke kamar Zidan. Ia diam di depan pintu kamar Zidan saat mendengar obrolan Zidan dan Faldi.


"Zidan sayang. Malam ini papa tidur dengamu ya?" suara Faldi terdengar.


"Papa nggak tidur sama mama seperti papa dan mamanya Marina?"


"Nggak. Papa tidur sama Zidan saja."


"Kenapa? Papa dan mamanya Marina tidur bareng."


"Itu karena mereka sudah terbiasa. Papa dan mama terbiasa tidur terpisah. Jadi papa tidurnya sama Zidan. Ok."


"Ok, Pa."


"Anak pintar. Yuk, kita tidur! Sudah malam. Besok biar bisa bangun pagi. Tapi jangan lupa berdoa dulu ya."


"Iya pa."


Bunga tidak mengira kalau Faldi akan memilih tidur dengan Zidan. Ia jadi malu karena mengira Faldi akan mendatanginya ke kamar. Bunga kembali. ke. kamarnya dan ia tidur dengan tenang.


...🌹🌹🌹...


**Pasti komentnya pada pedes nih... ih author ge er, siapa juga yang bakal. komen hahahaha... tapi apapun komentar readers author sangat suka. Itu tandanya readers terbawa alur cerita author dan bikin author tambah semangat. Maaf jika ada yang tidak sesuai dengan harapan readers...habis garis besar cerita author nih sesuai kisah nyata sih (meski bukan kisah nyatanya author sih) hanya dibuat sedikit berliku sesuai halusinasi author... jadi mau bagaimana lagi....


Terimakasih untuk setiap dukungan yang readers kasih ke author.... 🙏🙏🙏🙏🙏**

__ADS_1


__ADS_2