
Fakdi dan Bunga menikmati bukan madu mereka dengan bahagia. Mengunjungi tempat tempat indah di Milan.
"Kamu suka?" bisik Faldi saat mereka sedang menikmati pertunjukan boat di Milano Navigli. Bunga mengangguk.
"Mau coba naik?" tawar Faldi.
"Enggak ah. Takut aku kalau obatnya dikendarai seperti itu."
"Hahaha.. tenang saja. Aku akan bilang supaya tidak terlalu ekatrim. Ayo!" Faldi mengulurkan tangannya.
Bunga ragu sejenak, ia lalu menerima ukuran tangan Bunga. Faldi membimbing Bunga menaiki salah satu boat. Ia berbicara kepada pengemudinya. Pria itu mengangguk.
Faldi laku mengajak Bunga duduk. Saat boat mulai bergerak, Bunga mencengkeram kuat lengan Faldi.
"Jangan takut! Kau akan takjub dengan pemandangan yang bisa kau lihat nanti."
Benar apa yang Faldi katakan. Saat boat mulai melaju memecah sungai tengah kota Milan, Bunga dibuat ya Knud dengan pemandangan disekitarnya. Wajahnya berseri. Faldi tersenyum melihat istrinya bahagia.
Cup
Bunga kaget dan menoleh saat Faldi mengecup pipinya dengan tiba-tiba.
"Fall!" desis Bunga.
"Habis kamu cantik banget tadi. Aku nggak bisa menahannya." jawab Faldi dengan senyum menggoda.
"Ish. Bukankah biasanya aku juga cantik." Bunga berkata dengan pd nya.
gak di terkekeh. Diraihnya tubuh Bunga dan didekapnya dengan erat.
"ti amo." bisik Faldi lalu kembali mencium pipi Bunga.
"Fall, malu."
"Tenang saja. Mereka sudah biasa melihat penumpangnya bermesraan, bahkan lebih dari kita."
"Lebih dari kita, maksudnya?"
"Seperti ini." Faldi meraih dagu Bunga dan mendaratkan ciuman di bibir Bunga. Bunga kaget hingga ia tidak merespon ciuman Faldi. Namun itu hanya berlangsung sekejab, selanjutnya Bunga memejamkan mata menikmatinya.
Mereka sedikit terengah setelah berciuman cukup lama.
Faldi tersenyum sambil mengusap bibir Bunga. Bunga menunduk, mukanya memerah
"Hehehe kamu tuh lucu. Kita sudah sering melakukannya. Kenapa masih malu?" goda Faldi. "Ini rona malu, apa rona kepingin?" kembali Faldi menggoda Bunga.
"Kamu nyebelin!!" Bunga melengos.
Faldi tertawa. Ia lalu memerintahkan pengemudi boat agar menepi.
"Eh kita mau berhenti di sini? tidak kembali ke tempat awal?"
Faldi mengangguk. Ia lalu meloncat turun saat boat sudah mencapai tepi. Kemudian membantu Bunga menuruni boat.
__ADS_1
Faldi menggaseng Bunga menyusuri jalanan di tepi kanal. Langkahnya berhenti di depan sebuah penginapan kecil namun indah.
"Fak jangan bilang kita mau.. "
"Iya sayang. Ayo.. aku sudah nggak tahan." Faldi merengkuh bahu Bunga dan membawanya masuk ke penginapan itu.
"Wow.. pemandangan dari dalam kamar ini sangat indah." Bunga berdecak kagum sambil duduk di depan jendela kamar penginapan yang menghadap ke luar.
Faldi datang dan menutup tirai jendela.
"Fall... kau mengganggu saja. Aku se mmm." protes Bunga terhenti karena bibirnya sudah dibungkam oleh Faldi. Mereka kembali menikmati indahnya bulan madu untuk yang kesekian kali.
"Fallll." erang Bunga manja saat ia merasakan puncak pendakian. Faldi tersenyum. Ia lalu mendekap tubuh Bunga dengan erat saat bersamaan dengan tubuhnya yang bergetar.
"Fal, kapan kita pulang?" tanya Bunga sambil berbaring di lengan Faldi.
"Kamu maunya kapan?"
"Faall, jangan bercanda deh. Aku nanya beneran." Bunga mencubit dafa Faldi.
"Serius, kita akan pulang saat kamu menginginkananya."
"Kalau besok? Aku kangen Zidan, Fal. Dan lagi apa perkerjaanmu tidak apa apa ditinggal terlalu lama?"
"Baiklah. Besok kita pulang." Faldi mengecup pucuk kepala Bunga.
Keesokan harinya mereka sudah berada di bandara. Kali ini Bunga meminta agar mereka tidak usah naik jet pribadinya.
"Ayo!" Faldi mengajak Bunga check in. Mata Bunga memandang sekeliling bandara, mengaguminya. Ia aesikit tertegun saat matanya melihat sosok yang sangat ia kenal sedang merangkul mesra seorang wanita.
"Apa kau mau kita menyapanya?" tanya Faldi.
Bunga menggeleng. "Bukan waktu yang tepat. Kita tidak tahu siapa wanita itu. Jika ada hubungan diantara keduanya, biarkan berkembang dulu. Aku nggak mau kita merusaknya." kata Bunga. Faldi mengangguk setuju.
"Ayo kita masuk." Bunga menggandeng tangan Faldi.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Faldi saat mereka berada si boarding room.
"Nggak. Kenapa bertanya begitu?" tanya Bunga.
"Soalnya tadi ketemu.."
Bunga mencubit pipi Faldi gemas, "Aku nggak papa. Aku bahkan bersyukur jika ia sudah menemukan tambatan hatinya. Hanya saja aku agak heran, kukira ia akan bersama Lisa, ternyata bukan."
"Lisa terlalu muda dan ia juga keponakannya. Meski bukan anak dari saudara kandungnya. Bang Kendra pasti tidak akan memperistrinya."
"Kau begitu mengenalnya."
"Hem. Aku sangat mengenal Bang Kendra lebih baik dari abangku sendiri."
"Oh, ya. Apa kakakmu sudah punya anak?"
"Tumben menanyakannya."
__ADS_1
"Bukan apa, aku sekarang istrimu. Suatu saat pasti tidak dapat menghindari pertemuan dengannya. Jadi aku mencoba berdamai dengan masa laluku."
Faldi mengacak kepala Bunga.
"Dia belum punya anak, dan tidak akan bisa punya anak. Kata dokter sejak kecelakaan, organ dalamnya rusak."
"Kok bisa? Zidan?" tanya Bunga sedikit kaget.
"Dia keajaiban." Faldi tersenyum.
Obrolan mereka terjeda oleh panggilan untuk menuju ke pesawat
-
-
-
"Mama, papa!" Zidan berlari menyambut kedatangan Bunga dan Faldi.
"Sayang!" Bunga memeluk Zidan. "Mama kangen. Zidan nggak nakal kan?"
Zidan mengangguk. "Ma, mana?"
"Mana apa? Oleh-oleh?" tanya Bunga.
"Bukan. Adik zidan mana? Kata om Martin, mama dan papa pergi agar bisa buat adik dengan cepat. Sekarang mana adik Zidan?" tanya Zidan menatap Bunga penuh harap. Bunga memandang Martin dengan tajam. Martin mengangkat bahu lalu menunjuk Faldi. Memberitahu jika Faldi yang mempunyai ide agar bicara seperti itu pada Zidan. Yang ditunjuk pura pura memejamkan mata sambil rebahan di sofa.
"Mmm adiknya masih belum sempurna. Masih nunggu beberapa bukan baru jadi adik." kata Bunga mencoba menjawab dengan bahasa yang dipahami anak. kecil.
Zidan mengangguk. "Seperti ayam ya ma? Masih dalam telur ya adiknya. Nanti kalau sudah menetas, baru jadi adik. Kata guru Zidan begitu."
"Itu.. eh iya." akhirnya Bunga mengiyakan saja perkataan Zidan.
"Ok.. kalian pasti capek. Aku balik dulu." kata Martin.
"Makasih ya Tin. Salam buat Riana."
"Ok. Makasih juga oleh-olehnya." Martin melambaikan tangan lalu keluar.
"Zidan! Mau lihat oleh-oleh untuk Zidan nggak?"
"Mau, Ma!" jawab Zidan semangat.
"Yuk ke kamar Zidan. Kita bongkar oleh-oleh untuk Zidan."
"Horee..." Zidan berlari ke dalam kamarnya. Bunga menyeret koper yang berisi oleh-oleh. Ia melirik Faldi yang masih memejamkan mata.
Bunga mendekat, ia berbisik, "Tuan Faldi, bantuin bawa koper ke dalam donk! Atau semalaman nanti Tuan tetap tidur di sini!" kata Bunga dengan sedikit ancaman.
Faldi mengerjab. Ia membuka mata. Ditatapnya wajah Bunga yang sedang tersenyum.
"Baik nyonya. Tapi kasih energi dulu donk! Suamimu ini sedang lowbat." jawab Faldi langsung menarik Bunga dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
__ADS_1
"Ih dasar perhitungan. Nggak pernah mau rugi." omel Bunga sambil berlalu meninggalkan Faldi menuju kamar Zidan. Faldi hanya terkekeh.
...💕💕💕...