
Hari ketiga di rumah sakit kondisi Zidan masih belum menunjukan perubahan yang berarti. Tuan Firmandana sudah sangat tidak sabar. Ia bersikeras memindahkan Zidan ke rumah sakit yang lebih baik. Namun dokter melarang karena takut kondisi Zidan memburuk. Sedangkan Bunga, ia tak henti-hentinya berdoa sambil berlinangan air mata memohon keselamatan untuk Zidan.
"Jika dia dipindahkan masih dengan peralatan lengkap yang saat ini menempel di tubuhnya, apakah masih berbahaya juga?" tanya Tuan Firmandana pada pihak rumah sakit.
"Yang jadi masalah adalah goncangan selama perjalanan. Itu akan memperburuk keadaannya Tuan."
"Saya akan siapkan kendaraan khusus yang tahan goncangan, tugas kalian hanya memastikan bagaimana peralatan itu bisa dibawa. Saya tidak akan merugikan pihak rumah sakit. Saya akan ganti semua peralatan yang dipakai cucu saya, bahkan kalau perlu saya ganti yang lebih bagus!" Kesabaran Tuan Firmandana sudah di ambang batas melihat cucu satu satunya terbaring mengenaskan. Dokter itu diam.
"Dokter! Ini hasil lab pasien anak Zidan."
seorang perawat masuk sambil. menyerahkan map berisi hasil uji lab terhadap darah Zidan.
Dokter itu mengernyitkran alisnya. "Siapakan darah lagi. Ia masih harus menjalani transfusi lagi!"
"Tapi dok. Stok darah O di rumah sakit ini sudah kosong. Kami sudah menghubungi utd tapi mereka juga tidak memilikinya untuk saat ini."
"Cari di utd kota terdekat!"
"Sudah dok. Orang kita baru berangkat mengambilnya."
"Bagaimana bisa rumah sakit kehabisan stok darah!!!!" bentak Tuan Firmandana murka.
"Pa!" Faldi menenangkan papanya. "Kita keluar dulu ya!" Ia menggandeng papanya keluar dari ruang dokter menuju tempat Zidan dirawat.
Di depan ICU tempat Zidan dirawat, tampak Bunga yang duduk beralaskan tikar di lantai dengan kondisi yang juga menyedihkan. Kedua mata Bunga sudah bengkak kebanyakan menangis. Rambutnya kusut dan wajahnya pucat.
"Kau lihat! Jika terus begini, Bunga akan ambruk dan jatuh sakit." kata Tuan Firmandana. Mereka lalu mendekat ke Bunga.
"Bagaimana Tuan?!" tanya Bunga tidak sabar.
"Pihak rumah sakit masih keberatan melepas Zidan." Tuan Firmandana mengelus kepala Bunga, "Nak! Bisakah kamu jangan memanggilku tuan? Aku adalah kakek dari anakmu. Panggil aku papa!"
"Bunga! Dimana bang Kendra?"
"Dia keluar bersama Riana. Aku meminta mereka untuk mencari makan. Sejak menemaniku, mas Kendra tidak makan dengan baik." jawab Bunga.
"Lalu bagaimana denganmu? Apakah kamu makan dengan baik?" tanya Faldi.
Bunga tidak menjawab. Mana bisa ia makan dengan baik jika kondisi Zidan masih seperti itu.
"Fal! Papa pergi dulu sebentar. Kamu temani Bunga sampai Kendra datang. Papa ingin menghubungi dokter kenalan papa di Singapura untuk konsultasi tentang keadaan Zidan. Siapa tahu mereka ada solusi." Faldi mengangguk.
Setelah Tuan Firmandana pergi, Faldi duduk di sebelah Bunga. Melihat Bunga yang menyedihkan, Faldi tak kuasa menahan keinginannya untuk memeluk wanita yang masih ia cintai itu. Ia mengulurkan tangan dan menarik tubuh Bunga ke dalam pelukan nya, " Jangan terlalu khawatir. Yakinlah kalau Zidan akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat." bisik Faldi lembut namun mampu membuat Bunga kembali menangis sambil. membenamkan wajahnya di dada Faldi. "Menangislah kalau itu bisa membuatmu merasa lebih enak." Faldi mengusap kepala Bunga lalu mengecup pucuk kepala Bunga. Dengan ibu jaringan ia mengapus air mata Bunga.
Tanpa Faldi ketahui, dua pasang mata menyaksikan apa yang mereka lakukan dari kejauhan.
Kendra menggenggam erat tas plastik berisi makanan untuk Bunga. Rahangnya mengeras. Ia membalikan badan hendak. pergi.
"Kak!Mau kemana?" Riana mencekal tangan Kendra.
"Pergi. Aku tidak mau mengganggu mereka."
"Kak! Dia istrimu! Kedatanganmu tidak akan mengganggu. Lagipula kenyataannya belum tentu sama seperti yang kau pikirkan. Dalam pandangan kita mereka memang berpelukan, tapi mengapa mereka berpelukan apa kita tahu?"
Kendra menghela nafas. Apapun alasannya, sekarang aku bisa melihat bahwa ikatan cinta mereka masih ada.
"Kak jangan tertipu oleh pandangan mata jika telinga kita tidak mendengar apa-apa. Aku kenal mbak Riana dan bosku dengan baik. Pak Faldi bukan tipe orang yang memanfaatkan kesempatan. Dia orang yang selalu mengedepankan akal daripada perasaan." Riana menggeser cengkeraman nya dari pergelangan turun ke telapak tangan Kendra.
"Kita ke sana yuk!" perlahan menarik Kendra agar berjalan mengikutinya ke arah Bunga.
__ADS_1
"Mbak!" sapa Riana. Bunga dan Faldi langsung melepaskan diri.
"Oh. Kalian sudah datang?" gumam Bunga sambil mengeringkan air matanya. Mata Bunga sempat melihat Riana dan Kendra bergandengan sebelum mereka saling melepaskan pegangan masing masing.
Kendra mendekat dan duduk disisi Bunga yang lain.
"Makanlah! Aku belikan makanan kesukaanmu. Dari pagi kamu hanya makan sedikit. " Kendra menyerahkan bungkusan makanan kepada Bunga. Bunga menerimanya namun hanya ia pegang di atas pangkuannya. "Nanti aku makan." jawab Bunga lirih.
"Sayang. Makan sekarang ya! Apa. perlu mas suapin?" bujuk Kendra lembut sambil mengambil makanan yang ada di pangkuan Bunga.
"A!" Kendra menyodorkan sedok berisi nasi ke mulut Bunga.
"Mas... nanti Bunga makan!" Bunga menepis sendok itu pelan. Faldi yang melihat itu hilang kesabarannya. Ia mengambil sendok dari tangan Kendra.
"Makan!!" katanya tegas. Bunga tersentak.
Suara mengintimidasi ini? batin Bunga ingat kejadian waktu dulu.
"Makan atau kupaksa buka mulut!" Faldi memegang dagu Bunga dengan tangan kirinya. Wajahnya mendekat. Bunga, Riana dan Kendra menyangka kalau Faldi akan mencium Bunga. Padahal ia hanya menakuti Bunga.
"I.i.iya. Aku makan." Bunga membuka mulutnya dan memakan nasi yang disuapkan Faldi. Faldi tersenyum.
"Aku akan makan sendiri." Bunga mengambil sendok dari tangan Faldi dan mulai makan.
Kendra diam. Ia benar-benar merasa kalah.
"Keluarga anak Zidan?"
"Kami suster!" Bunga hendak bangkit namun dicegah sama Faldi dan Kendra bersamaan.
"Biar aku saja!" kata Kendra. "Iya suster?" Kendra mendatangi perawat yang tadi memanggil.
"Saya tanyakan keluarga istri saya dulu suster." Kendra kembali ke tempat Bunga.
"Perawat bertanya apakah ada dari keluargamu yang bergolongan darah O?"
Bunga menggeleng, "Aku B, kamu B juga kan Ri?" Riana mengangguk.
"Biar aku saja." jawab Faldi lagi.
"Fal, baru tiga hari lalu kamu mendonorkan darahmu." Bunga menghalangi.
"Nggak papa. Aku nggak akan mati kehabisan darah kan?"
"Tapi tetap saja beresiko Fal."
"Bunga, Zidan lebih penting. Percayalah, aku nggak papa."
"Tapi kamu belum makan. Setidaknya makanlah dulu. Ini.... !" Bunga ragu saat mau menyerahkan nasi yang tadi ia makan. Faldi tersenyum mengambil nasi dari tangan Bunga.
"Baiklah. Aku makan ini saja baru donor."
Tanpa rasa jijik, Faldi memakan nasi yang sudah dimakan separuh oleh Bunga. Ia tidak sadar jika apa yang ia lakukan menyakiti Kendra. Dalam fikiran Faldi bagaimana biar ia bisa cepat menolong Zidan.
"Mau kemana mas?" tanya Bunga saat melihat Kendra beranjak dari tempat duduknya.
"Aku..." Kendra berusaha mencari alasan. Pada saat itu Pak Amir datang.
"Assalamu'alaikum!"
__ADS_1
"Waalaikumsalam. Mari Pak Lik!" jawab Bunga dan Kendra.
"Bagaimana Zidan?" tanya Pak Amir.
"Masih seperti kemarin Pak Lik." jawab Bunga sedih.
"Semoga Zidan lekas membaik. Oh ya nak Kendra ada yang ingin bapak diskusikan mengenai usul nak Kendra kemarin. Maaf kalau waktunya tidak tepat!"
"Tidak kok Pak Lik. Silahkan!"
"Warga sudah setuju tentang pembangunan kandang pusat yang nak Kendra usulkan dan tanah yang sedianya buat membangun kandang juga sudah tersedia. Tinggal proses pembeliannya saja."
"Baiklah. Pak Lik saja yang mengurus pembeliannya. Saya yang menyediakan dananya. Nanti kalau sudah ada kesepakatan harga, Pak Lik infokan pada saya."
"Oh baik nak. Atas nama warga kampung, saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan nak Kendra. Semoga kebaikan nak Kendra ini dibalas cepat oleh Allah dengan disembuhkan nya Zidan. Aamiin."
"Aamiin!" Riana, Bunga, Faldi dan Kendra bersamaan mengaminkan ucapan Pak Amir.
Setelah menyelesaikan urusannya dengan Kendra, Pak Amir mohon diri.
"Kamu nggak ikut bapak pulang nduk?" tanya Pak Amir pada Riana.
"Saya disini dulu nggih Pak. Menemani mbak Bunga."
"Baiklah. Jagalah kakak dan keponakanmu dengan baik." Pak Amir mengusap kepala Riana.
"Kamu hebat bang!" puji Faldi.
"Bukan apa-apa. Aku hanya kasihan melihat warga yang sering jadi korban pencuri ternak."
"Idemu luar biasa. Menyatukan semua ternak warga dalam satu kandang, sehingga mudah mengawasinya."
"Kau bisa membaca ideku hanya dengan petunjuk kecil dari Pak Amir tadi. Sebenarnya kamulah yang hebat." Kendra balik memuji Faldi. Faldi hanya tersenyum.
"Baiklah. Sekarang aku akan menemui perawat dulu." Faldi beranjak meninggalkan yang lain.
"Fal! Kalau tidak bisa jangan dipaksakan." pesan Bunga. Faldi mengangguk lalu melangkah meninggalkan mereka bertiga.
"Dimana Faldi?" tanya Tuan Firmandana yang tiba dan tidak melihat Faldi.
"Dia ke ruang perawat untuk diambil darahnya lagi, pa." jawab Bunga. "Bagaimana jika Zidan masih membutuhkan darah lagi dan stok darah belum ada?"
"Jangan khawatir. Papa sudah mendapatkan stok darah untuk Zidan. Lagi dalam perjalanan ke sini."
"Syukurlah." mereka bertiga menghela nafas lega.
"Bunga, kamu bersiaplah. Teman papa sudah dalam perjalanan ke Indonesia. Jika dia sudah datang, kita akan membawa Zidan berobat ke Singapura. Dia dokter. Dia nanti yang akan merawat dan mengawasi Zidan selama perjalanan ke sana. Apa kamu bawa pasport?" Bunga menggeleng
"Di rumah kami Pa."
" Saya kan menyuruh orang untuk mengambilnya. Kendra kau hubungi pengurus rumahmu!" kata tuan Firmandana. "Kendra? Kamu akan ikut ke Singapura?" lanjut beliau
Kendra diam. Dia bimbang.
...🌹🌹🌹...
Makasih buat yang setia membaca dan memberi masukan pada novel ini 🙏🙏🙏
Kasih like dan vote ya....
__ADS_1