Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Aku Ingin Kehidupan yang Lebih Baik.


__ADS_3

"Ri apa kau bersedia membantuku?"


"Kalau Riana bisa, pasti Riana akan membantumu kak."


"Tapi agak beresiko. Begini aku mencurigai Gerry yang melakukannya. Jadi bisakah kau mengawasinya dan mencari bukti kalau ini perbuatannya?"


"Kalau menurut Riana, kenapa kak Kendra tidak langsung saja samperin Tuan Gerry dan menanyakan tentang apa yang terjadi?"


"Dia nggak akan mengaku Ri."


"Kalau kakak mendapatkan buktinya juga, terus apa yang akan kakak lakukan?"


"Aku akan membawanya pada tuan Firmandana. Aku yakin beliau bisa menghukum Gerry lebih buruk dari yang bisa aku lakukan. Aku hanya pengusaha biasa Ri, bukan konglomerat seperti mereka. Kekuatanku tak sebanding dengan Gerry."


"Aku akan berusaha kak."


"Terima kasih. Tapi hati hatilah!"


"Baik kak. Emm kak aku ngantuk. Aku kembali ke kamarku dulu."


"Iya." jawab Kendra. "Ri! Kapanpun kau ingin menikmati pemandangan dari balkon ini, kau bisa melakukannya."


Riana mengangguk sambil tersenyum.


Deg deg deg


Kendra berdebar melihat senyum Riana.


***


Pagi-pagi seperti biasa Riana sudah ask di dapur membuat teh hangat. Ia mendengar langkah kaki mendekat.


"Mbak kok sudah bangun? Apa sudah baikan?" tanya Riana tanpa melihat orang yang datang. Karena biasanya Bungalah yang pagi-pagi begini ke dapur untuk membuatkan koi bagi Kendra.


"Bunga masih di kamar. Tubuhnya mash lemah." kata Kendra.


"Oh, kak Kendra. Mau kopi?"


"Iya. Apa kau mau membuatkannya?"


Riana tersenyum. Ia lalu menakar kopi dan gula seperti yang biasa Bunga lakukan. Sebentar kemudian kopi Kendra sudah siap. Riana membawa kopi itu ke meja makan dimana Kendra sedang duduk.


"Silahkan" kata Riana sambil menyodorkan kopi ke arah Kendra.


"Terima kasih." Kendra menghirup aroma kopi sebelum meminumnya. Ia lalu meletakkan kembali cangkir kopinya ke atas meja.


Kendra memijat pelipisnya karena merasa pusing.


"Kak, kamu sakit?" tanya Riana.


"Nggak. Hanya pusing mungkin kurang tidur."


Kendra masih terus memijat peliisnya.


"Mmm...bisa Riana bantu?" kata Riana.


Kendra menatap wajah Rana. "Bantu pijat?" tanyannya.


Riana mengangguk.


"Memang kau bisa?"


"Ya bisalah. Ibu mengajariku cara memijat kepala saat pusing."


"Silahkan kalau kau tak keberatan."


Riana berdiri dan berjalan ke belakang kursi Kendra. Ia mula memijat pelipis Kendra kemudian berpindah ke tengkuk Kendra membuat Kendra menundukkan kepalanya. Riana kembali memijat pelipis lalu bagian tengah antara kedua mata dan bawah kelopak mata membuat Kendra sedikit menengadah. Kepala Kendra semat menyenggol dada Riana. Riana yang konsentrasi memijat tidak menyadari jika ujung kepala Kendra berada diantara dua harta kebarnya itu.


Kendra memejamkan matanya menikmati pijatan Riana dan juga kehangatan menyandarkan kepala di dada Riana.


"Bagaimana Kak?" kata Riana sambil kembali duduk di kursinya.


"Nkmat!" jawab Kendra sambil menatap Riana. Bola mata Kendra sedikit merah.


"NIkmat? Maksudku sakit kepalanya. Apa sudah mendingan?" tanya Riana yang heran dengan jawaban aneh Kendra.


"Eh iya. Sudah enakan. Bahkan sudah hilang. Terima kasih."

__ADS_1


Obrolan mereka berhenti saat pembantu rumah tangga Kendra tiba di dapur untuk membuat sarapan. Riana kembali ke kamarnya begitupula Kendra.


Kendra duduk di ranjang sambil melihat Bunga yang masih belum sadar.


"Jika aku tidak menikahimu, mungkin ini tidak akan terjadi dan hidupmu akan baik-baik saja. Nanti aku akan menemui Faldi. Aku akan bicara dengannya. JIka ia serius ngin menikahimu, aku akan mengalah," bisik Kendra lirih. "Aku ikhlas melepasmu." lanjutnya. Ia lalu mengecup kening Bunga yang masih terlelap belum sadarkan diri dari efek obat yang ia minum.


Kendra sudah rapi saat turun untuk sarapan. Di meja makan ia melihat Riana.


"Mbak Bunga masih belum sadar kak?"


"Iya. Oh iya bi. Nanti kalau nyonya sadar, bawa makanannya ke kamar saja." perintah Kendra pada pembantunya.


"Kak! Kakak akan meninggalkan mbak Bunga yang masih belum sadar?!"


"Aku ada janji Ri. Tidak bisa dicancel. Jadi terpaksa aku harus pergi."


"Baiklah kalau begitu Riana saja yang hari ini ijin tidak kerja. Riana akan menemani mbak Bunga." Riana lalu mengambil ponsel yang ada di sebelah nya dan mengetik pesan kepada atasan dan rekan kerjanya kalau ia ijin tidak masuk kerja.


"Makasih ya Ri. Aku nitip Bunga padamu."


Kendra lalu berangkat ke kantornya.


Riana menyiapkan sarapan untuk Bunga lalu membawanya ke atas ke kamar Bunga.


"Mbak! Boleh Riana masuk?" kata Riana di depan pintu kamar Bunga. Riana menunggu namun tidak ada jawaban.


Apa mbak Bunga masih belum sadar ya.


"Mbak!Boleh Riana masuk?" Riana menempelkan telinganya ke pintu. Sayul ia mendengar suara tangis dari dalam kamar. Riana merasa khawatir dan membuka pintu kamar Bunga.


Perlahan Riana masuk. Ia tidak melihat Bunga di atas ranjang. Riana masih mendengar suara tangis. Ia mencari sumber suara.


"Mbak! Mbak Bunga nggak apa-apa?" tanya Riana khawatir karena Bunga menangis di dalam kamar mandi.


Riana menunggu selama dua puluh menit tamunya Bunga tak juga keluar dari kamar mandi.


"Mbak!" Riana mencoba membuka pintu kamar mandi. Pintu tidak dikunci. Riana membukanya dan melihat Bunga duduk bersimpuh di bawah guyuran air shower sambil menangis.


"Mbak!" Riana mematikan kran shower. Ia lalu duduk di depan Riana.


"Aku sudah kotor Ri!Aku istri yang tidak bisa menjaga kehormatan ku. Aku kotor." racau Bunga sambil menangis


"Mbak aku bantu melepas bajumu yang basah ya!"


Bunga masih menangis. Riana melepas baju Bunga. Ia lalu membungkus tubuh Bunga dengan kimono handuk. Riana membantu Bunga berdiri dan memapahnya keluar dari kamar mandi.


"Mbak duduk di sini saja!" Riana mendudukan Bunga di sofa. Ia lalu mengambil sarapan yang tadi ia bawa.


"Makan dulu ya mbak."


"Aku tidak lapar Ri."


"Mbak Bunga harus makan. Mbak Bunga nggak mau sakit kan? Ingan Zidan mbak."


Kata-kata Riana membuat airmata Bunga semakin mengalir deras. Riana memeluk Bunga dan berusaha menenangkan Bunga.


"Mas Kendra pasti jijik melihatku Ri."


"Mbak. Kak Kendra menyadari kalau ini bukan salah mbak. Mbak Bunga kena pengaruh obat. Mbak tenanglah. Jangan berpikir yang macam-macam!"


Bunga sedikit tenang.


"Makan ya mbak!" Riana menyodorkan sesendok makanan ke mulut Bunga. Bunga membuka mulutnya menerima suapan Riana.


"Nah begitu."


Meski sedikit akhirnya Bunga makan juga. Setelah itu Riana memberikan obat yang ada di nakas kepada Bunga.


"Mbak istirahat ya! Apa mbak Bunga mau ganti baju dulu?"


"Iya. Tolong ambilkan bajuku di almari Ri!"


Riana mengambil baju Bunga di almari dan memberikannya kepada Bunga.


"Mbak mau dibantu?"


"Nggak papa Ri. Aku bisa sendiri."

__ADS_1


"Baiklah. Hari ini Riana nggak ngantor. Jadi kalau mbak Bunga butuh sesuatu, bisa telpon Riana saja. Ri ke kamar Ri dulu ya mbak!"


Bunga mengangguk. Riana keluar dari kamar Bunga sambil membawa sisa sarapan Bunga.


Hari ini Kendra sangat sibuk. Ia menemui beberapa klien yang semalam dijumpai di pesta pernikahan Gerry. Mereka menandatangi perjanjian kerjasama. Kendra tersenyum puas melihat pencapaiannya sehari ini.


Saking sibuknya Kendra melupakan kondisi Bunga. Menjelang makan siang, Faldi mendatangi Kendra ke kantornya.


"Bang ampuni aku. Aku khilaf!" Faldi tertunduk di hadapan Kendra. "Aku dalam pengaruh obat yang sangat kuat Bang. Tapi percayalah, aku tidak melakukan hal itu pada Bunga."


Kendra menatap tajam Faldi. Bayangan bagaimana ia menemukan mereka berdua di kamar berkelebat dalam benak Kendra. Dia ingin menghajar Faldi. Tapi ia sadar kalau Faldi juga korban.


"Mengapa kamu bisa ada di kamar itu. Bukankah kamar itu untuk tamu? Siapa yang mengarahkan kamu ke kamar dimana Bunga berada?"


"Kamar tamu? Itu kamarku bang! Tidak ada kamar untuk tamu. Kenapa kami harus menyediakan kamar untuk tamu? Aku justru bingung bagaimana Bunga bisa tergeletak di kamarku." Faldi menjelaskan.


"Fal! Apakah Gerry yang merencanakan semua ini?"


"Bang Gerry? Tidak mungkin bang. Bang Gerry sudah berjanji tidak akan mengganggu Bunga lagi."


"Fal, aku tidak punya musuh. Siapa yang berbuat begini dan apa untungnya bagi mereka. Hanya dua orang yang mungkin melakukannya. Kalau bukan dirimu, ya Gerry."


"Bang aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu." teriak Faldi tegas.


"Kalau begitu abangmu pasti yang melakukannya. Kau tanyakan padanya saja. Atau kau cari buktinya!"


Faldi diam mencerna ucapan Kendra. Ia lalu teringat Bunga.


"Bang. Bagaimana keadaannya?"


"Aku belum tahu. Saat aku berangkat ia masih dalam pengaruh obat. Mungkin sekarang sudah sadar."


Faldi diam. Wajahnya tampak sangat sedih. Kendra mengamati Faldi.


"Fal! Mati kita buat kesepakatan. Aku akan melepas Bunga. Bisakah kau berjanji untuk menjaganya dan menikahinya?"


"Bang!" Faldi kaget mendengar ucapan Kendra, "Bunga bukan barang yang bisa dioper kemana-mana." kata Faldi marah.


Kendra menghela nafas.


"Aku tahu itu. Tapi sepertinya tujuan dari peristiwa semalam adalah untuk membuat hubunganku dan Bunga renggang bahkan pisah. Sebelum kejadian semalam, beberapa kali ada orang mengiringi pesan ke Bunga mengatasnamakan dirimu. Aku sempat mempercayainya dan marah besar kepada Bunga yang aku pikir tidak setia. Tapi Bunga bisa meyakinkanku kalau itu bukan dirimu."


"Dia benar! Aku tidak pernah berbalas pesan dengannya, bang!"


"Jadi sekarang bagaimana? Apa kau akan menerima tawaranku. Aku dengar setelah lulus kamu akan balik ke Jakarta dan memimpin perusahaan papamu yang ada di sini sedangkan Gerry akan pindah ke Singapura. Ku rasa kau sudah bisa mengemban tanggung jawab sebagai suami dan juga ayah."


"Bang! Kau juga akan menyerahkan anakmu?"


"Dia bukan anakku. Dia anak Gerry." kata Kendra akhirnya membuka rahasia tentang Zidan. "Ia berhak atas keluarga Firmandana. Dan jika Bunga bersamamu, pasti tuan Firmandana juga sangat senang."


Jadi benar ia anak Bang Gerry. Dia keponakanku.


"Bang. Jika kau meninggalkan Bunga hanya demi aku, aku tidak akan menerimanya. Tapi kalau bang Kendra sudah menyerah dan tidak lagi mencintai Bunga. Aku akan dengan ikhlas menerima Bunga."


Faldi lalu keluar dari ruangan Kendra. Pria itu terduduk lemas di kursi.


Masalah ini sangat rumit. Satu-satunya menghentikan teror gila itu adalah dengan melepaskan Bunga dan menyatukannya dengan Faldi. Baru semuanya akan bahagia. Aku juga ingin hidup tenang. batin Kendra.


Kendra tersentak dari lamunannya saat ponselnya berdering. Ia melihat kalau Riana yang menghubungi nya. Senyum tipis tersinggung di bibir Kendra.


"Iya Ri?"


"Kak, mbak Bunga sudah sadar."


"Oh syukurlah. Makasih ya Ri. Kau sudah makan siang belum?" tanya Kendra.


"Belum kak. Ini mau makan siang sekalian siapkan makan siang Mbak Bunga."


"Baiklah. Makanlah jangan sampai telat. Nanti kau sakit lagi!" kata Kendra penuh perhatian.


'Iya kak. Aku tutup ya kak!" Riana lalu memutuskan sambungan.


*Salahkah aku jika aku ingin kehidupan yang lebih baik. kata Kendra dalam hati.


...🌹🌹🌹*...


Pasti banyak yang menghujat Kendra.

__ADS_1


Sabar ya Kendra.....


__ADS_2