Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Temuilah Faldi


__ADS_3

"Dokter! Bagaimana abang saya?" Faldi menatap khawatir saat dokter keluar dari ruang IGD.


"Pasien mengalami benturan di kepala. Kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Jadi mohon bersabar." Dokter itu hendak berlalu saat Kendra mengajukan pertanyaan.


"Apa kami bisa menemuinya?"


"Silahkan!"


Kendra dan Faldi bergegas masuk ke ruang IGD karena Gerry belum dipindahkan ke ruang perawatan. Ia masih akan diobservasi lebih lanjut.


"Bang!" Faldi memanggik Gerry berharap kakaknya itu sadar.


"Dia masih belum sadar. Apakah kecelakaan ya parah?"


"Mobilnya sih rusak berat, Bang. Saat aku menemukannya, dia hanya luka di kepala ini. Tapi tidak tahu bagian dalamnya." Faldi berusaha menjelaskan kejadiannya pada Kendra.


"Kenapa dia bisa mengemudi dengan ceroboh begitu. Itu seperti bukan Gerry yang selalu hati-hati." Kendra bergumam pelan namun mampu membuat Faldi menunduk karena rasa bersalah.


"Maaf, silahkan kalian keluar. Pasien akan dibawa untuk melakukan CT Scan," seorang perawat datang dan meminta Kendra serta Faldi keluar ruangan.


Faldi melangkah diikuti Kendra. Mereka kembali duduk di depan ruang IGD sambil terus memikirkan kondisi Gerry.


"Fal, kenapa kamu menguntit Gerry?" pertanyaan Kendra membuat Faldi ingat akan rencananya untuk menemukan Bunga.


"Aku ingin menemukan Bunga." jawaban singkat Faldi mengejutkan Kendra. Pria itu menyunghar kasar rambutnya.


Lagi lahir masalah Bunga. Sepertinya keputusanku kembali ke Jakarta adalah sebuah kesalahan.


"Terus kenapa malah membututi Gerry?" Rasa penasaran membuat Kendra kembali mengajukan pertanyaan.

__ADS_1


"Bang Gerry tahu di mana Bunga. Beberapa waktu yang lalu dia mengirimiku foto Bunga." Faldi mengambil ponselnya dan menunjukan foto Bunga yang ia terima dari Gerry.


Kendra terkejut melihat foto Bunga yang sedang berada di teras rumahnya.


Jadi dia sudah tahu keberadaan Bunga. batin Kendra gelisah.


"Fal. Bang Kendra mau ke kantor dulu ya. Kalau ada kabar terbaru, hubungi abang!"


"Baik, bang. Terima kasih, bang." Faldi memeluk Kendra sebelum pria itu meninggalkannya.


Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Kendra kalut.


Apakah akau harus mencari rumah baru dan pindah? Tapi sampai kapan kami harus bersembunyi. Hidup dalam persembunyian dengan rasa takut jika suatu saat ketahuan sungguh tidak nyaman.


"Arggh!! " Kendra mengerang frustasi.


Baiklah. Aku akan menghadapi semua. Jika harus jujur maka aku akan jujur. Aku akan bilang kepada Faldi jika Bunga sekarang adalah istriku.


"Sayang, mas kangen." Kendra mencium tengkuk Bunga hingga wanita itu menggelinjang kegelian.


"Baru juga keluar sebentar sudah bilang kangen. Kalau mau ngegombal jangan lebay ah mas," Bunga terkekeh gembira menerima sikap mesra dari Kendra.


"Sayang. Jika aku memintamu menemui Faldi, bagaimana?" Kendra merasakan tubuh yang dipeluknya tiba-tiba kaku.


"Untuk apa?!" Bunga berkata dengan gugup. Ia takut Kendra mendengar debaran jantungnya saat nama Faldi di sebut.


"Tadi mas ketemu Faldi. Dia masih sangat mengharapkan dirimu. Mas mau kamu yang menceritakan sendiri soal kita padanya. Mungkin ini terlalu kejam buat Faldi. Tapi dia harus menerima kenyataan bahwa Bunga adalah istri Kendra." Ucapan Kendra diakhiri dengan kecupan di ceruk leher Bunga.


Bunga tetap dia tidak merespon. Ia sibuk menata debaran jantungnya agar tidak diketahui Kendra. Bunga menata emosi agar bisa bersikap senormal mungkin. Bunga tidak bisa membohongi dirinya terutama hatinya kalau Faldi masih bertahta di sana. Faldi masih memberi pengaruh besar pada Bunga.

__ADS_1


"Aku tidak mau!" Bunga melepaskan diri dari pelukan Kendra dan melangkah menjauhi pria itu.


Langkah Bunga terhenti saat Kendra menahan tangannya.


"Sayang! Apa kamu rela Faldi mengorbankan masa mudanya sia-sia untuk menunggumu?"


"Kenapa dia menungguku?"


Kendra menarik Bunga hingga wanita itu mendekat ke arahnya. Kendra laku meningkatkan tangannya ke pinggang ramping Bunga.


"Aku tadi ngobrol dengannya di rumah sakit. Dia bilang kalau dirinya masih sangat mencintaimu dan akan terus menunggumu sampai kapanpun. Dia juga bilang kalau ada wanita yang harus berbagi hidup dengannya, maka wanita itu adalah kamu. Sayang. Sekarang kamu istriku. Mau sampai kapan dia menunggu? Karena sampai kapanpun aku tidak akan melepaskanmu. Kecuali kalau aku mati lebih dulu."


Bunga ngeri mendengar perkataan terkahir Kendra. Dia berjinjit dan mengecup bibir Kendra, "Aku tidak akan pergi darimu mas. Apapun yang terjadi."


"Jadi, maukah kamu menemui Faldi?"


"Aku akan memikirkannya meski sebenarnya aku enggan. Karena menurutku, dia mau menunggu atau tidak itu sudah bukan menjadi urusanku lagi," Bunga mengucapkan kata-kata yang justru menyakiti dirinya sendiri. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Dia tidak bisa memutar waktu kembali. Kendra yang sudah sangat baik, tidak mungkin ia lukai.


"Baiklah. Kalau kamu berubah pikiran bilang sama mas. Nanti mas antar ke rumah sakit."


*Maafkan keegoisanku sayang. Aku ingin kamu sendiri yang memupuskan harapan Faldi. Aku juga ingin melihat apakah kamu sudah mampu melupakannya dan menerimaku di hatimu. Maafkan aku sayang.


...🌹🌹🌹*...


Hai readers tersayaaaaang....


Untuk visual sebenarnya author pernah up ya tapi dapat teguran dari mangaatoon hehehe


Jadi kalau mau tahu visualnya bisa kepoin ig ku ajah... nih ig ku drohyati.

__ADS_1


Nggak perlu folow tapi syukur syukur kalau follow sih...


Jangan lupa jejaknya ya... love you all.


__ADS_2