
Bunga kembali membujuk Kendra pada malam berikutnya.
"Mas, aku nggak usah ikut ke pesta perkawinannya Gerry ya!" ucap Bunga.
"Sayang! Apa kata tuan Firmandana kalau kau tidak datang?Nanti dikira keluarga kita tidak harmonis."
"Entahlah mas. Aku ragu untuk berangkat. Perasaanku tidak enak."
"Aku tahu. Itu karena kamu akan menghadiri nikahan mantan suamimu. Meski kau tidak mencintai dirinya, tapi kau masih merasa terganggu dengan gunjingan orang yang mungkin nanti akan muncul kan? Tenanglah! Ada mas yang menemanimu.", Kendra berusaha menenangkan Bunga.
"Bukan itu mas. Entahlah. Rasanya sulit dijelaskan. Ada rasa was-was dan takut juga. Aku merasa kalau hal buruk akan menimpaku." jawab Bunga dengan lesu.
Kendra membelai rambut Bunga lembut. "Masih seminggu lagi. Mudah-mudahan perasaanmu membaik sebelum hari H. karena tadi tuan Firmandana mewanti-wanti agar kita datang. Beliau ingin mengenalkan Zidan pada keluarga besarnya."
"Mas. Kamu bilang Gerry tidak tahu kalau Zidan adalah anaknya. Apa dengan mengenalkan Zidan ke keluarga besar Firmandana tidak akan membuat dia curiga?" kata Bunga khawatir.
"Kalaupun dia tahu, sudah tidak masalah. Kamu sudah menjadi milikku. Kalau dulu aku takut dia akan mengambilmu saat tahu kamu mengandung anaknya."
"Tapi Zidan?Dia bisa mengambil Zidan dariku mas!"
"Jangan berpikir terlalu jauh. Sebentar lagi dia akan menikah dan pasti juga akan punya anak. Dia nggak akan mengambil Zidan. Tuan Firmandana juga sudah berjanji selamanya hak asuh Zidan ada padamu. Sudahlah, mas sudah ngantuk. Kita tidur yuk!" Kendra lalu meraih Bunga dan membawanya ke dalam pelukan. Sekejab kemudian nafas teratur Kendra terdengar pertanda pria itu telah lelap.
Perlahan Bunga melepaskan diri dari pelukan Kendra. Ia beringsut menjauh. Bunga lalu mengambil ponsel. Ia menghubungi ibunya. Bunga menceritakan semua yang telah ia alami sambil menangis memohon maaf pada ibunya.
"Maafkan Bunga Bu. Bunga nggak minta restu ibu saat menikah dengan mas Kendra."
"Ibu mengerti. Bawalah keluargamu pulang. Ibu ingin melihat cucu ibu."
"Iya Bu.!
Cukup lama mereka mengobrol hingga akhirnya Bunga menyudahinya. Ia lalu kembali ke samping Kendra dan tidur.
Keesokan harinya, Kendra mengajak Bunga keluar.
"Mau kemana sih mas?!"
"ikut saja. Nanti juga akan tahu."
Mobil yang membawa Kendra dan Bunga berhenti di sebuah butik.
"Mas untuk apa ke sini?"
"Mas mau kamu memilih baju yang bagus. Butik ini terkenal dengan desain ya yang bagus dan istimewanya lagu hanya ada satu tiap baju. Jadi nggak akan ada yang menyamainya. Ayo masuk!"
"Selamat sore, pak!Bu! Silahkan!" sapa karyawan di butik itu.
Bunga masuk dan melihat-lihat koleksi gaun di butik itu. Gaunnya memang sangat bagus. Desainnya unik dan jahitannya halus.
"Hai, Ken!" suara perempuan yang baru saja keluar dari dalam butik menyapa Kendra.
"Hai Jen."
Mereka bersalaman bahkan saling cium pipi. Bunga terpaku melihat pemandangan itu.
"Mas Kendra." desisnya lirih.
Kendra masih asik berbincang dengan wanita itu.
Bunga mendekat. "Mas!"
"Oh. Jen. Kenalkan. Ini Bunga, istriku!" Kendra mengenalkan Bunga pada wanita yang bernama Jeny.
"Hai! Aku Jeny. Teman kuliah Kendra."
"Oh iya Jen. Apa ada koleksimu yang cocok untuk istriku. Aku ingin ia tampil anggun dan elegan saat menghadiri pesta pernikahan Gerry. Tapi jangan yang terbuka ya! Aku tidak suka."
__ADS_1
"Emmm ternyata seorang Kendra bisa juga bersikap posesif. Ku pikir kamu hanya mencintai dirimu sendiri. Siapa sangka sekarang malah sudah menikah." kata Jeny yang terdengar sangat mengenal Kendra. "Kalian tunggu di sini. Aku akan mengambilkan koleksi terbaruku. Baru selesai jahit. Jadi belum ada pelanggan ku yang pernah lihat."
Jeny masuk dan kembali dengan sebuah gaun di tangannya.
"Cobalah!" Jeny menyerahkan gaun itu kepada Bunga. Bunga melihat ke arah Kendra, pria itu mengangguk. Bunga lalu pergi ke kamar ganti. Ia mencoba baju itu.
"Bagaimana!" Kata Bunga saat keluar dari kamar ganti.
Kendra terpesona. Gaun itu memang tertutup, namun karena bahannya yang lentur sehingga pas melekat di tubuh Bunga. Membentuk lekuk tubuh Bunga.
"Sempurna! Sepertinya gaun ini sudah menemukan pemiliknya." decak Jeny kagum. "Tubuhmu bagus!" pujinya pada Bunga.
"Tapi aku tidak suka. Nanti akan banyak mata yang menikmati lekuk tubuh istriku." kata Kendra sambil terus menatap Bunga.
Kenapa ia begitu mempesona memakai gaun itu. Seolah aku baru pertama melihat tubuhnya yang indah. Padahal aku sudah sering melihatnya tanpa memakai apa-apa. Tapi sekarang, aku benar benar melihat keindahannya.
"Iya. Aku juga tidak nyaman. Ini terlalu ketat menurutku." kata Bunga.
"Ken! Jangan terlalu pelit. Tubuh istrimu sangat bagus. Jika banyak yang tahu itu, kau harus bangga. Karena kaulah pemiliknya. Pokoknya kamu pakai gaun ini. Sekalian promosiin butikku nanti. Gaun ini gratis. Hadiah pernikahan dariku." kata Jeny. "Oh ya. Nanti pas acaranya, kau bawa istrimu kemari. Aku akan meriasnya. Akan ku buat dialah ratu di pernikahan Gerry."
Bunga lalu kembali ke kamar ganti. Beberapa saat kemudian ia keluar dan menyerahkan gaun tadi kepada Jeny.
"Baiklah Jen. Kami permisi dulu." Kendra dan Bunga berpamitan. 🌹
Seminggu kemudian, Kendra membawa Bunga ke butik Jeny sesuai perjanjian mereka.
Jeny meriah Bunga agar ia siap ke pesta pernikahan Gerry.
"Kau lihatlah istrimu. Dia cantik bukan?"
Kendra menatap takjub wajah Bunga. Selama menikah, ia belum pernah melihat Bunga dandan secantik ini.
"Melihatmu secantik ini, aku jadi ingin memakanmu!" bisik Kendra ditelinga Bunga. Bunga menjawab dengan cubitan mesra di perut Kendra. Kendra menangkap tangan Bunga dan memegangnya.
"Ehem.Jangan dikira aku nggak dengar obrolan mesum kalian." kata Jeny gerah mendengar bisikan bisikan Kendra. Kendra hanya tersenyum mendengarnya.
"Yuk berangkat!" Kendra menggandeng tangan Bunga dan menuntunnya ke mobil.
"Kita jemput Zidan dan Riana dulu mas!"
"Iya."
Di hotel tempat resepsi pernikahan Gerry
Bunga berjalan sambil menggandeng Kendra. Sedangkan Zidan digendong oleh baby siternya. Riana juga bersama dengan mereka. Banyak mata yang menatap kagum pada Bunga. Terutama tamu pria.
"Cucu oma." sambu Ny Dea saat melihat Zidan. Ia langsung mencium balita lucu itu.
"Nikmati saja pestanya. Zidan biar sama mama!" Ny. Dea lalu mengajak baby siter yang sedang menggendong Zidan.
"Kamu sama Riana ya. Mas mau menyapa rekan rekan mas dulu. Siapa tahu nanti malah dapat investor." kata Kendra lantas meninggalkan Bunga.
Bunga mengangguk.
"Mbak!Aku tinggal sebentar ke temanku yang di sana itu ya! "
"RI, jangan tinggalin aku sendiri!"
"Sebentar saja mbak. Nanti Riana kembali."
Riana meninggalkan Bunga. Bunga bingung karena sekarang ia sendirian. Ia melangkah ketempat yang agak sepi agar tidak menghalangi orang yang lalu lalang hendak menikmati hidangan.
Seorang pria berjalan mendekat ke Bunga
__ADS_1
"Bunga!" tegur Faldi.
Bunga menoleh dan melihat Faldi sudah berdiri menatapnya.
"Kau cantik sekali." puji Faldi.
"Terima kasih!" jawab Bunga sambil menunduk. Malam itu Faldi mengenakan tuxedo hitam. Membuatnya terlihat lebih dewasa dan sangat tampan. Kendra mengamati istrinya itu dari jauh. Ia ingin mendekat ke Bunga, tapi urung karena rekan yang ia temui di pesta Gerry menawarinya kerjasama.
"Suamimu mana?" tanya Faldi sekedar untuk memecah keheningan.
"Dia di sana." Bunga menunjuk ke arah Kendra yang melambaikan tangan ke arahnya.
"Minuman nyonya, tuan." seorang pelayanan datang lalu menawarkan minuman kepada Faldi dan Bunga.
Bunga mengambil segelas begitupun Faldi. Bunga langsung meneguk minuman itu untuk menghilangkan kegugupannya karena bertemu Faldi.
Faldi juga ikut meminumnya
"Mbak!" Riana datang. "Tuan!" ia mengangguk pada Faldi.
"Baiklah. Nikmati pestanya. Aku pergi dulu." Faldi meninggalkan mereka berdua.
"Huf!" Bunga menghembuskan nafas lega.
"Kenapa, mbak?" tanya Riana.
"Nggak papa!" kata Bunga. Namun sebentar kemudian Bunga merasakan kepalanya pening. Bunga memegangi kepalanya.
"Mbak.Kenapa?" tanya Riana.
"Aku tidak tahu Ri, kepalaku sakit!" Bunga memegangi kepalanya. Ia terhuyung.
"Mbak!" Riana memegangi Bunga. Seorang pelayan datang, "Nyonya ini kenapa mbak?"
"Dia pusing."
"Oh, bawa ke kamar saja mbak. Tuan rumah menyediakan kamar kok kalau kalau ada tamu yang memerlukan. Mari saya antar!"
"Kita istirahat di kamar ya mbak!"
Bunga mengangguk. Ia sudah tidak kuat menahan pusing di kepalanya. Sesampainya di kamar, Riana membantu Bunga berbaring. Ia melepas ikatan rambut Bunga dan sepatunya.
"Mbak sebaiknya kita tinggalkan nyonya ini istirahat." kata si pelayan. Riana mengangguk.
Ia lalu meninggalkan kamar Bunga.
Di tempat lain di saat yang sama, Faldi merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasakan panas yang sangat. Panas yang nggak biasa. Panas karena gairahnya yang menuntut minta pelampiasan. Ia gelisah. Mukanya sudah sangat merah.
Faldi mendekat ke Gerry. "Bang! Aku balik ke kamar dulu. Sepertinya ada yang tidak beres dengan tubuhku."
"Iya. Nikmatilah waktumu!" kata Gerry sambil menepuk pundak Faldi. Faldi sedikit heran dengan ucapan abangnya
Tapi pikirannya sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Ia ingin merendam tubuhnya si bathup agar rasa panas itu segera hilang.
Dengan agak sempoyongan karena menahan gairah, Faldi melangkah ke kamarnya. Ia membuka pintu lalu menutupnya lagi. Faldi melangkah masuk.
Langkah Faldi terhenti. Matanya menatap tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Bunga sedang terbaring di atas ranjang.
Perlahan Faldi mendekat. Ia membuka jasnya dan melepas dasinya. Ia lalu duduk di ranjang disisi Bunga. Tangannya membelai wajah Bunga. Merasakan ada yang menyentuhnya, Bunga membuka matanya yang terasa sangat berat. Meski dalam pengaruh obat, Bunga masih bisa mengenali siapa yang ada di sisinya.
"Fal..di...." desah Bunga lirih.
💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥💥
__ADS_1