
Bunga gelisah. Berkali-kali ia keluar masuk menunggu kedatangan Faldi.
Tidak biasanya ia pulang telat. Tanpa kabar lagi.
Bunga mencoba menghubungi Faldi tapi nonya tidak aktif.
"Maaa." rengek Zidan.
"Zidan kok belum tidur?" Bunga mendekat dan membimbing Zidan untuk duduk.
"Zidan nggak bisa tidur. Papa dimana ma?"
Bunga lupa kalau Zidan terbiasa tidur dengan Faldi.
"Papa belum pulang sayang. Ayo mama temani bobok ya."
"Nggak ma. Kata papa, Zidan dah dewasa, nggak boleh bobok sama mama lagi." tolak Zidan.
Eh apa maksudnya Faldi ngomong begitu?
"Apa Zidan berani bobok sendiri?"
"Berani, tapi Zidan hanya ingin tahu papa dimana? Kenapa papa belum pulang." jawab Zidan.
"Mungkin papa masih sibuk. Ya sudah Zidan bobok saja ya, sudah malam. Nanti kalau papa datang, papa pasti ke kamar Zidan kok." Zidan mengangguk. Ia lalu mencium pipi Bunga dan pergi ke kamarnya.
Bunga kembali melirik ke arah jam dinding.
Sudah lewat waktu makan malam. Ada apa sebenarnya? Apa dia marah karena kejadian tadi pagi? Tapi kan bukan mauku juga seperti itu.
Bunga merebahkan tubuhnya di sofa. Tak lama kemudian, ia mendengar suara mobil memasuki halaman rumahnya. Bunga bangkit dan mengintip dari balik jendela. Ia melihat Faldi keluar dari mobil dengan wajah kusut. Bunga bergegas kembali ke sofa saat Faldi mulai naik ke teras
Bunga menatap ke arah pintu menunggu suaminya masuk.
Faldi masuk dengan wajah kusut, tapi begitu ia melihat Bunga, ia memasang senyum termanisnya.
"Kau belum tidur Nyonya Faldi?" Faldi. mendekat lalu memeluk Bunga.
"Aku menunggu suamiku pulang." jawab Bunga membuat Faldi tersenyum. "Kenapa pulang terlambat? Tidak biasanya. Apa perusahaan baik-baik saja?"
Faldi mempererat pelukannya.
"Banyak kerjaan. Jadi butuh waktu untuk menyelesaikannya." jawab Faldi. Ia melepas rengkuhannya dari tubuh Bunga. Ditatap nya wajah cantik istrinya itu dengan penuh kasih. "Aku kangen." bisiknya.
Bunga mencubit pinggang Faldi. "Jangan ngegombal."
"Aku nggak nggombal. Beneran kangen. Meski baru ketemu, aku selalu kangen Bunga." Kata Faldi sendu. Entah karena perasaannya saja atau memang kenyataan, Bunga merasa kalau Faldi agak berbeda. Ia seperti tertekan.
"Mandilah. Aku akan siapkan air." kata Bunga lalu menuju ke kamar Zidan.
"Bunga! Kenapa kamu ke kamar Zidan?"
"Bukankah kamu biasa mandi di kamar Zidan?" jawab Bunga.
"Itu dulu. Mulai malam ini aku akan tidur dan mandi di kamar kita." Faldi masuk ke kamar Bunga.
__ADS_1
Kamar kita? Maksudnya kami akan sekamar.
"Bungaa!" teriak Faldi memanggil Bunga yang masih termenung di luar kamar.
"Iya. Aku datang." Bunga masuk.
Di dalam kamar Faldi sedang membuka kemejanya.
"Aw, maaf!" pekik Bunga lalu sambil menutup matanya. Faldi tersenyum. Ia mendekati Bunga dan meniup tangan Bunga.
"Huff! Aku suamimu kenapa. kau menutup matamu?"
Bunga sadar bahwa pria dihadapannya ini sudah sah sebagai suaminya meski begitu ia masih belum terbiasa dengan pandangan barusan.
Faldi memegang tangan Bunga dan menariknya hingga lepas dari wajahnya. Ia terkikik saat melihat mata Bunga terpejam.
Cup
Faldi memberi kecupan di bibir Bunga. Spontan mata Bunga membola karena kaget.
"Kau?!!" Dipukul nya dada Faldi.
"Hahaha." Faldi menangkap kedua tangan Bunga dan ia mendaratkan sebuah ciuman lagi di bibir Bunga.
"Fal!"
"Kenapa? Suka ya? Sini aku kasih lagi." Faldi hendak merengkuh tubuh Bunga namun wanita itu sudah berlari ke kamar mandi.
"Fal airnya sudah siap. Aw!!" Bunga langsung memutar tubuhnya. Ia kaget saat keluar kamar dan melihat Faldi sedang membuka celana panjangnya.
"Hobby banget menjerit. Simpan jeritanmu nyonya Faldi. Seminggu lagi aku akan membuatmu terus terusan menjerit." bisik Faldi sambil memeluk Bunga dari belakang.
"Fal.. airnya keburu dingin." ucap Bunga lirih.
"Hmmm." gumam Faldi. Ia mencium pipi Bunga sambil menelan salivanya.
"Aku mandi dulu. Oh ya.. tolong siapakan makan malam ya. Aku belum makan." Faldi beranjak masuk ke kamar mandi.
Semalam ini belum makan malam. Sebenarnya apa yang ia kerjakan.
Bunga pergi ke dapur untuk menghangatkan makan malam bagi Faldi. Setelah selesai, ia menunggu Faldi. Cukup lama Bunga menunggu tapi Faldi tak juga keluar . Akhirnya Bunga kembali ke kamarnya.
"Fal!" panggil Bunga saat tak melihat Faldi di dalam kamar.
"Fal!" Bunga mengetuk pintu kamar mandi. "Fal!" sekali lagi Bunga memanggil.
"Ya! Sebentar lagi aku selesai." sahut Faldi.
"Lama sekali mandinya. Makanannya jadi dingin lagi tuh. Apa saja sih yang kamu lakukan di dalam sana?"
"Menurutmu?" Tanya Faldi sesaat setelah membuka pintu kamar mandi. Ia hanya memakai handuk untuk menunutupi bagian bawah tubuhnya.
Muka Bunga memerah. Ia memutar tubuhnya, "Aku tunggu di ruang makan." Setengah berlari Bunga keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Faldi makan dengan lahap.
"Fal, sesibuk apapun jangan sampai lupa makan. Uang bisa dicari tapi kalau kamu sakit?"
"Kamu mengkhaaatirkan aku Nyonya Faldi?"
"Aku istrimu, jelas aku mengkhawatirkan kesehatanmu."
"Kamu nggak. perlu khawatir. Aku baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja." jawab Faldi.
Bunga mengernyitkan keningnya. Ia merasa jawaban Faldi sedikit aneh.
"Fak. Aku tahu seorang suami tidak mau istrinya khawatir sehingga mereka suka menyembunyikan masalahnya. Tapi aku tidak mau diperlakukan seperti itu. Aku nggak mah suamiku hanya berbagi kebahagiaannya denganku. Aku mau kalau suamiku juga membagi bebannya karena itu tandanya ia menganggap aku ada." Bunga menjeda ucapan. "Fal, apa ada masalah dengan perusahaan?"
Faldi menyelesaikan. makan malamnya lalu membersihkan mulutnya dengan tisu. Bunga menyodorkan segelas air putih untuk ia minum.
"Aku bukan tidak menganggap keberadaanmu sayank. Kau benar, aku tidak mau kami khawatir. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja." Faldi membelai pipi Bunga. Ia kemudian berjalan ke arah sofa dan duduk di sana sambil melihat siaran bisnis.
Bunga duduk di sebelah nya, "Sebenarnya ada apa dengan perusahaan, Fal? Apa kau tidak mengijinkan aku tahu?"
Faldi mematikan TV. Ia lalu memutar tubuhnya dan merebahkannya di sofa. Kakinya ia angkat ke atas paha Bunga. Kakai satunya berada di belakang tubuh Bunga. Faldi menarik Bunga hingga wanita itu bersandar di dadanya.
"Aku akan cerita jika aku sudah siap. Jadi jangan tanya lagi ya! " kata Faldi lembut. "Sekarang kamu saja yang cerita seharian ini kamu ngapain saja?" Faldi membelai rambut Bunga.
"Aku.. tidak banyak yang aku lakukan. Pagi aku masak,. lalu mengantar Zidan sekolah, terus ke dokter kandungan. Pulang dari dokter kandungan aku... " Bunga tidak meneruskan ceritanya. Ia ingat kejadian tadi pagi saat dirinya dan Faldi hampir saja melakukannya.
"Kenapa berhenti. Apa yang terjadi sepulang dari dokter?" goda Faldi. Tangannya masih membelai rambut Bunga.
"Fal sudah deh. Kamu juga tahu apa yang terjadi." Bunga cemberut sambil tangannya bergerak membuat gambar abstrak di dada Faldi.
"Hahaha. Baiklah. Teruskan! Setalah aku ke kantor, kamu ngapain saja?"
"Mmm aku bersihin rumah lalu olahraga ringan."
"Olahraga apa?Senam?" tanya Faldi. Ia suka mendengar cerita keseharian Bunga. Sedikit banyak bisa membuat perhatiannya akan masalah kantor teralihkan.
"Iya. Senam kegel." Bunga langsung menutup mulutnya setelah menjawab karena ia keceplosan.
"Senam kegel ya... apakah kamu melakukannya untukku?"
^^^Tuh kan. Ih ni mulut pake keceplosan lagi. Kan jadi malu. batin Bunga. ^^^
"Kenapa diam? Kamu melakukannya untukku kan?
" Bukan. Untuk tetangga." jawab Bunga dengan kesalnya.
"Hahaha... tetangga yang mana? Biar ku kebiri tuh tetangga karena berani menggoda istriku." Faldi terkekeh merasa lucu dengan jawaban Bunga. Tangannya mengelus punggung Bunga. "Lakukanlah secara rutin. Seminggu lagi aku akan mengecek hasilnya." bisik Faldi sambil. tertawa lirih. Bunga memukul lembut dada Faldi, bibirnya menyunggingkan senyum.
Kau benar Fal. Aku melakukannya untukmu, hanya untukmu.
Mereka memejamkan mata sambil berpelukan di atas sofa.
...💕💕💕...
__ADS_1
**Aduh kalau tidur dengan posisi begitu apa nggak sakit pinggang nanti Bunga ya....
Jangan lupa tinggalin jejak ya**...