
Kendra tiba di rumahnya saat hari menjelang malam. Ia melihat istrinya di kamar sedang memberi asi pada Zidan
"Mas, sudah pulang. Maaf aku tidak menyambutmu karena masih menyusui Zidan," kata Bunga tanpa mengalihkan pandangannya dari Zidan.
Kendra menaruh tasnya. Ia kemudian mengambil baju ganti dan langsung ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Kendra memperhatikan wajahnya yang lebam.
"Apa yang harus aku katakan saat Bunga bertanya tentang lebam ini. Haruskah aku jujur. Tapi jika jujur, dia pasti akan khawatir," batin Kendra.
"Kurang ajar Gerry. Dia membuat wajahku jadi begini," gumam Kendra. Ia mendesis saat tangannya menyentuh sudut bibirnya. Namun sekejab kemudian, Kendra tersenyum.
"Tapi wajah Gerry jauh lebih parah dari wajahku. Puas rasanya bisa menghajarnya. Hal yang sejak dulu ingin aku lakukan," gumam Kendra.
Tok tok tok
"Mas! Kamu baik-baik saja? Kenapa lama sekali di dalam?" kata Bunga dari depan pintu kamar mandi
"Iya sayang. Aku nggak papa," jawab Kendra lalu memutar kran shower.
Kendra membiarkan air shower mengguyur badannya.
Bunga sedang menidurkan Zidan di keranjangnya saat Kendra keluar dari kamar mandi.
Melihat Zidan sudah tidur, Kendra mematikan lampu utama kamar. Ia tidak ingin Bunga melihat lebam nya.
"Kok sudah dimatiin, Mas Kendra mau tidur? Sudah makan malam, Mas?" tanya Bunga mendekat ke Kendra yang sudah membaringkan tubuhnya.
"Sudah. Kamu sudah makan?"
"Iya. Sudah," jawab Bunga, "bagaimana meeting nya tadi, apakah lancar?"
"Meeting dengan perusahaan Gerry? Lancar."
__ADS_1
"Dia tidak mempersulitmu kan, Mas?"
Kendra diam. Ia ingat perkataan Gerry jika Bunga masih menyimpan rasa untuk Faldi.
"Sayang! Boleh nggak mas bertanya?"
Bunga mengangguk.
"Tapi jawabnya harus jujur ya!"
"Iya mas! Aku akan jujur."
"Jika suatu saat Faldi datang dan memintamu kembali padanya. Apa yang akan kamu lakukan?"
Bunga kaget mendengar pertanyaan Kendra. Ia diam sambil memandang Kendra.
"Mas, kenapa bertanya begitu? Mas Kendra meragukan perasaan Bunga?"
"Bukan begitu, sayang. Aku tahu dia cinta pertamamu dan pertemuan kita juga disebabkan olehnya. Mas hanya ingin tahu posisi mas di hatimu."
"Ini jawabanku," kata Bunga setelah melepaskan bibir Kendra, "kamu suamiku dan aku istrimu. Aku tidak peduli dengan yang lain. Sekalipun Faldi datang, aku tetap akan bersamamu. Aku mencintaimu mas. Memang kamu bukan yang pertama. Tapi aku ingin bersamamu sampai akhir. Jadi tolong jangan ragukan aku, itu membuatku mmmm."
Kata-kata Bunga terputus karena bibirnya dibungkam oleh bibir Kendra. Kendra menekan tubuh Bunga. Tangannya mulai liar menyusuri setiap inci tubuh Bunga.
Malam itu Kendra menepis keraguannya atas perasaan Bunga pada dirinya.
...***...
"Mas, bangun! Sudah subuh," kata Bunga sambil mengguncang tubuh Kendra. Ia lalu menyalakan lampu.
Cahaya yang tiba tiba terang mengagetkan Kendra. Ia menggeliat dan bangun.
"Mas! Sudah subuh."
__ADS_1
Bunga kembali mendekat ke arah Kendra.
"Mas! Bibirmu kenapa?" tanya Bunga saat melihat sudut bibir Kendra lebam.
"Ini! Kan kamu gigit tadi malam," goda Kendra.
"Mas! Jangan bercanda. Aku serius. Kenapa? Mas berkelahi ya? Dengan Gerry?" berondong Bunga. Ia lalu mengelus lebam di sudut bibir Kendra.
"Sakit mas?" tanya Bunga khawatir.
Kendra menggenggam tangan Bunga.
"Nggak! Kamu nggak usah khawatir. Ini cara lelaki untuk melepaskan kangen jika lama tidak bertemu." jawab Kendra menenangkan Bunga.
Bunga memberengut.
"Mas pikir Bunga bodoh. Kalian pasti berkelahi bukan untuk melepas kangen. Beraninya Gerry menghajar suamiku. Aku pasti akan menuntut balas."
Kendra tersenyum mendengar ucapan Bunga.
"Nggak perlu sayang. Aku sudah menghajarnya juga."
"Benar?!"
"Kau meragukan kemampuanku sayang?!"
"Nggak mas. Aku yakin mas Kendra mampu. Tapi aku juga tahu, dia dulu atasanmu. Aku hanya takut kamu masih segan untuk membalasnya."
"Tenanglah. Itu tidak akan terjadi," kata Kendra lalu bangkit menuju kamar mandi.
...🌹🌹🌹...
**Ayo donk 😍😍😍😍😍
__ADS_1
Banyakin like dan votenya. Juga komennya** 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏