
Faldi membuka pintu mansion. Ia tersenyum saat Bunga menyambutnya di ruang depan. Bunga mengambil tangan Faldi dan menciumnya. Ia juga mengambil tas kerja yang sedang Faldi tenteng
"Manisnya Nyonya Faldi." puji Faldi sambil memeluk istrinya, "Malam ini minta nafkah berapa banyak?" bisik Faldi di telinganya Bunga membuat wajah Bunga memerah.
Bunga mencubit dada Faldi.
"Eh, sudah mulai menggoda ya?!" Faldi mendekatkan wajahnya hendak mencium Bunga.
Dengan cepat Bunga menahan wajah Faldi dengan tangannya. "Mandi dulu Tuan, bau acem tuh badan." kilah Bunga sambil tersenyum.
"Mana acem? Nggak tuh. Masih wangi." jawab Faldi sambil mengendus kedua ketiaknya.
"Mandilah! Seharian kerja pasti berkeringat kan. Aku siapkan makan malam. Zidan juga belum makan. Ia menunggumu. Pengen makan bareng katanya." Bunga melepaskan pelukan Faldi dan melangkah ke dapur.
Faldi meninggalkan ruang depan. Ia menuju kamar Zidan. "Hai jagoan. Papa boleh masuk?"
Zidan menoleh. Wajahnya ceria melihat kedatangan Faldi. "Papa nggak lembur lagi?"
"Nggak nak. Papa nggak lembur. Kerjaan papa sudah selesai." jawab Faldi lalu duduk di sebelah Zidan. "Bagaimana sekolahmu?"
"Baik pa. Mama yang temani Zidan belajar."
Faldi mengusap kepala Zidan.
"Zidan!" panggil Bunga sambil membuka pintu kamar Zidan, "Papa masih disini?belum mandi juga?"
Faldi memandang Bunga, "Tanganku sakit. Aku nggak bisa mandi sendiri. " canda Faldi.
"Oh.. minta mama mandiin papa saja. Kalau Zidan sakit kan mama. yang mandiin Zidan." kata Zidan polos.
Faldi tersenyum senang. Bunga melengos jengah.
"Kalau begitu Zidan tunggu ya. Biar mama mandiin papa dulu. Nanti kita makan bareng."
Zidan mengangguk lalu meneruskan bermain dengan gadgetnya. Faldi berdiri dan keluar dari kamar Zidan sambil menarik tangan Bunga.
"Fal." Bunga berusaha melepaskan tangannya. Ia melangkah hendak keluar dari kamar. Faldi kembali menariknya dan memeluknya.
"Mau kemana?"
"Menyiapkan makan malam."
"Bukankah sudah selesai?Kamu ke kamar Zidan untuk memanggilnya dan mengajak makan malam kan?" Faldi membenamkan wajahnya di ceruk leher Bunga dan mulai memberi gigitan kecil di sana.
"Fal... "desah Bunga. "Mandilah dulu. Kasihan Zidan kalau harus menunggu lama."
"Kalau begitu mandiin!" Faldi lalu memutar tubuh Bunga hingga menghadapnya. Ia mengangkat dan menggendongnya menuju kamar mandi.
Faldi menurunkan Bunga di dalam kamar mandi. Ia. lalu mengunci pintu dan mulai melepaskan pakaiannya. Faldi menyalakan shower dan segera mengguyur tubuhnya. Ia menarik Bunga hingga berdua mereka diguyur air dari shower.
__ADS_1
"Kau membuatku basah." gerutu Bunga. Faldi terkekeh. Tangannya sudah bergerak melepas pakaian Bunga.
"Pake baju basah bisa masuk angin." kata Faldi meledek Bunga. Bunga cemberut.
"Kamu yang membuat aku masuk angin." omel Bunga.
"Nggak sayang. Aku nggak akan membiarkan angin memasukimu. Melainkan aku yang akan memasukimu." bisik Faldi sambil menggigit telinga Bunga.
Bunga melenguh manja membuat hasrat Faldi kian berkobar. Faldi mematikan air shower dan mulai melakukan aktivitasnya memberi nafkah pertama pada Bunga.
"Kamu tega. Membiarkan Zidan menahan lapar." omel Bunga saat kegiatan mereka selesai.
Faldi tersenyum tanpa rasa bersalah. "Jangan salahkan aku. Zidan yang memintaku untuk kau mandikan."
"Ah, dia masih polos. Pikirnya aku memandikanmu sama seperti aku memandikannya. Dia mana tahu bahayanya memandikan papanya." Bunga memberengut sambil mulai menyabuni tubuhnya.
"Bahayanya nikmat ya nyonya?!" goda Faldi.
"Tau ah." Bunga membungkus tubuhnya dengan handuk dan meninggalkan Faldi di dalam kamar mandi. Meski mengomel kesal tapi bibirnya menyunggingkan senyum .
Saat Bunga keluar, ia melihat Zidan sedang duduk di meja makan sambil. menikmati makan malamnya. Melihat Bunga datang Zidan langsung minta maaf karena makan lebih dulu.
"Maaf, Ma! Zidan lapar. Mama mandiin papa lama. Jadi Zidan makan duku." kata Zidan memelas. Bunga mengusap kepalanya.
"Nggak papa sayang. Mama nggak marah. Maafin kami ya!" jawab Bunga.
Ia lalu mengambil piring.
"Fal!" hardik Bunga. Matanya mendelik ke arah Faldi namun Faldi cuek. Ia justru semakin menggerakkan tangannya dengan liar membuat Bunga bergetar. Bunga sesekali memejamkan matanya. Ia tidak bisa konsentrasi dengan makanannya.
"Mama kenapa? Sakit?" tanya Zidan yang melihat mata Bunga merem melek karena permainan Faldi di bawah sana. Zidan tidak bisa melihat karena tertutup. meja.
"Eng.. enggak say.. yang.. ma. ma tidak apa-apa.. ah!" Bunga menutup mulutnya saat tanpa sengaja mendesah.
Zidan menatap mamanya dengan bingung sedangkan Faldi masih asik makan.
"Zidan sudah selesai. Mau balik ke kamar dulu. Malam ma, pa!" Zidan berdiri membawa piringnya ke dapur dan mencucinya. Ia lalu mendekati Faldi dan memberi ciuman selamat malam. Kemuadian beralih ke Bunga. Dengan berlari kecil ia meninggalkan mama dan papanya.
"Basah ya!" bisik Faldi meledek Bunga. Muka Bunga merah.
"Kau mmm!" Bunga hendak mengomel tapi bibirnya sudah dibungkam Faldi. Faldi menyecap bibir Bunga. Ia ******* dan menggigitnya. Ciumannya lembut menuntut.
"Ma! Pa! kalian ngapain?!" tanya Zidan yang tiba-tiba kembali ke ruang makan.
Faldi langsung melepaskan bibir Bunga.
"Oh.. ini tadi mama susah bernafas karena tersedak. Papa hanya membantu mama bernafas." jawab Faldi mencari alasan.
Zidan mendekati Bunga. Ia melihat bibir Bunga agak bengkak karena hisapan dan gigitan Faldi.
__ADS_1
"Apa bibir mama sakit?" Zidan meraba bibir Bunga.
"Enggak sayang. Mama nggak papa. Zidan kenapa kembali ke sini?"
"Zidan haus. Tadi belum sempat minum. " jawab Zidan. Ia lalu mengambil air minum dan menegaknya.
"Sekarang Zidan dah minum. Zidan kembali ke kamar lagi. Mama habisin makannya. Pelan -pelan biar tidak tersedak lagi. Nanti kalau tersedak, lagi, minta papa bantu kayak tadi. Da mama." Zidan berlari pergi.
Faldi tertawa. Bunga memukul lengannya berulang ulang karena kesal.
"Sudah habisin makannya!" titah Faldi sambil menangkap tangan Bunga yang memukuli lengannya. "Kita lanjutin yang tadi di kamar saja." Faldi menaikkan alisnya.
Bunga jengah. Ia segera menghabiskan makannya.
"Sudah di cuci besok saja." Faldi mencekal tangan Bunga saat Bunga ingin membereskan bekas makan malam mereka. Ia lalu menarik Bunga ke arah kamar mereka.
Faldi mengunci pintu lalu membawa Bunga ke ranjang
"Nyonya Faldi, terimalah nafkah dari suamimu ini. Malam ini suamimu akan menafkahimu sampai kamu puas. Faldi lalu menindih Bunga dan menciumnya. Seperti janjinya, ia memberi nafkah berlebihan hingga Bunga lemas tak bertenaga. Bunga sedikit menyesal. karena menggoda Faldi. Padahal niatnya agar Faldi tidak lembur. Suaminya itu memang pulang tidak lembur di kantor, tapi justru dirinya yang di lembur sekarang.
"Faaaal aku sudah tidak kuat." bisik Bunga setelah mereka melakukannya sebanyak enam kali tanpa henti.
"Kamu diam saja. Biar aku yang bekerja." Faldi masih dengan semangat memacu Bunga hingga akhirnya keduanya rebah bersamaan.
"Fal, sudah ya." pinta Bunga memelas memohon kepada Faldi.
Faldi terkekeh, "Istirahatlah." katanya.
"Tapi sudahkan?"
Faldi. mengecup kening Bunga, "Ya.. untuk malam ini cukup. Kita lanjut besok pagi saja."
"Apa?!" Bunga tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia baru sadar jika nafsu Faldi sangat besar.
"Sebagai suami yang baik, aku kan harus cukup memberikan nafkah padamu. Biar kamu nggak kekurangan dan mengirim pesan butuh dinafkahi lagi." ledek Faldi.
"Cukup. Cukup. Kamu memberi nafkah lebih dari cukup. Aku nggak akan mengirim pesan seperti itu lagi." kata Bunga benar-benar menyesal.
Faldi tertawa. " Baguslah kalau kamu merasa cukup. Sayangnya jatahku yang kurang."
"Apa?!?"
"Hahahaha!" Faldi tergelak. Ia lalu memeluk Bunga dengan erat. "Tidur lah. Jangan sia-siakan waktumu. Sekarang sudah pukul dua dini hari. Hanya ada waktu tiga jam kurang buat tidur. Atau kamu mau lagi?"
"Enggaaakk!!! Aku mau tidur." Bunga segera memejamkan matanya mencoba terlelap.
Faldi tersenyum. Ia mengecup kepala Bunga.
...💕💕...
__ADS_1
Semoga menghibur
Jangan lupa jejaknya.