Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Bawa Dia Pulang


__ADS_3

Keesokan harinya, Gerry mengajak Bunga menjenguk orang taunya di kampung. Ajakan Gerry itu tentu saja disambut gembira oleh Bunga.


"Bang! Terimakasih ya. Abang tahu saja kalau aku rindunya mereka."


Gerry tidak membalas. Ia hanya membelai kepala Bunga.


Aku tidak tahu Bunga. Setelah ini kau akan tetap berterima kasih apa akan mengutukku. Maafkan aku. Aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilangan dirimu.


"Bang, kenapa diam? "


"Aku hanya ingin menikmati wajahmu, apa tidak boleh? "


Bunga menunduk. Mukanya merah. Bunga kadang merasa melu, ia yang usianya lebih tua malah bertingkah sebaliknya. Sedangkan Gerry bisa menjadi sangat dewasa dibanding umurnya yang sebenarnya. Begitu yang dipikirkan Bunga.


Mereka sampai di rumah Bunga. Rumah Bunga tampak sibuk, tidak seperti biasanya. Bunga sedikit heran.


Saat melihat mobil memasuki halaman rumah, Melati, adik Bunga berlari menyongsong kedatangan kakaknya.


"Ayo, kak. Kakak sudah ditunggu perias."


"Perias? Kenapa perias menungguku? " Bunga bingung.

__ADS_1


Sopir mengambilkan kursi roda Gerry dan membantu Gerry keluar dari mobil dan duduk di kursi rodanya.


"Bang?! " Bunga memandang Gerry penuh tanda tanya.


"Tolong tinggalkan kami! " perintah Gerry kepada sopir dan adik Bunga.


"Bunga, aku mengajakmu kesini karena aku ingin menikahimu sekarang juga! "


"Bang, tanggal pernikahan kita sudah ditetapkan oleh orang tua kita. Kenapa abang terburu-buru? "


"Kau ingat kejadian kemarin lusa saat aku lepas kontrol? Bunga aku ingin kau sah menjadi istriku. Kita nikah secara agama dulu. Untuk sah sesuai hukum negara kita urus saat kita sampai di kota.


Bunga diam. Ia bisa memahami apa yang dikhawatirkan Gerry. Mereka sering bersama. Wajar jika Gerry khawatir akan lepas kontrol lagi. Sebenarnya Bunga mempunyai kekhawatiran yang sama. Ia sangat terlena jika Gerry sudah menyentuhnya. Tubuhnya selalu menginginkan lebih dari sekedar ciuman.


Gerry tersenyum. "Masuklah. Dan biarkan mereka meriasmu. Aku ingin lihat pengantinku yang cantik."


Bunga masuk meninggalkan Gerry. Gerry memanggil sopirnya dan minta dibantu masuk ke rumah Bunga.


Satu jam kemudian penghulu datang. Gerry mengucap ijab qobul di hadapan penghulu, ayah Bunga dan keluarga Bunga yang lain. Sopir pribadi Gerry menjadi saksi dari pihak Gerry. Malam itu Gerry tidak tinggal di rumah Bunga. Ia langsung pamit dan membawa Bunga menginap di hotel.


Di kamar hotel.

__ADS_1


Bunga sedang mandi. Gerry berbaring di ranjang sambil memeriksa pesan pesan yang masuk ke ponselnya. Tubuhnya menegang saat membaca pesan dari Kendra. Gerry menyunggar rambutnya dengan tangan.


Maafkan aku Faldi. Mungkin aku kakak yang egois. Tapi aku mencintainya. Benar benar mencintainya.


Gerry memejamkan matanya. Tangannya meminit pelipisnya. Pijitan Gerry terhenti saat sebuah tangan halus memegang tangannya. Gerry membuka mata, ia melihat wajah Bunga berada tepat di depannya. Gadis itu tersenyum sangat cantik.


Gerry meraih bahu Bunga dan merebahkan gadis itu di samping tubuhnya. Ia memposisikan tubuhnya di atas Bunga. Mata mereka saling menatap.


"Apa malam ini kau siap menjadi milikku seutuhnya?" Gerry berbisik.


"Bang, tapi abang kan?' Bunga tidak melanjutkan ucapannya. Ia takut Gerry tersinggung


" Kakiku yang lumpuh bagian lutut ke bawah. Jadi aku masih bisa bergerak bebas untuk urusan itu. Apa kau mau membuktikannya sekarang? "


Bunga tersenyum. Ia mengangguk malu.


Gerry langsung mencium bibir Bunga. Tangannya mulai masuk ke baju Bunga. Menjelajahi tubuh Bunga. Bunga melingkarkan tangannya ke leher Gerry. Malam ini mereka menyatukan cinta dengan sebuah tindakan nyata.


Bunga terlelap kelelahan dalam pelukan Gerry.


Gerry masih terjaga. Matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. Ia merasa bahagia karena berhasil memiliki Bunga. Ia yakin setelah ini Bunga tidak akan meninggalkannya. Apapun yang terjadi.

__ADS_1


Gerry mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Kendra.


"Bawa dia pulang."


__ADS_2