
Sebulan setelah berita kematian Kendra, Bunga kembali ke Indonesia. Kondisi Zidan sudah membaik. Ia hanya perlu kontrol sebulan sekali ke Singapura.
Bunga masuk rumahnya dengan ditemani Riana dan Martin. Duka masih menyelimuti Bunga. Apalagi saat masuk ke kamar. Ia menangis mengingat mereka sering memadu kasih di kamar ini.
"Kau kejam mas! Kau kejam! Kau bilang kita akan bersama selamanya. Tapi kau malah pergi." Bunga menangis. Ia membuka almari dan mengambil baju Kendra lalu memeluknya seolah sedang memeluk Kendra.
"Mbak! Ada tamu yang mencari mbak Bunga!" Riana masuk ke kamar Bunga.
"Siapa Ri?"
"Katanya pengacara kak Kendra."
Bunga turun dan menemui tamunya.
"Ini wasiat tuan Kendra." kaya pengacaranya.
"Wasiat? Kenapa ia membuat wasiat? Apa dia sudah tahu kalau akan kecelakaan?" tanya Bunga heran.
"Bukan begitu. Tuan sudah menyiapkan segalanya jauh-jauh hari. Jika sesuatu terjadi padanya maka saya harus memberikan ini kepada nyonya."
"Ini apa?"
"Ini adalah bukti kepemilikan atas semua aset yang dimiliki tuan Kendra. Karena beliau tidak memiliki saudara, maka semua diserahkan kepada nyonya."
Bunga membuka map yang diberikan oleh pengacara itu. Ia membaca daftar aset Kendra. Di situ juga tertulis kalau Bunga selanjutnya yang akan memimpin perusahaan Kendra.
"Baiklah. Saya sudah melaksanakan tugas saya. Jika nyonya ada pertanyaan dan butuh bantuan silahkan menghubungi saya. Ini kartu nama saya. Selain saya nyonya bisa menghubungi Sekretaris tuan yang saat ini mengurus perusahaan tuan. Oh ya.. besok datanglah ke perusahaan. Saya akan mengenalkan nyonya kepada dewan direksi dan juga karyawan di sana."
Pengacara itu lalu pamit dan pergi meninggalkan rumah Bunga.
"Bagaimana ini? Aku sama sekali tidak mengerti tentang bisnis mas Kendra." gumam Bunga bingung.
"Jangan khawatir. Aku akan meminta Faldi membantumu!" kata Martin.
"Iya mbak. Aku juga akan resign agar bisa membantu mbak Bunga mengelola perusahaan kak Kendra. Lagi pula ada sekretaris kak Kendra. Jadi jangan khawatir. Mbak bisa belajar pelan-pelan dari sekretaris kak Kendra dan pak Faldi."
"Baiklah. Ini keinginan mas Kendra. Aku akan melaksanakannya."
"Oh iya mbak. Tadi bapak telpon. Ia mengucapkan banyak terimakasih karena kak Kendra telah membantu kesulitan penduduk di kampung dan para penduduk ikut berbelasungkawa atas wafatnya kak Kendra.
Bunga mengangguk.
"Mbak, rumah budhe juga sudah kak Kendra perbaiki. Apa budhe sudah bilang ke mbak?"
Bunga menggeleng. "Ibu belum. mengatakan apa-apa. Mungkin karena aku masih mengurusi Zidan jadi ibu belum. menyampaikan kabar ini. Beliau hanya menanyakan kondisi Zidan saat mengirim pesan padaku."
"Semoga semua menjadi amal baik kak Kendra ya mbak."
"Iya Ri. Mas Kendra memang orang baik. Tapi belakangan ia seperti kehilangan kepercayaan diri."
"Bunga. Ada yang ingin aku sampaikan. Semoga ini saat yang tepat." kata Martin.
"Apa?" tanya Bunga penasaran.
__ADS_1
Maryi mendekati Riana dan memeluknya, "Kami sudah memutuskan untuk menikah."
Riana merona.
"Benar itu Ri?" Pertanyaan Bunga dijawab dengan anggukan oleh Riana.
"Oh.. Alhamdulillah. Akhirnya ada berita bahagia juga. Kapan kalian akan meresmikannya?"
"Minggu depan aku akan mengenalkan nya ke orang tuaku. Jadi aku akan membawanya ke Filipina. Setelah itu aku baru pergi menghadap orang tuanya untuk melamarnya."
"Sekedar saran. Orang tua kami orang kampung, jadi lebih baik kau potong rambutmu itu. Jangan gara-gara rambut gondrongmu itu gagal lamaranmu." kekeh Bunga.
"Iya. Aku akan memotongnya. Demi Riana aku akan memangkas rambut gondrong kesayanganku ini." Martin berkata sambil menatap mesra Riana.
"Gombal. Paling nanti kalau udah nikah juga dipanjangin lagi." Riana mencubit pipi Martin.
"Tidak sayang. Kalau kamu nggak suka, aku nggak akan manjangin rambutku. Aku hanya akan manjangin cintaku padamu." Martin menempelkan pipinya ke pipi Riana.
"Ya.. ya.. daripada jadi nyamuk aku masuk saja. Silahkan bermesraan. Gratis tanpa bayar." Bunga pergi karena jengah dengan kemesraan yang ditunjukkan oleh Martin dan Riana.
"Tuh kan. Mbak Bunga marah!"
"Dia nggak marah. Dia pengertian." Martin makin erat memeluk Riana.
Di tempat lain, di Jepang, Kendra sedang membantu keponakannya mengurus bisnis peninggalan ayahnya.
Flashback on
Kendra melakukan check in di bandara. Setelah mendapatkan boarding pass ia masuk ke boarding room menunggu waktu naik ke pesawat.
Kendra menoleh. Ia melihat pria yang ia kenal sebagai sepupunya itu berdiri di hadapannya.
"Kenapa kamu ada di sini? Bukankah kalian tinggal di Jepang?" Kendra bertanya dengan sedikit ketus. Ia ingat, ayah dari sepupunya ini yang telah menguasai perusahaan milik kakeknya yang semestinya ayahnya juga punya hak atas perusahaan itu.
"Aku sedang mengunjungi anakku. Dia ingin melanjutkan sekolah di Indonesia. Oh iya, kenalin ini istriku."
Kendra dan wanita itu saling bersalaman.
"Kendra, aku lama ingin bertemu denganmu. Aku ingin memberikan apa yang semestinya menjadi hak ayahmu yang sekarang turun ke kamu. Syukurlah kalau sekarang kita ketemu. Aku akan menghubungi sekretaris ku untuk mengurus hakmu itu."
Kendra tak berkomentar. Sementara sepupunya menelpon sekretarisnya dan meminta mengurus pengalihan aset ke nama Kendra.
"Bisa pinjam identitasmu?"
Kendra mengeluarkan KTP nya. Sepupunya memfoto lalu menyerahkan kembali ke pada Kendra. Setelah itu mereka dipanggil untuk masuk ke pesawat.
Baru saja Kendra duduk di kursinya, ponselnya berbunyi. Sekretarisnya meminta ia kembali untuk hal yang sangat penting dan tidak bisa ditunda. Kendra berdiri dan berjalan meninggalkan pesawat. Saat melewati tempat duduk sepupunya, pria itu bertanya. Kendra menjelaskan kalau dia tidak jadi melakukan penerbangan dan harus turun. Sepupunya itu mengeluarkan sebuah foto dan menuliskan alamat di balik fotonitu.
"Ini anakku dan dibaliknya ini alamat apartemennya. Aku mohon bantuanmu untuk mengawasinya selama kami di Jepang. Aku titipkan anakku padamu. Kamu mau kan?"
Kendra mengangguk dan mengambil. foto itu lalu keluar dari pesawat.
Saat di tempat parkir ia bisa melihat pesawat yang akan ia tumpangi lepas landas.
__ADS_1
Kendra pulang ke kantor. Di kantor ia melihat berita jika pesawat yang menuju Singapura hilang dari pantauan.
Kendra kaget dan langsung menuju apartemen anak sepupunya itu. Kepada gadis itu, ia menceritakan kalau dirinya adalah pamannya. Kendra mengajak keponakannya itu menuju bandara untuk mengecek tentang orang tuannya.
Di bandara sudah ramai orang. Kendra meninggalkan keponakannya untuk ke kamar kecil. Saat kembali, Ia melihat keponakannya itu pingsan dan terbaring di kursi. Kendra mengangkatnya lalu membawanya ke klinik yang ada di bandara.
Ia meninggalkan keponakannya di rawat tenaga medis, Kendra ingin ke perwakilan maskapai penerbangan untuk mengkonfirmasi kalau dirinya tidak ikut penerbangan namun malah melihat Faldi.
flashback off
"Paman melamun ya?" suara riang dan centil mengagetkan Kendra.
"Lisa, kamu mengagetkan paman saja."
Gadis itu malah nyengir. "Paman suka banget melamun. Melamunin apa sih?"
"Bukan apa-apa." jawab Kendra dingin.
"Paman! Paman sudah punya istri apa belum?" tanya Lisa.
Kendra tidak menjawab. Ia tetap fokus pada pekerjaannya.
"Paman! Aku bertanya."
"Untuk apa kamu tanya tanya hal itu."
"Karena aku suka sama paman." Kata Lisa tanpa sungkan.
Kendra menatap gadis yang masih kuliah itu. Ia menggelengkan kepalanya. "Anak kecil. Sekolah dulu yang bener. Perusahaan papamu menunggumu untuk. mengurusnya."
"Aku nggak mau ngurus perusahaan papa. Paman saja yang mengurusnya. Aku yang mengurus paman." Lisa bergelayut manja di. lengan Kendra.
"Lisa! Aku pamanmu!"
"Paman jangan bohong. Aku tahu kalau papa hanya anak angkat dari kakek. Jadi paman bukan paman kandung ku. Jadi kita boleh nikah." semakin berani Lisa mengutarakan isi hatinya. Sebulan hidup bersama Kendra membuat gadis itu begitu mengagumi Kendra yang baik dan sabar meski dingin.
Kendra mendengus dan melepaskan tangannya dari tangan Lisa.
"Aku sudah punya istri. Dia ada di Jakarta. Kami hanya ada sedikit masalah." Kendra menjelaskan agar Lisa menjauhinya.
"Begitu kah?!" Lisa menjauh dari Kendra. "Kalau begitu aku menunggu kalian pisah saja. Daaa...paman. Lisa ke kampus dulu."
Kendra geleng--geleng kepala.
"Dasar abg."
*Bunga... kamu sedang apa sekarang? Apa kamu sudah mulai dekat lagi dengan Faldi? Aku benar-benar berharap pengorbanan ku ini tidak sia-sia.
...🌹🌹🌹*...
Semoga menghibur....
Ini visual Lisa
__ADS_1
Apakah Lisa akan jadi dengan Kendra ataukah tidak? Baca terus ceritanya ya...