
Setelah kembali berbaikan, Kendra mengajak Bunga menemui orang tua Bunga di kampung kelahirannya. Bunga sangat senang akhirnya ia bisa membawa pulang suami dan anaknya untuk diperkenalkan kepada kedua orang tuanya.
"Berapa hari kita di sana mas?" tanya Bunga antusias sambil melakukan packing. Ia bertanya untuk menyesuaikan jumlah pakaian yang akan ia bawa.
"Kamu maunya berapa hari?"
"Seminggu?"
"Baiklah. Seminggu!" Kendra menyetujui usul Bunga.
Bunga sangat gembira.
Keesokan harinya, mereka bersiap untuk berangkat. Sopir memasukkan barang mereka ke dalam mobil.
"Pak Muin. Nitip rumah ya selama kami pergi." kata Kendra kepada sopir sekaligus penjaga rumahnya itu.
"Siap tuan." jawab Pak Muin hormat.
Dengan diantar Pak Muin, mereka menuju bandara. Hanya butuh waktu empat puluh lima menit penerbangan. Akhirnya mereka sampai di Surabaya. Dari Surabaya perjalanan mereka di lanjutkan dengan menggunakan mobil sewaan. Dua jam kemudian mereka sampai di kampung halaman Bunga.
Bunga tersenyum melihat tempat?tempat yang dulu sering ia singgahi. Saat melewati rumah makan tempat Faldi menyatakan perasaannya dulu, senyum di bibir Bunga berubah getir.
Semua sudah berlalu. Aku harus menatap ke depan. Tidak lagi menoleh ke belakang. Mungkin memang kami tidak berjodoh.
"Sayang! Apa itu supermarket tempat kamu bekerja dulu?" tanya Kendra saat melewati sebuah supermarket.
"Iya, mas. Disitulah aku bekerja untuk. mendapatkan biaya kuliah." jawab Bunga memandangi halaman supermarket itu. Bayangan saat Faldi menjemputnya sepulang kerja melintas. Bunga menghela nafas. Kota ini penuh dengan kenangannya bersama Faldi.
Dari pusat kota menuju kampung Bunga memakan waktu setengah jam.
"Belok kiri mas." Bunga memberi petunjuk pada Kendra. "Stop!" Mereka berhenti di depan rumah sederhana.
Bunga memandangi rumah tempat dirinya dilahirkan dengan mata berkaca-kaca. Ia terharu karena bisa kembali ke rumah itu lagi dan sekaligus sedih melihat kondisi rumahnya yang masih tetap seperti dulu tanpa perubahan. Bahkan cat dindingnya sudah usang dan atap depan tampak akan rusak.
"Jangan sedih. Mas akan memperbaiki rumah ibumu." kata Kendra yang melihat kesedihan di mata Bunga.
"Terima kasih mas."
"Kenapa selama ini kamu nggak pernah bilang ke mas kalau kondisi rumahmu seperti ini? Jika kamu bilang, mas dengan senang hati akan mengirim dana u tuk. perbaikan rumah ibumu ini."
"Dulu saat aku bekerja, aku juga punya niat untuk mengumpulkan uang dan merehabilitasi rumah ibu. Tapi ternyata belum. lama aku bekerja, aku malah menikah dan semuanya jadi seperti yang mas ketahui. Aku nggak mau bilang ke mas karena aku tahu, mas sedang merintis usaha. Jadi aku nggak mau ngrepotin."
"Tapi sekarang aku sudah lebih dari mampu untuk merehabilitasi rumahmu sayang. Jadi terima ya, bantuan mas."
"Kita bicarakan itu nanti ya mas. Sekarang kita turun dan masuk dulu."
Bunga lalu keluar dari mobil. Ia menggendong Zidan yang tertidur di jok belakang. Dengan berangkulan, Bunga dan Kendra memasuki rumah Bunga.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Suara yang sangat Bunga rindukan menjawab salamnya. Sekarang wanita paruh baya berbadan kurus keluar dari dalam.
__ADS_1
"Bunga!"
"Ibu!" Bunga memberikan Zidan ke Kendra lalu memeluk ibunya. Mereka berpelukan sambil menangis saking bahagiannya.
"Bu, itu suamiku mas Kendra. Dan yang di gendongnya itu cucu ibu. Namanya Zidan."
"Oh!" Ibu Bunga terpekik lirih sambil. menatap Kendra yang sedang menggendong Zidan.
Kendra mendekat dan mecium punggung tangan ibu Bunga.
"Cucuku. Dia sedang tidur."
"Iya bu. Dari tadi tidur."
"Bawa masuk ke kamar. Kasihan kalau digendong terus."
Kendra dan Bunga mengikuti ibunya ke kamar Bunga dulu. Kamar sederhana namun bersih.
Kendra membaringkan Zidane.
"Ini kamarku?" tanya Kendra sambil menatap ke sekeliling ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu.
"Iya. Kecil ya mas. Nggak seperti kamar di rumahmu."
"Justru yang kecil dan sempit begini yang nikmat." Kendra memeluk Bunga.
"Apa sih.. Mas Kendra nggak jelas deh. Nikmat darimanya?" Bunga beli dengan pendapat Kendra.
"Ya nikmat. Tiap bergerak dikit langsung bersentuhan. Iya kan?"
"Sayang. Nanti malam kita tidur di sini?" tanya Kendra.
"Iya, mau dimana lagi."
"Bertiga dengan Zidan?" Kendra memandangi tempat tidur Bunga yang hanya muat untuk dua orang.
"Iya!" jawab Bunga pendek.
"Berarti kita tidurnya berhimpitan terus sepanjang malam donk." pikiran Kendra sudah membayangkan yang aneh aneh.
"Nggak. Nanti aku akan ambil kasur tambahan buat mas Kendra tidur."
"Yaah!" desah Kendra kecewa. Bunga tertawa.
"Mas. Kopernya nggak dibawa masuk?"
"Oh iya. Aku ambil dulu."
Kendra keluar menuju mobil. Ia langsung mengambil koper dan menyeretnya masuk ke dalam rumah.
"Bunga! Ada bibimu!" ibu Bunga memanggil Bunga.
__ADS_1
Bunga dan Kendra keluar dari kamar menemui. bibinya yang tak lain adalah ibu Riana.
"Bunga! Makin cantik saja. Sudah menjadi orang kota sekarang ya!" Mereka berpelukan. "Ini suamimu. Gagah ya. Semoga nanti Riana juga mendapat suami segagah dia."
Kata kata bibi Bunga membuat muka Kendra merah. Bayangan Riana melintas begitu saja.
"Bunga. Apa Riana baik-baik saja?"
"Iya bi. Dia sukses di sana. Bibj tenang saja."
"Bunga. Tolong bantu bibi mengingatkan Riana. Jangan memikirkan pekerjaan terus. Minta dia mencari pendamping hidup. Syukur syukur kalau kamu mau mencarikannya. Mungkin suamimu ada tan atau kenalan yang bisa dikenalkan kepada Riana."
"Bibi tidak usah khawatir. Riana cantik Tidak akan sulit mencari pasangan hidup."
"Amiin." bibi Riana mengusap mukanya. "Semoga dapat yang kayak kamu." katanya sambil. mengusap lengan Kendra. "Bibi akan senang jika punya menanti kayak kamu nak."
Kendra tersenyum jengah. Bunga tersenyum masam.
Andai bibi tahu bahwa Riana menyukai mas Kendra. Ia pasti akan bahagia.
Malam harinya. Di kamar Bunga.
Bunga tidur sambil memeluk Zidan sedangkan Kendra tidur memeluk Bunga.
"Mas!"
"Hmm?"
"Mas lihat sikap bibi tadi siang? Dia begitu menyukaimu."
"Iya. Terus?"
"Mas. Apakah mas Kendra tidak mau memikirkan usul ku untuk menjadikan Riana istri keduamu?"
Kendra mempererat pelukannya. "Tidak sayang. Istriku hanya kamu. Aku nggak mau yang lain." Ia mencium tengkuk Bunga.
"Mas!" Bunga memutar tubuhnya menghadap Kendra. "Aku melihat kebahagiaan di mata bibi saat melihatmu."
"Tapi aku hanya bahagia jika melihatmu."
"Maas!" rengek Bunga
'Bunga dengarkan aku. Sampai kapanpun aku tidak akan menduakanmu. Jadi jangan memohon hal yang mustahil padaku. Sudah. Jika kau masih punya tenaga gunakan untuk hal lain. Jangan untuk. membicarakan keinginanmu menikah lama aku dengan Riana."
"Hal.lain apa? Sudah malam juga."
"Hal.lain yang biasa dilakukan saat malam hari." Kendra lalu turun ke kasur tambahan yang ada di bawah. Ia menarik tubuh Bunga dan langsung mengungkungnya.
"Mas ada Zidane.!" Bunga mengingatkan.
"Kita akan melakukannya dibawah selimut dan dalam senyap. Kamu bisa kan menahan desahanmu!" Kata Kendra laku mulai menjalankan aktivitas favoritnya itu. Bunga dengan senang hati menyambut kehangatan yang diberikan oleh suaminya.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...
Jejaknya ya...