
Dua hari kemudian, Lisa memutuskan menerima tawaran kerjasama. perusahaan Faldi. Ia mengirim email. balasan dan mengundang Faldi ke Jepang untuk membicarakannya lebih lanjut.
"Pagi paman!" Lisa masuk ke ruangan Kendra.
"Lisa! Kamu punya ruangan sendiri, kenapa suka sekali ke ruanganku dan meninggalkan tempatmu kosong." Kendra menegur Lisa, "Apa kamu memiliki waktu luang yang banyak?" sindir Kendra.
"Ah paman. Paman jangan pura-pura tidak tahu kenapa Lisa suka kemari. Paman aku sudah menerima tawaran kerjasama dari pengusaha Indonesia."
"Yang mana?"
"Yang asisten Tama kirim ke aku emailnya. Katanya paman yang nyuruh. Apa paman belum memeriksanya?"
"Hmm. Kalau kau sudah menyetujuinya, aku nggak perlu memeriksanya." kata Kendra sambil terus sibuk dengan pekerjaannya. Matanya menatap tulisan yang ada di berkas yang sedang ia baca.
"Aku mengundangnya ke Jepang. Mungkin sekarang mereka sedang dalam. perjalanan. Karena aku ngajak ketemuan besok."
Kendra masih tidak tertarik dengan perkataan Lisa.
"Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya setelah lima tahun." kata Lisa. Mendengar ini Kendra mendongak.
"Maksudmu?"
"Ah iya aku belum bilang ya. Pengusaha yang menawarkan kerjasama itu adalh si om yang aku ceritain yang pernah ketemu di bandara lima tahun yang lalu paman."
Deg..
Jantung Kendra seakan berhenti berdetak.
Faldi! Dia akan ke mari. batin Kendra.
Kendra sedikit panik. Wajahnya berubah cemas.
"Paman! Bukankah paman juga mengenalnya? Paman pernah menyimpan fotonya di ponsel paman kan?"
Kendra masih diam berpikir bagaimana cara agar Faldi tidak mengenalinya atau cara menghindarinya.
"Paman!" rengek Lisa.
"Iya." Jawab Kendra pendek, "Lisa ada yang ingin paman sampaikan. Paman memang mengenal Faldi. Tapi bagi dia paman sudah mati. Bisakah besok kamu tidak mengenalkanku padanya?"
"Maksud paman?"
"Sebenarnya abang yang ia maksud saat bertemu denganmu di bandara adalah aku. Waktu itu aku juga bermaksud pergi ke Singapura. Tapi karena sesuatu hal aku tidak jadi berangkat. Jadi saat pesawat hilang kontak, aku tidak berada dalam pesawat. Karena aku sudah cek in namaku masuk dalam daftar nama penumpang. Apa lagi koperku juga sudah masuk bagasi pesawat, sehingga aku dinyatakan sebagai salah satu korban yang meninggal bersama papa dan mamamu!" Kendra menjelaskan panjang lebar.
"Oh.. !" Lisa menutup mulutnya karena kaget.
"Dia pasti akan mengenaliku dan curiga. Dia punya banyak cara untuk membuktikan kalau aku adalah abangnya."
"Kenapa paman tidak menyamar saja. Paman ikut aku!" Lisa menarik tangan Kendra.
__ADS_1
"Kita mau kemana?"
"Sudah ikut saja."
Lisa menyeret Kendra keluar dari kantor menuju mobilnya. "Masuk.paman!"
Kemdra menurut. Lisa segera melakukan mobilnya menuju salon langganan ya.
"Lisa! Hai cantik.... bawa pria tampan. Buat aku ya?" jawab sang pemilik salon yang notabene seorang waria.
"Jangan macam-macam. Dia milikku. Dandani dia hingga tak ada yang bisa mengenalinya lagi!" perintah Lisa.
"Beres cin. Ayo tampan ikut aku!"Waria itu menggandeng mesra tangan Kendra membuat Kendra merasa risih.
"Lisa!" panggil Kendra seakan minta pertolongan pada Lisa.
"Ikuti dia saja paman. Lisa jamin aman. Kalau dia berani macam-macam, Lisa pecat jadi manusia!" ancam Lisa membuat si waria bergidik ngeri.
Hampir dua jam Kendra di permak. Bermacam wig dicobakan untuk menutupi rambut cepaknya. Untuk menutupi bentuk rahang, waria itu memasangkan cambang dan kumis palsu juga. Setelah mereka pas dengan karyanya, waria itu meminta pendapat Kendra tentang penampilan barunya.
"Sempurna!" Lisa yang memberi komentar, "jika seperti ini apa dia masih bisa mengenalimu paman?" tanya Lisa. Kendra tersenyum. Kini ia tidak perlu khawatir dan cemas lagi.
"Ayo pulang!" ajak Lisa, "Potong biayanya dari depositku!" kata Lisa pada si waria.
"Beres cin!" jawaban si waria dengan centil.
Keesokan harinya, tamu yang Lisa tunggu sudah tiba di Jepang. Mereka membuat janji makan malam di sebuah restoran hotel mewah tempat Faldi dan rombongannya menginap.
Di luar hotel.
"Kalian masuk duluan!" perintah Kendra kepada Lisa dan Tama.
"Paman mau kana?" tanya Lisa.
"Paman... " Kendra tak melanjutkan ucapannya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya ingin memenangkan hatinya agar todak grogi saat berjumpa dengan Faldi
"Baiklah. Lisa tahu paman masih perlu waktu. Tapi jangan lama-lama. Segera susul kami! Ayo Pak Tama!" Lisa mengajak Tama masuk.
Kendra mengayun langkahnya ke taman samping hotel. Ia duduk di kursi taman itu sambil melamun. Lamunannya buyar saat mendengar senda gurau dalam bahasa Indonesia. Kendra menoleh, ia tersentak saat melihat orang-orang yang ia kenal berada tidak jauh darinya.
Riana! Itu Riana. Dan anak laki-laki itu adalah Zidan. Pria dan anak perempuan kecil itu, apa mereka suami dan anak Riana? Jika Zidan berada di sini, berarti Bunga juga. batin Kendra.
Kendra berdiri dari kursinya. Ia bermaksud meninggalkan hotel itu saat ponselnya berdering. Lisa menghubunginya dan memintanya segera masuk karena Faldi ingin bertemu. Kendra menghela nafas berat. Ia mengubah arah kakinya menuju ke resto di dalam hotel.
"Sebentar lagi paman saya tiba. Selama ini beliaulah yang mengurus perusahaan. Saya memang pemiliknya tapi saya sudah menyerahkan semua urusan kepada paman saya."
Pintu ruangan terbuka, Kendra masuk.
"Maaf saya terlambat!" Kendra menekan suaranya agar terdengar lebih berat. Ia mengulas senyum tipis. Bunga menatapnya, hatinya tiba-tiba berdebar. Jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
Kenapa aku berdebar. Pria ini. Aku melihat sosok mas Kendra pada diri pria ini. Sorot mata itu serta garis di matanya saat tersenyum. Sama dengan mas Kendra.
"Paman. Kau sudah datang."
"Mm." Kendra menuju kursi. Ia mengulurkan tangannya ke arah Faldi. "Arcandra, paman Lisa." Faldi menerima uluran tangan Kendra. Matanya menatap lekat ke mata Kendra. Ia juga merasakan hal yang sama dengan Bunga. Faldi juga merasa tidak asing dengan sosok di depannya itu. "Faldi Firmandana. CEO Firmandana group." balas Faldi.
Bunga tertegun.
Arcandra. Kendra. Nama mereka juga mirip. Mas mungkinkah ini dirimu? batin Bunga.
"Nyonya ini? Apakah istri anda?" tanya Kendra berpura-pura tidak mengenali Bunga. Padahal ia sibuk menata debaran jantungnya melihat wanita yang selama lima tahun ini ia rindukan berdiri di depannya.
"Bukan.. mm maksud saya belum. Tapi sebentar lagi akan menjadi istri saya." jawab Faldi masih sambil menatap intens wajah Kendra. Faldi melihat sekelebat mendung di wajah itu saat ia mengatakan jawabannya itu.
"Oh. Selamat!" balas Kendra yang langsung duduk. Ia tidak menjabat tangan Bunga seperti yang ia lakukan pada Faldi. Ia takut tak akan mampu menguasai diri untuk tidak menarik Bunga ke dalam pelukannya.
"Jadi kalian pasangan?" ada nada kecewa pada suara Lisa. Faldi tersenyum. Bunga hanya diam. Matanya masih menatap lekat pada wajah Kendra. Ia mencari dan mencari kemiripan pria itu dengan Kendra. Bunga membayangkan kalau Kendra diberi kumis dan jambang, akankah ia mirip dengan pria di depannya ini.
"Nyonya apa ada yang aneh dengan wajah saya? Kenapa sedari tadi anda mengamati saya terus?" tegur Kendra pada Bunga.
"Oh.. Eh.. Maaf. Hanya saja anda mengingatkan saya pada suami saya." gumam Bunga pelan.
Kendra mengalihkan pandangannya dari Bunga.
"Oo!" jawab Kendra pendek. "Baiklah. Kita langsung saja membahasa rencana kerja sama kita." Kendra mengubah topik. Ia tidak mau larut pada masa lalu.
...***...
Kendra dan Lisa sudah meninggalkan ruangan itu. Bunga masih termenung di kursinya.
"Apa kau juga memikirkan hal yang sama denganku?" tanya Faldi pada Bunga.
"Tentang apa?"
"Tuan Arcandra. Tidakkah ia sangat mirip dengan bang Kendra."
Bunga mengangguk. "Tapi ia orang lain. Tidak mungkin dia mas Kendra. Secara mas Kendra sudah tiada," Bunga mengusap matanya menghapus bulir bening yang hendak menetes.
Faldi memperhatikan setiap gerak gerik Bunga. Ia bisa melihat kesedihan kembali bergelayut di raut wajah cantiknya.
Faldi memejamkan mata dan menarik nafas dalam dalam mengusir nyeri yang merambati hatinya.
Ponsel Faldi bergetar. Faldi meraih dan mengusap layarnya.
📩 Lisa
Om besok kami akan mengajak kalian menikmati keindahan Jepang. Jadi bersiaplah!
Baiklah. Kita akan lihat, dia bang Kendra atau bukan.
__ADS_1
...🌹🌹🌹...