Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Bunga ingin bercerai


__ADS_3

Persiapan acara telonan bayi Bunga semuanya diurus oleh istri Pak Imam. Bunga dan Kendra yang memang tidak mempunyai pengalaman untuk hal itu hanya pasrah saja.


Malam harinya, di rumah Kendra sudah banyak tamu yang hadir. Mereka adalah tetangga sekitar. Mereka datang untuk mengikuti pengajian.


Acara dilakukan hampir dua jam.


Selesai pengajian dan pembacaan doa, para tamu pulang sambil membawa nasi kotak yang sudah disiapkan.


Pak Imam dan istrinya juga ikutan pulang.


"Kamu pasti capek, istirahat lah!" kata Kendra kepada Bunga.


"Mas, duduklah. Ada yang ingin aku diskusikan dengan Mas Kendra."


Kendra duduk di sofa.


"Aku sudah memikirkan perkataan mas Kendra. Aku akan meminta cerai sama mas Gerry."


"Kau yakin?"


Bunga mengangguk. "Ini yang terbaik buat semua."


"Lalu bagaimana dengan anakmu?"


"Hal itulah uang aku ingin diskusikan dengan mas Kendra. Jika nanti anakku lahir dan aku tidak bisa menunjukan surat nikah, maka nama ayahnya tidak akan tercantum pada akta kelahirannya. Aku takut itu akan menjadi beban baginya kelak."


"Terus apa yang akan kau lakukan?"


"Mas, mungkin kedengarannya aku tidak tahu malu karena perkataan yang akan aku ucapkan. Tapi aku melakukan semua demi anakku


Mas, setelah aku bercerai, maukah mas Kendra menikahiku? Nikah yang sebenarnya?" kata Bunga, tangannya mengepal menahan rasa malu. Mukanya sudah memerah.

__ADS_1


Kendra terkejut mendengar perkataan Bunga.


"Nikah yang sebenarnya? maksudmu?"


"Kita nikah bukan hanya secara agama tapi juga secara hukum negara."


"Tapi ini tidak boleh dilakukan. "


"Kenapa.mas? Karena mas Kendra tidak mencintaiku? Kalau kelak mas Kendra menemukan wanita yang cocok dengan mas Kendra, aku rela kau ceraikan mas. Aku hanya butuh pengakuan untuk anakku."


"Bukan itu. Aku hanya boleh menikahimu saat bayimu sudah lahir."


Bunga menangis, "Terus bagaimana nasib anakku?"


"Bunga, biar aku berpikir dulu. Kamu istirahat dulu ya! Jangan stress, nanti efeknya buruk bagi bayimu!"


Bunga mengangguk lalu berjalan ke kamarnya.


Kendra lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Riko, aku butuh bantuanmu!"


Keesokan harinya,


"Bunga apa kamu membawa kartu keluarga?"


"Ada. Semua berkas penting milikku aku bawa mas. Kenapa?"


"Aku butuh sekarang. Kamu ingin anak mau mendapat pengakuan kan?"


"Iya!"

__ADS_1


"Berikan berkasmu. Temanku akan mengurus semuanya."


"Terus kita jadi menikah?" tanya Bunga. Ada keceriaan dalam nada suaranya. Ada binar bahagia di matanya.


Untuk sesaat, Kendra tertegun


"Bunga jika aku benar benar menikahimu, apa kau akan bahagia?" tanya Kendra.


Bunga mengangguk. Bibir mengulas senyum.


Tentu saja aku bahagia. Karena itu artinya anakku akan mendapat pengakuan. batin Bunga.


Kendra mendekati Bunga. Ia memberanikan diri menyentuh wajah Bunga.


"Setelah anak ini lahir. Aku benar benar akan menikahimu! " kata Kendra.


Mereka saling tatap. Bunga memegang telapak tangan Kendra yang sedang mengelus pipinya. Wajah Kendra mendekat ke Bunga. Ia hendak mencium Bunga. Namun sebelum itu terjadi Bunga mundur dan berkata


"Mas, ada tamu!"


Kendra menoleh ke luar dan melihat Riko turun dari mobil.


"Assalamualaikum! Apa semua sudah siap?"


"Wa'alaikumussalam. Tunggu sebentar, tinggal berkas Bunga." jawab Kendra.


Mendengar jawaban Kendra, Bunga bergegas ke kamar mengambil berkasnya dan menyerahkannya kepada Kendra.


"Kami pergi dulu ya!" Kendra berpamitan. Tatapannya kepada Bunga kini berubah. Kendra tidak takut lagi mengekspresikan perasaannya kepada Bunga melalui tatapan matanya.


Bunga mengangguk dan tersenyum.

__ADS_1


Dia sudah sangat baik padaku. Aku akan mengabdikan hidupku untuk melayaninya. Soal cinta, itu sudah tidak penting lagi buatku. Biarlah aku kubur dalam dalam cinta yang membawa luka ini. batin Bunga.


__ADS_2