
Faldi menyusul Kendra ke ruang kerjanya.
"Fal. Jelaskan semua padaku!' perintah Kendra begitu Faldi duduk di kursi yang ada di depannya."Benarkah kamu ingin menikahi Lisa?"
Faldi mengangguk membuat Kendra memandangnya dengan tatapan tajam.
"Apa yang kau pikirkan? Mengapa kau memutuskan menikahi Lisa? Yang aku tahu kau hanya mencintai Bunga, kenapa kau memberi harapan pada Lisa?"
"Terus aku harus bagaimana bang? Apa aku harus terus-terusan mengharapkan wanita yang jelas-jelas tidak bisa kumiliki?" jawab Faldi sarkasme.
Kendra membuat nafasnya. Ia menunduk dengan perasaan bersalah. "Kau akan melukainya Fal."
"Abang juga sudah melukainya. Kami berdua sama-sama terluka. Dan mungkin kebersamaan kami bisa menghapus luka itu."
"Kamu mempertaruhkan bukan hanya kebahagiaanmu Fal, tapi juga Lisa."
"Abang tahu aku hanya mencintai Bunga, dan abang juga tahu Lisa mencintaimu. Bisakah abang menerima Lisa dan membiarkan Bunga bersamaku?"
"Faldi! Aku.."
"Sudahlah bang. Aku tahu abang khawatir dengan Lisa. Tapi abang juga mengenal baik aku. Apa aku tipe pria yang akan mempermainkan wanita. Aku tulus ingin mencoba bersama Lisa. Kami berjanji untuk saling menerima apa adanya. Tanpa mengaharapakan lebih. Kami janji akan saling memperhatikan dan menyayangi, meski tanpa cinta."
"Faldi! Lisa sudah tidak memiliki siapa-siapa. Satu-satunya orang terdekatnya adalah aku. Aku hanya mengkhawatirkan dia saja. Tapi jika kalian sudah mantab, tak ada yang bisa kulakukan selain memberi restuku pada kalian berdua."
"Terima kasih bang. Lisa akan aku bawa ke Indonesia. Aku ingin mengenalkannya pada kedua orang tuaku dan kami akan menikah di sana."
"Bunga? Apa kamu akan memberitahunya?"
"Abang saja yang memberitahu dia. Tidak ada kewajibanku menjelaskan masalah ini padanya." kata Faldi menekan perasaannya.
Aku tidak sanggup jika harus mengatakan sendiri padanya.
__ADS_1
"Fal sekali lagi aku bertanya, apa kau yakin dengan keputusanmu ini?"
"Insyaalah, bang. Doakan saja." kata Faldi mantab. Ia lalu keluar dari ruang kerja Kendra.
Saat di ruang tamu, ia melihat Bunga yang sedang mengobrol dengan Lisa.
"Ayo!" Faldi mengambil tangan Lisa dan mengajaknya pergi meninggalkan rumah Kendra.
"Fal!" Bunga memanggilnya namun Faldi tetap berlalu tanpa mempedulikan panggilan Bunga.
Dia mengabaikan aku. Apa dia marah dan kecewa.
"Mereka memutuskan untuk menikah!" kata Kendra yang sudah berada dibelakang Bunga.
"Apa???" Bunga kaget. Ia tidak pernah menyangka jika Faldi akhirnya memutuskan menikahi wanita lain.
"Iya...mereka akan menikah. Faldi akan membawa Lisa ke Indonesia. Tadi mereka datang untuk meminta restuku."
"Apa yang bisa kulakukan?"
"Mas, apa kau tidak merasa aneh dengan keputusan mereka yang mendadak?"
"Faldi bilang mereka ingin saling mengobati. Kebersamaan kita kembali telah membuat dua orang itu terluka. Mereka berharap, karena sama-sama terluka jadi bisa saling memahami."
"Tapi mendadak menikah? Apak itu keputusan yang bijak disaat hati mereka sedang labil begitu."
"Sudahlah. Mereka sudah mengambil keputusan. Kita doakan saja. Sekarang kita bahas masalah kita." Kendra menarik tangan Bunga membawanya ke dalam."Duduklah!"
Bunga duduk di sofa dan Kendra duduk disebelahnya.
"Sekarang katakan padaku apa keputusanmu! Kau mau tinggal di sini atau kembali ke Indonesia?"
__ADS_1
"Kalau di suruh memilih, jelas aku ingin kembali ke Indonesia mas. Tapi kamu suamiku, aku akan menuruti apapun yang menurut mas baik."
Kendra tersenyum mendengar keputusan Bunga.
"Bagaimana kalau untuk beberapa bukan kita tinggal di sini dulu. Aku akan mempersiapkan wakilku untuk mengurus perusahaan di sini. Terus kita kembali ke Indonesia untuk tinggal selama beberapa bulan juga. Jadi dalam setahun kita bisa di Indo setengah tahun dan di Jepang juga setengah tahun."
"Lalu sekolah Zidan? Masak ia kan berpindah-pindah mas?"
"Mmm saat kita ke Jepang, Zidan bisa tinggal sementara dengan Riana kan? Katamu ia sangat dekat dengan Riana dan Martin."
"Iya juga sih. Ia suka tinggal sama Riana karena mada Marina. Ada teman main."
"Bagaimana?Apa kau setuju?"
Bunga mengangguk.
"Bagus kalau begitu. Ayo!" Kendra berdiri dan mengulurkan tangannya ke ]pada Bunga.
"Kemana?" Bunga bertanya denga rasa ingin tahu yang besar. Ia memberika tangganya pada Kendra.
Kendra tersenyum penuh arti,"Melanjutkan yang tadi tertunda." Kendra menarik tangan Bunga hingga mendekat ke tubuhnya lalu membopong tubuh ramping itu.
"Cih...masih belum puas juga?" Bunga terkekeh sambil mengakungkan lengannya ke leher Kendra.
"Tidak akan pernah puas sayang." kata Kendra mesra.
__ADS_1