Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Pesan


__ADS_3

Bunga mulai aktif mengurus perusahaan Kendra. Para direksi mempercayai Bunga karena ada Faldi dengan nama besar Firmandana yang mendukungnya. Sudah lima bulan Bunga mengurus perusahaan itu, lama-lama ia menguasai bisnis yang dijalankan Kendra.


Riana dan Martin sudah menikah. Martin memutuskan untuk tinggal di Jakarta karena istrinya ingin menemani Bunga. Martin dan Riana menempati rumah Kendra sedangkan Bunga kembali ke rumah mungil yang dulu pernah ia tempati sepulang dari Filipina. Ia lebih nyaman tinggal di rumah kecil itu karena sekarang ia hanya berdua dengan Zidan.


Meskipun sering bersama, Faldi tidak. pernah sekalipun berusaha mendekati Bunga karena ia bisa merasakan jika Bunga masih belum bisa melupakan Kendra.


Waktu terus berlalu, tak terasa sudah lima tahun Bunga hidup sendiri tanpa Kendra. Perusahaan yang Kendra tinggalkan kini maju pesat. Bunga juga sudah menjadi pebisnis wanita yang cukup terkenal. Banyak prestasi yang ia raih. Faldi masih dengan setia mendukungnya.


Siang itu, Faldi sedang berkunjung ke rumah Bunga. Ia bermain dengan Zidan


"Jika kamu terus mengurusi kami, kapan waktu untuk mengurus dirimu sendiri?" tanya Bunga yang duduk di kursi dekat Zidan dan Faldi.


"Kenapa? Dengan mengurusi kalian aku merasa seperti mengurusi diriku sendiri." balas Faldi. Ia lalu duduk di samping Bunga


"Jangan pura-pura bodoh. Kamu tahu apa yang aku maksudkan."


"Aku ingin mengatakan hal yang sama padamu. Kamu juga jangan berpura-pura. Kamu tahu apa yang aku inginkan."


"Faldi! Itu tidak mungkin."


"Kenapa Bunga?" tanya Faldi, "Ini sudah lima tahun. Apakah kau masih tidak bisa melupakannya?"


"Ini bukan masalah melupakan atau tidak melupakan Faldi."


"Lalu apa masalahnya?"


Bunga diam. " Aku tidak pantas untukmu Faldi. Kau masih muda, lajang, pasti banyak gadis yang mau sama kamu.'


"Tapi aku hanya mau sama kamu Bunga."


Faldi lalu berdiri dan melangkah ke mobilnya. Ia mengambil sebuah bungkusan lalu kembali kepada Bunga.


Faldi menaruh bungkusan itu di depan Bunga.

__ADS_1


"Ini apa?"


"Buka saja. Bang Kendra yang memberikan ini padaku saat kita akan ke Singapura untuk pengobatan Zidan. Malam sebelum kita berangkat, ia menemuiku dan menyerahkan barang ini. Waktu itu ia juga berkata kalau kebahagiaanmu ada padaku."


Bunga dengan tidak sabar membuka bungkusan itu. Ia terkesiap melihat ponsel dan kalung pemberian Faldi dulu. juga foto mereka berdua.


"Jadi ini yang membuat dia berubah. Ini yang membuat dia hilang kepercayaan dirinya." gumam Bunga lirih.


"Bunga! Mungkin bang Kendra sudah punya firasat akan pergi, makanya ia menitipkanmu padaku."


"Kenapa kau baru menunjukkan ini sekarang Faldi?"


"Aku menunggu waktu yang tepat. Lima tahun sudah cukup lama bagiku untuk menunggumu. Ijinkan aku memasangkan kembali kalung ini di lehermu seperti waktu itu!" Faldi mengambil kalung itu. Bunga diam. Ia termenung memikirkan cerita Faldi.


Benarkah mas Kendra sudah ada firasat akan pergi. Tapi kenapa ia harus menitipkanku pada Faldi? Tidakkan ia tahu kalau aku sudah mencintainya.


Bunga sibuk dengan pikirannya hingga tidak menghiraukan Faldi yang sudah memasangkan kalung itu di lehernya. Ia tersentak saat Faldi mencium leher jenjangnya.


"Fal!" Bunga memekik dan mendorong tubuh Faldi. Faldi menarik pinggang Bunga.



"Justru itu Fal. Tidakkah kamu merasa aku seperti digilir. Setelah Gerry, lalu mas Kendra, jika setelahnya aku menerimamu sebagai suamiku, orang akan berkata aku seperti piala bergilir diantara kalian bertiga."


"Jadi itu yang kami takutkan. Bunga ini hidup kita. Kita yang berhak menentukan. Persetan dengan omongan orang selama yang kita lakukan adalah benar. Apa dengan mendengarkan omongan orang kamu akan membiarkan kebahagiaanmu lepas? Kamu sendiri yang harus menentukan jalan hidupmu. Jangan dengarkan omongan orang." Faldi berusaha menyakinkan Bunga.


"Baiklah. Aku akan memberimu waktu. Pikirkan baik-baik ucapanku tadi. Aku akan menerima apapun keputusanmu jika memang kamu menolak ku karena tidak ada perasaan apa-apa di hatimu untukku. Tapi aku tidak akan menerima jika keputusanmu dipengaruhi pendapat orang-orang itu. Ini hidupmu. Ini kebahagiaanmu." Faldi mengakhiri ucapannya dengan memberi kecupan kecil di kening Bunga.


"Jika kau menikah dengan orang lain pun. Orang-orang pasti masih akan menggunjingmu. Manusia hanya bisa menilai orang lain tapi tidak bisa menilai dirinya sendiri. Jadi jangan pedulikan omongan orang selama kita tidak melakukan kesalahan. Camkan itu!"


Setelah mengatakan banyak hal itu, Faldi pergi meninggalkan rumah Bunga. Bunga terduduk lesu di kursi. Ia mencerna semua ucapan Faldi. Ia juga mencari ke dalam hatinya sebenarnya apa yang ia inginkan.


Di waktu yang sama, di tempat yang jauh dari rumah Bunga, Kendra sedang melihat foto yang dikirim oleh orang yang ia suruh untuk memata-matai Bunga dan Faldi. Kendra menyunggingkan senyum kecil saat melihat foto Faldi memakaikan kalung ke leher Bunga.

__ADS_1


"Akhirnya setelah lima tahun menunggu, aku bisa lega karena kalian akan bersama." gumam Kendra.


"Paman, kenapa senyum sendiri?" suara manja Lisa mengagetkan Kendra. "Paman melihat foto siapa?" Lisa tiba-tiba menyambar ponsel Kendra.


"Lisa kembalikan! Itu tidak sopan!"


"Eh ini kan om."


"Om? Om siapa?"


"Iya ini om. Aku tidak akan salah mengenali orang. Ini om yang dulu ketemu di bandara. Yang abangnya ikut jadi korban kecelakaan pesawat bareng papa dan mama. Kenapa foto om ada pada paman? Paman mengenalnya? Terus apa wanita ini istrinya. Dia cantik."


Kendra merebut ponselnya dari tangan Lisa.


"Paman... itu istrinya apa bukan?" rengek Lisa.


"Istrinya atau bukan, apa urusanmu?" Kendra memasukkan ponselnya ke dalam saku.


"Aku penasaran sama om tampan itu. Kalau paman kenal dia, kenalin aku donk paman. Jangan pelit kalau punya teman yang tampan."


"Cih. Kau ini."


"Paman jangan mengelak. Jangan bilang aku masih kecil. Aku sudah dua puluh tiga tahun sekarang. Dan kuliahku juga sudah lulus."


"Iya paman tahu. Sudah saatnya kamu menikah. Kamu boleh pilih pria manapun yang kamu mau untuk jadi suamimu selain dia." kata Kendra tegas.


"Berarti aku boleh memilih paman?"


"Selain dia dan aku." Kendra mengoreksi ucapannya.


"Aku hanya mau kalian. Kalau bukan paman yang om. Kalau bukan kalian, aku nggak akan menikah." Lisa lalu ngeloyor pergi meninggalkan Kendra.


"Dasar gadis aneh. Belum apa-apa sudah mendua." gumam Kendra. Ia lalu kembali menenggelamkan diri pada pekerjaannya.

__ADS_1


...🌹🌹🌹 ...


__ADS_2