
Sebulan telah berlalu sejak Bunga meninggalkan kediaman Gerry. Kehamilan Bunga sekarang memasuki usia dua bulan. Seperti umumnya wanita yang hamil muda, Bunga juga mengalami masa ngidam. Dan karena ia jauh dari suaminya, maka yang memenuhi keinginannya adalah Kendra.
Apapun yang diinginkan Bunga, Kendra berusaha memenuhinya.
Malam itu, Bunga sedang gelisah karena ia menginginkan sesuatu yang tidak masuk akal.
Dia mondar mandir di ruang tamu.
Kendra yang baru keluar dari kamar heran melihat tingkah Bunga.
"Belum tidur? Kenapa mondar mandir begitu?"
"Oh mas. Nggak papa kok. Hanya nggak bisa tidur."
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu?Ada masalah di kantor?"
Bunga menggeleng. Ia laku duduk di sofa. Kendra mendekatinya dan ikutan duduk di sofa.
"Ada yang kamu inginkan?"
Bunga kembali menggeleng. Matanya menatap Kendra dengan intens. Entah mengapa, belakangan ini ia suka sekali memperhatikan wajah pria itu. Dia terus menatap Kendra sambil tertegun.
"Bunga!" Kendra memanggilnya namun Bunga tidak meresponnya karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri.
tik tik
Kendra menjentikkan jarinya di depan wajah Bunga.
"Bunga!!" kali ini suara Kendra lebih keras.
Bunga kaget, ia segera mengalihkan pandangannya. Mukanya merah karena malu.
"Maaf, mas."
__ADS_1
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa. Aku hanya... "
Bunga tidak melanjutkan perkataannya karena malu.
"Bunga, apa kau sudah memeriksakan kandungan mu?"
"Belum."
"Kalau begitu besok aku antar periksa. Sekarang istirahatlah.!"
"Iya mas." Bunga lalu berdiri. Kendra juga ikut berdiri, ia membalikkan badannya dan melangkah hendak kembali ke kamarnya.
Hup.
Tiba-tiba Bunga memeluk Kendra dari belakang. Kendra terkejut dan spontan ia membalikkan badannya.
"Stop! Jangan berbalik!"kata Bunga.
"Mas, tolong diam sebentar! Biarkan aku memelukmu sebentar saja." pinta Bunga.
Kendra terdiam. Jantungnya berdetak sangat kencang.
Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal sangat kuat bukan karena marah. Kendra sedang berusaha menahan gairah yang mulai muncul. Apalagi Kendra merasakan benda kenyal hang menempel di punggungnya
"Bunga." suara parau Kendra memanggil Bunga.
"Tolong mas. Entah mengapa, belakangan aku sangat suka melihatmu. Dan hari ini aku ingin sekali memelukmu dan mencium aroma tubuhmu. Tolong diam sebentar saja. Tidak akan lama."
Kendra kembali diam. Matanya terpejam. Ia menarik nafas panjang panjang untuk menetralisir debaran dadanya.
Bunga, jika kau seperti ini, pertahananku bisa ambruk juga. Tahukah kau selama sebulan ini betapa aku bersusah payah membangun pertahanan ini. Dan malam ini kau bisa merusaknya. batin Kendra.
__ADS_1
Mereka berdiri dengan posisi itu cukup lama sampai Bunga dengan perlahan mengendorkan pelukannya dan akhirnya melepaskannya. Kendra memutar tubuhnya. Ia memandang Bunga.
Wajah Bunga sangat merah bertanda ia sangat malu.
"Maaf mas.! "
Bunga ingin meninggalkan Kendra saat tangannya ditarik oleh Kendra. Kini gantian Kendra yang memeluknya. Kali ini mereka berhadapan.
"Kamu ngidam aroma tubuhmu kan? Kenapa nggak bilang." ujar Kendra lembut.
Bunga memejamkan matanya. Ia menghirup dalam dalam aroma Kendra.
Kenapa aku sangat suka aroma ini? Apakah anakku sangat menyukai mas Kendra? Karena dia yang selalu memenuhi setiap keinginannya.
"Mas, sudah Lepaskan aku."
Kendra lalu melepaskan pelukannya. Tangannya memegang kedua lengan Bunga.
"Kau bisa membawa bajuku ke kamarmu. Jika kau menginginkan aroma tubuhmu sewaktu waktu." kata Kendra.
Bunga tersenyum malu, ia lalu melepaskan tangan Kendra dari lengannya dan bergegas masuk ke kamarnya.
Kendra juga masuk ke kamarnya, sebentar kemudian ia keluar sambil membawa jaket yang biasa ia kenakan.
tok tok tok
Kendra mengetuk pintu kamar Bunga.
"Iya mas?" Bunga bertanya saat pintu kamarnya terbuka.
"Nih." Kendra menyerahkan jaketnya.
Bunga menerimanya. Ia mencium jaket itu dan ia bisa merasakan aroma Kendra dari jaket itu.
__ADS_1
Kendra tersenyum lalu meninggalkan Bunga.
Bunga memakai jaket Kendra. Sekarang ia bisa mencium aroma Kendra sambil tidur. Bunga terlelap dengan senyum di wajahnya.