Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Ciuman perpisahan.


__ADS_3

"Kita langsung ke rumah kita ya mas! Aku sudah sangat merindukan Zidan." Bunga bergelayut manja di lengan Kendra begitu mereka keluar dari bandara.


"Baik sayang." Kendra melingkarkan tangannya di pinggang Bunga.


Kendra dan Bunga sengaja tidak mengabari Riana dan Martin soal kedatangan mereka. Dengan taksi online, Bunga dan Kendra menuju rumah mereka yang sekarang ditempati Riana dan Martin.


Riana sedang sibuk dengan Marina dan Zidan saat bel rumahnya berbunyi.


"Biar aku yang buka!" zidan berlari ke arah pintu dan membukanya.


"Mama!" teriak Zidan riang. Ia langsung memeluk Bunga. Bunga mendekap dan menciumi putranya yang semakin tambun itu.


"Mbak. Pulang kok nggak bilang. Tahun gitu aku jemput ke bandara." Riana mendekat dan memeluk Bunga. Ia lalu mengangguk ke arah Kendra.


"Zidan nggak mau memeluk papa?" tanya Kendra melihat Zidan mematung. Pria kecil itu malah berlari menjauh.


"Dia tidak mengenaliku?" Kendra bingung.


"Nggak papa. Lama-lama juga akan kembali seperti dulu." kata Bunga menenangkan Kendra. Mereka masuk ke dalam rumah.


Belum lama Kendra dan Bunga tiba di rumahnya, sebuah mobil masuk ke halaman rumah mereka. Faldi turun dan dengan berlari kecil menaiki tangga rumah.


"Assalamu'alaikum!" sapa Fakdi nyaring.


"Waalaikumsalam." suara ceria Zidan menjawab salam Faldi, "Papa!" seru Zidan membuat Bunga dan Kendra saling pandang. Zidan berlari ke teras menyingsing kedatangan Faldi.


"Dia memanggil Faldi papa. Kenapa aku tidak tahu itu. Biasanya ia memanggilnya uncle." gumam Bunga sambil menatap Riana.


"Itu. Karena beberapa waktu lalu Zidan sempat demam. Dia terus memanggil mbak. Sebenarnya aku ingin menghubungi mbak tapi dilarang oleh Faldi. Faldi yang menemani Zidan di rumah sakit. Beberapa hari selalu bersama membuat mereka kian dekat sampai akhirnya Zidan bilang kalau... " Riana ragu melanjutkan ceritanya.


"Kalau apa Ri?" desak Bunga.


"Kalau ia ingin punya papa seperti Faldi. Lalu Faldi mengatakan jika Zidan boleh manggilnya papa." Riana mengakhiri ceritanya.


Bunga menatap ke arah Kendra. Ia melihat suaminya itu tersenyum namun seperti dipaksakan.


"Kapan kalian datang?" tanya Faldi yang masuk ke ruang tengah bersama Zidan. Ia langsung mengambil tempat duduk. Zidan dengan manja duduk di pangkuan Faldi.

__ADS_1



"Belum begitu lama." jawab Kendra pendek sambil menatap kedekatan antara Zidan dan Faldi.


Faldi menyadari arti pandangan Kendra.


"Zidan memang selalu begini bang. Mungkin dia mengira aku adalah bang Gerry. Karena kami mirip. Orang dewasa saja sering salah mengenali kami, apa lagi anak-anak." jawaban asal Faldi yang dimaksud kan untuk menenangkan Kendra justru seperti sindiran halus bagi Bunga.


"Zidan sini sama mama!" Bunga mengulurkan tangannya menarik Zidan dari pangkuan Faldi.


"Nggak mau. Zidan mau sama papa." Zidan menolak.


"Biarkan saja Bunga. Nggak papa. Nak. kecil biasa." jawab Faldi sambil. memegang tangan Bunga untuk menghalanginya menarik Zidan. Faldi meremas tangan Bunga sambil menatapnya.


Bunga segera menarik tangannya dari genggaman Faldi. Suasana menjadi hening sebentar.


"Oh ya Fal. Bagaimana kabar Gerry?" tanya Kendra memecah keheningan.


"Dia baik. Dia ada di Indo sekarang. Abang bisa menemuinya kalau mau." jawab Faldi.


"Untuk apa kamu datng kemari?" Bunga yang semula diam, ikut bersuara.


"Anak papa. Kangen-kangenanya udah dulu ya. Papa harus kerja." Faldi mencium pipi gembul Zidan. "Bang! Aku kembali ke. kantor dulu. Selamat datang di Indo." Faldi beranjak keluar.


"Mas boleh aku bicara sebentar denganya?" tanya Bunga. Kendra mengangguk. Bunga langsung berdiri dan setengah berlari ia mengejar Faldi ke halaman rumahnya.


"Fal! Tunggu!" teriak Bunga menhentikan Faldi.


Faldi menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya menunggu Bunga mendekat.


"Aku ingin bicara!" Bunga laku melangkah ke taman samping. Faldi mengikutinya.


"Katakan!" Faldi membuka suara saat mereka sudah sampai di taman.


"Jauhi Zidan!" kata Bunga tegas.


Faldi tertawa lirih."Kenapa Bunga?"

__ADS_1


"Aku tidak mau ia salah paham. Kau bukan papanya."


"Tapi aku pamannya. Keponakan juga anakkan?"


"Tapi kedekatan kalian melukai suamiku."


"Oh, maaf kalau begitu. Aku tidak. pernah berpikir sejauh itu. Aku hanya ingin dekat dengan keponakanku tanpa tujuan apapun." balas Faldi. Hatinya nyeri karena Bunga melakukan ini untuk melindungi perasaan Kendra.


Bunga diam. Perkataan Faldi ada benarnya. Ia adalah paman Zidan jadi wajar jika mereka dekat.


"Tapi bisakah kamu tidak membiarkan Zidan memanggilmu papa." kata Bunga memohon. "Ajari dia memanggilmu uncle seperti dulu."


"Benarkah ini hanya untuk melindungi perasaan bang Kendra atau ada yang lain yang kamu takutkan Bunga?" tanya Faldi mendekat ke Bunga.


Bunga mundur saat Faldi terus mendekat.


"Fal! Stop!" Bunga berkata dengan sedikit keras memperingatkan Faldi agar berhenti


Faldi meraih tangan Bunga dan menariknya ke dalam pelukannya. Bunga meronta tapi Faldi mendekap nya dengan sangat erat.


"Diamlah! Ini untuk terakhir kali. Kumohon. Setelah ini aku akan menjadi milik wanita lain dan tidak akan penyakit kebebasan untuk mendekatimu lagi." bisik Faldi.


Bunga yang sedari tadi meronta, menghentikan usahanya yang tidak berhasil itu. Ia diam. membiarkan Faldi memeluknya. Faldi memutar kepalanya. Ia mencium rambut Bunga.


"Aku mencintai Bunga. Sangat mencintaimu." suara Faldi bergetar. Ada bukir bening turun dari. kelopak mata elangnya.


Faldi mengendorkan pelukannya. Kedua tanganyan menangkuo wajah Bunga. Dan sejurus kemudian, tanpa Bunga duga Faldi mencium bibir Bunga. Bunga mendorong tubuh Faldi tapi percuma. Tangan Faldi memegang wajahnya dengan kuat.


Bunga terus memukuli dada Faldi. Namun semakin keras ia memukul, semakin dalam Faldi membenamkan bibirnya. Bunga menggihut bibir Faldi berharap pria itu akan menghentikan aksi nya. Namun Faldi justru balas menggigitnya. Bunga meringis.


Faldi baru melepaskan ciumannya saat mereka kehabisan nafas. Dia menautkan keningnya pada kening Bunga.


"Maaf!" bisik Faldi dengan suara serak. Bunga melihat pria itu menitikan air mata. Faldi melepaskan tangannya dari Bunga dan bergegas meninggalkan taman menuju mobilnya.


Bunga mematung. Tubuhnya bergetar hebat. Ia jatuh terduduk si rumput taman. Bunga menangis.


"Maaf jika aku melukaimu dengan sangat dalam. Aku juga tidak tahu apa yang harus aku lakukan Fal. Dia suamiku." rintih Bunga.

__ADS_1


......🌹🌹🌹......


__ADS_2