Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Belum Seratus Persen.


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan darat yang cukup lama, akhirnya Kendra dan Bunga serta baby Zidan sampai di rumah Kendra yang ada di Jakarta.


"Ini rumah siapa, Mas?"tanya Bunga saat mobil berhenti di depan pagar sebuah rumah.


"Rumahku." jawab Kendra. Ia membunyikan klakson mobil. Beberapa detik kemudian, pintu pagar dibuka.


Seorang pria yang merupakan pekerjaan di rumah Kendra memberi hormat pada tuan mudanya itu.


Kendra membalasnya dengan anggukan dan senyuman.


Mata Bunga mengamati rumah Kendra. Rumah yang besar meski tak sebesar mansion Gerry.


"Ini rumah peninggalan orang tuaku." kata Kendra lalu memarkirkan mobilnya. Ia keluar dan berjalan memutar ke arah pintu samping mobil.


"Ayo turun!" ajak Kendra setelah membukakan pintu untuk Bunga.


Sambil menggendong Zidan, Bunga melangkah memasuki rumah Kendra sedangkan Kendra memberi instruksi kepada pekerjaan pria yang tadi membuka gerbang untuk mengambil dan membawa barang barang mereka ke dalam.


"Aku tunjukkan kamar kita." Kendra berjalan menuju sebuah kamar diikuti Bunga.


"Istirahatlah, kamu pasti capek."


"Memangnya mas nggak capek?"


"Capek juga sih."


"Lalu kenapa nggak istirahat?"


"Nanti, ada yang mau aku urus sebentar. Tidurlah, kamu aman di sini." kata Kendra. Ia lalu mengecup kening Bunga dan meninggalkan kamar.


Bunga membaringkan Zidan kemudian ia ikut berbaring di sebelahnya.


Bunga sudah terlelap saat Kendra kembali masuk ke kamar.


Kendra duduk di sisi Bunga sambil mengamati wajah lelah istrinya itu. Ia lalu ikut berbaring di samping Bunga dan memeluk tubuh istrinya. Merekapun tidur hingga sore tiba.


tok tok tok


Suara ketukan di pintu membangunkan Bunga. Ia menggeliat dan membuka mata. Dilihatnya tangan kekar Kendra melingkar si perutnya.


Bunga mengangkat tangan itu dengan perlahan. Dan ia menggeser tubuhnya untuk kemudian turun dari ranjang.


Bunga membuka pintu kamar.


"Maaf Nyonya! Pesanan tuan sudah tiba." kata pekerja pria tadi.


"Oh, sebentar pak, biar saya bangunkan suami saya." Bunga melangkah ke ranjang dan menggoyang tubuh Kendra agar pria itu bangun.

__ADS_1


"Maaf, bangun. Pesananmu tiba. Aku nggak ngerti mau diapakan." kata Bunga.


Kendra membuka mata, ia melihat wajah Bunga. Tangannya menarik wajah itu dan cup, Kendra mencium bibir Bunga lalu kembali tidur.


Bunga terkesima. Ia lalu memukul lembut tubuh Kendra sambil berkata, "Mas! Kok tidur lagi sih. Bangun!!"


"Mmmhh.. apa sayang. Kan sudah kun kasih barusan. Apa masih kurang?" tanya Kendra, tangannya kembali terulur meraih wajah Bunga.


"Mas, lepaskan! Itu pesananmu datang, mau diapakan?" teriak Bunga.


Kendra tersadar, dia lalu bangkit dari tidurnya.


"Kenapa nggak bilang dari tadi." kata Kendra. Ia bergegas keluar kamar.


"Eh, bukankah aku sudah bilang. Dasar." gerutu Bunga. Ia lalu menyusul Kendra.


Sebuah kotak besar berada di depan pintu rumah Kendra.


Saat Bunga tiba di sana, Kendra sedang membubuhkan tanda tangan pada kertas yang disodorkan oleh kurir. Setelah mendapat tanda tangan Kendra, kurir itupun pergi.


"Ini apa mas?" tanya Bunga.


"Tempat tidur Zidan. Jadi tiap malam dia tidak akan ada di antara kita lagi."


"Kenapa? Mas terganggu dengan keberadaan Zidane?" tanya Bunga agak kesal.


"Sebaliknya sayang. Aku takut tidur Zidan terganggu karena aktivitas kita. Kasihan kan dia." jawab Kendra sambil. mengedipkan sebelah matanya.


"Kenyataan kan sayang. Selama ini kita selalu pelan pelan agar tidak membangunkan Zidan. Apa kamu tidak ingin merasakan keperkasaanku yang sesungguhnya?" Kendra bertanya sambil memeluk Bunga.


"Mas lepasin. Malu dilihat pelayan." kata Bunga yang mukanya sudah semerah tomat.


Kendra tertawa senang. Ia tidak melepaskan pelukkannya justru malah mempererat dan bahkan menciumi Bunga dengan gemas. Bunga meronta dan akhirnya bisa melepaskan diri dari siksaan nikmat Kendra.


"Dasar suami genit." semprot Bunga lalu berjalan ke kamar.


"Sayang, mau kemana? Mau pindah tempat ya?" teriak Kendra.


Bunga mempercepat langkahnya sambil menutup telinga.


"Dasar suami nggak punya malu." gumam Bunga.


Kendra tertawa melihat tingkah Bunga.


"Tuan, ini mau di taruh dimana?" tanya pekerja pria itu


"Taruh saja di depan pintu kamarku, Pak Min. Nanti biar aku yang memasukkan ke kamat." kata Kendra. Ia lalu melangkah ke kamarnya diikuti Pak Min yang mengangkat kotak berisi tempat tidur Zidan dengan bantuan beberapa pelayan.

__ADS_1


Di dalam kamar, Kendra tidak menemukan Bunga.


Saat mendengar gemericik air, dia tahu kalau Bunga sedang mandi.


"Tuan, apa butuh bantuan untuk membawanya masuk?"


"Iya, Pak Min. Tolong taruh di sini!"


Pak Min dan temannya lalu menaruh kotak di tempat yang ditunjuk Kendra. Setelah itu mereka keluar.


Kendra lalu mengunci pintu kamar. Ia membuka kotak besar itu. Lalu dengan perlahan mengangkat Zidan dan membaringkannya di tempat tidur yang baru di belinya.


Kendra tersenyum, kemudian di tiduran sambil. menunggu Bunga selesai mandi.


Bunga keluar kamar mandi sambil. melilitkan handuk di tubuhnya. Ia melihat sudah ada tempat tidur bayi di sebelah ranjang. Bunga mendekat dan melihat Zidane sedang tertidur pulas di dalamnya.


Saat Bunga tengah asik menatap anaknya, tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Kendra.


"Mas!" kata Bunga kaget.


"Kamu harum." kata Kendra sambil. mencium tengkuk Bunga lalu beralih ke bahu terus ke leher putih Bunga.


"Mas aku baru saja man... ah." belum selesai Bunga bicara, tubuhnya tiba-tiba terangkat karena dibopong oleh Kendra.


Kendra membawa tubuh Bunga ke atas kasur. Dan segera setelah handuk yang melilit tubuh Bunga lepas dan pakaian yang menutupi badan Kendra tanggal, Bunga merasakan keperkasaan Kendra yang sesungguhnya.


"Bagaimana? Beda kan?" tanya Kendra saat keduanya selesai dengan aktivitas panas mereka.


Bunga tersipu.


"Jadi selama ini mas menahannya?"


"Iya. Aku hanya bermain dua puluh lima persen saja."


Bunga terkikik geli mendengar penuturan Kendra.


"Jadi yang barusan seratus persen?"


"Belum. Barusan baru lima puluh persen."


"Oh ya!" pekik Bunga. "Kalau yang tadi lima. puluh persen, terus seratus persennya seperti apa?"


"Seratus persennya aku simpan buat nanti malam. Sekarang aku masih capek karena baru melakukan perjalanan jauh. Jadi sabar ya sayang!" kata Kendra.


Bunga merinding mendengar perkataan Kendra.


"Kira-kira seratus persennya senikmat apa ya? pikir Bunga.

__ADS_1


...🌹🌹🌹*...


Tinggalin jejak ya guys..... dukung Author dengan like, coment dan vote.


__ADS_2