Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Siapa Cowok Gondrong Itu


__ADS_3

Sudah seminggu Bunga berada di Filipina. Keluarga Himawan yang merupakan kerabat tuan Firmandana menyambutnya dengan ramah dan terbuka membuatnya mudah menyesuaikan diri.


Karena memiliki kemampuan di bidang manajerial dan punya pengalaman menjadi manajer di sebuah supermarket, Riana dipercaya oleh keluarga Himawan untuk membantu putra mereka satu satunya mengelola hypermarket.


Bunga sangat senang karena ilmu yang ia dapatkan selama kuliah kini bisa bermanfaat.


Siang itu seperti biasa Bunga sedang mengamati kemajuan hypermarketnya. Martin, anak Tuan Himawan mendekatinya dan mengajaknya makan siang.


"Sudah waktunya makan. Tinggalin kerjaan." kata pria berambut gondrong itu.


"Nanggung pak. Kurang sedikit."


"Bisa nggak jangan panggil pak. Rasanya tua banget. Padahal aku lebih muda dari kamu lho."


Bunga melirik Martin. Ia tersenyum.


"Ini di kantor. Nggak enak rasanya kalau tidak menggunakan panggilan yang formal."


"Oke.... kalau di luar kantor, bolehkan panggil nama saja?"


Bunga mengangguk.


"Makan yuk! Dah laper!"


"Baiklah!" Bunga mematikan laptopnya, mengambil tas dan melangkah keluar diikuti Martin.


"Ke seberang saja, biar nggak jauh-jauh!" ajak Bunga.


Martin hanya mengiyakan saja.


Mereka sampai di tempat yang mereka tuju.


"Mau makan apa?" tanya Martin.


Bunga mengambil buku menu lalu menuliskan pesanannya.


"Kamu suka makan disini?" tanya Martin.


"Ya. Karena cafe ini menyajikan makanan halal. Seperti yang kau tahu penduduk sini sangat suka memasak daging babi. Tapi pemilik cafe ini orang Indonesia. Dia nggak menjual menu babi. Aku merasa aman saja makan di sini."


"Kau benar!"


Obrolan mereka terjeda saat makanan datang. Mereka makan dalam diam. Setelah selesai, Martin kembali mengajak Bunga mengobrol.


"Sudah seminggu di sini. Aku tidak pernah melihatmu menghubungi suamimu? Kata paman, kamu masih punya suami. Apa kalian sedang bermasalah."


Bunga tersenyum kecut saat masalah rumah tangganya disinggung.


"Kami sedang saling memberi waktu untuk berpikir. Mungkin dengan berjauhan begini kami masing masing bisa berpikir dengan tenang."


"Jadi ada kemungkinan kalian akan berbaikan lagi?"


"Semoga. Itu harapanku."


"Kau pasti sangat mencintainya."


"Tentu saja. Dia suamiku."

__ADS_1


"Beruntung sekali dia mendapatkan gadis sebaik kamu." ucap Martin lirih.


"Aku tidak sebaik dugaanmu." Bunga berdiri, "Yuk. Sudah saatnya kembali ke kantor."


"Duduklah dulu! Ada yang ingin ku bicarakan. Lagipula aku pemilik hypermarket itu, jadi nggak papalah telat dikit."


Bunga kembali duduk.


"Ada masalah apa?"


"Bukan masalah penting sih. Hanya aku butuh bantuanmu. Besok malam maukah kamu menemaniku menghadiri jamuan pembukaan rumah makan baru milik temanku?"


"Kenapa mengajakku? Acara seperti ini mestinya kamu mengajak kekasih atau tunanganmu."


"Kalau ada Bunga. Jadi bagaimana? Nggak enak datang sendirian. Lagi pula ini kesempatan buat kita. Kita bisa jadi salah satu pemasok barang ke restoran itu."


"Baiklah, kalau masih ada urusan bisnis sih, aku mau."


"Cih.Duniamu hanya diisi kerja dan kerja. Pengen banget jadi kaya." seloroh Martin.


Bunga hanya tersenyum samar mendengar seloroh Martin.


Karena hanya dengan bekerja aku bisa melupakan masalahku. Sampai sekarang Mas Kendra sama sekali tidak berusaha menghubungiku.


"Oh ya.. apa ada dresscode saat jamuan nanti? Kalau ada apa? Biar aku bersiap-siap."


"Nggak ada. Dress biasa saja. Janji ya, besok aku jemput."


Bunga mengangguk. "Kembali yuk!" Bunga berdiri.


Sementara itu, Kendra yang baru keluar dari hotel Riana sangat kesal. Ia uring uring bahkan saat sudah sampai di kantornya.


"Faldi! Faldi! Faldi! Kenapa semua perempuan yang kusukai jatuh ke dalam pelukan Faldi. Bocah ingusan itu." teriak Kendra.


"Riana ternyata kamu benar-benar jalang. Perempuan murahan yang membiarkan tubuhnya dinikmati sembarang pria. Kalian berdua sama saja. Sama sama wanita yang murahan." kembali Kendra berteriak saking kesalnya. Ia mengobrak abrik mejanya hingga berkas berserakan ke mana-mana.


"Apa yang mereka lihat dari Faldi? Pasti tampang dan hartanya. Sial! Dia memang lebih muda, lebih tampan dan lebih kaya daripada aku. Bagaimana aku bisa menyainginya."


"Tidak. Aku tidak boleh putus asa. Wajah itu takdir. Tapi harta? Aku akan berusaha keras agar semakin sukses." tekad Kendra.


Ia mulai membenahi lagi mejanya. Merapikan barang-barangnya yang berantakan. Ia memeriksa berkas kerjasama yang menumpuk di mejanya. Kendra mulai menyibukkan diri dalam pekerjaannya.


"Ini berkas kerjasama dengan Gerry. Aku harus memeriksa kemajuan dari proyek ini. Pengganti Gerry adalah Faldi. Mulai sekarang aku akan menepis dulu Riana. Demi kesuksesan ku. Aku harus bisa. Perempuan banyak. Nggak ada Bunga, nggak ada Riana, aku pasti bisa mendapatkan yang lebih baik dari mereka." kembali Kendra menguatkan tekadnya.


Beberapa hari kemudian, Kendra membuat janji temu dengan Faldi untuk. membahas kelanjutan kerjasama yang dulu pernah ia sepakati bersama Gerry.


Mereka janji bertemu sambil makan siang.


Selama makan, Riana menunjukkan sikap mesranya kepada Faldi. Ia ingin memperkuat kesan buruknya di hati Kendra.


"Sayang ada nasi di bibirmu." Riana sengaja mengusap bibir Faldi dengan ibu jarinya.


"Kok pakai jari? Pakai ini dong." kata Faldi sambil menunjuk bibir Riana.


"Kamu mau ini? Nanti saja di ruang kerjamu. Seperti biasa." kata Riana dengan suara khas perempuan yang sedang menggoda.


Kendra jengah melihat pemandangan di depannya. Ia berdehem untuk mengingatkan mereka bahwa masih ada manusia lain di sekitarnya. Dan dunia. bukan hanya milik mereka berdua.

__ADS_1


"Maaf bang. Kebiasaan. Kalau dekat dia bawaannya mesum melulu. Habis sangat menggoda." kata Faldi.


"Itu urusan kalian. Bukan urusanku." balas Kendra datar.


"Eh! Sayang lihat! Mbak Bunga mengirimiku foto. Oh.. siapa pria gondrong di sampingnya itu... cakep amat. Mbak Bunga hebat juga masih bisa menggaet cowok Filipina." Riana sengaja memanas-manasi Kendra. Ia ingin melihat reaksi Kendra sekaligus menilai apakah masih ada rasa di hati Kendra.


Usaha Riana tidak sia-sia. Ia melihat perubahan pada air muka Kendra. Pria itu tegang. Wajahnya memerah.


"Ooh dia Martin. Dia pemuda hebat. Usianya sama denganku tapi sudah memiliki perusahaannya sendiri. Kalau akau kan hanya meneruskan usaha papa. Tapi dia beda denganku. Dia pejuang sejati. Satu-satunya yang sama diantara kami adalah kami selalu menyukai wanita yang lebih tua."


"Terus aku? Jadi kamu bohong saat bilang suka padaku?" Riana pura-pura cemberut.


"Khusus kamu kasusnya beda sayang." bujuk Faldi sambil mengecup tangan Riana.


"Apa kalian sudah selesai bermesraan? Apa kita sekarang bisa membahas masalah kerjaan?" kata Kendra dengan kesal.


"Iya.Maaf. Silahkan bang."


Segera mereka terlibat dengan pembicaraan bisnis. Hampir dua jam. mereka meeting.


"Bang Kendra lanjutkan saja seperti biasa. Kalau bang Gerry sudah menyerahkan padamu, aku juga sama.


" Baiklah. Kita akhiri saja pertemuan ini. Aku permisi!" Kendra segera berlalu tanpa pamit pada Riana.


"Apa dia masih suka menghubungimu?"


"Sudah tidak lagi, Pak. Sejak peristiwa di hotel itu, ia tidak lagi menghubungiku. Dia juga sudah nggak pernah ke kantor. Ternyata aku benar dia sebenarnya tidak menyukaiku. Dia hanya terobsesi dan tertarik sementara."


"Itu karena kamu melukainya. Kalau kamu menerimanya, bisa jadi ia akan benar-benar mencintaimu. Sesungguhnya ia pria baik dan setia. Mungkin luka dan kecewanya sangat dalam. Kita nggak tahu apa saja yang sudah menimpanya selama menjadi suami Bunga."


"Iya. Bapak benar."


"Kita kembali ke kantor!"


Riana mengangguk, " Baik Pak!"


Dalam perjalanan ke kantornya, pikiran Kendra terusik oleh kata-kata Riana.


"Siapa pria gondrong itu? Semudah itukah dia melupakan diriku. Dia sampai pergi ke Filipina untuk menjauhiku."


Kendra memegang dadanya. "Kenapa aku merasa sakit. Saat melihat Riana dan Faldi aku merasa marah dan kesal. Tapi dadaku tidak sakit. Kenapa justru sakit saat membayangkan Bunga melupakanku dan berpaling ke pria lain. Saat mendapatinya dalam pelukan Faldi, aku juga merasakan perasaan ini. Tapi marahku lebih besar saat itu. Apa ini tandanya aku masih mencintai Bunga."


Sesampainya di kantor, Kendra langsung menuju ruangannya. Dia membuka laci meja dan mengambil foto Bunga yang beberapa minggu ini ia simpan di sana.


"Bagaimana keadaanmu?" desis Kendra sambil mengusap wajah dalam foto itu.


...🌹🌹🌹🌹...


Ini foto yang dikirim Bunga pada Riana.



Dan ini foto yang ditatap Kendra



Jangan lupa jejaknya.

__ADS_1


__ADS_2