
Saat Bunga keluar dari kamar mandi, ia mendapati Faldi terlelap.
Bunga duduk di sisi Faldi. Dipandanginya wajah tampan yang tengah tidur dengan damai itu.
Aku tidak tahu kebaikan apa yang pernah kulakukan sebelumnya hingga aku mendapatkan anugerah cinta yang begitu luar biasa dari pria tampan ini.
Bunga mencodongkan tubuhnya supaya bisa melihat wajah Faldi. lebih dekat.
"Jika diamati dari dekat, dia benar benar tampan. Alis yang hitam. hidung yang mancung dan bibir tipis ini... kadang sangat nakalJika diamati dari dekat, dia benar benar tampan. Alis yang hitam. hidung yang mancung dan bibir tipis ini... kadang sangat nakal." gunanya Bunga lirih.
Bunga membelai pelan wajah Faldi. Ia menarik tangannya dengan cepat saat Faldi menggeliat. Bunyi sering ponsel telah membuat Faldi terjaga. Ia bangkit dan mengangkat panggilan di ponselnya.
"Baik. Aku akan ke sana." Faldi menutup panggilan. Ia menoleh ke arah Bunga dan mengernyitkan keningnya saat melihat raut wajah Bunga memerah.
"Kamu kenapa, nyonya Faldi?" bisik Faldi dengan wajah begitu dekat.
"Aku.. aku.. tidak apa-apa." Bunga menjawab dengan gugup. Ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh.
"Ngomong-ngomong apa yang nyonya Faldi lakukan di sebelah ku pada saat aku tidur?" Mata Faldi menatap Bunga menyelidik.
"Eh.. aku.. tadi ingin menyelimutimu.. ya aku ingin menyelimutimu." jawab Bunga tergagap.
Faldi melirik selimut yang kasih terlipat rapi di bawah kakinya.
"Oo.. menyelimuti ya. Tapi kok. selimutnya masih rapi." Faldi. menunjukkan ke arah selimut.
"Kan masih mau, belum sempat aku ambil selimutnya kamu sudah bangun." Bunga berdalih.
"Oh begitu. Tidur ku tadi nyenyak sekali ya.. sampai sampai aku bermimpi ada wanita cantik memujiku. Dia bilang begini
jika diamati dari dekat, aku benar benar tampan. Alisku hitam. hidungku mancung dan bibir tipisku ini kadang sangat nakal." Faldi melirik ke arah Bunga. Wajah Bunga merah. 'Menurutmu apa aku benar benar seperti yang digambarkan wanita itu?"
Bukankah tadi dia tidur? Atau dia hanya pura pura tidur?
"Mana aku tahu. Tanya saja padanya." Bunga bangkit dari duduknya dan meninggalkan Faldi yang tersenyum puas setelah menggoda Bunga
"Kau mau berangkat ke kantor?" Bunga bertanya saat melihat Faldi keluar dari kamar dengan pakaian lengkap dan rapi.
"Iya. Kenapa? Apa nyonya Faldi tidak rela di tinggal?" jawab Faldi sambil meraih pinggang Bunga dan memeluknya.
"Ah.. bukan begitu. Aku ingin minta ijin nanti siang akan pergi menjemput Zidan."
"Tidak usah. Nyonya Faldi di rumah saja. Aku yang akan jemput Zidan. Siapakan saja makan siang. Kita makan siang bersama." Faldi. mengecup kening Bunga lalu. melepaskan pelukannya. Iaelangkah keluar.
"Tuan Faldi." panggil Bunga membuat Faldi menoleh, "Hati-hati dan cepat pulang ya." Bunga tersenyum manis.
Melihat itu Faldi segera berbalik dan menarik Bunga lalu mendaratkan ciuman di bibirnya. Lama ia menikmati bibir manis Bunga seolah tidak ingin melepasnya.
"Tuan, kamu sudah ditunggu sekretarismu di kantor."bisik Bunga sambil terengah.
Faldi. mengusap bibir Bunga, 'Tunggu aku!"
Bunga mengangguk. Ia melambaikan tangan melepas Faldi.
Bunga tersenyum bahagia.
"Kebahagiaan ini rasanya beda. Terima kasih Faldi. Pria putih abu abuku." gumam Bunga.
Di sebuah negara yang jauh dari tempat Faldi dan Bunga berada, tanpa Kendra sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sejak meninggalkan Indo, Kendra bertekad mengubur semua masa lalunya. Dengan talak yang ia ucapkan, ia menyadari bahwa antara dirinya dan Bunga sudah tidak mungkin bersama lagi. Apalagi kini Bunga telah menjadi istri Faldi.
__ADS_1
Dulu ia sangat sulit melupakan Bunga karena ia masih punya harapan terhadap Bunga. Namun setelah harapannya hancur, dan dia sendiri yang menghancurkannya, Kendra sudah membulatkan tekad untuk tidak lagi. mengusik kehidupan Faldi dan Bunga.
"Tuan, pihak EO sudah datang." sekretaris Tama berkata pada Kendra.
"Suruh mereka masuk!" jawab Kendra.
Sekretaris Tama keluar dan kembali dengan seorang wanita berusia tiga puluh tahunan berpenampilan sederhana namun cantik.
"Selamat siang Tuang Kendra." sapa wanita itu lembut.
Kendra mendongak. Sejenak. mata mereka bertemu. Kendra tertegun. Ia seperti melihat Bunga dalam diri wanita ini. Kesederhanaannya mirip dengan Bunga.
"Selamat siang. Silahkan duduk!"
Wanita itu duduk di sofa. Kendra beranjak dari kursinya dan duduk di depan wanita itu.
"Nama saya Melati. Saya perwakilan dari EO yang tuan sewa."
Kendra menatap wanita itu.
Melati. Bukankah melati adalah nama sebuah bunga. batin Kendra.
"Kedatangan saya hari ini ingin menunjukkan konsep acara peluncuran produk baru perusahaan anda."
"Melati!"
"Iya tuan."
"Berapa usiamu?"
Kenapa pria ini menanyakan usiaku. Apa dia meragukan kemampuan ku. Ah jawab saja apa salahnya.
"Apa kamu sudah berkeluarga?" mata Kendra memandang menyelidik. ke arah Melati membuat wanita itu gugup.
"Belum tuan." Melati menggeleng.
"Bagus kalau begitu. Sekarang lanjutkan presentasi mu tadi." Kendra tersenyum. Melati menatap nya bingung. Namun ia kemudian mengabaikan apa yang barusan terjadi. Ia segera melakukan presentasi sesuai permintaan Kendra.
"Bagus. Saya setuju dengan konsep yang kamu tawarkan."
Eh semudah itu. Tidak ada koreksi.
"Apa tuan tidak ingin menambahkan sesuatu pada konsep kami?"
"Sudah sempurna. Nggak perlu ada tambahan."
"Baiklah. Karena tuan sudah setuju makan saya rasa kunjungan saya ini sudah cukup. Saya pamit undur diri." kata Melati sopan.
"Tunggu. Apakah nona Melati tidak keberatan menemani saya makan siang? Hitung-hitung meresmikan hubungan kerjasama kita."
Melati dia berpikir. Akhirnya ia mengangguk.
"Mari!" Kendra berdiri dan mempersilahkan Melati berjalan keluar ruangannya. Ia lalu mengikuti Melati sambil mengulum senyum.
Mungkin ini saatnya aku membuka hatiku untuk wanita lain. Melati kau memang bukan Bunga tapi kau juga seorang bunga.
Kendra mengajak Melati ke sebuah rumah makan mewah.
__ADS_1
"Pesan apa yang kamu suka." titah Kendra.
"Baik Tuan." Melati berkata patuh. Ia memesan makanan kesukaannya.
Saat menunggu pesanan mereka dihidangkan, Kendra terus melihat ke arah Melati. Ia mencari apa yang membuatnya melihat sosok Bunga pada diri Melati. Melati sangat gugup di tatap Kendra dengan pandangan intens begitu.
"Kenapa kamu gugup? Kamu takut kekasihmu memergoki kita?" tanya Kendra memancing.
"Tu.. tidak tuan. Saya tidak. punya kekasih." jawab Melati dengan polosnya.
"Sudah berapa lama tinggal di Jepang?"
"Sudah lima tahun Tuan."
"Keluarga di Indo?"
"Tidak. Kami sekeluarga ada di sini. Ayah saya bekerja di kedutaan Indo yang ada di Jepang."
"Apakah ayahmu seorang duta besar Indo untuk Jepang?"
"Bukan Tuan. Ayah saya hanya staff di kantor kedutaan." Melati berkata namun ia tidak berani menatap mata Kendra.
Obrolan mereka terjeda saat pramusaji menghidangkan makanan mereka.
"Dōzo meshiagatte kudasai!"
"Arigatōgozaimashita." jawab Kendra dan Melati.
"Silahkan!" Kendra mempersilahkan Melati untuk makan. Mereka lalu menikmati hidangan makan siangnya dalam hening. Kendra masih saja mencuri pandang ke arah Melati. Bukannya Melati tidak tahu, ia sengaja terus pura-pira konsentrasi dengan makanannya. Tatapan mata Kendra benar-benar membuatnya grogi.
Kenapa Tuan Kendra sering kali menatapku. Apa wajahku mengingatkannya pada seseorang atau ia tertarik. padaku. Melati menerka-nerka dalam hati.
"Nona Melati." panggil Kendra.
"Eh iya tuan." Melati mendongak.
Kendra menunjuk ujung bibirnya. Melati. mengernyitkan keningnya. Ia tidak. mengerti akan isyarat yang Kendra buat. Kendra lalu menjulurkan tangannya mengusap sisa makanan yang mengotori ujung bibir Melati. Tubuh Melati mematung memdapat sentuhan di bibirnya.
"Bibirmu kotor."
"Oh.. Terima kasih tuan"
"Nona ini kartu nama saya. Ke depannya kita akan sering berhubungan membahas acara peluncuran produk baruku. Kau bisa menghubungiku kapan saja jika kau perlu berdiskusi denganku."
"Baik tuan." Melati mengambil kartu nama Kendra.
Kendra tersenyum. "Kau patih sekali Selalu menjawab iya tuan, baik tuan. Apa. kau juga akan menjawab begitu jika aku mengajakmu menikah?"
"Hah!!" Mata dan mulut Melati membolak. karena terkejut.
"Hahahahaha." Kendra tergelak. melihat tampang lucu Melati. "Tutup mulutmu. Jangan kaget begitu. Aku hanya bercanda." Kendra kembali tergelak.
Wanita ini sungguh polos dan patuh. Dia sangat lucu. batin Kendra.
Melati menunduk. Wajahnya merah dan jantungnya berdegub dengan kencang. Seumur-umur ia tidak. pernah membayangkan akan digoda oleh seorang ceo perusahaan besar yang tampan seperti Kendra.
Akankah Kendra dan Melati bersama, lalu bagaimana dengan Lisa. Nantikan di babak berikutnya ya readers. Dukung terus biar nambah semangatnya.
Ini visual Melati
__ADS_1