Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Papa Sayang Zidan


__ADS_3

Suasana pesta pernikahan Kendra sangat meriah. Pasangan pengantin menggunakan pakaian berwarna putih. Senyum tak pernah sirna dari wajah Kendra.


Faldi, Gerry dan Martin tiba di lokasi. Setelah menunjukan undangan, mereka masuk.


"Selamat Ken!" kata Gerry menyalami Kendra yang saat ini sedang berbaur dengan tamunya. Melati, istri Kendra berdiri di sebelah Kendra.


"Makasih, Ger." Kendra menerima ukuran tangan Gerry.


"Selamat, Bang!" Faldi juga memberi ucapan selamat. Ia memeluk Kendra.


"Makasih, Fal. Kau juga selamat. Maaf saat itu aku tidak mengucapkan selamat atas pernikahanmu."


"Sudahlah Bang. Yang lama jangan dikenang lagi. Hidup untuk masa depan." kata Faldi. Selesai Faldi, Martin yang memberi ucapan selamat pada Kendra.


Melihat Martin membuat Kendra teringat Riana. Ia berpikir andai Riana bukan sepupu Bunga, ia pasti sudah menikahinya dulu dan melepaskan Bunga.


Kendra tersenyum mengingat kenangannya bersama Riana meski singkat.


"Mas, kenapa senyum?" tanya Melati.


Kendra menatap istrinya itu. Ia membelai punggung tangan Melati.


"Karena aku bahagia." jawabnya. Melati membalas dengan senyuman manisnya.


Mereka kembali sibuk menerima ucapan selamat dari para tamu sampai acara berkahir.


Kendra menghampiri Faldi saat para tamu sudah pergi. Ia sengaja meminta Faldi, Gery dan Martin yang sudah ia anggap keluarganya untuk tinggal sampai pesta berakhir.


"Malam ini sebelum kalian pulang, kita berpesta dulu. Mengingat masa lalu." ajak Kendra.


"Hei Bang! Kau lupa, malam. pertamamu ha?" Faldi menggoda Kendra.


Kendra tersenyum. "Nggak papa. Lagi libur." jawab Kendra.


"Yaaah.. nasib ya bang." kata Martin.


"Hanya menunggu waktu. Sudah sah juga. Sabar dikit nggak masalah." balas Kendra.


"Tapi kau ijinlah dulu. Kasihan iatrimu." tutur Gerry.


"Pasti."


"Ayo, kita mulai pesta kita." Ajak Kendra yang langsung membawa ketiga pria itu menuju tempat yang telah ia siapkan.


Pintu terbuka. Di dalam mereka melihat banyak gadis cantik.


"Hai girls... temani kami malam ini." kata Kendra langsung di sambut rangkulan mesra para gadis itu.Faldi dan Martin diam. mematung. Mereka saling pandang. Tapi tidak dengan Gerry. Ia mengikuti jejak Kendra, bermain-main dengan dua orang gadis pilihannya.


"Fal!" kata Martin.


"Kita keluar saja. Bukan kelas kita." Faldi memutar tubuhnya hendak pergi, begitupun Martin.


"Ayolah Fal! Pilih satu atau dua. Yang masih gadis juga ada." ajak Kendra.


"Maaf Bang. Ini bukan dunia kami." jawab Martin. Sedang Faldi terus melangkah.


Tiba-tiba Kendra tertawa dengan latang membuat langkah Faldi dan Martin terhenti.

__ADS_1


"Hahahaha.... kalian semua pergilah." perintah Kendra kepada para gadis itu. Gerry memberikan ciumannya sebelum para gadis itu pergi.


"Kau memang tak terkalahkan Fal. Sangat setia. " Kendra bertepuk tangan.


"Apa maksudmu Bang?!"


"Aku hanya mengujimu saja. Jangan marah. Bercanda sebentar nggak papa kan? Ayo kita ngobrol saja." Kendra berjalan ke arah Faldi dan menggandengnya masuk.


"Dia masih kecil Ken. Kau sudah menggodanya. Mana berani dia." kata Gerry sambil tertawa.


"Bang, Nggak lucu!" hardik Faldi.


"Masih kecil tapi sudah bisa buat anak kecil." komentar Kendra di sambut tawa Gerry dan Martin.


"Kau ikut mentertawakanku?!" Faldi mendelik ke arah Martin. "Bukankah kita sama ha?!"


Cep. Martin langsung menghentikan tawanya.


Faldi duduk dan mengambil gelas berisi minuman. Ia mencium aroma minuman itu memastikan tidak mengandung alkohol sebelum meneguk nya.


"Kau lihat. Dia sangat berhati-hati."Gerry masih menggoda Faldi. Faldi cuek, tak menggubris abangnya itu.Kendra tertawa. Sedangkan Martin nggak mau ikut campur, pasalnya ia dan Faldi adalah sama.


"Kamu begini bukan karena takut istri kan Fal?!" Kendra masih menggoda Faldi.


"Bukan masalah takut Bang. Merusak kepercayaan itu gampang. Mendapatkannya yang susah. Jadi aku nggak mau merusak kepercayaan istri aku."jawab Faldi. Martin mengacungkan jempolnya setuju.


Gerry dan Kendra tersenyum.


Memang kau yang paling pantas mendapatkannya Fal. Hatimu tak tergoyahkan. Tidak seperti aku. batin Kendra.


Mereka terus mengobrol sambil. mengenang kebersamaan di masa lalu dimana mereka masih bersama.


"Fal, Zidan?" tanya Gerry.


"Abang boleh melihatnya kapanpun abang mau. Bunga juga sudah memberi ijin. Ia berkata akan berusaha menutup masa lalu juga."


"Terima kasih." mata Gerry berkaca-kaca. "Apa aku boleh membawanya?"


"Soal itu aku tidak bisa memberi keputusan bang. Akan aku bicarakan dengan Bunga dan Zidan juga. Tapi seandainya sekarang belum bisa, jika ia besar nanti, ia juga pasti mengerti bang."


"Baiklah. Sudah larut. Kasihan Melati kalau terlalu lama aku tinggal sendirian. Kapan kalian balik? Akan aku siapkan jet pribadi buat mengantar kalian." kata Kendra.


"Bang, bisakah hak edar produk perusahaan abang di Indo diberikan pada perusahaanku?" tanya Faldi.


"Tentu. Nanti aku akan minta sekretaris ku menyiapkan berkas kerjasama kita."


"Terima kasih Bang." Faldi tersenyum."


Ya, Kendra kini sudah menjadi pengusaha besar. Warisan dari keluarganya yang selama ini dikelola ayah Lisa jatuh ke tangannya.


Keesokan harinya, Faldi, Martin dan Gerry kembali ke Indo dengan menggunakan jey milik Kendra. Gerry sengaja ke Indo tidak ke Singapura karena ia ingin menemui Zidan. Anaknya yang selama ini hanya bisa ia lihat dari jauh.


Gerry gugup dan berdebar saat mobil yang menjemput mereka dari bandara melaju menuju rumah Faldi.


"Fal, apa yang harus aku katakan padanya nanti?" tanya Gerry.


"Abang tidak usah khawatir. Zidan tahu siapa ayah kandungnya. Aku sudah menceritakan padanya. Ia anak yang cerdas dan mudah mengerti. Tapi kalau abang berharap ia bisa bersikap seperti sikapnya padaku, soal itu, aku tidak yakin."

__ADS_1


"Aku tidak berharap banyak. Asal ia tidak membenciku saja aku sudah lega."


"Kami tidak pernah menanamkan kebencian di hatinya kepada abang. Dulu Bunga hanya takut abang mengambilnya jadi merahasiakan keberadaannya. Dan itu juga sepengetahuan papa. Hanya abang yang tidak tahu."


"Kau salah. Dari awal aku tahu dia anakku. Aku diam karena menghormati keputusan Bunga, dan tidak ingin membuatnya menderita lagi." ujar Gerry lirih.


Terima kasih Bang.


Mobil tiba di rumah Faldi. Faldi turun diikuti Gerry. Bunga yang memang sudah pulang dari rumah Riana begitu tahu suaminya akan pulang, menyambut kedatangan Faldi.


Zidan berlari menyongsong Faldi.


"Papaaaa!" Zidan berlari sambil merentangkan tangannya. Faldi menyambut dengan memeluk dan mengangkatnya ke udara. Bunga tersenyum. Ia sedikit merasa tidak nyaman saat melihat Gerry.


"Sayang!" Faldi mendekat dan memeluk Bunga lalu memberi kecupan di keningnya.



"Hem." Gerry berdehem negiti melihat mereka semakin mesra.


"Ah.. maaf Bang. Lupa." Faldi nyengir.


"Masuk Kak." Bunga mempersilajkan Gerry masuk. Ia mengubah panggilannya kepada Gerry.


"Terima kasih." Gerry melangkah ke arah Zidan. Pria kecil itu menatapnya dengan pandangan bingung. Ia bergantian melihat Faldi dan Gerry.


"Pa! Ma!" kata Zidan.


"Ayo masuk. Ada yang ingin papa dan mama katakan pada Zidan." Faldi mengangkat Zidan dan membawanya masuk. Bunga berjalan disebelahnya. Gerry mengikuti di belakang mereka.


Mereka duduk di sofa ruang tamu. Zidan nerafa dalam pangkuan Faldi.


"Zidan tahu siapa yang duduk di depan Zidan?"


Zidan menggeleng.


"Zidan ingat cerita papa soal ayah kandung Zidan?" pertanyaan Faldi dibalas anggukan Zidan.


"Yang duduk di depan Zidan inilah papa Gerry. Ayah Kandung Zidan." Zidan langsung menatap ke arah Gerry dengan pandangan bingung.


"Papa?!" tanya Zidan pada Faldi.


"Iya. Papa. Panggil beliau papa Gerry. Dan ini papa Faldi." kata Faldi menjelaskan. "Zidan mau kan?."


Gerry menanti jawaban Zidan dengan jantung berdebar-debar.


"Papa Faldi, papa Gerry." Zidan mengulang perkataan Faldi. Faldi mengangguk.


Akhirnya Zidan juga mengangguk. Air mata lolos dari pelupuk mata Gerry. Ia sangat terharu.


"Zidan." panggil Gerry dengan suara bergetar.


"Peluk papa Gerry!" bisik Faldi kepada Zidan. Zidan turun dari pangkuan Faldi dan mendekat ke Gerry. Gerry langsung merengkuh tubuh tambun yang lucu itu ke dalam pelukannya dan mendekapnya dengan erat.


"Papa sayang Zidan." bisik Gerry.


Zidan yang mendengar suara Gerry terisak balas memeluk nya lalu menepuk punggung Gerry seolah menenangkan sang papa. Melihat itu Bunga ikut menitikkan air mata. Ia membenamkan wajahnya ke dada Faldi.

__ADS_1


...💕💕💕...


__ADS_2