Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Bagai Orang Ketiga.


__ADS_3

"Mas!" Bunga datang. "Dimana Zidan?!" tanya Bunga dengan panik. Wajahnya sudah dipenuhi air mata.


"Dia di dalam. Masih dirawat." Bunga merangsek hendak masuk ke ruang perawatan Zidan namun tangannya ditahan oleh Kendra.


"Kamu mau kemana? Jangan masuk! Kita nggak boleh masuk!"


"Bunga ingin melihat Zidan mas. Anak itu pasti kesakitan dan ketakutan. Bunga ingin menemaninya." Bunga berontak dari cengkraman Kendra. Kendra langsung mendekap Bunga. Bunga menangis meraung dalam dekapan Kendra hingga tubuhnya merosot karena lemas. Bunga pingsan.


"Bunga!Bunga!" Kendra memanggil manggil Bunga. "Pak Lik!" Kendra menatap bingung pada Pak Amir.


"Angkat dia ke kursi ini." perintah Pak Amir. Kendra mengangkat tubuh Bunga dan membaringkannya di kursi tunggu.


Kendra menggosok tangan Bunga yang terasa dingin. Pak Amir berlari memanggil seorang perawat meminta bantuan untuk menyadarkan Bunga.


Perawat itu mengoleskan minyak di bawah hidung Bunga lalu memijit telapak kaki dan telapak tangan Bunga. Mata Bunga tampak mengerjab. Ia sadar.


"Zidaaann!" Bunga langsung memanggil nama Zidan begitu ia sadar.


"Minum dulu bu!" kata perawat sambil menyerahkan sebelas air putih kepada Bunga.


"Terima kasih sus!" ucap Kendra. Perawat itu lalu pergi meninggalkan mereka.


"Sayang kamu yang tenang ya. Jangan panik. Zidan membutuhkan kita. Kita harus tenang."


"Kenapa lama sekali mas?"


"Sabar! Dokter sedang berusaha menyelamatkan Zidan. Kita bantu dengan do'a ya!" Kendra menenangkan Bunga.


Meski hatinya risau dan sangat khawatir akan keadaanya putranya, Bunga berusaha tenang. Dua jam kemudian seorang dokter keluar dari ruang rawat Zidan.


"Keluarga anak Zidan?"


"Kami dok!" Bunga dan Kendra mendekat ke dokter.


"Ikut saya!" Dokter itu lalu melangkah ke ruangannya diikuti Bunga dan Kendra.


"Silahkan duduk!"


Bunga dan Kendra duduk di kursi depan meja sang dokter.


"Begini. Luka yang dialami Nanda Zidane cukup serius karena kepalanya mengalami benturan yang keras. Ada pendarahan dalam otaknya dan tulang rahang bawahnya patah."


"Oh!!" Bunga menutup mulutnya. Air mata terus mengalir dari kedua pelupuk matanya.


"Kami sudah mengeluarkan darah dari otaknya. Dan kedepannya jika kondisi Zidan membaik, diperlukan operasi untuk memperbaiki struktur rahangnya. Sayangnya rumah sakit kami terbatas dan tidak mampu melakukannya. Jadi Zidan harus di rujuk ke rumah sakit yang ada di Surabaya."


"Zidaann!" Rintih Bunga pilu. Kendra mendekapnya agar Bunga tenang dan kuat.


"Jika keluarga setuju, maka saat kondisi Zidan sudah stabil kami akan mengurus rujukan dan proses pemindahan Zidan ke rumah sakit di Surabaya."

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik dok. Kami ikut saja!" kata Bunga dengan suara bergetar.


"Baiklah. Nanti kami akan memprosesnya."


"Dokter, apa saya bisa melihat anak saya?"


"Zidan saat ini ada di ruangan ICU dan dia masih dalam pengaruh obat bius jadi masih tidak sadarkan diri. Anda bisa menjenguknya tapi harus di dampingi perawat dan hanya satu orang saja yang boleh masuk!"


"Terima kasih dok!"


Bunga dan Kendra keluar dari ruangan dokter itu lalu menuju ke ruang ICU. Dengan ditemani perawat Bunga masuk. melihat Zidan.


"Zidan sayang. Ini mama. Zidan sakit ya? Anak mama anak hebat. Zidan pasti kuat. Mama akan membawa Zidan ke rumah sakit yang lebih besar agar Zidan bisa disembuhkan. Zidan yang sabar ya nak. Mama sayaaaang sama Zidan. Mama ingin selalu bersama Zidan. Zidan yang kuat ya nak!" Buang berbisik di sisi tempat tidur Zidan sambil. menangis, "Nanti kita akan pergi ke laut kalau Zidan sembuh. Zidan ingin lihat ombak kak? Cepat sembuh ya nak." suara Bunga mirip dengan rintihan. Hatinya hancur melihat kondisi Zidan yang mengenaskan. Rahangnya diberi penyangga dan kepalanya dilubangi untuk jalan masuk selang agar darah di otaknya bisa keluar melalui selang itu. Hidungnya dipasangi alat bantu nafas. Bunga tak bisa membendung airmatanya.


"Bu! Waktunya sudah habis. Mari saya antar ibu keluar!" kata perawat.


Dengan berat hati Bunga meninggalkan Zidan. Di luar ia disambut oleh Riana dan keluarga Firmandana yang sudah tiba.


"Mbak!" Riana langsung memeluk Bunga sambil menangis, "Yang sabar ya mbak! Zidan pasti baik-baik saja!" Bunga ikut menangis.


"Bunga bagaimana cucuku?" tanya Nyonya Dea yang juga berderaian air mata.


Bunga menggelengkan kepalanya, "Bunga tidak kuat melihatnya Nyonya. Dia begitu menderita." Bunga kembali menangis. Nyonya Dea merangkulnya.


"Kamu harus kuat demi Zidan!" kata Nyonya Dea menguatkan Bunga. Bunga mengangguk.


"Iya tuan. Proses pemindahannya dilakukan saat kondisi Zidan stabil."


"Bagaimana ia bisa kecelakaan?" gumam Faldi.


"Itu salahku. Aku lalai. Dia baru bangun tidur lalu berlari keluar rumah mencari Bunga. Aku mengikutinya, tidak di sangka ia lari keluar pagar dan pada saat itu ada sepeda motor melaju dengan kencang dan menabraknya." kata Kendra pelan. Ia merasa sangat bersalah. Andai ia berlari mengejar Zidan pasti ia tidak akan mengalami kecelakaan tragis ini.


"Lalu si pengendara sepeda motor?" kembali Faldi bertanya.


"Dia kabur. Aku tidak sempat mengenali orangnya karena fokus pada Zidan. Aku langsung menggendong dan membawa Zidan kemari." balas Kendra.


"Saya sudah melaporkan kejadian ini kepada polisi. Mereka sedang mengusutnya. Semoga si pelaku cepat ditangkap." kaya Pak Amir.


"Sebaiknya Zidan kami bawa kembali ke Jakarta saja. Bahkan kalau perlu akan aku bawa berobat ke luar negeri. Di sana peralatannya lebih canggih. Zidan pasti bisa tertolong." kata Tuan Firmandana lalu menghubungi seseorang meminta persiapan pemberangkatan Zidan ke Singapura.


"Sekarang aku akan menemui dokter yang merawat Zidan dan menanyakan kemungkinan Zidan melakukan perjalanan jauh." kata Tuan Firmandana.


Pada saat itu seorang perawat datang, "Apa ada di antara kalian yang bergolongan darah O? Pasien membutuhkan tambahan darah yang banyak dan di rumah sakit masih kurang."


"Saya O suster!" kata Faldi.


"Baiklah. Anda ikut saya."


Faldi mengikuti perawat itu.

__ADS_1


"Fal! Terimakasih." kata Bunga. Faldi mengangguk.


Kendra menatap mereka dengan hati nyeri.


Bahkan saat genting seperti ini, hanya dia yang bisa membantumu. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa. batin Kendra.


"Kak. Kamu tidak apa-apa?" tanya Riana yang melihat wajah sedih Kendra.


Kendra tersenyum tipis sambil mengangguk, "Aku baik baik saja Ri! Terimakasih."


"Bagaimana Pa?" tanya Nyonya Dea saat Tuan Firmandana kembali.


"Untuk sementara ia tidak bisa melakukan perjalanan jauh karena kondisinya masih belum stabil. Jadi kita harus menunggu dia stabil dulu baru membawanya berobat ke luar negeri." jawab Tuan Firmandana.


"Kau darimana?" tanya Tuan Firmandana begitu melihat Faldi tiba.


"Aku baru mendonorkan darahku untuk Zidan."


"Jadi golongan darah kalian sama. Berarti golongan darahnya tidak sama dengan Gerry. Gerry bergolongan darah B." gumam Tuan Firmandana.


"Apa kalian keluarga korban tabrak lari siang tadi?" seorang polisi datang. Faldi menatap wajah polisi itu yang terasa tidak asing begitu pula sang polisi.


"Iya. Saya ibunya." jawab Bunga. Ia terkejut menyadari siapa polisi yang ada di hadapannya.


"Bunga. Jadi korban itu anakmu. Apa kabar kalian?" tanya polisi yang dulu pernah mengejar Bunga dan bersaing dengan Faldi. "Tadi ada laporan masuk ke kami via telepon. Saya datang untuk meminta tanda tangan pelapor. Tolong sebagai ayah dari korban kau isi formulir laporan ini." kata polisi itu menyerahkan map berisi formulir pelaporan kasus kepada Faldi.


"Eh tapi dia.." Bunga ingin menjelaskan kalau Faldi buka ayah Zidan tapi ucapannya terputus oleh kata-kata Faldi.


"Aku akan mengisinya." kata Faldi. Faldi mengambil formulir itu dan mulai mengisi laporan kasus tabrak lari.


"Terimakasih kerjasamanya, semoga anak kalian segera sembuh." kata polisi itu lalu meninggalkan mereka.


"Kalian saling kenal?" tanya Riana.


Faldi tersenyum. "Dia sainganku dulu." jawab Faldi pendek. "Saat itu aku masih SMA dan dia baru lulus pendidikan kepolisian."


"Oohh... Bapak hebat juga. Masih SMA tapi mampu bersaing dengan seorang polisi." komentar Riana.


Faldi tersenyum sambil melirik Bunga. Bunga juga tersenyum tipis, wajahnya menunduk.


Kendra memperhatikan semua itu.


Kenapa aku jadi merasa seperti orang ketiga dalam cerita percintaan mereka. batin Kendra


...🌹🌹🌹🌹...


**Zidan yang kuat ya nak... author mendoakanmu.


Jangan lupa jejaknya**

__ADS_1


__ADS_2