
Pagi-pagi sekali Bunga sudah bangun. Ia membantu pelayan mansion Gerry menyiapkan sarapan.
"BI, kesukaan Bang Gerry apa?" Bunga bertanya kepada pelayan yang bernama Marni.
"Tuan Muda orangnya tidak pemilih kok Non. Asala sehat dan enak ia suka."
"Kalau pantangan? Apa dia punya alergi terhadap makanan tertentu?"
"Tuan Muda alergi udang Non. Ia tidak bisa makan udang meski sedikit. Nafasnya akan sesak."
"Hanya udang?"
"Iya Non."
"Kamu ngapain?" Suara Gerry mengagetkan Bunga.
"Kamu kok bisa turun?"
"Kenapa? Kan ada lift."
Bunga menepuk jidatnya. Ia lupa mansion mewah ini memiliki lift.
"Teman aku ke taman!"
Bunga mendorong kursi roda Gerry menuju taman.
"Bang, apa Kendra sudah mengurus tentang terapimu?"
"Aku belum memberikan perintah padanya."
"Kenapa, bukankah lebih cepat lebih baik."
"Aku akan terapi setelah kita menikah.Aku nggak mau jika nanti tubuhku di sentuh sentuh perawat. Aku maunya sama kamu."
"Selama ini bukankah kamu dibantu perawat?"
"Nggak. Perawat hanya menyiapkan makanku. Lainnya aku lakukan sendiri sebisaku. Kalau darurat, aku selalu menghubungi Kendra."
Bunga tersenyum mengetahui prianya sangat menjaga diri.
"Sebelum kondisimu seperti ini, apa kamu tidak pernah menyentuh wanita?"
"Bukankah kamu tahu siapa yang pernah aku sentuh. " jawab Gerry. Ia ingat saat ini ia adalah Faldi. Ia tidak mungkin menceritakan kisahnya.
Muka Bunga memerah. Ia masuk ke dalam jebakannya sendiri.
"Bunga, bawa aku ke orang tuamu!Aku akan melamarmu!"
"Tapi Bang. Apa orang tuamu sudah tahu?"
"Semalam aku sudah menghubungi mereka. Pada dasarnya mereka tidak keberatan. Bahkan mereka bersyukur dan ingin bertemu denganmu."
"Apa mereka akan datang?"
Gerry mengangguk.
"Katakan pada orang tuamu bahwa aku akan datang bersama orangtuaku untuk meminangmu. Jelaskan juga kondisiku agar mereka tidak kaget!"
__ADS_1
Mulai deh. Kata-kata nya bernafas memerintah. Begini ya kalau Bos. Dimanapun memberi perintah.
"Aku salut sama kamu, Bang. Masih muda tapi sudah jadi bos. Jadi direktur. Pasti kau orang yang cemerlang."
"Apakah itu pujian?"
"Bukan itu celaan." Bunga memberengut. Bibirnya mengerucut lucu.
Gerry tersenyum melihat tampang gadis yang ada di sampingnya.
"Kamu nggak ngantor hari ini?"
"Bang, kalau aku berhenti kerja bagaimana? Agar aku bisa fokus mengurusmu. Lagi pula aku diberi gaji sama mas Kendra."
"Bukan Kendra yang menggajimu, tapi aku." Gerry nampak kesal. "Kalau kau mau berhenti kerja aku malah bersyukur. Lagi pula sebentar lagi kita menikah. Kau nggak perlu kerja. Kau bisa membantuku mengurus perusahaan."
"Baiklah. Aku akan membuat surat pengunduran diri dan akan aku kirim ke atasanku segera."
"Bunga, jika suatu saat kamu tahu aku punya rahasia yang kusembunyikan darimu, apa kau akan marah?"
"Tergantung."
"Maksudnya?"
"Kalau abang punya wanita lain dan merahasiakan dariku, jelas aku akan marah. Bahkan aku akan pergi meninggalkan abang."
"Kalau aku berbohong?"
"Ya sama. Tergantung isi kebohongannya."
"Bagaimana jika aku bukan Faldi. Tapi orang lain?"
Melihat Bunga tertegun, Gerry menyadarkannya.
"Hei! serius amat." Gerry menyentil kening Bunga.
"Habis pertanyaan abang aneh."
"Sudahlah lupakan. " Gerry menarik Bunga dan mendudukan gadis itu di pangkuannya. Dipeluknya pinggang Bunga. Ia menyandarkan kepalanya di dada Bunga. Memuaskan dahaganya akan aroma tubuh gadis itu.
"Bunga. Maukah ke berjanji? Apapun yang terjadi tidak akan meninggalkanku."
"Aku berjanji Bang."
"Percayalah pada cintaku."
"Iya." Bunga mengelus rambut Gerry. Ia merasakan pria itu menjadi sedikit melankolis.
Gerry mengangkat kepalanya. Tangan terjulur ke tengkuk Bunga. Di tariknya tengkuk Bunga hingga ia bisa mencium bibir gadis itu. Seperti biasa, ciuman mereka berlangsung lama.
Ciuman mereka terhenti saat ada suara mendekat. Buru-buru, Bunga bangkit dari pangkuan Gerry.
"Tuan, Nona. Sarapan sudah siap."
"Terima kasih Bik Marni." jawab Bunga gugup. Sedangkan Gerry hanya diam dan sikapnya dingin seperti biasanya.
Bunga mendorong kursi roda Gerry ke ruang makan. Kemudian ia melayani Gerry makan dan duduk di samping pemuda itu.
__ADS_1
Selesai makan Kendra datang.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Anda harus ke kantor hari ini, menghadiri rapat dengan para pemegang saham."
"Baik.Tunggulah! Aku akan bersiap. Bunga bantu aku!"
Bunga berdiri dan membawa Gerry ke kamar untuk bersiap. Bunga membantu Gerry memakai kemeja dan memasangkan dasinya.
"Kau bersiap juga! Ikut aku ke kantor. Aku akan mengenalkanmu pada pegawai dan pemegang saham sebagai tunangan ku. Jadi nanti saat kita menikah, mereka tidak kaget."
"Secepat ini Bang?"
"Untuk hal baik, bukankah lebih cepat lebih bagus."
Bunga mengangguk.
Waktu tiga tahun ternyata banyak merubah seseorang, batin Bunga.
Setelah siap, Bunga membawa Gerry turun. Bersama Kendra, mereka menuju kantor Gerry.
Sesampainya di kantor, Kendra membantu mendorong kursi roda Gerry, Bunga mengikuti di samping Kendra.
Mereka berjalan menuju ruangan Gerry. Para karyawan yang berpapasan dengan mereka saling berbisik membicarakan Gerry. Tidak bisa dipungkiri, meski cacat, Gerry tetaplah seorang pemuda yang tampan. Apalagi ia datang dengan membawa seorang gadis cantik.
Gerry membawa Bunga ke ruang meeting. Lalu mengenalkan Bunga kepada rekan bisnis dan pemegang saham yang hadir di sana sebagai tunangannya. Ketika rapat akan dimulai, Bunga minta ijin untuk menunggu di ruangan Gerry saja.
Bunga merebahkan dirinya di sofa. Matanya akan terpejam saat seseorang mengetuk pintu.
"Masuk!"
"Apa aku mengganggumu?" tanya Kendra.
"Oh Mas Kendra. Nggak kok mas. Ada apa?"
"Kudengar Tuan Muda melamarmu? Bunga apa kau yakin akan menikah dengannya?"
Bunga mengangguk
"Kenapa?"
"Karena aku mencintainya."
"Bagaimana jika cintamu salah?Bagaimana jika dia tidak seperti yang kau bayangkan?"
"Aku mencintainya apa adanya, Mas."
"Kau mencintai Faldi kan? Bagaimana kalau Gerry dan Faldi orang yang berbeda?"
Bunga menatap Kendra. Ia tersenyum.
"Hari ini aneh sekali. Tadi pagi Bang Gerry juga bertanya begitu. Sekarang mas Kendra. Sebenarnya ada apa sih?Jelas jelas mereka orang yang sama."
"Seandainya beda, apa kau akan meninggalkan Gerry setelah ia jatuh cinta padamu?Aku bilang seandainya jadi jawablah. Bayangkan saja jika Gerry bukan Faldi."
Bunga mengingat kebersamaannya dengan Faldi dan Gerry. Ia menimbang perasaannya.
"Aku tidak tahu mas. Meski berandai andaipun aku tidak bisa menjawabnya."
__ADS_1
"Gerry sangat mencintaimu. Aku tidak pernah melihatnya seperti ini terhadap wanita. Ku harap kau tidak menghancurkan hatinya. Ia sudah hancur dan merasa bersalah atas kecelakaan itu. Jika sekali lagi hatinya dihancurkan. Aku tidak tahu apa dia bisa bangkit lagi. Jadi pikirkan baik baik. Apa benar kau ingin menikah dengannya. Andai dia bukan Faldi." Kendra lalu keluar meninggalkan Bunga yang termenung memikirkan kata-kata Kendra.