Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Curhatan Kendra


__ADS_3

"Apa dia akan baik-baik saja dokter?" tanya Kendra.


"Biarkan dia istirahat. Tadi saya sudah memberi suntikan penawar obat yang telah ia minum. Besok pagi ia akan baik-baik saja."


"Terima kasih dokter." Kendra mengantar dokter itu pulang. Saat di luar, ia melihat sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Riana dan baby sitter Zidan datang.


"Kak, bagaimana keadaan mbak Bunga?"


"Dia masih belum sadar. Ri, bawa Zidan ke kamarnya."


"Iya kak'" Riana langsung mengajak baby sitter yang sedang menggendong Zidan ke kamarnya.


Kendra kembali ke kamar. Ia memperhatikan Bunga dengan perasaan yang campur aduk. Ia merasa marah dan jijik jika ingat bagaimana Bunga dan Faldi saat pertama kali ia lihat, tapi ia juga kasihan karena semua terjadi karena Bunga telah diperdaya. Kendra juga merasa bersalah karena telah meninggalkan Bunga sendirian.


Kendra ingat hari-hari sebelumnya dimana Bunga selalu menolak untuk diajak ke nikahan gerry, tapi dia yang bersikeras agar Bunga ikut.


Sekarang aku tidak bisa menuduh siapapun. Faldi memang yang bersama Bunga, tapi sepertinya ia juga korban. Satu-satunya orang yang mampu melakukan ini adalah Gerry. Tapi aku tidak punya bukti. Riana ya Riana pasti tahu sesuatu.


Kendra beranjak menemui Riana di kamarnya. Ia mengetuk pelan pintu kamar Riana. Karena tidak ada jawaban, Kendra mencoba membuka pintu kamar Riana yang ternyata tidak terkunci.


"Ri!" panggil Kendra mulai melangkah masuk. Ia mendengar bunyi gemericik air.


Oh dia sedang mandi.


Kendra menunggu Riana sambil duduk di atas ranjang.


Ceklek


Pintu kamar mandi terbuka. Riana keluar dengan hanya menutup tubuhnya dengan selembar handuk. Ia tidak tahu jika di kamarnya ada Kendra.


Kendra menatap Riana. Matanya terbelalak menatap pemandangan itu. Ia bisa melihat leher jenjang Riana dan dadanya yang putih juga kaki panjangnya yang mulus. Sebagian bukit kembar Riana yang menyembul karena ikatan handuk yang ketat.


"Aw!!" Riana terpekik kaget. Ia segera berbalik ke kamar mandi. "Kak! Kenapa ada di kamarku?"


"Maaf! Aku ada perlu denganmu. Aku tunggu di ruang makan ya! Keluarlah saat kau sudah selesai berpakaian!" Kendra lalu keluar dari kamar Riana.


Riana keluar dari kamar mandi saat mendengar pintu kamarnya telah di tutup lagi. Ia mengambil baju di almari dan mulai membuka handuknya.


Tiba-tiba.


"Di balkon atas saja!" kata Kendra yang kembali membuka pintu kamar Riana dan melongokkan kepalanya ke dalam kamar Riana.

__ADS_1


Riana syok karena saat kepala Kendra nongol, ia hanya memakai cd saja dan baru akan memasang bra.


Kendra cepat-cepat menutup kembali pintu itu saat melihat tubuh setengah polos Riana. Ia memegang dadanya yang berdebar dengan hebat. Bagaimanapun Kendra adalah pria muda yang normal. Melihat tubuh wanita tentu saja menggoda hasratnya.


Kendra berjalan menuju dapur. Sebelum ke balkon ia bermaksud membuat kopi terlebih dahulu.


"Kakak mau membuat kopi?" tanya Riana.


Kendra sedikit gugup mendengar suara Riana yang ia dengar menjadi lebih lembut dari biasanya.


"Iya!" jawab Kendra. Ia nampak kebingungan saat akan mencampur kopi dan gula.


"Satu sendok kopi dan dua sendok gula. Itu yang biasa mbak Bunga masukkan ke cangkir kopi Kak Kendra," kata Riana membantu Kendra.


"Mmm...maukah kau membuatkannya untukku?"


Riana lalu mendekat dan mengambil tempat kopi dari tangan Kendra. Mereka berdiri berdekatan hingga hidung Kendra bisa mencium bau harum Riana.


"Ini kak!" Riana menyerahkan cangkir kopi ke Kendra. Kendra menerima cangkir itu dari tangan Riana. Sebentar tangan mereka bersentuhan.


"Tadi kata kakak ada yang kakak tanyakan. Apa?" tanya Riana.


Kita duduk di balkon saja. Biar lebih enak berbincang." kata Kendra.


"Pemandangan malam yang sangat indah!" desis kekaguman keluar dari bibir Riana.


"Kau belum pernah ke balkon ini?"


Riana menggeleng, "Kamarku di lantai bawah, jadi aku hampir tidak pernah naik ke lantai dua. Kecuali jika mbak Bunga mengajakku ngobrol di kamar Zidan."


"Apa Bunga pernah mengajakmu ke kamar kami?"


Riana kembali menggeleng, "Orang tua kami selalu mengajarkan bahwa kamar adalah tempat yang paling pribadi bagi seseorang. Jadi kami dilarang membawa masuk orang luar ke kamar kami begitupun sebaliknya, tidak membawa masuk orang luar ke kamar kami tanpa tujuan yang mendesak dan penting."


"Oh. Maaf untuk yang tadi!" kata Kendra. "Tadi aku sudah mengetuk dan memanggilmu, karena nggak ada jawaban dan pintu juga tidak terkunci, maka saya masuk."


"Tidak apa-apa. Saya juga salah karena nggak mengunci pintu. tapi saya harap lain kali mas tidak masuk ke kamar saya kalau tidak ada hal yang urgent." kata Riana yang sebenarnya sangat malu jika mengingat insiden tadi di kamarnya. Kendra sekarang sudah melihat tubuhnya. Entah apa yang dipikirkan pria itu terhadap dirinya. Begitu pikiran yang mengganggu Riana.


Mereka berdua sejenak terdiam.


"Kak! Apa yang ingin kakak tanyakan?"

__ADS_1


"Soal kejadian tadi. Apa kau bisa menceritakan peristiwanya bagaiamana Bunga bisa mendadak pingsan?" tanya Kendra.


"Aku juga tidak tahu jelasnya. Aku sempat meninggalkan Mbak Bunga sendirian untuk sekedar menyapa teman-temanku. Terus saat aku kembali,Mbak Bunga sedang berbincang dengan pria yang berada di kamar itu. Lalu pria itu pergi dan Mbak Bunga tiba-tiba merasa pusing. SEorang pelayan datang dan memberitahu kalau ada kamar yang bisa digunakan untuk beristirahat. Dia juga menyarankan agar aku membawa Mbak Bunga ke kamar itu. Lalu aku meninggalkannya dan seterusnya aku tidak tahu apa yang terjadi." Riana menjelaskan panjang lebar.


Kendra terus menatap dan mengamati wajah Riana selama ia bercerita. Dalam hati kendra mengakui kalau Riana memiliki kemiripan dengan Bunga. Bentuk bibir dan cara mereka menarik bibir saat bicara sama. Bahkan saat mengerucutkan bibirpun sama. Tebal bibirnyapun sama. Apakah rasanya juga sama?


Kendra tidak fokus pada penjelasnya Riana. Sejak melihat tubuh Riana, kini ia memandang Riana dengan pandangan yang berbeda. Tidak lagi sama seperti sebelumnya.


"Kak! Apa kakak mendengarkanku?" tanya Riana melihat Kendra terpaku menatapnya.


"A..Apa?!" Kendra tergagap, "iya." jawabnya asal. Karena ia hanya mampu mengingat cerita awal Riana. Selebihnya ia tidak bisa mengingatnya.


"Kak.KIra-kira siapa yang melakukan ini pada mbak Bunga yan kak?" gumam Riana.


"Kau tidak tahu siapa yang memberinya obat itu?"


"Kan tadi aku sudah bilang, saat aku sampai di tempat mbak Bunga, ia kemudian mengeluh pusing. Aku tidak melihat siapa yang memberinya obat."


'Ri, apa kau tahu siapa pria yang bersama Bunga di kamar?"


Riana menggeleng.


"Dia Faldi, cinta pertama Bunga. Karena dialah Bunga menikah dengan Gerry. Bunga mengira kalau Gerry adalah dirinya. Gerry menipu Bunga dengan tidak mengakui siapa sebenarnya dirinya. Saat tahu kalau Gerry adalah kakak Faldi, Bunga memutuskan meninggalkan Gerry. Aku membantunya kabur dan menemaninya bersembunyi. Dan demi anak yang dikandungnya agar memiliki ayah, kami menikah." Kendra menceritakan secara singkat kisah dirinya dan Bunga.


Riana mencerna setiap ucapan Kendra. Ia mengakui kalau Faldi dan Gerry memang sangat mirip. Tadi saja jika tidak melihat Gerry di pelaminan, ia pasti juga mengira kalau Faldi yang sedang bicara dengan Bunga adalah Gerry.


"Jadi kalian menikah karena terpaksa? Maksudku karena keadaan yang memaksa kalian untuk menikah?"


"Mungkin. Tapi aku mencintainya. Setidaknya itu yang kurasakan selama hidup dengan Bunga. Aku mencintainya dan ia juga mengaku mencintaiku. Aku sempat meragukan ketulusannya beberapa bulan terakhir ini sejak ia kembali bertemu Faldi. Dan malam ini, kau tahu aku kembali meragukan perasaan Bunga padaku. Ia begitu pasrah dalam pelukan Faldi."


"Mbak Bunga nggak pasrah kak. Ia nggak mampu menolak karena efek obat."


"Kau lihat ia bawa ponsel kan? Kenapa ia tidak mencoba mengontakku.'' sesal Kendra.


Riana diam. Ia tidak lagi bisa berkata-kata. Matanya menatap Kendra yang tampak sangat menderita. Riana menjadi iba pada pria tampan itu.


...🌹🌹🌹...


Hati ini bukan punya manusia. Ada yang Maha membolak balikkan hati. Begitu juga rasa. Jadi jagalah hati dan rasa dengan senantiasa berdoa mohon perlindungan.


'

__ADS_1


'


__ADS_2