
Setelah dari kamar Riana, Bunga menuju kamarnya. Ia kaget saat membuka pintu melihat Kendra yang berdiri di depan almari dengan hanya memakai handuk.
"Mas! Tumben pulang awal? Kenapa tidak memanggilku tadi?" Bunga memeluk tubuh Kendra dari belakang dan mencium punggung suaminya.
Kendra mengurai tangan Bunga yang melingkar di perutnya dan menghempaskan dengan kasar.
"Mas! Kamu kenapa?!" Bunga tercengang dengan sikap kasar Kendra. Pria itu tidak menggubris pertanyaan Bunga. Ia mempercepat berpakaian.
"Mas! Kamu mau pergi lagi?" tanya Bunga melihat Kendra berpakaian rapi.
Kendra masih diam. Selesai berpakaian ia keluar.
"Mas, jawab aku!" Bunga berjalan mengikuti Kendra.
"Mas!" Bunga mencekal tangan Kendra hingga pria itu menghentikan langkahnya. "Mas, Ken mau kemana? Jangan pergi dalam keadaan marah, mas! Maafkan Bunga jika Bunga ada salah!" Kata Bunga mengiba.
Kendra membuang nafasnya dengan kasar. Ia berbalik dan menatap Bunga dengan penuh amarah.
"Lepaskan! Aku mau pergi kemana apa perlu ijinmu dulu. Tidak! Semua terserah aku!" Kendra kembali menghempaskan tangan Bunga yang memegang lengannya. Ia lantas bergegas meninggalkan rumah itu.
Bunga tak habis pikir dengan sikap Kendra yang mudah berubah-ubah itu.
Apa yang membuat mas Kendra berubah? Aku seperti tidak mengenalinya. Mas Kendra yang ku kenal, baik dan sabar. batin Bunga dengan sedih.
"Mbak!" Riana datang dan memanggil Bunga. Bunga segera menyeka air matanya.
"Ya?" Bunga menatap Riana.
"Maaf, mbak. Tadi aku tak sengaja melihat. Apa hubungan kalian baik-baik saja?"
Bunga ingin bilang iya, tapi Riana sudah melihat perdebatan nya dengan Kendra tadi.
"Kami memang sedang ada masalah. Tapi hubungan kami baik-baik saja."
"Apa karena aku mbak?"
"Bukan. Kamu tenang saja. Biasa dalam rumah tangga." Bunga berkata untuk menenangkan Riana. Sebenarnya Bunga ingin menenangkan dirinya sendiri. Ia berharap bahwa hubungannya dengan Kendra akan baik-baik saja. Pernikahan mereka yang baru berjalan tujuh bulan memang sedang menghadapi badai. Mungkin ini karena ia menikah tanpa meminta restu dari ayah dan ibunya.
Melihat wajah murung Bunga, Riana menjadi iba.
"Mbak, mungkin Riana masih muda dan belum punya pengalaman dalam urusan rumah tangga. Tapi kalau mbak butuh teman untuk berbagi, Riana siap." Riana memegang lembut tangan Bunga. Bunga tersenyum lalu memeluk sepupunya itu
"Terima kasih, Ri. Kini mbak nggak merasa sendirian lagi."
__ADS_1
Sementara itu, Kendra yang meninggalkan rumah karena kesal tidak tahu harus kemana. Saat melewati sebuah kafe, Kendra membelokkan mobilnya dan berhenti di kafe itu. Ke dan turun dan berjalan masuk ke kafe.
Ia duduk sambil menikmati kopi pesanannya datang. Kendra termenung memikirkan rumah tangganya dengan Bunga.
Kenapa aku bisa jatuh cinta padanya. Jelas-jelas dari awal aku tahu kalau sampai kapanpun ia tidak akan mampu menghapus bayangan Faldi dari hatinya. Tidak pernah ada kata putus dalam hubungan mereka.
Kendra meneguk kopinya lagi untuk mengusir gundahnya. Dari dulu Kendra memang tidak menyukai alkohol, jadi saat pikirannya kalut seperti ini, ia lebih memilih lari ke kafe daripada ke baratai club.
Seseorang menepuk bahu Kendra membuat pria itu terkejut.
"Gerry! Kau disini juga?!"
"Ya! Kamu sendiri? Melihat pakaianmu kamu sepertinya sudah pulang kerja. Kenapa malah nongkrong disini? Bukankah ada istri dan anak di rumah?"
Kendra memperhatikan Gerry yang masih mengenakan stelan jas.
"Tadinya aku pulang cepat ingin memberi kejutan. Ternyata malah aku yang mendapat kejutan." Ucapan Kendra diakhiri dengan tawa getir.
"Kenapa? Kau bisa cerita padaku. Bagaimanapun kita pernah dekat layaknya saudara. Apalagi semalam papa telah mengatakan kamu anak angkatnya. Jadi kau bisa berbagi masalahmu denganku."
Kendra menatap sangsi ke Gerry.
"Ger! Kenapa kau mau dijodohkan?" Kendra tidak menanggapi tawaran Gerry, ia malah menanyakan alasan Gerry mau menerima perjodohan yang diatur oleh Tuan Firmandana.
"Apa maksudmu? Aku tak mengerti."
"Aku bicara tentang Bunga. Aku bahagia saat bersama Bunga. Tapi aku juga menipu diriku sendiri. Bunga menerimaku sebagai Faldi bukan Gerry, Buktinya saat tahu aku bukan Faldi. Dia meninggalkanku. Di hatinya hanya ada Faldi. Cinta yang ia berikan padaku cinta semu. Tidak nyata. Ia memang menyerahkan tubuhnya padaku. Tapi pada saat itu, Faldi lah yang ada dalam pikirannya. Aku ingin meninggalkan itu semua. Lepas dari itu semua. Agar aku bisa bahagia."
Kendra mencerna ucapan Gerry. Ia berpikir mungkinkah kebahagiannya juga semu. Mungkinkah saat melayaninya, Faldilah yang dibayangkan oleh Bunga.
"Sekarang ceritakan padaku, kenapa sore sore sudah nongkrong di sini? Ada masalah apa?"
"Ger! Apa menurutmu kebahagiaan yang kurasakan bersama Bunga juga semu?"
Gerry tersenyum melihat ucapannya berpengaruh pada Kendra.
Maafkan aku Ken. Aku ingin mengembalikan semuanya pada tempat semestinya. Aku telah melakukan kesalahan pada Faldi. Aku hanya ingin menebusnya. Maafkan aku jika nanti melukaimu.
"Aku tidak bisa menilai apa kebahagiaanmu semu atau nyata. Aku hanya bisa berkata bahwa Faldi dan Bunga itu bagai dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Mungkin tubuh mereka berjauhan. Tapi hati mereka selalu terikat. Jadi kau nilailah sendiri, apa kebahagiaanmu itu semu atau nyata."
Kendra diam sebentar.
"Kenapa Faldi balik ke Singapura?"
__ADS_1
"Dia harus menyelesaikan studinya dan memantaskan diri untuk memegang tanggung jawab perusahaan. Dan mungkin mempersiapkan diri agar bisa menjadi jadi suami yang bertanggung jawab."
"Tuan Firmandana akan menyerahkan perusahaan yang di Singapura pada Faldi?"
"Bukan yang di Singapura, tapi yang di Jakarta. Aku yang akan pindah ke Singapura setelah menikah."
"Jadi dia akan kembali menetap di Jakarta." gumam Kendra. Nampak jelas kegusaran dalam nada suaranya.
"Ken. Tempat ini tidak cocok untuk mengusir galau. Kopi tidak akan membantu perasaan sedihmu. Apa kamu mau aku temani ke tempat yang lebih cocok?"
Kendra yang paham ke arah mana ucapan Gerry, menggeleng.
"Tidak. Pantang bagiku menginjakkan kaki di tempat begituan. Sekali aku menyentuh alkohol, aku akan melakukan kejahatan lainnya."
Gerry menggelengkan kepalanya melihat keteguhan prinsip Kendra.
"Baiklah. Kau baik-baik menjaga Bunga. Aku pulang dulu." Gerry bangkit meninggalkan Kendra.
Hampir semalaman Kendra duduk di kafe itu. Sudah lima gelas kopi yang ia minum.
"Tuan! Kafe mau tutup!" seorang pelayan kafe mendatangi Kendra.
"Ah iya. Maaf!" Kendra meminta bill lalu membayar minumannya. Kemudian ia meninggalkan kafe itu.
Setibanya di rumah, Kendra langsung masuk kamar. Ia melihat Bunga sudah terlelap. Kendra duduk di samping Bunga sambil menatap wajah cantik yang tidur dengan damai itu. Dengan perlahan Kendra mendekatkan wajahnya hendak mengecup kening Bunga. Tindakan Kendra terhenti saat ponsel Bunga bergetar.
Kendra menatap ponsel itu. Ia menjadi penasaran, siapa yang malam-malam begini menghubungi istrinya.
Kendra mengambil ponsel itu.
Pesan dari nomor tak di kenal. Kendra membuka pesan itu. Matanya terbelalak saat melihat foto Faldi yang sedang tiduran sambil bertelanjang dada. Dalam pesan itu juga tertulis kata-kata yang sangat mesra.
Sayang, apa kamu sudah tidur? Aku kirim tubuhku untuk menemanimu tidur. Love you.
Kendra memegang erat ponsel Bunga. Matanya nanar menatap Bunga yang tengah terlelap.
Jadi selama ini kalian masih berhubungan di belakangku
Kendra lalu meninggalkan Bunga. Ia memilih tidur di ruang kerjanya.
...🌹🌹🌹🌹...
**Jangan dibully ya.. se alim alimnya Kendra, ia juga manusia biasa. 😊😊😊
__ADS_1
Jejak jejak.. mana jejaknya**!