Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Akhirnya terlaksana juga


__ADS_3

Selesai mandi dan bersiap, Kendra keluar dari kamarnya. Ia langsung menuju dapur karena tahu kebiasaan Bunga setiap pagi selalu berkutat di dapur.


"Pagi istriku sayang!"


Kendra memeluk Bunga dari belakang. Bunga tidak merespon karena masih kesal dengan kejadian semalam.


"Kok dicuekin suaminya?" kata Kendra sambil menaruh kepalanya di bahu Bunga.


"Kenapa nggak? Kalau mas Kendra bisa cuekin aku, aku juga bisa cuekin mas." kata Bunga ketus.


"Eh, kapan mas cuek padamu sayang? Asal kamu tahu ya, satu satunya hal yang tidak bisa mas lakukan adalah mengabaikanmu." rayu Kendra.


"Terus yang semalam apa namanya kalau buka cuek atau mengabaikan? Kita sudah menikah tapi mas malah meninggalkanku dan tidur kembali di kamar lama mas." tanya Bunga pedas. Ia mengurai tangan Kendra yang melingkar di perutnya dan menjauhkan tubuhnya dari pria itu.


"Oh, yang semalam. Itu karena aku tidak boleh berada di dekatmu."


"Kenapa nggak boleh? Siapa yang melarang? Harga diri mas ya yang melarang dekat-dekat dengan janda beranak satu." kata Bunga masih dengan nada yang pedas.


"Sayang kenapa kamu berpikir begitu?"


Kendra kembali memeluk Bunga. Bunga meronta namun Kendra malah mempererat pelukannya.


Tangan Kendra mengunci tubuh Bunga dalam dekapan nya. Ia menarik tubuh wanita itu sehingga menyatu dengan badannya.


"Kemarin bapak-bapak tetangga kita menasehatiku untuk tidak bercinta dulu denganmu. Hal ini disebabkan karena kamu masih menyusui Zidan. Kata bapak-bapak itu nanti tumbuh kembang Zidan akan terganggu jika aku tetap memaksakan diri memasukimu. Aku harus menunggu sampai Zidane berusia enam bulan, saat ia sudah boleh makan makanan pendamping asi."


Kendra melonggarkan pelukannya. Ia menunduk untuk melihat wajah Bunga.

__ADS_1


Bunga diam. Kendra lalu mengangkat dagu Bunga.


"Aku juga mengunginkannya semalam. Sangat ingin malah. Tapi aku tidak mau egois. Aku harus mendahulukan Zidan yang masih bayi."


"Mas Kendra tidak sedang berbohong kan?"


"Buat apa aku bohong? Tidakkah kamu bisa melihat bahasa tubuhku selama ini ha? Tidakkah kamu tahu betapa aku menginginkanmu, Bunga?" Kendra menangkup wajah Bunga dengan kedua tangannya.


Mata mereka saling menatap. Pelan namun pasti Kendra menundukkan wajahnya dan dengan lembut mengecup bibir Bunga. Saat merasakan nikmatnya bibir Bunga, Kendra mengulang mencium bibir itu dengan lebih dalam. Bunga mengalungkan tangannya di leher Kendra. Lalu jemarinya menyusup ke sela sela rambut Kendra sambil menarik kepala Kendra sehinga bibir Kendra lebih menekan bibirnya.


Kendra juga melingkarkan tangannya di pinggang Bunga. Ia lalu mengangkat tubuh Bunga dan mendudukannya di atas meja yang ada di belakang Bunga.


Ciuman mereka makin lama makin panas dan menuntut. Tangan Kendra dengan liarnya menjelajahi tubuh Bunga.


"Sayang!" bisik Kendra dengan suara parau karena gairah.


Kendra lalu membopong Bunga ke kamarnya. Kendra meletakkan Bunga di atas kasur dengan lembut. Dengan posisi di atas tubuh Bunga, Kendra kembali mencium bibir Bunga. Tangannya bergerak membuka kancing baju Bunga.


Setelah kancing terbuka, Kendra lalu meremas dua harta milik Bunga membuat Bunga mendesah.


"Kamu menikmati nya" tanya Kendra.


"Hmm." desah Bunga.


"Hmm apa?" bisik Kendra lalu ia memainkan lidahnya dipuncak benda kenyal itu lalu memasukkan benda bulat yang ada diujung benda itu ke dalam mulutnya dan menghisap nya.


"Mas Kendra nakal." desis Bunga.

__ADS_1


Kendra tersenyum. Tangannya mengarah ke bawah dan membuat gerakan gerakan di sana. Tubuh Bunga bergetar.


"Apa aku harus menghentikan nya" tanya Kendra sambil pura pura menarik tangannya.


"Ah.. jangan!" Bunga memegang tangan Kendra dan meletakkan di tempat semula. Ia bahkan memberi celah agar Kendra semakin leluasa.


"Jadi apa kamu menikmatinya?" kembali Kendra berbisik menggoda Bunga.


Bunga tidak menjawab. Tatapan matanya semakin sendu. Kendra tahu kalau istrinya sudah siap menerima tubuhnya. Kendra lalu memposisikan diri dan mulai melakukan penyatuan.


"Terima kasih sayang." kata Kendra setelah aktivitas mereka selesai.


"Mas Kendra sudah nggak takut akan mempengaruhi Zidan lagi?" tanya Bunga.


"Astagfirullah. Sayang maaf.. Aku nggak akan mengulanginya. Aku janji akan menunggu sampai enam bukan usia Zidan." kata Kendra penuh khawatir.


"Memangnya bapak-bapak itu bilang apa sih mas?"


"Mereka bilang kalau kondisi kesehatan Zidan akan terganggu akibat kekurangan gizi."


"Kekurangan gizi? Apa hubungannya dengan aktivitas kita? Asal makanku sehat insyaAllah gizi Zidan akan terjamin."


"Kata mereka sih karena aku lebih kuat jadi jatah Zidan berkurang."


"Kenapa bisa berkurang? Emang mas Kendra minum asi juga. Nggak kan? Mas yakin mereka nggak sedang mengerjaimu?"


Kendra baru sadar setelah Bunga mengatakannya. Ia tidak sedang berebut asi, kenapa Zidan akan kekurangan gizi. Dasar bapak-bapak usill.. rutuk Kendra dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2