
Sejak pertemuannya dengan Zidan, Gerry semakin sering menghubungi anaknya itu lewat Faldi. Hubungan ayah dan anak itu semakin dekat hingga Gerry memberanikan diri mengutarakan niatnya untuk mengasuh Zidan pada Faldi.
"Fal. Sebentar lagi kamu akan memiliki anak, kan. Jadi bisakah Zidan aku yang asuh?" tanya Gerry saat berkunjung ke Indo untuk melepas rindunya pada Zidan.
"Soal itu jawabanku tetap sama Bang. Hanya Bunga yang bisa memutuskan, bukan aku." balas Faldi.
"Tolong kau bujuk Bunga, Fal. Agar ia rela memberikan Zidan padaku." pinta Gerry.
"Bagaimana caranya, Bang? Aku khawatir Bunga salah paham padaku."
"Bilang saja padanya kalau aku ingin mengasih Zidan. Lagipula kau tahu aku tidak lagi bisa punya keturunan. Keajaiban tidak datang dua kali Fal." rengek Gerry memelas.
"Jangan putus asa Bang. Terus saja berusaha dan berdo'a. Suatu saat aku yakin Bang Gerry akan bisa memiliki keturunan lagi." Faldi memberi Gerry semangat.
"Iya aku tahu. Tapi sekarang keinginanku adalah Zidan, Fal. Kumohon. Tolong bujuk Bunga." kembali Gerry meminta.
"Aku akan berusaha Bang. Tapi akun tidak janji akan berhasil."
"Tidak apa-apa. Terima kasih Fal."
Setelah bercakap cukup lama dengan Faldi, Gerry lalu pamit untuk menjemput Zidan ke sekolah. Faldi menghubungi Bunga dan memberitahu kalau Gerry yang akan menjemput Zidan. Bunga tidak keberatan karena setiap Gerry datang, ia pasti akan menjemput Zidan ke sekolah kemudian diajak menginap di mansionnya.
Malam harinya, Faldi menyampaikan keinginan Gerry kepada Bunga dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan kesalahfahaman pada Bunga.
"Sayang, tadi Bang Gerry ke kantor." Faldi memulai obrolannya.
"Iya, kan tadi kamu sudah bilang saat telepon aku." balas Bunga. Ia berkata sambil mencari posisi ternyamannya dalam pelukan Faldi.
"Iya, hanya saja ada yang belum aku sampaikan." Faldi mengelus rambut Bunga.
"Apa?"
"Sayang, kamu tahu kalau Bang Gerry sudah tidak mungkin punya keturunan lagi kan?"
__ADS_1
Bunga mengangguk.
"Jadi dia tadi meminta agar aku menyampaikan padamu soal Zidan. Dia ingin mengasuh Zidan."
Bunga kaget ia menarik kepalanya dari pelukan Faldi.
"Dan kau menyetujuinya?" tanya Bunga.
"Tidak mungkin aku menyetujuinya sayang." Faldi kembali menarik Bunga ke dalam pelukannya. "Aku bilang semua terserah kamu. Aku tidak punya hak memutuskan masalah ini, karena kamulah yang melahirkan dan mengasuh Zidan."
Bunga diam.
"Setelah hubungannya dengan Zidan membaik, Bang Gerry berharap aku bisa memberikan Zidan padanya, karena ia tahu sebentar lagi kita akan punya anak. Sedangkan dia sudah tidak ada harapan punya anak."
Faldi menjeda ucapannya menunggu reaksi Bunga.
"Tapi seperti yang aku katakan tadi, semua terserah padamu."
"Tapi aku.... "ucapan Bunga terhenti saat jari telunjuk Faldi menekan bibirnya.
Bunga mengangguk menuruti perkataan Faldi. Ia kembali membaringkan kepalanya ke dada Faldi sambil memikirkan keputusan apa yang harus ia ambil.
Bagaimanapun juga ia adalah ayah kandung Zidan. Dan ia juga punya hak atas Zidan. batin Bunga.
Lama Bunga berpikir sampai akhir ha ia tertidur.
Faldi menggeliat ia meraba ke sisi sebelahnya. Matanya terbuka saat tangannya meraba tempat kosong. Faldi bangun. Ia turun dan keluar dari kamar.
Faldi menuju dapur karena mengira Bunga ada di dapur.
"Kemana dia?" gumam Faldi. Ia lalu melangkah ke kamar Zidan dan mihat Bunga sedang duduk di sisi Zidan sambil. membelai banyak yang biasa dipakai Zidan. Malam itu idan dibawa Gerry ke mansionnya.
"Sayang." panggilan Faldi mengagetkan Bunga, "Kalau kau berat, kau tak harus melepasnya." Faldi mendekat dan merangkul bahu Bunga.
__ADS_1
Bunga menggeleng pelan, "Aku tidak boleh egois, bagaimanapun juga ia berhak atas Zidan. Begitupun Zidan. Aku akan bertanya pada Zidan, apa ia mau tinggal bersama papa Gerry nya. Kalau Zidan mau, maka aku akan melepasnya. " Selesai mengucapkan perkataan itu, Bunga mengusap ujung kelopak matanya yang mulai meneteskan bulir-bulir airmata.
Faldi mendekap nya. "Aku akan mendukungmu, apapun keputusanmu." Faldi mengecup pucuk kepala Bunga.
...***...
"Zidan sudah kenyang, Ma."
"Tapi makananmu belum habis, Nak."
Zidan menggeleng. "Ma, apa Zidan boleh ikut liburan Papa Gerry?" tanya Zidan penuh harap pada Bunga.
Faldi yang saat itu juga sedang makan menghentikan aktivitasnya dan menatao Zidan lalu beralih ke Bunga.
"Zidan. Mama mau bertanya pada Zidan. Zidan jawab dengan jujur ya!"
Zidan mengangguk.
"Zidan sayang sama papa Gerry?" tanya Bunga. Faldi terus memperhatikan ibu dan anak itu bercengkerama.
Zidan mengangguk.
"Zidan, kalau papa Gerry ingin Zidan tinggal dengannya di Singapura, apa ida mau?"
Zidan diam memandang Bunga.
"Apa itu artinya Zidan tidak lagi bisa bertemu mama?"
"Masih bisa. Zidan masih bisa mengunjungi mama dan papa Faldi ke sini. Sama seperti papa Gerry yang selalu datang mengunjungi Zidan."
Zidan mengangguk, "Asal Zidan masih bisa bertemu mama, Zidan mau tinggal sama papa Gerry." jawab bocah polos itu.
Mata Bunga langsung menggenang. Faldi menggenggam tangannya menguatkan. Bunga memandang ke arah Faldi dan melihat suaminya itu mengangguk.
__ADS_1
"Beritahu dia, aku mengijinkan dia mengasuh Zidan." kata Bunga lalu beranjak dari tempat duduknya dan berlari ke kamar.
...💕💕💕...