Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Cemburu


__ADS_3

Selama dua hari, Bunga dan Zidane berada di rumah sakit. Kini setelah kondisi Bunga kembali sehat, Kendra membawa mereka pulang.


Sesampainya di rumah, Bunga langsung membawa Zidan ke kamarnya.


"Assalamualaikum!" terdengar suara seorang wanita mengucap salam.


"Waalaikumsalam." jawab Kendra langsung menuju ke ruang depan.


"Oh Bu Imam dan ibu ibu yang lain. Mari Bu silahkan masuk!"


"Selamat ya Nak Kendra atas kelahiran putranya."


"Terima kasih Bu."


Ternyata mereka datang untuk melihat Zidan yang baru lahir. Bunga keluar dari kamar sambil menggendong Zidan.


"Aduh tampannya!" kata para ibu ibu itu sambil. mengerubungj Bunga dan Zidan.


"Siapa namanya nak?"


"Zidan Bu!" jawab Bunga.


"Nama yang bagus."


Mereka berada di rumah Bunga untuk beberapa saat lamanya. Setelah mereka pulang, Bunga kembali membawa Zidan ke kamarnya. Kendra ikut masuk ke kamar Bunga.


"Bunga!"


"Iya mas."


"Apa kamu sudah memikirkan apa yang dulu pernah aku katakan?"


"Soal apa mas?"


"Bunga, aku tidak meminta jawabanmu sekarang. Aku memberimu waktu untuk memikirkannya sampai masa nifasmu berakhir." Kendra berhenti bicara.


"Bunga! Aku pernah bilang bahwa aku akan menikahimu setelah Zidan lahir. Kamu masih ingat kan?"


Bunga mengangguk. Jantungnya berdebar.


"Sekarang aku memberimu waktu untuk berpikir. Jika kamu menerimaku sebagai suamimu yang sesungguhnya, maka aku akan benar benar menikahimu. Namun jika kamu keberatan atau kamu ingin melanjutkan hidupmu tanpa ada aku di dalamnya, maka aku akan mengurus akta perceraian kita dan pergi dari hidupmu. Karena sesungguhnya Bunga, aku pria normal. Aku tidak bisa terus menahan diri jika harus berdekatan denganmu setiap hari. Aku takut suatu hari aku khilaf dan melakukan kesalahan yang akan kita sesali. Jadi pikirkan baik baik."


Setelah mengucapkan kata kata itu, Kendra lalu pergi meninggalkan Bunga.


Bunga diam memikirkan perkataan Kendra.


Apa aku terlalu serakah jika aku ingin kembali bahagia? Apa aku pantas menjadi istri Mas Kendra? batin Bunga.


Bunga lalu membaringkan tubuhnya sambil. memeluk Zidan.


"Zidan, apa Zidan akan menyalahkan mama jika mama menerima Kendra sebagai suami mama dan menjauhkanmu dari papa kandungmu? Dia yang selama ini menjaga mama dan Zidan. Dia yang berjuang keras untuk hidup kita."


Bunga masih terus berpikir sampai akhirnya tertidur di sisi Zidan.


Seminggu kemudian, sore hari sepulang kerja Kendra mendengar suara erangan dari kamar Bunga.

__ADS_1


"Bunga, kamu tidak apa apa?" tanya Kendra dari luar kamar Bunga.


"Mas!" suara Bunga sangat lirih.


"Bunga apa aku boleh masuk?"


Bunga tidak menjawab. Ia mengerang.


"Mas sakit sekali."


Mendengar Bunga mengeluh kesakitan, Kendra segera mendorong pintu kamar Bunga.


Kendra langsung menutup mata karena saat ia masuk, Bunga sedang tidak mengenakan baju atasan. Wanita itu mengerang sambil memegang ke dua payudaranya yang memerah.


"Bunga ku mohon. Tutup dadamu dulu. Aku tidak bisa menolongmu jika keadaanmu seperti itu."


"Maaf mas. Ini sakit sekali." kata Bunga sambil. mengambil selimut dan menutup tubuh atasnya.


"Mas sudah."


Kendra lalu membuka matanya.


"Kenapa bisa sakit?"


"Aku nggak tahu. tiba tiba sakit dan bengkak.'


Kendra mendekat. Ia memegang kening Bunga.


" Badanmu juga panas sekali. Kita ke rumah sakit saja ya! "


Bunga mengangguk.


"Bu saya titip Zidan sebentar. Istri saya sakit."


"Baikan Nak, jangan khawatir. Saya akan menjaga Zidan."


Kendra lalu memapah Bunga ke mobil dan langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


*


*


*


"Bagaimana istri saya dok?" tanya Kendra setelah dokter selesai memeriksa Bunga.


"Istri anda mengalami payudara bengkak. Ini terjadi karena payudara Ibu mulai memproduksi ASI, menggantikan kolostrum yang telah dihisap bayi saat pertama menyusu. Saat ini terjadi, darah lebih banyak mengalir ke payudara untuk memproduksi lebih banyak ASI, jaringan di sekitarnya menjadi membengkak, dan saluran ASI menjadi penuh, inilah yang menyebabkan payudara Ibu membengkak." dokter menjelaskan


"Apa ini berbahaya bagi istri dan bayi kami?"


"Tidak perlu khawatir, rasanya memang sakit, tapi tidak berbahaya dan akan cepat hilang seiring dengan pemberian ASI pada bayi. Susui bayi sesering mungkin, setiap dua sampai tiga jam sekali."


"Baik dok!" kata Kendra.


" Untuk meredakan rasa sakit, Ibu dapat mengompresnya dengan air hangat menggunakan handuk yang lembut selama beberapa menit, atau mandi air hangat sebelum menyusui. Setelah payudara terasa lebih lembut karena air hangat, pijat perlahan menggunakan minyak pijat khusus dengan gerakan-gerakan memutar kecil.  Perah ASI yang berlebih, setelah menyusui kompres payudara dengan air es untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang timbul." dokter memberikan beberapa tips kepada Bunga.

__ADS_1


"Baik dok!" kembali Kendra yang menjawab.


Dokter wanita itu tersenyum karena Kendra yang selalu menjawab seolah olah Kendra lah yang nanti akan melakukan apa yang ia instruksikan.


Bunga yang melihat dokter wanita itu tersenyum sambil menatap Kendra menjadi kesal. Ia mengira dokter itu menyukai Kendra dan sedang menggodanya.


Bunga kemudian memegang lengan Kendra posesif.


"Yang, pulang yuk! Kan sudah periksa nya. Kasihan anak kita kalau ditinggal lama lama."


Kendra yang mendapat perlakuan mesra dari Bunga kaget bercampur heran dengan sikap Bunga. Tapi ia berpikir itu hanya akting Bunga di hadapan dokter.


"Silahkan!" dokter itu mempersilahkan mereka meninggalkan ruangannya.


"Terimakasih banyak dok!" kata Kendra sambil mengulurkan tangannya.


Saat si dokter hendak menerima uluran tangan Kendra, Bunga buru-buru menjabat tangan si dokter sebelum tangan itu menyentuh tangan Kendra.


"Maaf dokter. Bukan muhrim." celutuk Bunga yang sudah tidak bisa menutupi rasa cemburunya.


Dia lalu menarik Kendra meninggalkan ruangan dokter itu.


Si dokter hanya menggelengkan kepalanya melihat Bunga mencemburui dirinya.


Setelah keluar dari ruangan dokter, Bunga menghempaskan tangan Kendra yang sedari tadi ia gandeng.


"Dasar genit!" kata Bunga kepada Kendra.


Kendra menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Siapa yang genit? Apa ada pria yang menggodamu? Mana, biar aku kasih pelajaran?" kata Kendra polos.


Bunga menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Kendra.


Ia menghentakkan kakinya ke lantai saking kesalnya. Tingkahnya itu membuat Kendra tersenyum.


"Mas Kendra yang genit. Berani beraninya godain dokter itu." kata Bunga lalu memberengut.


"Ooooo jadi ada yang cemburu nih." Kendra mengerling.


"Siapa yang cemburu?"


"Ya sudah kalau tidak cemburu. Aku kan lajang, jadi bebas donk mau godain siapa saja."


Bunga semakin kesal. Ia memukul Kendra.


"Mas Kendra sudah melamarku kan? Jadi nggak boleh godain wanita lain." Bunga kembali menghentakkan kakinya karena kesal.


"Tapi lamaranku belum diterima, jadi nggak papa donk. Kalau misalnya aku ditolak, aku sudah punya cewek lain untuk aku lamar."


"Siapa yang menolakmu!" Bunga keceplosan. Ia langsung menutup mulutnya dan berlari ke mobil.


Kendra tertegun.


"Apa dia menerimaku? Apa dia sudah memutuskan untuk menikah sungguhan denganku?" gumam Kendra.

__ADS_1


Ia lalu mengejar Bunga. Senyum merekah di wajahnya yang tampan.


__ADS_2