
Kendra bangkit dari tubuh Bunga. Ia meraih ponsel yang tergelatak di atas nakas.
"Gerry," gumamnya.
"Siapa, Mas?" tanya Bunga.
"Gerry. Sejak semalam dia terus menelpon ku," kata Kendra.
"Barangkali ada yang penting. Mas telpon balik saja! Bukankah kalian mitra kerja sekarang?"
Kendra menuruti saran Bunga. Ia menelpon Gerry.
Saat itu Gerry sedang sibuk mengecoh pengendara motor yang menguntitnya saat ponselnya berdering.
Gerry melirik dan melihat di layar ponselnya kalau itu panggilan dari Kendra.
Tangan Gerry berusaha meraih ponselnya namun malah jatuh.
Gerry mencari-cari ponselnya dengan hanya menggunakan tangan, matanya masih menatap ke jalan raya. Ia masih mengemudi dengan kecepatan penuh.
Ponsel Gerry terus berdering. Gerry menunduk untuk memastikan letak ponselnya, saat ia mendongak, ia terkejut karena ada mobil di depannya. Gerry membanting stir ke arah lain. Karena mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi, Gerry tidak bisa menguasainya. Mobil Gerry menabrak sebatang pohon besar yang ada di tepi jalan.
Mobil itu ringsek bagian depan. Gerry pingsan.
Pengendara motor yang menguntitnya berhenti. Pria itu turun dan berlari ke arah mobil Gerry.
Dia membuka pintu mobil dan menyeret tubuh Gerry.
"Bang! Sadarlah!" kata pria itu yang tak lain adalah Faldi. Faldi panik melihat keadaan kakaknya. Orang-orang yang melihat kejadian itu berhenti dan berkerumun di sekitar Faldi.
"Mas! Ini ponsel korban," seorang pria memberikan ponsel Gerry pada Faldi.
Faldi menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
Faldi lalu menelpon rumah sakit keluarganya dan meminta agar dikirim ambukan ke lokasi kecelakaan.
Sambil menunggu ambulance datang, Faldi terus berusaha menyadarkan kakaknya.
Setengah jam kemudian, ambulance tiba. Tubuh Gerry dinaikkan. Faldi mengikuti ambulance dengan mengendarai motornya. Sesampainya di rumah sakit, Gerry langsung ditangani dokter dibuang IGD.
Faldi menunggu di luar.
drt drt drt
Faldi dikejutkan oleh seringan ponsel. Ia mengambil ponsel Gerry yang berdering.
"Bang Kendra?!" gumam Faldi lirih.
"Assalamualaikum, Bang!"
__ADS_1
Di seberang Kendra sangat terkejut saat tahu Faldi yang mengangkat ponsel Gerry.
"Wa'alaikumsalam, Faldi!" bals Kendra
Bunga langsung bangkit dari tidurnya mendengar Kendra menyebut nama Faldi. Hatinya berdegup kencang.
"Kenapa kamu yang angkat?Dimana Gerry?" tanya Kendra.
"Bang Gerry sedang di rawat. Dia mengalami kecelakaan barusan." jawab Faldi.
"Apa?!! Gerry kecelakaan? Dimana dia sekarang?"
"Di rumah sakit keluarga kami, bang."
Kendra mengakhiri panggilan telpon. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Bunga masih mematung di tempatnya. Pikirannya ke Faldi.
"Sayang! Aku akan ke rumah sakit. Gerry kecelakaan." kata Kendra.
Bunga diam. Dia tidak mendengar ucapan Kendra.
"Sayang!" Kendra menyentuh bahu Bunga.
"Iya, Mas." Bunga tergagap.
"Kamu kenapa?"
"Aku mau ke rumah sakit. Gerry kecelakaan."
Bunga hanya mengangguk.
"Kau mau ikut?"
"Nggak mas. Aku di rumah saja." kata Bunga.
"Baiklah. Mas berangkat ya,"
Kendra mengecup kening Bunga.
"Assalamualaikum!"
"Wa'alaikumsalam."
Kendra berjalan cepat melintasi halaman rumah sakit menuju ruang IGD.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Kendra pada Faldi yang duduk di depan ruang IGD.
"Masih dirawat, Bang." balas Faldi.
"Bagaimana bisa kecelakaan sih? Tadi pagi dia masih menelponku."
__ADS_1
"Aku yang salah, Bang. Aku menguntitnya dan sepertinya ia menyadari itu. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dan saat berpapasan dengan mobil lain, ia membanting stir lalu menabrak pohon di pinggir jalan."
Kendra diam. Ia lalu memandang Faldi. Hampir dua tahun tidak melihatnya, kini Faldi telah tumbuh menjadi pria yang sangat menawan.
"Jika Bunga melihatnya sekarang, akankah dia sanggup menahan pesona Faldi," batin Kendra, "apakah aku harus melepas Bunga untuk Faldi?"
"Bang!" panggilan Faldi mengangetkan Kendra.
"Ya?" jawab Kendra.
"Kemana abang selama ini? Mengapa mengundurkan diri?"
"Abang merasa bersalah atas kejadian yang menimpamu, Gerry dan Bunga. Abang tidak punya muka untuk bertemu kalian, jadi abang memilih pergi."
"Tahukah, Bang Kendra? Saat abang pergi, Bunga juga menghilang. Papa dan mama marah besar. Dia lalu membawaku ke Singapura dan memberi waktu Bang Gerry tiga tahun untuk menemukan Bunga dan menikahinya. Jika tidak bisa, bang Gerry akan dikeluarkan dari daftar ahli waris papa."
"Ya Allah, aku sama sekali tidak tahu kalau akibatnya akan separah ini. Saat itu aku hanya ingin menolong Bunga." batin Kendra.
Rasa bersalah di hati Kendra kian bertambah. Apalagi sekarang ia hidup bahagia bersama Bunga, sementara Gerry dan Faldi masih belum bisa melupakan wanita itu. Hidup mereka pasti sangat sulit.
"Fal! Apa kamu masih mencintai Bunga?"
"Iya, Bang. Aku sudah menetapkan pilihan padanya. Dan hanya dia yang akan jadi pendampingku."
Jawaban Faldi mengiris hati Kendra. Rasa sesalnya makin berlipat-lipat.
"Kalau sekarang Bunga sudah bahagia dengan pria lain, bagaimana?"
"Aku akan menunggunya bang."
"Sampai kapan Fal? Sampai suaminya mati atau menceraikannya? Bagaimana kalau suaminya panjang umur dan tidak menceraikannya? Masihkah kamu terus menunggunya?"
Faldi tersenyum dan mengangguk.
"Oh! Kau gila. Kau benar-benar gila!" seru Kendra.
"Entahlah, Bang. Sejak aku melihatnya di angkot waktu itu, aku tidak bisa melupakannya. Aku kagum padanya yang rela bekerja sambil kuliah. Aku makin menyayanginya saat tahu kondisi keluarganya. Dan cintaku tumbuh makin besar ketika kami bersama menunggui ibunya yang sakit. Andai aku tidak kecelakaan, mungkin kami sudah bahagia bang. Mungkin kami sudah bersama."
Pandangan Faldi sayur saat bercerita. Ada kesedihan dalam suaranya.
"*Maafkan aku Fal. Maaf, " batin Kendra.
...🌹🌹🌹*...
Faldi dan muncul. Apakah Bunga akan kembali ke Faldi atau kepada Gerry, atau bahkan tidak keduanya, Bunga akan setia pada Kendra.
Ikutin terus ceritanya ya...
Dan jangan lupa jejaknya....
__ADS_1