
"Terimakasih Fal!" kata Gerry saat ia akan meninggalkan rumah Faldi.
"Abang nggak perlu berterima kasih. Bagaimanapun juga Zidane adalah anak kandungmu bang. Hanya saja ada hal yang aku pinta dari Bang Gerry, bawalah Zidane saat Bang Gerry ke Indo. Agar Bunga bisa bertemu dengannya. Karena berpisah dari Zidane adalah hal terberat buat Bunga."
"Pasti, Fal. Aku tidak akan menjauhkan Zidane dari kalian. Kapanpun Zidane mau, aku akan mengantarnya kemari." janji Gerry.
Faldi mengangguk.
"Zidane jangan nakal ya di sana! Kalau Zidane kangen mama dan papa Faldi, Zidane telepon saja!" kata Faldi sambil mengelus kepala Zidane.
Bocah kecil itu mengangguk. Ia lalu memeluk Faldi.
"Papa jaga mama buat Zidane ya... mama sekarang ada di kamar. Tadi Zidane dah pamit sama mama." kata anak kecil itu.
"Iya sayang. Papa akan jaga mama Zidane."
Gerry meraih tangan Zidane saat Faldi dan Zidane selesai berpamitan.
"Kami berangkat!" kata Gerry lalau menggandeng Zidane menuju ke mobilnya. Zidane melambaikan tangan saat mobil mereka bergerak meninggalkan rumah Faldi.
Faldi memandang kepergian mobil itu sampai menghilang di ujung jalan.
"Dia sudah pergi." suara serak seorang wanita mengagetkan Faldi. Ia menoleh dan mendapati Bunga berdiri di belakangnya dengan wajah bersimbah air mata. "Dia sudah pergi." gumam Bunga lagi.
Faldi memeluk istrinya itu.
__ADS_1
"Ayo kita masuk!" ajaknya sambil membimbing Bunga berjalan menuju rumah mereka.
Di dalam rumah, Faldi mendudukan Bunga di sofa ruang tamu. Ia berjongkok di hadapan Bunga sambil memegang kedua tangan Bunga.
"Ini sudah keputasanmu. Jadi kau harus kuat. Demi aku, demi Zidane dan demi calon anak kita." kata Faldi sambil menghapus air mata Bunga yang tak henti mengalir. "Aku tahu ini berat buatmu, karena ini juga berat buat aku. Tapi ingat satu hal, Zidane juga punya hak untuk hidup bersama papanya."
Bunga mengangguk lemah.
"Jangan menangis lagi!" Faldi mengecup kening Bunga lalu memeluknya untuk beberapa saat lamanya.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Bunga.
Faldi mempererat pelukannya, "Jika kondisimu masih seperti ini, lebih baik aku ngantor dari rumah saja." balas Faldi.
"Pergilah, aku tidak apa-apa." Bunga melepaskan pelukan Faldi.
"Begini saja, kau ikut aku ke kantor. Lumayan, bisa membantuku sekalian mengalihkan perhatian mu dari Zidane, bagaimana?"
Bunga berpikir sejenak
Ada baiknya aku ikut suamiku. Kalau sendirian di rumah, aku pasti akan tambah bersedih.
Bunga mengangguk, "Aku ganti pakaian dulu." Ia berdiri.
"Hei, aku juga perlu ganti pakaian. Kita ganti bersama ya." Faldi memeluk Bunga lalu mengangkat tubuhnya dan membawanya ke kamar.
__ADS_1
Perlahan Faldi menurunkan Bunga.
"Eh, kau mau kemana?" tanya Faldi sambil. menarik tangan Bunga saat wanita itu hendak menjauh darinya.
"Ganti baju." jawab Bunga pendek.
"Bukankah aku bilang kita ganti bersama. Jadi biarkan aku membantumu."
Tangan Faldi mulai bergerak melepas kancing dress Bunga.
Bunga menatap Faldi dengan sorot aneh.
Bisa bisanya pria ini dalam keadaan seperti ini. batin Bunga.
Faldi tersenyum penuh makna tatkala ia berhasil menanggalkan dress Bunga, dan hanya Bunga yang tahu makna dibalik senyuman suaminya itu.
Faldi berdiri di atas lututnya sambil menatap perut polos Bunga yang mulai membuncit. Ia meraba perut itu lalu menciumnya.
"Sayang ini papa." bisik Faldi, "Papa kangen."
Kembali Faldi menciumi perut Bunga. Bunga memejamkan mata dan memegang rambut Faldi dengan kuat manakala ciuman suaminya itu berpindah tempat ke bawah perutnya. Suara halus mulai lolos dari bibir Bunga.
Faldi berdiri dan mengangkat Bunga lalu membaringkannya di ranjang.
"Boleh ya?!" pintanya pada Bunga yang sudah memerah wajahnya dan merasakan panas di tubuhnya. Bunga mengangguk.
__ADS_1
Dan dengan sangat hati-hati, Faldi berkunjung untuk melepaskan rindunya pada calon anaknya.