Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Menikahlah denganku


__ADS_3

drt drt drt


Dering ponsel membangunkan Bunga. Bunga mengerjapkan matanya. Ia memandang ke arah jam, sudah waktunya makan siang. Bunga melihat siapa yang menelponnya, Nauval. Bunga mengabaikan pangilan Nauval. Ia bangun dari kursinya dan bergegas keluar menuju mobilnya. Bunga meluncur ke mansion Gerry.


Bunga langsung naik ke lantai dua begitu sampai di mansion. Ia melangkah ke arah ruang kerja Gerry, namun matanya melihat pintu kamar Gerry agak terbuka.


"Bang Gerry!" Bunga memanggil Gerry sambil melangkah masuk ke kamar. Dia tidak melihat keberadaaan Gerry di kamar itu. Bunga mendekati ruang ganti, dibukanya pintu ruang ganti. Gerry juga tidak berada di sana.


Tiba-tiba Bunga mendengar ada suara dari kamar mandi. Bunga mendekat.


"Bang Gerry, kau di dalam?"


Gerry memang ada di dalam kamar mandi. Dia jatuh dari kursi rodanya saat berusaha untuk duduk setelah mandi. Tubuhnya tergeletak di lantai berusaha naik ke kursi rodanya.


"Bang Gerry, aku masuk ya?" Bunga cemas.


"Jangan!! Aku sedang tidak berpakaian." jawab Gerry.


"Aku akan membawakan handuk dan masuk sambil menutup mata, Bang." Bunga berkata masih dengan nada cemas.


"Baiklah. Tutup mata ya!"


Bunga membuka pintu kamar mandi. Ia berjalan sambil menutup mata. Seperti orang buta, tangan Bunga menggapai gapai sekitarnya. Gerry yang melihat itu memberi arahan agar Bunga bisa menemukan handuk dan juga dirinya. Bunga memberikan handuk yang ia bawa. Gerry segera melilitkan handuk itu di pinggangnya untuk menutupi daerah terlarangnya dengan susah payah.


"Sudah, kau bisa membuka mata!"


Bunga membuka matanya. Ia miris melihat pria yang dicintainya duduk di lantai kamar mandi.


"Aku bantu ya Bang!" Bunga membantu Gerry kembali ke kursi rodanya.


"Kok bisa sih Bang?"


"Tanganku tergelincir saat berusaha kembali ke kursi roda."


"Kalau aku tidak datang bagaimana jadinya?" Bunga cemas. Ia membantu mengeringkan rambut Gerry.


"Ya berusaha sendiri sampai bisa. Bukan sekali dua kali aku jatuh, Bunga. Jangan sedih!" Gerry menghapus titik bening yang keluar dari mata Bunga.


"Itulah kenapa abang harus terapi. Bukan hanya demi aku, tapi untuk diri abang sendiri." Bunga membantu Gerry mengenakan pakaiannya.


Saat Gerry akan mengenakan pakaian dalamnya, Bunga memutar badannya memunggungi pria itu.


"Bunga, ketika aku terapi nanti, kau pasti akan sering membantuku. Kita akan sering melakukan kontak fisik." Kata Gerry setelah selesai berpakaian.

__ADS_1


"Terus kenapa Bang? Bukankah itu bagian dari tugasku?"


"Tidak Bunga, aku tidak mau, kecuali kau halal untukku." kata Gerry. Ia sudah tidak bisa menahan hasratnya tiap kali dekat dengan Bunga. Gadis itu bagai memiliki magnet yang selalu menarik dirinya untuk menyentuhnya. Semula Gerry hanya ingin menjaga Bunga untuk Faldi. Namun rasa yang tumbuh di hatinya membuat Gerry ingin memiliki Bunga seutuhnya.


Bunga diam. Halal bagi Gerry artinya dia harus menikah dengan pria itu. Tiba-tiba muncul keraguan di hati Bunga. Akankah berhasil pernikahannya, sedangkan usianya lebih tua dari Gerry. Apakah orang tua Gerry akan menerima perbedaan ini?


"Kenapa Bunga? Kau tidak mau menikah denganku?"


"Aku bingung, Bang." Bunga menunduk.


Bunga, kenapa kau ragu? Apakah hati kecilmu bisa merasakan kalau aku bukan Faldi? batin Gerry.


"Aku ragu karena perbedaan usia kita. Apakah orang tuamu akan menyetujui pernikahan ini? Aku tidak mau menikah jika tanpa restu dari mereka."


"Jika kau bersedia, maka yang lain aku yang akan mengurusnya. Kau tinggal menjawab bersedia apa tidak! " Kata kata Gerry tegas mengintimidasi. Bunga tersenyum, dulu juga Faldi suka mengintimidasi dirinya.


"Kenapa senyum? " Gerry bertanya.


"Kebiasaan mengintimidasimu masih tetap saja ada."


"Apakah aku dulu juga suka melakukannya? "


"Selalu. Jika kau punya kemauan. Kau akan mengeluarkan jurus itu. Dan aku pasti tidak akan mampu menolakmu."


"Bunga, apa dulu aku pernah menciummu? "


Ditanya begitu, wajah Bunga merona. Lalu ia mengangguk.


"Ciuman pertamaku kau curi." Bunga memalingkan wajahnya karena malu. Wajahnya memerah.


Tidak apa apa pengalaman pertamamu bersamanya, untuk selanjutnya kau hanya boleh melakukannya denganku. batin Gerry.


"Yang lain? Apakah aku pernah melakukan yang lebih dari sekedar menciummu? "


Bunga menggeleng.


"Kita hanya pernah berciuman, dan itupun juga baru sekali."


Gerry tersenyum. Tidak apa apa. Masih tersegel.


"Bagaimana Bunga, maukah kau menikah denganku? "


Bunga menatap Gerry. Ia menganggukan kepalanya perlahan lalu menutup mukanya.

__ADS_1


***


"Apa yang kau lakukan, Tuan Muda?!?! " Kendra bertanya tidak percaya bahwa Gerry akan menikahi Bunga.


"Aku akan menikahinya, Kendra. Apa ada masalah?" jawab Gerry datar.


"Jelas ada, Tuan Muda. Dia mencintai Faldi. Dia mengira Tuan Muda adalah Faldi. Itu masalahnya."


"Justru itu Kendra. Aku melakukannya demi Faldi."


"Tuan bisa membohongi orang lain tapi tidak Kendra. Tuan menyukainya kan? Tuan sudah jatuh cinta padanya. Tuan melakukan ini untuk diri tuan sendiri. Tuan bayangkan apa yang terjadi nanti jika dia tahu tuan bukanlah Faldi! Dia akan sangat terluka tuan."


"Dan saat itu statusnya sudah jadi istriku. Dia tidak akan bertindak macam-macam, karena aku suaminya." masih dengan nada datar dan dingin.


"Suami yang menipunya!" Kendra menegaskan.


Gerry diam mencerna ucapan Kendra.


"Tuan, jika tuan ingin menikahinya, jujurlah padanya. Katakan yang sebenarnya!"


"Cintanya pada Faldi terlalu dalam, Ken. Ia mengalami pacaran pertama dengannya. Bisa dibilang Faldi adalah cinta pertamanya. Apa yang akan terjadi jika dia tahu pria yang selama ini dia nantikan tidak diketahui kabar beritanya."


"Itu lebih baik, daripada dia hidup dalam kebohongan."


"Kau menyalahkanku? Lalu kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya tentang Faldi saat kau bercerita tentang kecelakaan itu?"


"Karena aku tidak punya hak untuk itu. Aku berharap tuan lah yang menceritakannya."


Lalu mereka sama sama diam. Kendra jadi merasa bersalah kepada Bunga. Jika sampai tuan mudanya jadi menikahi Bunga dan membuat gadis itu terluka nantinya, maka ada andil dirinya disitu. Kendra mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku akan tetap menikahinya, Ken."


"Tanpa menjelaskan kebenarannya?!"


"Iya, biarlah ini tetap jadi rahasia sampai akhir. Dia tidak tahu nama panjang Faldi. Bukankah nama tengahku juga Faldi. Dia tidak akan curiga."


"Tuan pikirkan lagi. Bisakah kau hidup dengan wanita yang tiap hari memandangmu sebagai orang lain? Cinta, perhatian dan kasih sayang yang kau terima semuanya palsu. Karena dia melakukan semua itu untuk Faldi bukan anda, Tuan!"


"Aku tidak keberatan dengan itu. Kebersamaan kami, aku yakin bisa menumbuhkan perasaan cintanya padaku. Lambat laun dia akan mengenaliku sebagai Gerry, bukan Faldi."


"Bagaimana jika Faldi ditemukan?"


Gerry diam. Dia tidak berpikir sampai ke sana.

__ADS_1


__ADS_2