Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Cup....


__ADS_3

Martin mengecup punggung tangan Riana yang ia genggam.


"Martin! Kalau orang tuamu tidak setuju dengan hubungan kita bagaimana? Aku hanya anak orang desa biasa."


Martin menyentil ujung hidung Riana. "Bicara apa sih? Orang tuaku sama seperti orang tua Faldi. Mereka tidak melihat dan menilai orang berdasarkan status sosialnya, melainkan dari karakternya. Kau orang baik, jadi jangan khawatir. Mereka pasti akan menerimamu." Penjelasan Martin membuat Riana tenang, "Tapi kalau memang tidak direstui, kita kawin lari saja!" bisik Martin lalu tertawa.


Riana mendelik gemas lalu mencubit pinggang Martin. "Aw sakit!!" pekik Martin.


"Rasain!" tukas Riana.


Martin nyengir, "Ri! Apa kita perlu menyampaikan kabar gembira ini pada Bunga?"


Riana diam. "Sebaiknya jangan dulu. Tunggu kondisi Zidan normal lagi. Aku nggak mau kita bahagia saat dia masih menderita." balas Riana.


"Hmmm. Baiknya gadisku ini." Martin mencubit dagu Riana gemas.


"Ih!" Riana menepis tangan Martin. Ia merasa jengah karena Martin nggak sungkan memamerkan kemesraan di depan banyak orang.


"Ri! Makan yuk!" ajak Martin. Ia berdiri dan menarik tangan Riana.


"Jam berapa? Belum juga waktunya makan siang." Meski berkata begitu, namun Riana ikut kemana Martin membawanya.


Dan disinilah mereka sekarang. Di sebuah cafe yang dikenal dengan cafe cinta.


"Ini tempat apa?" Riana melihat sekeliling. Dekorasi cafe yang sangat romantis. Berdinding pink khas warna cinta. Lampu temaram menambah kesan syahdu.


Martin membimbing tangan Riana duduk di salah satu sudut cafe.


"Duduklah!" Martin mengambil tempat duduk di sebelah Riana. "Kita rayain hari jadi kita." Martin lalu mengambil. kertas berbentuk hati yang tersedia di atas meja. Dia menuliskan namanya dan nama Riana serta tanggal dan jam mereka jadian. Martin berdiri menuju ke sebuah papan bertuliskan plakat cinta yang penuh dengan tempelan kertas berbentuk hati. Ia menempelkan kertas yang telah ia tulisi di antara ribuan kertas yang lain.

__ADS_1


Riana mengamati apapun yang dilakukan Martin. Hatinya menghangat melihat sikap Martin yang antusias dengan hati jadi mereka.


"Ngapain senyum-senyum?" tegur Martin saat dirinya kembali ke sebelah Riana.


"Nggak papa." Riana membalas dengan senyuman. Mereka saling memandang. Martin membelai wajah Riana, "Mahal Kita!" ucap Martin.


Riana mengernyitkan alisnya tak mengerti. Martin tersenyum. Ia menangkup wajah Riana dengan kedua tangannya. "Mahal kita. I love you." Martin mengecup kening Riana. Riana memejamkan mata. Melihat mata Riana terpejam, kecupan Martin turun ke kedua kelopak mata itu. "Aku mencintaimu dan akan terus mencintaimu." Martin menyatukan keningnya dengan kening Riana. Hidung mereka juga saling bersentuhan.


Tangan Riana memegang telapak tangan Martin yang ada di wajahnya. Bibirnya menyungging senyum.


"Maaf! Pesanan anda!" Martin dan Riana saling menjauh saat pelayan datang membawakan pesanan yang tadi mereka pesanan saat pertama masuk.


"Trimakasih!" ucap Martin. Riana hanya menunduk. Ia sangat malu.


"Kamu sih!" gumam Riana saat pelayan itu pergi. Ia mengambil menumanya dan mengaduk-aduknya untuk menghilangkan rasa malunya. Mukanya masih memerah.


Cup


Cup


Belum hilang rasa kaget Riana karena ciuman di pipinya, Martin malah mengecup bibirnya.


Ciuman itu memang cepat tapi sukses membuat Riana syok. Matanya membulat menatap Martin.


"Jangan bengong. Apa mau dicium lahi?" Martin sudah mendekatkan wajahnya.


"Ah tidak!" Riana melengos. Ia menggigit bibirnya merasakan bekas bibir Martin yang sempat mendarat di sana. Jantungnya berdegup kencang. Riana sampai memegangi dadanya. Ia kembali menoleh ke Martin saat tangan kekar pria itu meraih pinggangnya dan menariknya mendekat.


"Makanlah!" kata Martin tanpa melihat Riana. Ia sibuk menyuap makanan dengan tangan kanannya. Sedang tangan satunya ia gunakan untuk memeluk Riana.

__ADS_1


Kenapa aku gugup? Kenapa dalam sekejab, ia mampu menguasai hatiku? Pria ini..


Sambil makan Riana sesekali menatap wajah Martin dari samping. Rambut gondrongnya tidak mengurangi kesan maskulin pada diri Martin.


Sejak kapan pria ini menjadi begini mempesona. batin Riana.


"Jangan menatap ku seperti itu. Atau aku nggak bisa menahannya lagi." kata Martin.


"Menahan?! " gumam Riana, "Menahan apa?"


Martin tidak langsung menjawab pertanyaan Riana. Ia mengambil tisu untuk membersihkan sisa makanan yang ada di bibirnya lalu menoleh ke Riana. Di raihnya dagu Riana."Tidak tahan untuk tidak mengecup bibirmu."


Riana menarik wajahnya dari tangan Martin. Wajahnya benar benar merah.


"Kita kembali yuk! Takut mbak Bunga nyariin."


Martin mengangguk. Ia meraih tangan Riana. Dengan bergandengan mereka keluar dari cafe. Mereka kembali ke rumah sakit.


Saat sampai di lobi rumah sakit, mereka heran melihat banyak orang bergerombol di depan TV yang ada di lobi. Riana dan Martin penasaran. Mereka ikut menonton berita yang sedang tayang di TV.


"Oh!" Riana menuntut mulutnya. Wajahnya pucat pasi. Tak berapa lama kemudian tubuhnya limbung dan pingsan. Martin segera menangkap tubuh Riana yang hendak jatuh lalu menggendongnya ke arah kursi dan membaringkannya.


"Riana!! Riana!! " Martin berusaha menyadarkan Riana.


*Kenapa dia mendadak pingsan melihat berita itu. batin Martin.


...🌹🌹🌹*...


Semoga menghibur.

__ADS_1


.


__ADS_2