Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Nasehat Bu Rani


__ADS_3

"Bunga! Mumpung kau ada di sini. Bagaimana kalau kita buat syukuran sekalian mengenalkan suamimu pada saudara dan tetangga?" kata Bu Reta, ibunya Bunga, keesokan harinya saat sedang berada di dapur bersama Bunga.


"Apakah harus, Bu?"


"Menurut ibu begitu. Karena pria yang kau nikahi dulu di sini kan beda dengan suamimu sekarang. Para tetangga tidak tahu soal perceraian kalian. Daripada jadi bahan pertanyaan banyak orang, ibu rasa kita undang saja mereka dan kenalkan dengan suami barumu." Bu Reta menjelaskan sambil memotong sayuran yang akan ia masak.


"Baiklah. Bagaimana baiknya saja menurut ibu. Bunga ikut saja." balas Bunga. Ia lalu membantu ibunya mengupas bumbu.


"Berapa hari rencana kalian berada di sini?"


"Kata mas Kendra sekitar semingguan bu."


"Kalau begitu acara tasyakurannya kita lakukan dua hari dari sekarang. Nanti ibu akan ke pasar buat belanja."


"Bunga temani ya bu!"


Bu Lena mengangguk. Mereka masih sesekali mengobrol sambil memasak untuk sarapan. Bu Reta yang sudah mendengar cerita Bunga tentang perceraiannya dengan Gerry tidak menyinggung soal itu lagi. Ia lebih banyak bertanya tentang Kendra.


"Tata makanan di meja lalu panggil suamimu!" kata Bu Reta setelah mereka selesai memasak.


Bunga membawa hasil masakan dan menatanya di meja makan.


"Mas. Sarapan dulu!" Bunga memanggil Kendra yang sedang menemani Zidan bermain di halaman.


"Zidan!" Kendra memanggil balita yang mulai berjalan itu. Segera Zidan berlari menuju Kendra.


"Papa!" Zidan memeluk Kendra dan langsung digendong oleh Kendra.


"Anak mama. Senang ya mainnya?"Bunga mencubit pipi Zidan yang ada dalam gendongan Kendra dan juga menciumnya.


"Kok hanya Zidan yang dapat ciuman. Papanya nggak nih?" Kendra merajuk.


"Kan semalam papanya udah dimanja sama mama... sekarang anaknya yang dimanjain." balas Bunga sambil terkekeh. Kendra tersenyum bahagia.


"Ayo nak. Sarapan dulu!" ajak Bu Reta.


"Iya bu!" jawab Kendra.


Mereka bertiga kemudian makan bersama. Selesai makan, Bu Reta menyampai akan keinginannya untuk mengadakan tasyakuran untuk merayakan pernikahan Bunga dan Kendra sekalian mengenalkan Kendra pada kerabat dan tetangga.


"Kami orang kampung nak. Jadi norma masih dijunjung tinggi di sini. Tetangga tahunya suami Bunga adalah Gerry. Karena saat mereka menikah dulu, disaksikan warga. Jadi kalau nak Kendra berada di sini pasti akan jadi bahan omongan. Jadi ibu ingin mengenalkan Nak Kendra pada kerabat kami juga para tetangga."


"Kendra setuju dengan usul ibu. Hanya saja Kendra punya syarat. " jawab Kendra.


"Apa itu nak?"


"Yang pertama untuk biaya acara tasyakuran biar menjadi tanggung jawab kami dan yang kedua, ibu harus bersedia jika Kendra ingin membangun kali rumah ibu ini. Jika ibu setuju dua syarat itu, Kendra akan mengikuti apa yang ibu mau."


Bu Reta diam. Ia sangat terharu. Ternyata suami Bunga yang ini sangat perhatian.


"Baiklah. Ibu setuju."

__ADS_1


Kendra tersenyum. Ia melihat Bunga yang juga tampak sangat bahagia sambil. menatap Kendra dengan penuh rasa terima kasih.


Selesai makan Bunga mengajak Kendra mengunjungi rumah bibinya yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumahnya.


"Assalamu'alaikum!" Bunga memberi salam.


"Waalaikumsalam." jawab Bu Rani, ibu Riana. "Eh ada tamu agung datang. Masuk Bunga! Pak.. ini lo Bunga datang sama suaminya!" Bu Rani berteriak memanggil suaminya.


"Seorang pria berusia di atas lima puluhan keluar dari dalam. Meski sudah berumur namun wajahnya masih segar dan tampan. Kendra tertegun karena wajah pria itu sangat mirip dengan Riana.


"Alhamdulillah. Akhirnya kamu pulang juga. Pak lik sudah kangen. Kamu lama nggak ada kabar sejak menikah. Ayo duduk!"


"Pak Lik, kenalin ini suami Bunga. Mas Kendra."


"Amir, pak liknya Bunga." Pak Amir mengulurkan tangannya menjabat Kendra sambil tersenyum.


Senyumnya juga sangat mirip dengan Riana. batin Kendra.


Kendra menjadi sedikit gelisah karena tiba-tiba bayangan Riana selalu hadir dalam benaknya.


"Nak! Apa kamu sakit? Kenapa kamu gelisah?" tanya Pak Amir yang menyadari kegelisahan Kendra. Bunga menoleh dan ikut memperhatikan suaminya.


"Ah tidak pak lik. Saya baik-baik saja." jawab Kendra lalu menghirup udara dalam dalam untuk mengusir kegelisahan hatinya.


"Nak. Bagaimana kalau nanti malam ikut pak lik kumpul kumpul sama warga kampung ini? Sekalian nanti pak lik kenalkan pada para tetangga."


Kendra melihat Bunga meminta persetujuan. Bunga mengangguk pelan.


"Iya. Kami hanya akan membahas bagaimana cara menanggulangi pencurian ternak di kampung ini. Sebagai orang yang berpendidikan, mungkin nak Kendra nanti bisa membantu memberi saran."


"Apa banyak pencurian lagi pak lik?" Bunga bertanya.


"Iya. Sudah mulai banyak warga yang kehilangan ternak sapinya. Dan warga mulai gelisah."


"Apa sudah melapor ke pihak berwajib?"


"Sudah nak. Tapi sampai sekarang belum. ketemu pencuri nya dan masih saja terus terjadi pencurian berikutnya."


Kendra mengangguk anggukan kepalanya.


"Pak Lik.. Dimana biasanya warga memelihara sapinya? Maksud saya menaruh kandang sapi dan seperti apa kondisinya?"


"Kami warga kampung biasa menaruh kandang di belakang rumah nak. Kondisi kandang, bangunan sederhana dari bambu."


"Pak Lik, apa bisa membawa saya melihat-lihat kandang sapi warga?"


"Bisa nak. Bisa. Ayo sekarang kita keliling melihat kandang warga di sekitar sini!" ajak Pak Amir.


Kendra mengangguk


"Mas aku tunggu di sini saja ya." kata Bunga.

__ADS_1


"Iya. Mas nggak akan lama kok." Kendra mengelus kepala Bunga lalu mengikuti langkah Pak Amir.


Bu Rani yang melihat kemesraan yang ditunjukkan Kendra semakin kagum pada pria itu. Ia begitu penyayang.


"Beruntung sekali kau Bunga mendapat suami seperti dia. Semoga Riana kelak juga dapat suami seperti nak Kendra."


"Bu Lik menyukai mas Kendra?"


"Suka. Siapa yang nggak akan suka sama anak yang sopan dan baik seperti dia Bunga. Pria seperti dia itu menantu idaman Bu Lik."


"Bu Lik, kalau mas Kendra menikah dengan Riana, apa Bu Lik setuju?"


Bu Rani mengernyitkan alisnya. "Bagaimana bisa Riana menikah dengan Kendra. Kendra kan suamimu."


"Kalau aku rela berbagi mas Kendra dengan Riana, apa Bu Lik akan menyetujui pernikahan mereka?"


Bu Rani tertawa hingga mengeluarkan air mata, "Kamu ini bodoh atau apa? Mana ada istri yang rela membagi suaminya. Ada-ada saja."


"Tapi bukankah seorang istri yang rela dimadu itu akan mendapat pahala yang besar, Bu lik?"


"Kau benar. Tahu nggak kenapa pahalanya besar? Karena ujiannya juga luar biasa berat. Apa kau sanggup melewatinya karena kalau tidak maka seumur hidupmu hanya akan merasakan penderitaan."


"Maksud Bu Lik?"


"Benarkah kamu ikhlas? Bayangkan jika benar-benar Riana menikah dengan Kendra. Kalian pasti berbagi waktu untuk bisa bersama suami kalian. Jika suatu malam saat Kendra mendatangimu lalu kamu melihat bekas percintaannya dengan Riana di tubuhnya, bagaimana perasaanmu? Akankah kau rela melayaninya seperti tidak terjadi apa-apa? Atau kau akan melayaninya dengan terpaksa, dengan merasakan sakit di hatimu? Pikirkan itu!"


Bunga diam. Memikirkan ucapan bu liknya saja hatinya sudah sakit. Akankah ia sanggup menjalaninya.


"Lagipula aku tidak akan membiarkan anakku menjadi sumber penderitaan wanita lain. Masih banyak pria yang baik. Aku memang menyukai Kendra dan ingin memiliki menantu seperti dirinya tapi tidak harus dia sendiri yang jadi menantuku. Orang seperti Kendra pasti ada di muka bumi ini. Aku hanya perlu berdoa agar anakku menemukannya."


"Aamiin!" Bunga mengamini perkataan bu lik nya.


Bertemu dan mendapat nasehat dari bu liknya membuat Bunga sadar kalau sesungguhnya ia tidak benar benar bisa ikhlas untuk dimadu.


"Assalamualaikum!" Pak Amir dan Kendra tiba.


"Wa'alaikumsalam!" Bunga membalas salam mereka dan langsung menyambut suaminya dengan pelukan.


"Baru juga ditinggal sebentar sudah kangen aja." goda Pak Amir yang membuat Bunga melepaskan pelukan nya.


"Maklum Pak Lik. Nggak pernah ditinggal lama." kata Kendra sambil merengkuh bahu Bunga, "pulang yuk!" Bunga mengangguk.


"Pak Lik, Bu Lik kami permisi dulu. Nanti malam saya akan ikut Pak Lik dan membantu memecahkan masalah pencurian ternak semampu saya. Seperti ide yang tadi saya sampaikan ke Pak Lik."


"Terima kasih nak. Pak Lik jemput nanti."


Kendra mengangguk. Ia kemudian menjabat tangan Pak Amir dan Bu Rani. Bunga melakukan hal yang sama. Mereka lalu meninggalkan rumah Riana sambil bergandengan tangan.


...🌹...


Semoga menghibur..... tinggalin jejak ya readers. Goyang jempolnya nggak akan merugikan siapapun kok 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2