Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Nyaris


__ADS_3

Faldi berjalan sambil. menggandeng tangan Lisa. Ia tidak menghiraukan Bunga karena matanya sempat melihat bekas kissmark Kendra di leher Bunga. Hati Faldi sangat sakit. Faldi memanggil taksi yang lewat di depannya.


"Om, kita ke rumahku saja!" ajak Lisa yang dijawab Faldi dengan anggukan. Lisa memberitahu sopir taksi tujuan mereka. Selama perjalanan Faldi hanya diam. Lisa juga tidak begitu memikirkan sikap Faldi. Pikirannya dipenuhi apa yang tadi ia lihat. Sama seperti Faldi, Lisa juga melihat bekas kemerahan di leher Bunga.


Ia membayangkan apa yang telah Kendra dan Bunga lakukan. Hatinya sama terorisnya seperti hati Faldi. Lisa menarik nafas panjang dan menengadahkan kepalanya memandang ke atas. Ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh.


Faldi melirik saat mendengar desahan nafas Lisa. Kepala Lisa yang mendongak memperlihatkan leher putih jenjangnya. Faldi menelan salivanya. Ia jadi teringat leher Bunga kembali. Sakit dan marah menyeruak di hati Faldi membuat Faldi ingin melampiaskannya. Faldi dengan tiba-tiba, menarik Lisa dan mencium lehernya. Memberi gigitan kecil. Lisa yang kaget, menjerit kecil lalu mendesah saat merasakan ciuman Faldi di leher jenjangnya. Faldi membuat banyak tanda di leher Lisa. Ia lalu mengangkat wajahnya menatap mata Lisa. Ia bisa melihat luka yang sama di mata itu. Pandangan Faldi turun ke bibir Lisa. Ia meraba bibir Lisa dan mendekatkan wajahnya hendaklah mencium Lisa namun Lisa menahan dada Faldi.


"Om!" Lisa memberi kode dengan melirik. ke arah sopir taksi. Faldi langsung sadar dan menjauhkan diri dari Lisa.


Taksi berhenti di depan sebuah rumah bergaya Jepang yang memiliki halaman luas.



Faldi dan Lisa turun dari taksi dan berjalan memasuki rumah itu.


"Rumahmu unik." kata Faldi memuji.


Lisa tersenyum. "Masuk Om!" Lisa mengajak Faldi yang sedang menikmati halaman rumah Lisa yang tampak asri.


Faldi melepas sepatunya dan masuk ke rumah dengan mengenakan kaos kaki saja. Seorang wanita tua menyambutnya. Ia adalah pengasuh Lisa.


"Kamu hanya berdua dengan pengasuhmu itu?" Faldi bertanya sambil berkeliling melihat rumah Lisa.


"Iya! Dulu kami bertiga dengan paman. Tapi sejak setahun yang lalu, paman membangun rumah dan pindah ke rumahnya itu."


Faldi berjalan ke bagian belakang rumah yang ada tamannya. Lisa mengikuti dari belakang.


Faldi mengamati sekeliling taman, ia melihat sebuah pintu yang menhafapnke taman.


"Pintu itu?"


"Kamarku." kawan Lisa pendek. Faldi melangkah dan menukar pintu kamar Lisa. Ia melihat desain kamar itu juga bernuansa Jepang. Faldi masuk. ke oamr itu.

__ADS_1


"Om, kenapa masuk?"


"Kenapa? Bukankah sebentar lagi kamar ini akan menjadi kamarku juga." jawab Faldi. Ia lalu merebahkan tubuhnya yang capek ke kasur di ranjang milik Lisa.


"Eh, kenapa malah tidur?" Lisa menarik tangan Faldi agar bangun.


"Aku capek Lisa. Biarkan aku istirahat sebentar!" Lisa melepaskan tangan Faldi.


"Baiklah! Lisa akan tunggu di luar. Om istirahat saja!" Lisa beranjak meninggalkan Faldi di kamarnya. Faldi memutar posisi tak tubuhnya. Ia tengkurap sambil memeluk bantal.


Saat sendirian begini, sakitnya kian menyayat. Faldi merasa rapuh. Bulir bening menetes tanpa bisa ia tahan.



Kenapa kenyataan begini pahit. Aku tidak pernah meminta untuk mencintai istri orang. Tapi aku tidak bisa menentukan kepada siapa cinta ini berlabuh. Hatiku bukan di bawah kuasaku.


Faldi tenggelam dalam kesedihannya hingga ia terlelap.


Apakah keputusanku menikah sudah tepat? Bagaimana jika kami tidak bisa saling mengobati tapi justru saling menyakiti? batin Lisa bimbang.


Lisa gelisah. Ia berkali kali mengubah posisi tidurnya.


"Apa Om sudah tidur. Aku akan melihatnya." gumam Lisa lalu beranjak meninggalkan kamar tamu. Ia berjalan menuju kamarnya. Dengan pelan Lisa menggeser pintu kamarnya. Ia melihat Faldi sudah lelap. Dengan berjingkat, Lisa masuk. Ia mendekat ke ranjang. Lisa duduk di lantai di sisi ranjang. Ditatapnya wajah tampan Faldi.


"Kamu sangat tampan Om." desis Lisa. Tangannya terulur membelai alis tebak Faldi. Faldi yang merasa tidurnya terusik, spontan membuka mata dan menangkap tangan Lisa. Lisa kaget.


"Om!"


Melihat Lisa di depannya, Faldi menarik tubuh gadis itu dan menghempaskannya ke sisi sebelahnya. Faldi mengungkung Lisa. Mata mereka saling memandang. Faldi mendekatkan wajahnya mencium bibir Lisa. Dengan lembut ia memainkan bibir Lisa. Lisa mendesah membuat Faldi semakin lupa dan hilang kendali. Tangannya bergerak meraba perut Lisa dan mencoba menyusup ke dalam pakaian Lisa. Sambil mencium Lisa tangan Faldi naik ke atas dan menyentuh dada Lisa. Lisa menggelinjang. Tiba-tiba bayangan Bunga berkelebat dalam benak Faldi. Ia menghentikan aktivitasnya dan menjauhkan tubuhnya daripada Lisa.


"Maaf!" gumam Faldi lalu bangkit dari ranjang.


"Aku akan kembali ke hotel." Faldi keluar dan meninggalkan Lisa yang masih bengong di atas ranjang. Ia bingung dengan sikap Faldi yang berubah-ubah itu. Tapi Lisa berusaha mengerti karena seperti yang Faldi katakan, ia tidak boleh serakah. Sama seperti dirinya yang masih belum bisa melupakan Kendra, Faldi juga pasti tidak bisa melupakan cintanya pada Bunga. Apalagi cinta itu sudah mengakar kuat di hatinya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Faldi berpamitaan untuk kembali ke Indonesia. Lisa ikut Faldi dan keluarga Riana pulang.


"Lisa! Apa kamu yakin dengan keputusanmu?" Kendra bertanya saat ada kesempatan berdua saja dengan Lisa. Lisa mengangguk.


Yang penting aku menjauh dari paman dulu. Apakah nanti aku jadi menikah dengan om atau tidak, aku akan memikirkannya nanti.


"Lisa! Itu?!" Kendra menunjuk leher Lisa. Lisa kaget, padahal ia sudah menutupi bekas ciuman Faldi kemarin dengan foundation yang cukup banyak. Tapi pamannya masih bisa melihatnya.


"Ini.. gatal!" jawab Lisa asal.


"Apa kalian sudah melakukannya?" selidik Kendra khawatir.


"Ya enggaklah paman. Kami belum. menikah." wajah Lisa merona mengingat kejadian kemarin yang hampir saja membuat mereka lupa daratan.


"Syukurlah. Paman kira kamu sudah menyerahkan tubuhmu pada Faldi." kata Kendra lega.


"Lisa mungkin blak-blakan kalu bicara dan sikap Lisa juga terbuka bahkan terkesan ganjen. Tapi untuk yang satu itu, Lisa juga punya prinsip paman. Jadi jangan khawatir, Lisa akan menjaganya hanya untuk suami Lisa."


"Gadis pintar. Paman percaya kamu akan menemukan jodoh terbaikmu."


"Amiin dan semoga jodohku itu paman. Aamin."


Kendra tersenyum mendengar candaan Lisa.


Obrolan mereka terhenti saat Bunga memanggil untuk makan siang.


"Kalian makan dulu. Toh penerbangan kalian masih lama kan?" ajak Bunga. Mereka akhirnya makan siang bersama.


Sebulan kemudian, Kendra dan Bunga menerima undangan pernikahan Faldi dan Lisa yang mereka kirim via email. Kendra dan Bunga segera mempersiapkan keberangkatan mereka ke Indonesia untuk menghadiri pernikahan Faldi dan Lisa. Hati mereka dipenuhi rasa syukur karena lahirnya Faldi menemukan wanita yang akan mendampingi hidupnya.


...🌹🌹🌹...


Maaf upnya terlambat. Semoga menghibur.

__ADS_1


__ADS_2