
Bunga terjaga. Ia kaget saat mendapati dirinya sudah berada di kamar dan tanpa Faldi di sampingnya.
Kenapa ada di kamar? bukankah tadi aku tidur di sofa bersama Faldi. Kemana dia?
Bunga bangkit. Ia turun dari ranjang dan berjalan ke luar kamar. Bunga membuka kamar Zidan, ia mengira Faldi tidur bersama Zidan.
"Kemana dia?" gumam Bunga saat ia tidak melihat Faldi di kamar Zidan. Bunga berjalan ke ruang depan. Ia melihat lampu di ruang kecil yang biasa mereka gunakan untuk sholat menyala. Bunga mengintip ke dalam dan melihat Faldi tengah duduk khusuk berdoa. Sayup ia bisa mendengar lantunan doa Faldi yang memohon petunjuk dalam menghadapi masalah perusahaannya.
Seserius apa masalah perusahaan Faldi? Bagaimana caraku untuk membantunya? Kemana aku harus mencari tahu?
Bunga beranjak dari tempatnya. Ia melangkah kembali ke kamarnya.
Siapa yang bisa aku mintai tolong ya.
Bunga duduk di ranjang sambil berpikir. Alisnya berkerut.
"Aku tahu. Martin. Faldi selalu cerita ke Martin. Mungkin ia mau menolongku." gumam Bunga senang.
Bunga menoleh ke arah pintu saat seseorang membukanya.
"Kau bangun?" tanya Faldi sambil membuka baju koko nya lalu menggantungnya. Dia mengambil kaos dan memakainya.
Bunga mengamati Faldi yang tengah melepas sarungnya dan menggantinya dengan celana pendek selutut.
"Masih malam. Tidur lah lagi." bisik Faldi saat ia sudah duduk di sebelah Bunga.
"Fal! Kau masih belum mau cerita padaku?" Bunga menatap Faldi penuh tanya.
Faldi membelai rambut Bunga. Ia diam.
"Nyonya Faldi! Kenapa sampai sekarang kau masih saja memanggilku dengan namaku. Aku sekarang sudah menjadi suami mu lho. Tidakkah kau harusnya memanggilku dengan sebutan yang berbeda? Kita orang timur. Seorang istri memanggil suaminya dengan nama saja, itu masih dinilai tidak sopan. Tidak menghargai suaminya." kata Faldi lembut mengalihkan perhatian Bunga. Ia memegang tangan Bunga dan mengelusnya.
Bunga terkesiap. Sejak pertama mengenal Faldi, ia selalu memanggil namanya karena usia Faldi yang lima tahun lebih muda darinya. Tapi sekarang, pria ini sudah menjadi suaminya. Ia tidak tahu harus memanggilnya bagaimana.
"Aku bukannya tidak menghargaimu. Hanya saja, aku terbiasa sejak dulu." jawab Bunga lirih. Ia menunduk. "Kamu mau aku memanggilmu dengan panggilan apa?" tanyanya kemudian.
"Apa ya... pokoknya harus beda. Aku nggak mau kamu memanggilku abang atau mas." jawab Faldi.
"Mmn apa ya... huby atau babe atau honey?" usul Bunga.
Faldi menggeleng. "Kebarat-baratan." komen Faldi.
"Apa terus. Aa? Kang mas?" tanya Bunga.
Faldi menggeleng Tiap panggilan yang diusulkan Bunga ia selalu menggeleng. Sebenarnya ia tidak mempermasalahkan panggilan Bunga padanya. Ia hanya ingin Bunga tidak lagi memikirkan masalah perusahaannya..
"Pe er untukmu. Cari panggilan yang unik untukku. Yang hanya milikku. Baru aku akan menceritakan masalah perusahaan ku. Sekarang tidurlah." Faldi mengecil. kening Bunga. Ia lalu merebahkan tubuhnya.
Bunga ikut merebahkan tubuhnya. Ia memandangi wajahnya Faldi yang sudah memejamkan mata itu.
Aku tahu. Kau hanya ingin melindungiku dari rasa khawatir dan ikut memikirkan masalahmu. Terima kasih. Tapi sebagai istri, aku tidak. bisa melihatmu menanggung semuanya sendiri.
Bunga merapatkan tubuhnya ke dada Faldi. Ia melingkarkan tangan Faldi ke pinggangnya. Mata Faldi terbuka. Mereka saling memandang. Faldi tersenyum dan merengkuh Bunga ke dalam pelukannya. Mereka lalu tidur sambil berpelukan.
Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk menghiburmu Fal. batin Bunga sambil membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya itu*.*
Bunga bangun kesiangan. Ia segera meloncat dari ranjang dari bergegas ke dapur tapi sudah terlambat. Faldi sudah berada di dapur.
" Fa... Tuan Faldi kenapa tidak membangunkanku?" protes Bunga sambil memeluk Faldi dari belakang.
__ADS_1
"Karena nyonya Faldi sepertinya sangat capek dan tidurnya lelap sekali." Faldi mengurai tangan Bunga yang ada di perutnya. Ia memutar tubuhnya dan mendaratkan kecupan di kening Bunga.
"Lgi bikin apa?" tanya Bunga melongok ke belakang tubuh Faldi.
"Biasa, kesukaan anak kita." jawab Faldi kembali memutar tubuhnya dan melanjutkan acara memasaknya.
Tuan Faldi, bersiap ke kantor saja. Urusan di sini biar aku lanjutkan."
"Siap Nyonya." Faldi mengacak rambut Bunga. Ia melepas celemk dan memakaikannya ke tubuh Bunga kemudian pergi ke kamarnya.
"Ma!" panggil Zidan.
"Iya sayang?"
"Papa belum bangun ya?" Zidan duduk di meja makan menunggu Bunga selesai memasak.
"Sudah. Malah papa yang bangun paling pagi." jawab Bunga sambil menata makanan di meja, "papa lagi bersiap di kamar. Zidan tunggu di sini ya, mama bantu papa bersiap dulu."
"Iya ma." Zidan duduk dengan tenag di meja makan.
Bunga masuk ke kamarnya. Ia melihat Faldi sedang memasang dasi. Bunga mendekat dan mengambil alih. Ia mulai merapikan dasi Faldi. Pria itu tersenyum kemudian menaruh tangannya di pinggang Bunga.
"Terima kasih." ucapnya.
"Untuk apa? untuk memasangkan dasimu?" kata Bunga. Ia merapikan kemeja Faldi.
"Untuk menerimaku apa adanya. Bunga, jika kehidupan kita berubah, apa kau masih akan setia mendampingiku?"
Bunga menatap mata Faldi. Ia menyunggingkan senyum.
"Seharusnya kau tidak bertanya begitu. Seperti apa aku dulu dan darimana asalku, kamu mengetahuinya dengan jelas. Jadi seperti apa dan bagaimana dirimu kelak, aku akan selalu disisimu kecuali kamu bosan dan mengusirku pergi." Bunga mencubit dagu Faldi.
Bunga tertawa,"Habis..kamu ini kadang-kadang menggemaskan seperti Zidan."
"Begitukah? Kau belum tahu saja sisi lain dari diriku."
"Apa?"
Faldi mendekatkan mulutnya ke telinga Bunga,"Tunggu jika tamumu sudah pulang. Nanti aku tunjukan."
Muka Bunga memerah. Ia mendorong dada Faldi menjauh. "Dasar omes."
Faldi terkekeh.
"Ayo. Zidan sudah menunggu." Bunga membawakan tas kerja Faldi. Faldi dan Bunga keluar kamar sambil berangkulan.
"Pagi pa! Papa semalam tidak tidur di kamar Zidan ya?" tanya Zidan saat Faldi dan Bunga sampai di ruang makan.
"Papa semalam pulangnya sangat malam. Takut mengganggu tidur Zidan, akhirnya papa tidur di kamar mama." jawab Faldi.
"Jadi papa dan mama sudah mulai terbiasa seperti Om Martin dan Tante Riana? Tidur bersama ya?" tanya Zidan polos. Ia ingat penjelasan Faldi dulu saat ia bertanya kenapa Faldi tidak tidur sekamar dengan Bunga.
Faldi melirik Bunga,"Begitulah."
"Zidan sudah ngobrolnya. Ayo makan. Nanti papa telat kalau terus kamu ajak ngobrol nak. Kamu juga bisa telat ke sekolah."
Bunga mengambilkan makanan untuk Faldi.
"Zidan ambil sendiri saja. Zidan sudah bisa." Zidan mengambil makanan.
__ADS_1
Mereka mulai makan. Ditengah-tengah makan, Zidan kembali bertanya, "Pa! Apa nanti Zidan akan punya adik seperti Marina?"
Pertanyaan Zidan membuat Bunga kaget hingga tersedak. Ia segera mengambil air minum dan meneguknya.
"Zidan mau punya adik?" tanya Faldi sambil tersenyum menatap Bunga. Zidan mengangguk.
"Marina bilang, di perut tante Riana ada adiknya. Kapan di perut mama ada adik Zidan?" tanya Zidan lagi sambil melihat ke arah Bunga meminta jawaban.
"Ee.. itu... nanti kalau Allah sudah kasih adik ke mama ya." jawab Bunga cari aman.
"Makanya, mulai sekarang Zidan bobok sendiri. Papa akan bobok sama mama. Biar Zidan bisa punya adik." jawab Faldi yang langsung mendapat pelototan Bunga. Faldi hanya tersenyum saja. Wajahnya melancarkan kebahagiaan.
Bunga ingin protes atas perkataannya, namun melihat wajah ceria Faldi, Bunga mengurungkan niatnya. Ia tersenyum.
Alhamdulillah. Kau masih bisa tersenyum bahagia. Semoga masalahmu bisa segera teratasi sayank.
"Kenapa senyum senyum?" ucap Faldi mengagetkan Bunga yang sedang tersenyum menatapnya. "Lagi berhalusinasi membayangkan membuat adik untuk Zidan ya?" bisik Faldi.
"Apaan sih. Nggak ya." Bunga mencubit Faldi kesal, "Mm.. aku boleh main ke tempat Riana?"
Faldi mengangguk, "Nanti aku suruh sopirku mengantarmu."
"Nggak usah. Aku naik taksi online saja."
"Nggak boleh mbantah. Istri baik harus nurut kata suami. Mau surga apa neraka?"
"Eh.. kenapa bawa-bawa surga dan neraka segala."
"Ya kalau nurut suami dapat surga, kalau nggak dapat neraka. Pilih mana?"
"Iya-iya, surga."
"Istri pinter. Jam berapa? Bakar aku bilang ke Pak Mun nanti."
"Jam sembilan ya, jangan terlalu siang. "
"Siap nyonya. Zidan sudah selesai? Ayo!"
Zidan mengangguk. Ia meneguk minumannya lalu berpamitan pada Bunga dan berlari keluar mendahului papanya.
"Anak pengertian." gumam Faldi.
Maksudnya?" tanya Bunga.
"Maksudnya, biar papanya bisa melakukan ini. " Faldi meraih dagu Bunga dan mendaratkan ciuman di bibir Bunga.
"Bibir nyonya Faldi memang sangat manis."
"Ish!" Bunga tersipu.
"Aku berangkat dulu."
"Hati-hati, semoga semuanya segera membaik."
Faldi mengangguk lalu keluar menuju mobilnya.
...💞💞💞...
**Zidan pengen punya adik.... papa Faldi jadi seneng tuh. Semoga keinginan Zidan segera terwujud ya... aamiin.
__ADS_1
jangan lupa jejaknya**....