Cinta Berjarak Lima Tahun

Cinta Berjarak Lima Tahun
Menyusul ke Kantor


__ADS_3

"Jadi bagaimana? " Bunga meminta pendapat dari Martin dan Riana.


"Menurutku sih bagus. Bisa dicoba." jawab Martin yang dianggukkin Riana.


"Jadi? Bisakah kau menolong ku menyampaikan ide ini pada Faldi? Tapi tolong jangan bilang kalau ini ide aku." Bunga memohon pada Martin.


"Baiklah. Demi Faldi." jawab Martin yang membuat Bunga lega.


"Terima kasih. Kau memang sepupu terbaik." Bunga mengacungkan kedua jempolnya pada Martin.


"Tapi kalau nanti ia tanya tentang tehniknya bagaimana?"


"Ya kamu bisa kirim WA ke aku. Nanti aku jelasin ke kamu. Pandai-pandainya kamu saja lah."


"Ok. Aku akan ke kantor Faldi sekarang." Martin berdiri dan setelah berpamitan pada Riana dengan mengecup keningnya, ia berangkat ke kantor Faldi.


"Aku juga akan pulang. Sebentar lagi harus jemput Zidan." Bunga pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan rumah Riana.


.


.


.


.


Faldi membaca dengan teliti filenyang Martin bawa.


"Bagus! Terima kasih, Tin. Aku akan melakukan seperti apa yang tertulis dalam file ini. Ini rencana yang sempurna. Kamu hebat, melakukan penyelidikan pasar baru menyusun rencana."


"Mungkin sekali waktu, kamu harus turun langsung ke lapangan. Jangan hanya Terima laporan saja Fal."


"Aku juga berpikir begitu. Namun kau tahu sendiri, urusan yang aku tangani banyak sekali. Kupikir, orang-orang yang kukirim sudah kompeten di bidangnya."


Faldi langsung mengajak bawahannya meeting untuk membahas rencana yang diberikan Bunga. Ia menyampaikan apa yang harus dilakukan oleh masing-masing devisi di perusahaannya itu. Faldi sangat yakin kalau kali ini usahanya akan berhasil.


.


.


.


Faldi pulang ke rumah dengan wajah ceria, tidak suntuk seperti beberapa hari terakhir.


"Ceria sekali? Apa masalah perusahaan sudah teratasi?" Bunga bertanya sambil membawakan tas kerja Faldi.


"Berkat doamu Nyonya Faldi, Martin datang dengan idenya yang luar biasa." jawab Faldi dengan senyum cerah.


"Syukurlah"


"Sayang.. beberapa hari ke depan, mungkin aku akan sangat sibuk. Dan jika aku tidak memungkinkan untuk. pulang, apa kau tidak apa-apa?" Kata Faldi sambil melepas pakaiannya.


"Enggak. Mandilah! Aku sudah siapkan airnya."


"Zidan? Dari pulang tadi aku tidak melihatnya."


"Ia pasti ada di kamar seperti biasanya. Habis mandi, kita makan malam. Aku akan menyiapkannya."


Faldi mengangguk. Bunga keluar dari kamar dan mulai sibuk di dapur.


*

__ADS_1


*


*


"Fal! Apa kamu tidak berniat melanjutkan kerjasama dengan perusahaan Lisa lagi?" tanya Bunga yang tangah berbaring dalam dekapan Faldi.


Faldi memainkan rambutnya, "Nggak!" jawabnya pendek.


"Kenapa? Ku rasa Lisa bisa profesional. Ia pasti tidak akan mempermasalahkan pernikahan kalian yang gagal karena setahuku Lisa ikut dalam rencana papa. Dia mendukung pernikahan kita. Kalau bekerjasama dengan perusahaannya akan membawa keuntungan, apa yang kau ragukan?"


Faldi diam. Sejujurnya ia tidak mau berhubungan dengan Kendra lagi. Bekerjasama dengan perusahaan Lisa maka sudah pasti ia akan berhubungan dengan Kendra. Ia tidak mau mengusik masa lalu.


"Aku akan mencari perusahaan lain untuk diajak kerjasama Bunga." Faldi mengelus punggung Bunga, "Sudahlah, jangan fikirkan masalah itu. Tidurlah. Sudah malam. Sekarang hati keberapa ya?"


"Maksudmu? Apa yang sedang kamu hitung?" Bunga mendongakkan wajahnya berusaha melihat ke Faldi. Ia menatap Faldi yang tengah serius mengingat sesuatu.


"Kurang dua hari lagi kan?" tanya Faldi masih membuat Bunga bingung dengan arah pembicaraannya.


"Kamu ngomongin apa sih, nggak jelas deh." cicit Bunga kesal.


"Itu, tamumu. Dua hari lagi akan pulang kan?" jawab Faldi sambil nyengir.


"Astaga. Jadi kamu terus menghitungnya." seru Bunga tak percaya sekaligus geli dengan ulah Faldi.


"Aku bahkan menandai di kalender yang ada di meja kantorku." jawab Faldi. Ia kembali memeluk tubuh Bunga. Bunga tersenyum sambil menenggelamkan wajahnya di dada Faldi.


*


*


*


Seperti yang Faldi katakan, belakangan ia menjadi sangat sibuk. Ia selalu pulang malam bahkan sering lembur di kantor hingga tidak pulang. Dua hari yang ia tunggu sudah berlalu namun Faldi masih tenggelam dalam kesibukannya.


Bunga gembira dengan kabar itu, namun disisi lain ia menjadi kesepian. Ia sudah terbiasa tidur ditemani Faldi, belakangan Faldi jarang tidur bersamanya. Ia akan kerja sampai malam dan sering tertidur saat bekerja.


Malam ini Faldi juga mengirim pesan kalau ia tidak akan pulang. Bunga gelisah. Ia tidak bisa tidur.


Apa aku menyusulnya saja ya? Menemaninya bekerja. batin Bunga.


Bunga lalu ke kamar Zidan. Ia melihat Zidan belum tidur.


"Zidan lagi apa?" tanya Bunga lalu duduk di sebelah Zidan.


"Main ma." Zidan menunjukkan game yang ada di ponselnya.


"Zidan malam ini tidur di rumah tante Riana mau? Mama mau ke kantor papa. menemaninya bekerja."


Zidan mengangguk senang. Ia lalu mematikan ponselnya.


"Zidan sekalian bawa buku buat besok dan seragam ya ma?" Zidan mengambil tas besar dan memasukan buku lalu mengambil seragam ya di alamari.


"Anak pintar." puji Bunga melihat kecekatan Zidan.


Dengan naik taksi online, Bunga dan Zidan menuju rumah Riana.


'RI, aku nitip Zidan ya! Dan aku minta tolong Martin, untuk mengantar ke kantor Faldi."


"Untuk apa kamu ke sana? Kamu takut Faldi macam-macam ya?" tanya Riana.


"Nggak Ri. Aku hanya ingin membatunya atau sekedar menemaninya bekerja." jawab Bunga.

__ADS_1


"Ingin menemani apa kangen?Duh segitu kangennya ya sampai nyusul. ke kantor." ledek Riana.


Bunga tersipu. Dalam hati ia membenarkan ucapan Riana. Ia kangen pada suami kecilnya itu.


Dengan diantar Martin, Bunga pergi ke kantor Faldi.


"Kamu tahu letak ruangan Faldi?" tanya Martin, "Apa.perlu aku antar sampai ke dalam?"


Bunga menggeleng, "Tidak perlu. Hanya saja, aku khawator kedua satpam itu tidak. akan mengijinkan aku masuk. " Bunga menunjuk ke arah dua orang satpam yang menjaga di depan pintu masuk.


Martin turun dan berjalan mendekati kedua satpam itu.


"Selamat malam Pak? Ini istri Tuan Faldi, dia ingin menemui suaminya. Bisakah bapak mengantarnya ke ruangan Pak Faldi?" kaya Martin. Dua orang satpam itu melihat ke arah Bunga. Mereka sudah mengenal Martin karena Martin memang sering datang ke kantor Faldi namun tidak dengan Bunga.


Mereka mengangguk dan salah seorang mengantar Bunga ke ruangan Faldi.


"Terimakasih Pak." kata Bunga saat telah tiba di depan ruangan Faldi. Ia lalu mengetuk pintu sebelum. membukanya dengan perlahan.


Ia melihat suaminya tengah duduk sambil mengetik di notebook nya.


"Tuan Faldi, sibuk ya. Sampai lupa sama istrinya." suara lembut Bunga membuat Faldi mendongak.


"Bunga, kenapa kamu ada di sini?" seakan tak percaya Faldi melihat Bunga di ruangan kantornya. Bunga mendekat dan berdiri di belakang Faldi. Ia meminit bahu Faldi.


"Habisnya tuan nggak pulang. Ya aku nyusul saja kemari. Aku ingin menemanimu." kata Bunga masih dengan memijat bahu Faldi.


Faldi tersenyum, Ia meraih tangan Bunga yang ada di bahunya. Ia memutar kursinya dan menarik Bunga ke atas pangkuannya.


"Ih bau asem." seru Bunga lalu menutup hidungnya. "Lupa nggak mandi, pasti lupa nggak makan juga." tebak Bunga.


Faldi memeluk Bunga, "Mandilah. Aku bawakan makanan. Setelah itu kita makan bareng." bisik Bunga.


Faldi bangku dari duduknya.


"Temani!" bisiknya. Faldi menarik tangan Bunga agar mengikutinya.


"Manja." ledek Bunga. Ia mengikuti Faldi masuk ke kamar pribadi yang ada dalam ruangan itu.


"Ayo makan!" ajak Bunga setelah Faldi mandi. Faksi menurut.


"Fal, tadi apa yang sedang kamu lakukan?"


"Akau membuat rencana untuk produk baru. Ku kembangkan dari rencana yang Maryin berikan dulu itu."


"Apa aku boleh membantumu?" tanya Bunga penuh harap.


Faldi mengangguk. "Karena kau sudah di sini, nggak ada salahnya kau bantu aku.*


Selesai makan mereka kembali. ke meja kerja Faldi. Bunga mengambil. kursi dan duduk di sebelah Faldi. Ia memberikan saran dan idenya pada Faldi. Karena dipikirkan bersama, pekerjaan Faldi jadi. lebih cepat selesai.


" Terima kasih Nyonya, kamu benar-benar membantuku kali ini." Faldi kendarayka kecupannya di pipi Bunga.


"Pulang yuk!" ajak Bunga. Faldi melihat ke arah jam di mejanya.


"Sudah terlalu malam. Kita menginap saja di sini. Besok pagi baru pulang." Faldi bersiri dan langsung menggendong Bunga.


"Tuan Faldi, aku nggak membawa piyamaku. Bagaimana aku tidur?" gerutu Bunga.


"Malam ini Nyonya Faldi nggak butuh piya untuk tidur." jawab Faldi. Bibirnya tersenyum menyeringai.


...💕💕💕💕...

__ADS_1


**Alhamdulillah bisa up.


jangan lupa tinggalin jejak ya**...


__ADS_2