
Pagi hari
Bunga menyiapkan makan pagi. Saat Kendra keluar dari kamar ia melihat Bunga sedang menata makanan di meja makan. Kendra memperhatikan bahwa Bunga sudah memakai kalung yang ia berikan semalam. Kendra tersenyum bahagia.
"Masak apa?"
Bunga kaget karena tiba tiba Kendra sudah berdiri di sampingnya.
"Ah Mas Ken! Mengejutkanku. Ini bikin oseng pakis sama sambal bajak terus ikan lele goreng."
"Kamu belajar masakan daerah sini ya?"
"Iya. Belajar dari Bu Imam. Aku harus bisa memasak bahan bahan yang mudah didapatkan di sekitar sini. Biar nggak sering pergi ke supermarket atau pasar besar."
"Kenapa? Kalau kamu mau belanja aku siap mengantarkan."
"Perutku makin lama akan makin besar mas. Jadi belanjanya di sekitar sini saja. Dah siap, ayo makan!"
Kendra lalu duduk di kursi. Bunga melayaninya selama makan pagi itu. Mereka sudah seperti pasangan suami istri yang sesungguhnya.
"Bunga!"
"Ya!" kata Bunga sambil mengambik makanan untuk dirinya.
"Caramu melayaniku di meja makan sudah seperti istri sungguhan."
"Bukankah aku memang istrimu, kita kan ada surat nikah." Bunga bercanda sambil tersenyum. Ia menyiapkan satu sendok makanan ke mulutnya.
Kendra menatap Bunga dengan serius.
"Berarti kamu juga harus melayaniku di tempat lain, bukan hanya di meja makan."
"Hukk!"
__ADS_1
Bunga kaget hingga terbatuk. Sebagian nasi yang ada di mulutnya menyembur ke luar dan beberapa butir mengenai muka Kendra.
"Maaf mas!" Bunga berdiri mengambil tisue dan membersihkan butiran nasi yang menempel di pipi Kendra.
"Jika aku yang dulu, pasti akan menghukum orang yang berani menyemburkan nasi ke mukaku. "
"Maaf! Salah mas sih bikin kaget orang." kata Bunga lalu duduk kembali di kursinya.
Mereka melanjutkan makan pagi dengan sedikit canggung.
"Bunga! Kamu kerja hari ini?"
"Iya, mas. Memang kenapa?"
"Nggak papa. Ya sudah aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Bunga sedang berada di mushola kantor tempatnya berkerja. Ia duduk sambil menyelonjorkan kakinya. Perutnya yang mulai membuncit membuat kakinya harus menopang berat badannya yang bertambah. Apalagi kerja di minimarket, Bunga tidak bisa hanya duduk diam di kantornya. Saat ia sedang bersantai, ponselnya berdering. Ada pesan masuk dari Kendra.
*Aku menunggumu di cafe depan minimarket. Ada hal penting yang harus aku sampaikan. Keluarlah!*
Bunga bergegas menemui Kendra.
"Mas!" sapa Bunga saat melihat Kendra duduk di dalam cafe.
"Duduklah!"
Bunga lalu duduk.
"Ada hal penting apa?"
Kendra menatap Bunga. Pandangannya serius dan menghujam ke dalam mata Bunga.
__ADS_1
"Gerry sudah menalakmu!!"
"Benarkah?!?" mata Bunga membola. Ada binar bahagia di sana.
Kendra menyipitkan pandangannya.
"Kamu tidak sedih?"
Bunga menggeleng.
"Aku malah lega mas. Seolah beban berat sudah terangkat dari pundakku. Bagaimanapun pernikahan kami diawali dengan kebohongan."
"Apa kamu benar benar nggak ada perasaan pada Gerry?"
"Dari awal yang aku cintai adalah Faldi. Aku menerima Gerry karena aku kira dia Faldi. Jadi kalau ditanya bagaimana perasaanku sekarang, aku juga tidak tahu. Yang jelas perceraian ini membuatku lega. Itu saja."
"Syukurlah. Aku khawatir kamu akan bersedih tadi. Tapi rupanya kekhawatiranku tidak perlu."
"Memang tidak. Masih ada yang harus mas Ken khawatirkan selain masalah itu."
"Apa?"
"Aku lapar belum makan siang. Di cafe ini mana ada makanan berat. Jadi kita cari tempat lain sebelum aku pingsan kelaparan."
Kendra tertawa sambil mengacak rambut Bunga.
...🌹🌹🌹🌹...
Happy Reading.
Tolong kasih like, vote sama coment ya
Makasiihhhhh
__ADS_1