
Hampir satu minggu setelah pertemuan zen dan tsya pada makan siang, zen kini semakin berani untuk menghubungi tsya. Sedangkan tsya selalu enggan untuk menjawab telfon dari laki laki yang bernama zen.
Kini memory yang dulu seakan berputar di otak wanita cantik itu, luka lama yang sudah tertutup harus teringat lagi. Tsya harus bergelut dengan masa lalu yang menyakitkan dan memory masa lalu nya kini seakan ada di depan mata nya.
Dulu tsya mungkin mencintai laki laki yang hampir sempurna itu tapi itu dulu di mana masa masa jaman sekolah. Tsya adalah adik kelas dimana zen ada seniornya. Zen waktu itu menginjak kelas 3 sma sedangkan tsya baru menginjak kelas 1 sma. Sekolah sma yang cukup terkenal di kota waktu itu hingga sekarang.
Zen adalah laki laki muda yang begitu tampan di satu sekolah, ketua basket yang selalu di kelilingi wanita cantik. Tak ada yang mampu menolak pesona zen adtya adam. Zen adalah laki laki yang cukup terkenal dengan ke pintarannya maupun sikap playboy.
“ bro lu lihat adik kelas kita yang cantiknya mengalahi kecantikan nanda..” salah satu teman satu tim basket yang sedang bicara kepada zen.
“ gak ada yang ngalahi kecantikan nanda..” bantah zen waktu itu. Nanda adalah wanita yang juga populer waktu itu karna kecantikan nya yang saat ini menjadi teman dekat dari zen.
“ lu harus lihat anak nya bro.. aku yakin kamu langsung jatuh hati kepadanya.” Kata teman yang lain dan tak di hiraukan oleh zen.
Satu minggu berlalu semenjak obrolah receh mereka, tanpa sengaja zen menambrak seseorang yang tengah membawah beberapah buku tebal.
Bruak
“ auwhh..” teriak tsya karna dirinya dan laki laki yang menambrak nya jatuh di lantai. “ maaf kak aku gak sengaja..” sambung tsya yang membereskan buku yang berserahkan di lantai. Sedangkan zen tak menjawabnya hanya melihat tsya.
Setelah buku itu sudah berada di tanggan tsya lagi, tsya segera meninggalkan zen yang masih duduk di lantai dengan memandang tsya meskipun tsya sudah berada jauh.
“ sayang kamu kenapa?, siapa yang menabrakmu..” kata nanda yang waktu itu melihat zen berada duduk di lantai.
__ADS_1
Zen yang tersadar ketika mendengar suara nanda. “ aku ga pa pa hanya terpeleset..” kata zen yang berbohong dan kemudian pergi meninggalkan nanda yang benggong.
Zen yang selalu terbayang wajah cantiknya tsya seakan tak menghiraukan keberadaan teman teman nya, dan tak fokus ketika berlatihan basket. Tanpa sengaja zen juga melihat tsya tengah duduk di bangku penonton yang melihat ke arah mereka.
“ hee lu kenapa.. lu lihat siapa sih zen dari tadi benggong..” kata salah satu teman nya dan semua orang melihat ke arah mata zen lihat. “ jadi lu lihatin adik kelas kita hahahaha.. gw bilang apa lu bakal jatuh cinta padanya..” dan satu tim tertawa bersamaan.
“ kita taruhan jika lu berhasil mendekatinya dan menjadikan dia pacar mu selama 3 bulan sebelom kita lulus.. kita akan kasih lu 1 juta jadi kita satu tim 6 juta.. deal..” sebuah tantangan yang terlontarkan oleh satu teman nya yang membuat zen melihat kearahnya.
“ lu gila wanita lu jadian taruhan.”
“ lu takut kalah.”
“ gak ada dalam sejarahku kalah.”
“ lalu.”
“ oke aku terimah jika aku kalah kalian akan aku bayar 1 juta per orang.”
Semenjak taruhan itu zen mencoba mendekati tsya. “ haii boleh duduk sini gak..” tanyak zen ketika dia harus berada di dalam ruangan perpustakan.
“ kakak duduk sana ini tempat umum kan..” jawab tsya dengan pelan. Dan zen duduk di sebelah tsya yang sedang mengerjakan soal soal. Tsya yang tetap fokus dengan buku di depannya tak menghiraukan zen yang duduk di sebelahnya.
“ hmm boleh pinjem bolpen gak..” tanyak zen dengan menggaruk kepalanya.
“ maaf kak aku gak bawah bolpen lagi.”
“ kalau ponsel bawahkan.”
__ADS_1
“ bahwa kak.. kakak mau pinjem.”
“ boleh, untuk mencantat nomer telfon ku..” kata zen dan tsya hanya geleng geleng kepala. Tsya yang kembali pada buku bukunya lagi dan zen merasa bosan disini. “ kamu tahu gak sih nama ibu kantin kita yang gemuk itu..” kata zen lagi yang membuat tsya melihat ke arah nya.
“ aku belom kenalan kak jadi gak tahu nama nya.”
“ kalau nama mu pasti kamu tahu dong..” ucap zen dengan tingkah usilnya yang membuat tsya tetap tak merespon. “ kenalin aku zen kakak kelas mu jurusan ipa..” zen yang tiba tiba memperkenalkan dirinya.
“ kakak jangan berisik ini perpustakan.”
“ aku akan diam setelah tahu namamu dan nomer telfonmu..” zen yang merasa tak di hiraukan oleh tsya serasa membuat keributan di sana.
“ haii aku mau tanyak dong pada kalian semua yang ada di sini, perempuan yang ada di sampingku ini siapa nama nya.. jika ada yang tahu maka aku akan teraktir kalian makaann..” teriak zen yang membuat semua pelajar melihat kearahnya.
“ tenang tenang jangan berisik, zen kamu pertama datang kesini sudah membuat ribut..” sang penjaga perpustakan yang memarahinya dan zen hanya menampilkan senyum kuda nya.
“ kakak ini gila ya.” Kata tsya dengan berbisik.
“ aku akan lebih gila jika belom tahu nama mu dan nomer polselmu.” Jawab zen yang juga berbisik.
“ anatsya dan ini nomer telfon ku sekarang sebaik nya kakak pergi dari sini..” nada kesal terdengar jelas dari nada bicara tsya.
“ baiklah ana aku akan pergi.. makasih cantik..” kata zen dengan senyum di bibirnya yang kemudian berlari kecil meninggalkan ruangan perpustakan itu.
Semenjak kejadian di perpustakan tsya selalu di dekati zen, entah di kantin entah di taman sekolah, bahkan zen tak sungkan menghampiri nya di kelas tsya. Tetapi tsya selalu memanggilnya ana.
“ ana aku tadi ke kelasmu dan kamu sudah ada di kantin..” kata zen yang duduk di depan tsya.
__ADS_1
“ kakak aku risih deh selalu di dekatimu dan semua mata melihat kearahku.”
“ bodohlah. Yang penting kita senang,, ngapain juga kamu hiraukan.”