
Tsya dengan segera menodongkan pistol kearah orang tersebut dan orang itu juga sama sama menodongkan pistolnya. “ kau dari dulu selalu berdiri di antara aku dan zen.”
“ zen yang memilih bukan aku yang memilihnya..” jawab tsya dengan santai padahal ia juga di todongkan pistol di kepalanya.
“ kau harus membayar semua nya dengan nyawa mu.”
“ jika aku mati maka kak nanda juga harus mati..” kata tsya dan ia nanda lha yang merancanakan ini, ia kabur setelah mendengar bahwa zen akan menikah dengan tsya, mengelabui anak buah zen ke toilet dan melarikan diri.
“ kau yang akan mati sendiri dan aku akan menikah dengan zen.”
“ bahkan jika aku mati pun, zen tak akan mau menikah dengan wanita gila seperti mu.”
“ kita lihat kau atau aku yang mati sekarang..” kata nanda dengan menarik pelatuhnya dan tsya pun juga menarik pelatuhnya sama sama.
‘ jaga zen dengan baik tuhan, jika aku mati sekarang berikan ia penganti yang lebih baik dari ku, mungkin jodoh ku dan zen hanya sampai di sini ‘ batin tsya ketika ia melepaskan pelatuhnya, memajamkan matanya.
Dor
Dor
Suara tembakan yang membuat kedua wanita tersebut tersungkur di lantai penuh darah yang membasahi tubuh kedua wanita tersebut.
Dor
Dor
Tsya dan nanda kini sama sama tergeletak di lantai dengan banyak nya darah yang keluar, tetapi tsya hanya tertembak di kaki sedangkan nanda tepat berada di jantung dari arah belakang dan kepala dari arah samping dan pergelangan tanggan nya agar pistol di tanggan nya terjatuh.
__ADS_1
Sedangkan tsya hanya ada luka di kaki karna memang ia di tembak di kaki agar ia dulu yang terjatuh agar tak menghalangi para sniper menembaki nanda dengan brutal.
Zen yang melihat wanita nya terjatuh karna tembakan dari nya merasa sangat bersalah karna ia dengan sengaja menembak kaki sebelah wanitanya. Zen dengan langkah cepat ia berlari menujuh wanita nya yang juga tak sadar kan diri di lantai yang penuh dengan darah.
“ ana bangun sayang, buka mata mu sayang, ini aku zen, maafkan aku buka mata mu..” teriak zen dengan menepuk pipi wanita nya dengan lembut.
“ bos denyut nadi nya melemah, kita harus segera bahwa nona kerumah sakit..” kini briyan yang bicara setelah mengecak nadi dari nona nya.
Zen tanpa banyak bicara ia segera mengendong tsya dan berlari menujuh mobil yang seperti mobil ambulans, karna kelompok zen selalu menyiapkan segala sesuatu nya, jika mereka bertempur maka mobil mobil ini akan berguna bagi mereka seperti saat ini.
Briyan memasang oksigen dan mencoba mengtikan darahnya yang keluar terus dari kaki sebelah kanan milik tsya. Memasang infus dengan segera dan Briyan menghubungi seseorang penuh cemas, sedangkan zen berada di sebelahnya dengan memengang tanggan tsya dengan air mata nya menetas tanpa ia sadar.
“ bangun sayang, ku mohon maafkan aku, aku terpaksa melakukan ini..” lirik zen dengan rasa bersalahnya. “ jika aku tak menembak tadi kau tak akan seperti ini..” sambungnya lagi.
“ bos tenang kan dirimu, jika anda tak melakukan nya maka peluruh tadi juga akan menimpah kepala nona..” timpal briyan yang merasa kasihan pada bos nya.
“ jangan ada kesalahan sekecil apapun..” kata briyan sebelom memulai oprasi mengeluarkan timbah panas dari kaki nona muda nya.
Sedangkan zen dan beberapah orang nya berada di sana dengan membawah jenazah nanda dengan luka tembak di tiga titik yang membuat nya mati di tempat.
Zen melihat nya sebentar sebelom ia di bawah ke tempat jenazah. “ malik kubur ia dengan layak, berikan cek dengan nominal yang banyak pada keluarganya dan tanamkan modal buat perusahan nya ayahnya..” kata zen dengan dingin.
“ baik tuan muda..” jawab malik yang kemudian melangkah pergi mengurus semua yang di katakan bos nya.
Tak lama sang ayah mertu dan ayah dari zen tiba di sana dengan raut yang cemas. “ zen bagaimana putri ku..” kata pertama yang di ucapkan oleh pak abraham.
“ di- dia di dalam yah, oprasi untuk mengeluarkan peluruh zen yang zen tembak di kaki nya.”
__ADS_1
Bugh! Satu pukulan di wajahnya zen dari pak abraham ketika ia mendengar bahwa putrinya di tembak oleh suaminya yang baru satu hari ia nikahi.
“ kau mau membunuh putri ku dan menyelamatkan wanita lain mu itu haa..” bentak pak abraham dengan mencengkram kerah baju yang zen gunakan.
“ tenangkan dirimu pak abraham, ini rumah sakit.”
“ bagaimana aku bisa tenang mendengar ia menembak istri nya sendiri..” kata pak abraham dengan menghempaskan cengkaraman tersebut.
“ ayah jika aku tak menembak kaki nya ana, ia akan kenak tembak di kepalanya, dan jika aku tak membuat nya terjatuh dulu bagaimana para sniper ku menembaki orang itu. Aku memang sengaja membuat nya jatuh dulu ke lantai ayah..” zen yang menjelaskan nya dengan nada sedihnya, dan semua yang di sana mencernah apa yang di jelaskan oleh zen.
“ jadi kamu menyelamatkan putri ku dengan cara menembak kaki nya.”
“ iya yah dan maafkan aku, aku terpaksa melakukan nya..” zen meringsut ke lantai dengan lemas, memar di wajahnya tak ia pedulikan ia lebih peduli dengan keadaan istrinya.
Sedangkan di dalam ruangan oprasi briyan tengah fokus mengeluarkan peluruh dari kaki nya tsya. “ dok tekanan darahnya menurun..” kata salah satu suster.
“ kita harus segera selesaikan dan ambilkan darah dengan segera..” jawab briyan dengan tetap tenang.
Suster yang keluar dari ruangan oprasi berlari dengan panik, membuat semua orang berada di sana ketakutan. Suster yang kembali membawah kantong darah segera masuk dengan terburu buru.
“ suster katakan ada apa..” kata zen dengan menghentikan suster itu yang ingin masuk.
“ maaf tuan keadaan pasien sangat lemah, jadi saya mohon jangan halangi saya masuk..” kata suster tersebut yang kemudian masuk keruangan oprasi tersebut.
Sedangkan zen melemas seketika, orang orang yang di sana hanya bisa berdoa yang terbaik untuk tsya yang sedang oprasi di dalam, mempertaruhkan nyawanya.
Sambung part 2 ya sayang.
__ADS_1
Malam pertama nya di tunda dulu ya, gak semudah itu membobol pertahanan wanita yang suka dengan darah, sabar dulu ya para sayang ku yang baik hati nanti ada saat nya malam pertama hehehe