Cinta Lama Berlabuh Kembali

Cinta Lama Berlabuh Kembali
CLBK2_ Ranjang Rumah sakit


__ADS_3

Satu minggu sudah berlalu kini tsya sudah semakin pulih, meskipun terkadang kaki nya masih sangat sulit berjalan, berjalan dengan satu kaki yang habis di oprasi sangat menyakitkan. Meskipun setiap hari ia harus merengek ingin berjalan sendiri untuk mencoba kaki nya, tapi suami nya yang posisef itu selalu banyak cara untuk membatalkan rencana nya ingin berjalan seperti hari ini.


“ sayang aku ingin berlatih berjalan, aku terlalu lama hanya terbaring di sini..” rengek tsya pada suami nya yang masih duduk manis dengan meletahkan mangkok makan nya.


“ tidak di ijinkan sayang.”


“ zen aku bosan hanya berbaring tak berdaya seperti ini.”


“ apa kamu lupa bahwa kemarin kamu kesakitan ketika berlatih berjalan.”


“ jika aku tak mencoba nya maka akan tetap sakit ketika aku berjalan..” rengek tsya dengan memajukan bibirnya yang cemberut. Bagaiman atak cemberut zen selalu melarang dirinya melakukan apapun, kekamar mandi pun ia harus di gendong oleh suaminya.


Menyebalkan


Memang begitu lah sifat zen yang mulai posisif, ia tak ingin istrinya kesakitan yang begitu lama, tapi ia juga tak bisa apa apa kecuali melarang istri nya mengurangi jalan nya.


Zen dengan gemas duduk di depan tsya dengan tersenyum. “ jangan mengoda ku dengan wajah mengemaskan..” kata zen.


“ aku tak mengoda mu, bahkan aku marah pada mu.”


“ benarkah?”


Zen mendekatkan wajah mereka hingga nafas mereka saling menyapu wajah mereka, mengikis jarak antara mereka, saling bertatapan dengan tatapan rindu yang begitu dalam, senyuman yang gugup membuat mereka hanya saling bertatapan mata.


Zen menempelkan bibirnya pada bibir tsya, tanggan tsya berada di dada sang suami hingga mereka tak sepenuhnya menempel, zen yang meluma* nya dengan pelan, tentu saja tsya membalas apa yang di berikan suami nya, saling memejamkan mata nya, melepaskan kerinduan beberapah beberapah hari.


Zen menahan tengkuh istriinya dan tanggan tsya sudah di kalungkan di leher suaminya, menikmati ciuman yang lembut. Ciuman yang lembut kini menjadi ciuman yang menuntut dan gairah yang menjalar di tubuh mereka berdua.


Tanggan zen mencoba masuk kedalam baju pasien yang di kenakan oleh tsya, mencoba mengoda istri nya, menyentuh benda padat yang kenyal, merema* nya dengan pelan, hingga membuat sang pemilik mengeliat di ciuma* tersebut.


Ciuman itu kini berpindah ke leher istrinya, mengigit pelan meninggalkan kiss mark kecil di sana, tsya yang hanya bisa meremas rambut zen ketika ia berada di lehernya.

__ADS_1


“ sayang kita di rumah sakit..” kata pertama yang di keluarkan tsya ketika mereka bertatapan kembali.


“ aku tahu..” suara serak zen.


“ akan ada banyak orang yang dengar nanti.”


“ tak akan ada yang tahu sayang, ini ruangan privasi kita..” zen meyakinkan istrinya.


Zen naik keatas ranjang merebahkan badan istrinya, ia mencium kening istrinya begitu lama, yang kemudian turun mencium bibirnya kembali, ciuman yang panas seakan menjalar di tubuh mereka berdua.


Saling membalas, saling menikmati, decapan demi decapan kini terdengar oleh mereka berdua, saling mengoda dengan tanggan mereka. Zen mencoba menggangkat baju tsya, mencoba menikmati benda kenyal yang di miliki istrinya yang padat dan mengoda.


“ auwhh..” rintihan tsya terdengar ketika kaki zen tanpa sengaja menyentuh kaki tsya yang terluka.


Dan zen menghentikan aktifitas nya menatap istrinya yang kesakitan. “ sayang apa aku menyakitimu..” suara zen penuh kekhawatiran dan ia sungguh tak sadar bahwa kaki nya menyentuh kaki tsya yang terluka.


“ kaki mu menyentuh kaki ku yang terluka..” jawab tsya dengan menahan rasa sakit.


Zen yang mendengarnya dengan segera turun dari ranjangnya melihat kearah kaki istrinya yang masih di perban. “ aku gak sengaja, maafkan aku sayang, sungguh aku tak sengaja..” nada khawatir seakan menyeruap di wajah zen.


“ apa masih sakit?”


“ sudah tidak lagi, maafkan aku..” suara tsya dengan rasa bersalah.


“ untuk apa?” jawab zen dengan mengerutkan keningnya.


“ karna kaki ku kita tak jadi melakukan nya..” kata tsya dengan menunduk.


“ seharus nya aku yang mintak maaf sayang, jika aku bisa menahan nya maka kamu tak akan merasakan kesakitan lagi..” suara zen yang juga bersalah.


“ kita sudah terlalu lama menunda nya..” jawab tsya dengan mengangkat kepalanya.

__ADS_1


“ tak masalah asal kau bisa segera sembuh.”


“ tapi aku juga tak mau- gak jadi..” tsya menghentikan ucapan nya karna takut suami nya tersinggung.


“ kenapa berhenti he, katakan ada apa.”


“ aku tak ingin momen pertama kita di ranjang rumah sakit sayang, aku ingin di tempat romantis..” tsya mengatakan apa yang ia pikirkan dan membuat zen tersenyum hangat. “ pernikahan kita tak sempurna, terus kita melakukan pertama kali nya di ranjang rumah sakit, kau sungguh tak romantis zen.” sambungnya lagi dengan kesal.


Zen tertawa mendengar keluhan istrinya. “ maafkan aku sayang, aku sangat merindukan mu hingga aku tak berfikir sejauh itu.”


Zen dan tsya berpelukan dengan erat. dekapan zen sangat nyaman buat tsya, jika ia memilih kembali ke alam ini adalah pilihan yang terbaik, ia tak akan tega melihat kedua laki laki yang kuat menjadi rapuh karna kepergian nya. ia harus mengubur dalam dalam pergi bersama sang ibu. Ia memilih kembali pada sang ayah dan sang suami yang saat itu menanggisi.


Zen mendekapnya dengan erat seakan takut kehilangan nya, ia takut hal buruk terjadi lagi, cukup kemarin membuat nya terluka karna kepergian sementara istrinya.


Keajaiban bukan


Keajaiban itu nampak nyata di mata nya, istrinya yang di nyatakan meninggal saat ini berada di pelukan nya dengan erat. saling mendekap saling takut kehilangan satu sama lain itu yang mereka rasakan.


Ranjang rumah sakit adalah saksi di mana mereka saling ketakutan kehilangan, jika dinding bisa melihat nya maka dinding dinding ini akan merasa iri kepada mereka, karna mereka begitu saling mencintai dan saling takut kehilangan satu sama lain.


Cinta yang mereka perjuangan nya kini telah berada di dekapan nya dengan erat, tanggisan yang kemarin menjadi kehabagian mereka semua, tak masalah jika mereka menunda malam pertama nya asal sang istri tetap berada di sampingnya.


melihat mata nya kembali adalah anugrah yang begitu indah bagi zen. Melihat senyumnya juga anugrah yang begitu indah, bisa memeluknya, menciumnya, juga anugrah yang begitu indah. membayangkan kehilangan nya saja zen tak berani, membayangkan tsya pergi dari hidupnya pun zen juga tak mau, karna ia tak akan tahu hal apa yang terjadi jika istrinya pergi lagi dari hidupnya.


_______


Tap jempol nya dong sayang


Masak sudah nulis banyak masih pelit tap jempol


Tinggalkan like atau komen

__ADS_1


Jadikan favorit juga dong


Kasih hadiah atau vote juga ga pa pa kok


__ADS_2