
Satu tembakan yang kena kaki ian membuat dirinya limbung seketika, alicia dengan sigap mengangkat tangan ian yang memegang pistol mengarahkan ke atas hingga tembakan ian mengenai langit langit ruang tamu.
Zen menarik istrinya menjauh agar tak terkena sedikit pun, aiden memukul perut ian dengan keras hingga ia terjatuh tersungkur di lantai.
Malik dan bryan terkejut mendengar suara tembakan dari dalam ruangan rumah, mereka bergegas berlari menuju sumber keributan. Sedang pak abraham juga keluar kamar dengan tergesa gesa ketika ia mendengar suara tembakan.
Mereka melihat seorang paruh baya yang tengah meringis kesakitan menahan sakit pada kaki nya, darah bercucuran dengan segarnya. Ian terduduk di lantai dengan menahan kesakitan.
" princess ada apa.." pak abraham bertanya dengan nada khawatir.
" tuan ada apa ini?" Malik juga ikut bertanya.
Sedangkan bryan berlari menuju laki laki yang tengah menahan sakit pada kakinya.
" dia mencoba menembak tsya yah.." jawaban dari zen seakan menghentikan semuanya. Bryan yang juga ingin menolongnya pun berdiri seketika, berjalan mundur menjauh laki laki yang terduduk di lantai.
" apa yang kau lakukan brian, selamat kan orang itu.." tsya bicara dengan sedikit kasar.
" maaf nona dia tidak akan mat* karena satu peluruh di kakinya.." jawaban ian membuat semua orang tersenyum sinis.
" tapi dia bisa mati kehabisan darah.." tambahnya lagi dengan nada tinggi.
" maafkan saya nona, itu memang resikonya bermain dengan pistol. Dia datang kesini menyerahkan nyawanya pada kita. Jadi biarkan dia menderita seperti yang dia mau.." jawab bryan dengan menunduk.
Bau amis yang tercium begitu menyengat, darah segar seakan memenuhi celana panjang ian dengan seketika. Ian tak bicara apapun ia hanya meringis menahan sakit pada kakinya.
Tsya menahan gejolak perutnya yang mual seketika, perutnya sungguh tak tahan menahan bau amis darah yang semakin tercium. Ia memegang perutnya dengan menekan keras, menahan mulutnya dengan kedua tangannya.
" hoek.." tsya segera berlari menuju kamar mandi ketika ia sudah tak tahan dengan apa yang dia cium. tsya memuntahkan semuanya yang ada pada perutnya.
Zen yang juga menyusul memijat tengkuk istrinya dengan pelan. Mengikat rambut istrinya dengan tangan yang satunya.
" sayang kamu tak apa.." suara zen begitu khawatir pada istrinya.
" aku tak apa hubby, bau darah tadi membuat ku mual.." jawab tsya dengan mengusap bibirnya dengan tisu.
" apa perutmu bermasalah?"
__ADS_1
" entahlah. Ini pertama kalinya aku merasa jijik pada darah.." tsya berdiri dengan menghadap suaminya. " bersihkan darah darah itu hubby, aku sungguh mual melihatnya, dan katakan pada bryan seruh dia mengeluarkam peluru tersebut. Jangan ada yang meninggal lagi. Sudah cukup korban yang berjatuhan.." sambungnya lagi.
" aku akan katakan pada mereka.." jawab zen dengan bingung.
" gendong.." suara manja nya tsya membuyarkan lamunan zen dengan sedetik kemudian tsya sudah digendong ala bridal style oleh suaminya. " hubby tapi aku lapar. Aku sungguh kelaparan.." sambungnya lagi.
" kita akan ke dapur oke.." dan tsya hanya menganggukan kepalanya.
****
" lihatlah nona tsya masih baik hati menginginkan dirimu untuk hidup.." bryan masih mengoceh ketika ia menyiapkan alat alatnya untuk mengeluarkan peluru tersebut yang bersarang di kakinya.
" saya tau nona tsya sangat baik hati."
" lalu buat apa kau ingin membunuhnya?, balas dendam mu itu tak akan membuat nyawa dari bos mu kembali."
" saya tau dan saya sadar sekarang.." ucapnya dengan memejamkan matanya, menahan sakit ketika suntikan menusuk ke kaki nya.
Bryan dengan sabar mengeluarkan peluru tersebut. Meskipun hatinya tak mau menolong orang yang sedang ia tangani saat ini tapi karena ancaman dari tuan nya maka ia terpaksa menolongnya.
" apa nona muda bermasalah dengan penciuman nya?" Aiden membuka pembicaran dengan malik serta alicia.
" ini pertama kalinya tsya tak suka mencium bau darah, padahal selama ini dia baik baik saja.." timpal alicia.
" apa mungkin nona hamil?" Ucapan malik membuat kedua orang menatapnya ke arah malik dengan senyum tipis di bibirnya. Sedangkan malik yang tengah di tatapan tak merasa ia fokus dengan lantai yang dibersihkan.
` apa benar kalau tsya hamil. Aku harap dia memang hamil ` batin alicia.
` aku harap semuanya benar ` batin aiden yang juga bicara dalam hatinya.
Sedangkan zen menatap istrinya yang tengah makan seperti orang yang tak berhari hari makan. Ia menghabiskan banyak makanan yang di siapkan Art nya.
" sayang pelan pelan, kamu bisa tersedak.." kata zen dengan lembut.
" aku sungguh lapar hubby, kamu tau aku mengeluarkan semua sarapan ku tadi.." jawabnya dengan memasukan makanan di dalam mulutnya.
" iya aku tau tapi pelan pelan, tak ada yang meminta makan ini.." perkataan zen tak dihiraukan oleh tsya. Dia semakin rakus makannya seakan berhari hari tak bertemu dengan makanan. Zen hanya geleng geleng kepala melihat istrinya makan sebegitu banyaknya.
__ADS_1
Sedangkan alicia tak sengaja melihat sahabatnya makan seperti itu. Ini adalah hal pertama yang dia lihat.
" apa benar tsya hamil, pertama ia muntah karena mencium darah, yang kedua dia makan begitu banyak?" Alicia berdialog sendiri dengan senyum di bibirnya.
Sedangkan ian kini sudah selesai dengan kakinya. Ia membuka matanya dengan pelan. Berjalan dengan sangat pelan.
" apa yang kau lakukan orang tua.." bryan mencegah ian yang akan berjalan.
" saya hanya ingin menemui nona tsya untuk mengucapkan terima kasih."
" nanti saja dulu, istirahatlah terlebih dahulu. kau butuh tenaga untuk melawan kami dan saat ini kau tak akan bisa melawan kami dan kami tak suka melawan orang yang lemah.." godanya bryan dengan bercanda.
" saya minta maaf karena membuat kekacauan.." ian menunduk dengan rasa malu.
" sudahlah nanti aku antar kepada nona muda. Sekarang istirahatlah dulu.." bryan membantu ian untuk kembali berbaring di kasurnya.
Tsya yang merasa kenyang kini tertidur di kamarnya dengan rasa nyenyaknya. Wajahnya tak ada guratan kecemasan atau kekhawatiran ia tertidur dengan damai. Bahkan bibirnya sedikit tersenyum.
" tidurlah sayang, kamu harus banyak istirahat.." zen mengelus rambut tsya dengan lembut dengan menyunggingkan senyum di bibirnya. Mengecup keningnya dengan lama.
" aku mencintaimu sayang dari segi mana pun, aku tetap mencintai mu sampai kapan pun.." sambungnya lagi dan kemudian ikut merebahkan tubuhnya di sebelah istrinya. Memeluk istrinya dengan erat hingga ia ikut tertidur juga di sebelah istri tercinta nya.
Sedangkan yang lain masih harus membersihan semua ruangan karna darah yang keluar dari kaki ian berceceran kemana mana.
______
Hai selamat pagi semuanya
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Like atau komen
Jadikan favorit juga boleh
Kasih vote atau hadiah juga boleh banget
Makasih.
__ADS_1