
Tiga hari setelah kejadian malam di mana zen memintak restu untuk segera menikahi tsya. Kini mereka menghubungi wo untuk menyiapkan pernikahan mereka. Sedangkan gaun pernikahan mereka akan di rancang oleh elmas aurora paulo. Seseorang desainer yang hingga dulu sampai sekarang masih terkenal karna rancangan nya yang apik.
“ astaga kau cantik sekali tsya, bahkan laki laki ini beruntung bisa mendapatkan wanita sek cantik dirimu..” kata elmas pertama kali bertemu dengan tsya dan zen.
“ astaga tante aku juga ganteng.”
“ ganteng dari sedotan..” jawaban elmas membuat mereka berdua tertawa.
“ sebenarnya aku yang beruntung bisa mendapatkan zen tante..” kata tsya dengan menatap kearah zen. “ aku beruntung bisa mendapatkan cinta yang begitu besar pada ku dan dia juga mau menunggu ku selama ini, itu adalah bukti bahwa ia sangat mencintaiku..” sambung tsya dengan tersenyum simpul.
“ aku yang lebih beruntung mendapatkan mu sayang, kau wanita yang pantas aku tunggu dan aku perjuangkan..” jawab zen dengan juga tersenyum.
“ baik baiklah kalian tak perlu pamer kemesraan di depan tante..” kata elmas dengan tertawa.
Kini mereka mengatakan apa yang mereka mau tentang gaun pernikahan mereka, elmas yang dengan cekatan menggambar nya. cukup satu jam desain gambaran elmas telah terjadi dan membuat tsya hanya tak percaya bahwa desainer di dedepan nya pantas jika terkenal.
“ tante ini sungguh indah..” kata tsya ketika melihat desain gambaran dari elmas.
“ kau menyukai nya?”
“ tentu, siapa yang tak akan suka jika ini gaun nya.”
“ aku akan membuat nya, mungkin satu minggu lagi kalian harus datang untuk feeting baju nya.”
“ terimah kasih tante.”
“ sama sama sayang..” jawab elmas dengan tersenyum.
****
Di gedung hotel yang besar milik dari bean alexander juga telah di sewa oleh mereka untuk di tempati hari pernikahan mereka, kebetulan aula hotel zen tak bisa di gunakan karna ada renovasi.
“ sayang ini terlalu besar, aku ingin pernikahan yang sederhana saja..” ucap tsya ketika ia melihat gedung yang akan ia tempati untuk menikah.
__ADS_1
“ kita akan sederhana menikahnya sayang, tapi tetap di tempat yang besar, karna kolega kita banyak, dua perusahan terbesar akan menjadi satu..” jawab zen dengan memeluk pinggang tsya dari samping.
“ pasti banyak yang mengira kita menikah karna bisnis.”
“ jangan pikirkan omongan orang lain nona..” timpal bean yang berjalan dari arah belakang menujuh kemereka.
“ om bean..” sapa zen dengan menjabat tanggan nya. “ bagaimana kabar om..” sambung zen dengan melepaskan tanggan mereka.
“ saya baik dan bagaimana kabar kalian..” tanyak bean dengan melihat kearah tsya.
“ kabar kami baik..” jawab zen. “ om kenalkan ini anatsya nugroho calon istri ku, tentu om tahu siapa tsya..” sambungnya lagi.
“ satu kehormatan bisa bertemu langsung dengan nona tsya putri dari tuan abraham nugroho serta ceo wanita yang sukses menaikan harga saham perusahaan nya dalam beberapah bulan ini..” kata bean dengan sopan, dari dulu bean tetap ramah tak berubah dari sifat maupun wajahnya meskipun banyak rambut putih yang mungkin tak terlihat kalau sekilas.
“ anda terlalu menyangjung tuan, suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan tuan bean alexander, siapa yang tahu sepak terjang dari keluarga alexander dan keluarga paulo, kalian keluarga yang harmonis serta keluarga yang sama sama kuat..” jawab tsya dengan tersenyum.
“ tapi tak se besar keluarga om dan paulo..” jawaban zen membuat mereka tertawa.
*****
Pernikahan sudah tinggal hitungan jam, kini tsya tengah memakai make up dengan di bantu beberapah perias, dan masalah gaun tentu saja elmas yang menghandle nya. kini mereka berdua tengah gugup.
Wajah datar dan dingin zen kini telah berubah menjadi wajah yang penuh ke gugupan, serta keringat dingin keluar begitu saja dari dahi zen meskipun begitu tapi kebahagian tak bisa di hindari dari wajah zen. Sedangkan tsya juga gugup tapi kebahagian mereka juga tak pudar dari wajahnya.
Tsya mengenakan gaun putih nya yang panjang, memakai trudung yang menutupi kepalanya serta wajahnya. Berjalan kearah atar dengan di gandeng ayah tercinta nya. semua tamu yang datang menatap kagum keraah pengantin cantik yang sedang berada di depan di gandeng oleh ayahnya.
“ aku serahkan putri ku, jika kau berani menyakitinya maka kamu akan tahu cara ayah melindunginya..” kata pak abraham dengan lembut meskipun lembut tapi masih terdengar tegas.
“ aku akan menjaga nya dengan nyawa ku..” jawab zen dengan lembut.
__ADS_1
Kini tsya dan zen berhadapan di depan pendeta, mengucapkan sumpah pernikahan di depan tuhan dan di depan semua keluarga serta tamu dan sahabat terdekat mereka.
“ saya zen adtya adam mengambil anatsya nugroho menjadi istri, untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita berdua..” ucap zen dengan lantang.
“ sekarang giliran pihak wanita nya yang bersumpah..” kata pendeta yang mengatakan tsya yang harus mulai bersumpah.
“ saya anatsya nugroho mengambil zen adtya adammenjadi suami untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama lamanya, pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita berdua..” ucap tsya.
“ sekarang kalian resmi menjadi pasangan suami istri, silahkan kenakan cincin nya, buka trudungnya dan pihak suami silahkan cium istrinya..” lanjut sang pendeta.
Zen memasangkan cincin pernikahan mereka, dan membuka trudungnya, zen mencium lembut bibi* tsya dengan sedikit memberi lumata* dan tsya tentu saja membalas nya.
Prok
Prok
Prok
Suara tepuk tanggan dari para tamu membuat mereka sadar bahwa mereka masih di tempat gereja. Saling melepaskan dan saling bertatapan muka, mata mereka saling bertemu dan zen dengan segera membawah tubuh tsya dalam dekapan hangat nya.
“ terimah kasih sudah mau menjadi pengantin wanita ku..” kata zen dengan pelan dan sekali mencium kening istrinya.
“ dan terimah kasih juga sudah mau mencintai ku dari dulu hingga sekarang..” jawab tsya yang tak kalah lembut.
“ malam ini kamu tak akan bisa lari lagi dari aku sayang..” perkataan zen membuat wajah tsya segera memerah.
Tsya mencubit paha zen dengan rasa malu. “ yang ada di otak mu hanya itu saja zen.”
“ tak sopan memanggil suami mu dengan nama.”
“ aku akan pikirkan panggilan apa yang pantas untuk mu..” jawab tsya dengan tersenyum.
Dan kini mereka berada di dalam mobil, mereka menujuh ketempat gedung untuk mengadakan pesta pernikahan mereka berdua.
_______
Jangan lupa link coment dan vote ya kasih hadiah juga ga pa pa
__ADS_1