
Hampir dua minggu tsya harus tetap berbaring di atas ranjang, meskipun ia memaksa untuk pulang tetapi zen tetap saja tak memberikan ijin ia pulang. Siapa yang suka bertahan lama lama di rumah sakit, tapi apalah daya ketika kondisi memang masih sakit.
Selama beberapah minggu ini pun zen tak mengurus pekerjaan nya, malik dan pak ahmed yang menghandle semua nya, zen fokus untuk penyembuhan istrinya.
“ sayang boleh aku bertanyak..” tsya yang bersandar pada lenggan suami nya dan mereka duduk berdua di sofa panjang ruangan kamar tersebut.
“ katakan?”
“ siapa yang menembak kaki?” zen dengan seketika gugup ia takut bahwa istrinya akan marah jika ia harus jujur. “ kenapa kau hanya diam?”
“ ehm, ak-u..”
“ apa kamu yang menembak?” tsya dengan menatap suami nya yang tatapan tajam karna suami nya tak mau ngaku, padahal ia hanya bertanyak.
“ maaf, aku hanya menyelamatkan mu agar sniper bisa menembak jelas, itu saja tak lebih..” zen yang menunduk dengan mengucapkan pelan, suara nya begitu putus asa.
“ aku tak marah, aku hanya ingin kamu jujur itu saja..” tsya yang menjawab dengan santai.
“ tapi aneh nya hanya satu peluruh yang aku tembakan ke kaki mu, dan kamu segera dapat pertolongan tapi kenapa kondisi mu langsung kritis sayang, padahal kata ayah pundak mu pernah ketembak musuh mu dan kamu bisa bertahan satu hari penuh..” penuturan zen membuat tsya mengerutkan kening nya dan berfikir sebentar.
“ apa kamu memakai pistol ku?” tanyak tsya zen hanya mengelngkan kepalanya.
“ tapi aku memakai peluruh yang ada di sebelah nakas kamar hotel kita.”
Tsya dengan segera menatap suaminya dengan terkejut. “ wadah warna apa yang kamu ambil?”
“ hitam.”
Tsya menepuk jidat nya dan ambruk lagi di lenggan suaminya. “ apa ada sesuatu di sana yang tak aku ketahui?” suara zen yang penasaran.
“ kau tahu sayang, wadah hitam itu adalah peluruh yang sudah kami isi dengan racun, dan racun itu baru kami buat dan baru akan di coba, dan sekarang aku lah yang jadi bahan percobaan racun ku sendiri..” penjelasan tsya membuat zen langsung menatap nya dengan terkejut.
“ ja- jadi it..u a..da racun..” suara zen yang terdengar terputus putus.
“ pantas saja aku kritis.”
__ADS_1
“ apa dokter gak bisa tahu kalau ada racun di tubuh mu.”
“ racun itu pasti terlihat sayang, tapi mungkin briyan gak mau mengatakan nya agar kau tak merasah bersalah lagi.”
“ aku harus menanyakan pada briyan.”
“ lain kali kau teliti dulu, apa yang kau ambil dari milik ku atau gak usah sama sekali mengambil nya..” peringatan tsya pada suami nya yang tak tahu appaun tentang racun atau peluruh yang ia miliki.
“ kalian wanita tangguh..” kata zen dengan mengendong istrinya membawah nya ke ranjang untuk berbaring lagi.
*****
Sedangkan di markas aiden dan alicia kini dengan tatapan sengit karna mereka akan berlatih pedang. Aiden sengaja membawah dua pedang untuk dirinya dan alicia tanding, pedang tersebut sengaja ia mintak di buat oleh orang orang nya.
Bukan berlatih tapi tantangan yang aiden layangkan untuk alicia, wanita angkuh, dingin yang sulit di dekati.
“ jangan nanggis jika kalah dari ku..” alicia yang berkata mengejek ketika ia sudah siap bertarung.
“ maka kita harus berbuat perjanjian, yang menang dapat apa dan yang kalah dapat apa?”
“ jika aku menang dari mu, maka aku akan naik di ranjang mu untuk menghanggatkan ranjang mu, jika aku kalah kau bisa mintak apapun yang kau mau.”
“ kau bener bener mesum tuan, apa yang ada di otak mu hanya itu tak ada lagi.”
“ apa kau takut?, aku hanya membuktikan bahwa aku hebat bisa naik di ranjang mu dan aku bukan lelaki lemah.”
“ baik deal, jika aku menang aku akan memintak uang $100.000.000..” wanita tak akan jauh dari uang.
sama dengan 1.4500.000.000 milyar
“ deal..” mereka berdua kini bersalaman.
Kini aiden dan alicia telah siap bertarung dengan berdiri saling berhadapan agak jauh menatap dengan tajam, sedangkan aiden hanya tersenyum.
Sring, sring, sring, suara kedua pedang tersebut terdengar begitu nyaring di taman markas besar tersebut, pertarungan yang awalnya pelan kini semakin memanas. Aiden dengan langkah maju terus menyerang alicia dengan pedangnya meskipun alicia bisa menangkis serangan dari laki laki di depan nya.
__ADS_1
Sring, sring , suara pedang tersebut kini terdengar begitu keras dengan mereka yang sudah mulai emosi masing masing, kini alicia yang mencoba menyerang aiden dengan pedang nya, alicia mengamati gerakan aiden yang ia pikir aiden begitu hebat di gerakan kaki nya yang cepat.
Pedang yang ditanggan aiden kini berada di bawah pedang yang di pengang oleh alicia, mereka dengan saling bertatapan dengan sinis. Aiden masih menahan pedangnya alicia dengan pedangnya.
“ kau sangat cantik ketika keringat membasahi wajahmu..” goda aiden pada alicia hingga membuat alicia melotot kearah nya.
“ kau pria ulung yang suka merayu wanita, aku rasa kau pandai mendapatkan wanita mana pun yang ingin kau bawah di ranjang mu..” jawab alicia dengan sinis.
“ mereka yang melempar dirinya pada ku, dan aku sungguh tak sabar naik di ranjangmu, apa permain ranjang mu juga hebat..” kata aiden dengan seksual membuatnya malu seketika.
Blush
Andai cuaca tak panas maka dapat dipastikan terlihat jelas rona merah pipi alicia bukan nya karna sinar matahari tapi juga rona merah karna godaan dari aiden.
Bugh
Alicia yang sedikit menendangnya kaki aiden membuat mereka sedikit berjauhan dan pedang mereka juga jauh. “ licik..” aiden yang bicara keras.
“ dalam pertandingan kadang kita harus bermain licik..” jawab alicia dengan santai, padahal ia sangat gugup.
Sring, sring, sring, sring suara pedang kini terdengar lagi dengan begitu keras, aiden yang meyerangnya balik dan alicia juga membalik menyerangnya. Kini tubuh alicia terjatuh di bangku yang menahan punggung nya, mata mereka saling bertatapan, alicia dengan sigap sedikit melempar pedangnya agar mereka berjauhan.
Kini alicia yang menyerang balik dan lagi lagi pedang aiden berada di bawah pedang alicia, aiden yang melihat alicia yang sudah hampir kehilangan tenanga nya, menginjak kaki alicia hingga ia merasakan kesakitan, menjatuhkan pedang alicia dan aiden menarik pergelangan tanggan alicia hingga ia tertarik kedepan dan aiden memutar badan alicia kebelakang hingga mereka seperti berpelukan dari belakang, tetapi pedang aiden berada tepat di leher alicia.
“ kau kalah nona, bahkan aku sudah menjatuhkan pedang mu dari tanggan mu..” kata aiden tepat berada di telingga alicia yang membuat nya menahan nafas.
“ kau licik..” jawab alicia dengan mengatur nafas nya.
“ bukan kah kau sendiri yang berkata bahwa dalam satu pertandingan kadang di perlukan ke licikan..” kata aiden dengan santai dan nafas nya begitu dekat dengan ceruk leher alicia, hingga membuat alicia merinding seketika.
“ lepaskan aku.”
Aiden melepaskan nya dan alicia berbalik arah dan mereka berhadapan dengan ujung pedang aiden berada di depan leher alicia, aiden tahu bahwa wanita ini tak akan muda kalah dari dia.
Alicia hanya menatap tajam dan tetap mengatur nafas nya yang masih terputus putus. “ aku akan menageh perjanjian kita nanti malam..” kata aiden dengan senyum.
“ kau hanya ingin tubuh ku ternyata..” ejek alicia.
__ADS_1
“ aku hanya ingin membuktikan bahwa aku hebat bisa menaiki ranjang mu sayang, ingat kau harus siap malam ini. Aku akan mengirimkan gaun yang pantas untuk mu nanti..” kata aiden dengan melempar pedangnya juga yang kemudian pergi.
“ arghhhhh..” teriakan alicia hanya di balas senyuman oleh aiden dan alicia yang masih kesal pada dirinya. Aiden bisa membayangkan bagaimana expresi wajah wanita nya yang ia incar dari pertama kali melihat nya.