
Sore ini tsya telah di ijinkan pulang dari rumah sakit, kaki nya sudah bisa di buat jalan meskipun ia tetap di larang tak boleh berjalan terlalu lama.
“ sayang kita ke apartemen atau kerumah..” tanyak tsya ketika mereka sudah duduk manis di dalam mobil.
“ tentu saja kerumah sayang, aku sudah membeli rumah untuk kita.”
“ jangan terlalu boros zen.”
“ itu tak boros sayang, kita harus memiliki rumah sendiri..” dan tsya tak mau menjawab nya karna ia malas harus berdebat dengan suami nya.
Kini mereka tiba di sebuah penthouse yang begitu mewah. Tsya melihat dari dalam jendela. “ ayo turun..” suara zen membuyarkan mengagumi sebuah penthouse yang begitu indah di mata nya. “ apa kamu menyukai taman nya?”
“ ini sunguh indah zen, taman yang hijau banyak bunga mawar, dan kolam renang yang menyejukan mata.”
“ kita lihat yang di dalam, jika kamu tak suka kamu bisa ganti interior yang kamu suka, aku tak terlalu paham dengan selera wanita..” kata zen dengan berjalan masuk kedalam rumah.
Penthouse yang begitu mewah, tatanan yang rapi, bauh yang harum, serta interior yang begitu pas untuk penthouse satu ini. Warna yang begitu cerah menjadikan setiap ruangan begitu terang. “ aku tak perlu mengubahnya sayang, aku yakin orang desain nya sudah paham betul dengan selera wanita, hingga membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama pada penthouse ini..” kata tsya dan zen hanya tersenyum.
“ sayang kenalkan dulu mereka asisten rumah kita.”
“ sejak kapan mereka berdiri di sini, aku tak melihat nya?”
“ kamu terlalu sibuk dengan pandangan rumah kita..” jawab zen dan para asisten hanya tersenyum menganggapi nyoya nya yang mengemas kan.
“ nyoya perkenalkan saya pak ali, saya kepala asisten di sini, jik anda membutuhkan sesuatu anda bisa memanggil saya..” kepala asisten yang mengenalkan diri dengan sedikit menunduk.
“ saya tsya, tapi bisa kah jangan panggil saya nyoya itu terlalu tua, kalian bisa panggil saya nona..” protes tsya ketika ia di pnggil nyoya oleh asisten nya.
“ maafkan saya nona..” jawab pak ali dan tsya hanya menganggukan kepalanya. “ nona dan tuan ingin makan apa buat makan malam?”
__ADS_1
“ apa saya, kami akan memakan nya..” jawab zen. “ kami akan membersihkan diri dulu pak ali..” sambungnya dan di angguki oleh para asisten dan mereka menunduk hingga mereka berdua masuk kedalam kamar.
Tsya berhenti sebentar dengan senyum tipis di wajahnya, berjalan menujuh balkon yang terbuka pintu nya, tsya berdiri di sana menatap ke bawah dengan air kolam renang yang begitu biru jika di lihat dari atas, langit yang juga indah banyak bintang bintang yang di atas.
Zen mendekat kearah tsya merengkuh nya dari arah belakangu menyandarkan dagunya dengan lembut pada pundak istrinya. “ kamu menyukai nya sayang?”
“ hem, ini indah, makasih zen..” jawab tsya dengan membalik menatap kearah suami nya.
Mata mereka saling bertatapan begitu lembut, memancarkan cinta dan ketulusan yang begitu dalam, zen menempelkan bibirnya pada bibir istrinya yang beberapah minggu ini ia rindukan.
Ciuman yang kecil dan lembut, dan pelukan eratnya zen membuat tsya merasa nyaman. Zen dengan gerakan tanggan nya meraih tengkuh tsya hingg ciuma* itu dalam. Decapan demi decapan terdengar ketika kedua bibir mereka bertemu dengan saling meluma* dengan lembut.
Ciuman yang lembut kini semakin menjadi panas, ciuman yang penuh dengan kerinduan yang begitu dalam, ciuman yang lembut kini menjadi ciuman yang menuntut lebih dari sekedar ciuman.
ketika ciuamn itu menyentuh leher tsya sebuah godaan asing menerpa tubuhnya dan tsya sedikit tersentak ketika benda keras menekan di bawah sana dan bibirnya tak sanggup untuk tak mendesah.
Zen kembali mencium bibi* istri yang membuat dirinya kecanduan, menghirup aroma bibi* nya yang begitu manis, zen mengendong tsya yang hanya bisa pasrah, merebahkan nya di atas ranjang dengan lembut, zen yang sudah berada di atas tubuh tsya tanpa menempel sepunuhnya.
“ sayang apa aku boleh melakukan nya?” sebuah pertanyakan ketika ciuman itu terlepas dan tentu saja mereka sudah tak memakai kain apapun di tubuh mereka. Tsya yang begitu malu hanya bisa menganggukan kepalanya.
Kaki yang masih sakit tak ia hiraukan, selagi tak sengaja di sentuh kembali, mereka terlalu lama menunda malam pertama, maka tsya tak akan tega menolak setiap sentuhan suami nya yang membuat nya menikmati nya.
“ kau sudah basah sayang..” ucapan pertama ketika tanggan zen mencoba mengoda area sensitif istrinya. “ pukul aku atau gigit aku jika aku menyakitimu..” sambungnya lagi dan di angguki oleh tsya.
Zen mencoba mengarahkan benda pusaka yang sudah mengeras dari tadi, satu dua kali ia gagal menerobos apa yang telah di jaga istrinya. Dengan hentakan sedikit kasar akhirnya benda pusaka itu kini bersarang pada tempat yang semestiny.
Kuku tsya menancap sempurna di punggung zen dan dapat di pastikan itu ada darah yang keluar, tsya menestekan air mata nya. zen melihat ada darah di sana yang keluar ketika pusaka nya menerobos nya.
__ADS_1
Zen melahap bibi* istrinya kembali dengan lembut, memompa pinggulnya dengan pelan sampai tsya merasa nyaman karna keberadaan benda asing di tubuhnya. Tsya hanya bisa mengeram di bawah kungkungan suami nya, mencengkram sprei, menikmati permainan yang di berikan suami nya.
Desahan demi desahan, racauan demi racauan keluar dari bibir mereka berdua, kamar itu semakin pengap karna ritual panas yang terjadi di ruangan itu. Semakin lama zen memaju mundurkan dengan begitu tempo yang cepat, tsya hanya bisa mendesa*, menyebut nama suami nya berulang kali.
“ aku mau tiba zen..” racau nya tsya yang kesekian kalinya.
“ aku juga..” suara zen dan mereka sama sama mengeliat dan mendesa* panjang menandakan lahar panas telah bersarang di rahim tsya dengan sempurna.
Mereka masih mengatur nafas mereka yang terengah engah karna permainan yang di ciptakan suami nya. “ terimah kasih sayang..” kata zen dengan mencium kening istrinya dan berbaring di sebelahnya.
“ kaki ku kebas zen..” kata yang terlontar dari tsya membuat zen sadar bahwa istri nya benar benar belom pulih.
“ sayang maafkan aku..” suara zen begitu panik ketika ia melihat perban di kaki istrinya.
“ hei, tak apa zen, itu sudah menjadi kewajiban. Bukan kah kita terlalu lama menunda nya..” tsya yang bicara begitu lembut membuat zen menatap ke wajah istrinya, mencari tahu apa istrinya menahan sakit.
“ terimah kasih sayang, terimah kasih..” ucapan berulang kali yang zen lontarkan membuat tsya tersenyum dari tadi.
Hari ini mereka berhasil melakukan apa yang telah mereka tunda berapah hari minggu ini, di tempat yang begitu indah, di saksikan langit yang akan menenggelamkan matahari nya, senja sore adalah saksi di mana mereka telah menyatuhkan tubuh mereka begitu dalam, bukan hanya cinta yang bersatuh tapi tubuh mereka telah bersatu.
___________
jempol kalian mana ya gaes
maaf gak bisa terlalu vulgar hehe
jangan lupa komen atau like
kasih vote juga hadiah ya ga pa pa
__ADS_1
makasih banyak sayang ku akhirnya terbobol juga gawangnya
hehehehehe