
Kini mereka sudah tiba di rumah mewah, zen yang segera membuka pintu mobil dan membawah tsya segera masuk kedalam rumah nya.
Semua pembantunya menyambut kedatangan tuan dan nyoya nya, aura panas nampaknya belom redah di antara mereka berdua.
" tinggalkan rumah sekarang, aku ingin hanya ada aku dan istri ku di rumah pak ali.." kata zen dengan dingin.
" baik tuan.." jawab pak ali dengan menunduk. Pak ali paham betul jika tuan nya marah, maka tak akan ada yang boleh berada di rumah.
Sedangkan malik dan beberapah orang menjaga di luar rumah, berjaga takut nyoya muda nya melarikan diri lagi.
Zen tetap mengandeng tanggan tsya membawah nya masuk kedalam kamar nya, kamar yang tsya rindukan, kamar yang menjadi saksi bisu hubungan mereka berdua, saksi desahan dan geraman mereka berdua, saksi air mata tsya, saksi gilanya zen mencari keberadaan istrinya.
Zen memeluk erat tubuh tsya ketika mereka sudah berada di dalam kamar.
" lepaskan zen.." tsya memberontak ketika zen mendekap nya dengan erat. " lepaskan aku.." bentak nya dan sedikit mendorong tubuh suaminya.
" aku suamu ana, aku berhak memeluk mu.." suara zen dengan dingin.
" kau mengatakan suami sekarang he.." senyum kecut nampak jelas di wajah tsya. " lalu di mana suami ku ketika aku menceritakan bahwa aku tak bisa memiliki anak ha, dia malah sedang bersama wanita lain, sarapan pagi serta naik satu mobil dengan nya, sekarang kau mengatakan kau suami ku zen.." emosi tsya sudah tak bisa di tahan lagi, ia terlalu lama tak meluapkan emosi nya.
" dia hanya clien ku ana, aku tak memiliki hubungan apapun dengan andin, aku memang menemani nya sarapan pagi selama beberapah minggu ini, tapi itu murni untuk urusan pekerjaan bukan aku ada main di belakangnya.." zen menjelaskan semua nya.
__ADS_1
" kau menemani nya sarapan pagi, sedangkan aku?, aku makan sendiri, siapa yang menjadi istri mu aku atau dia?, siapa yang kau utamakan aku atau dia zen, dan sekarang lihatlah kau mengatakan aku istri mu dan kau suami ku ketika kau lebih memikirkan perasan nya dia di banding aku.." tsya bicara dengan nada yang sudah meninggi.
" aku salah, aku minta maaf tapi aku berani bersumpah aku tak berselingkuh dengan nya sayang.." suara zen kini bisa turun.
" kau membuang ku zen, kau mencampahkan ku ketika aku berkata aku tak bisa hamil.." tsya seakan rapuh ketika mengatakan ia tak bisa hamil. " tapi sudah ku katakan bahwa aku akan menerimah nya jika kau menceraikan ku, bukan nya membuat berita murahan seperti ini.." sambungnya lagi dengan nada tinggi.
" aku tak membuang mu ana, aku hanya tak mampu menatap kesedihan di matamu, aku begadang setiap hari, mencari dokter kandungan yang terbaik untuk membantu kita menjelaskan tentang polip kandungan, briyan membantu ku setiap malam, jika kau tak percaya kau bisa tanyakan pada briyan, aku tak ada niatan untuk berselingkuh dari mu sayang, berfikir saja aku tak berani.." suara zen seakan tak bisa di dengar, ia begitu lembut.
" aku tak menikmati nya sayang, aku menghempaskan tanggan nya, sungguh. Orang yang mengambil gambar ku terlalu cepat mengupdate hingga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, kamu bisa lihat cctv nya, malik akan membawahkan untuk mu agar kamu lihat, tolong percaya pada ku."
" aku tetap ingin bercerai zen, ceraikan aku.." Kata kata tsya seakan menusuk ke jantung zen dengan tepat, jantung nya seakan berhenti, semua nya runtuh, rahang nya terkatup rapat.
" aku tak akan menceraikan mu, apapun yang terjadi, jadi jangan berfikir untuk cerai dari ku ana, karna itu tak akan terjadi.." suara zen dengan tegas.
" arghhhh…"
Prank
__ADS_1
Prank
Prank
Teriakan tsya dengan menbanting semua barang yang ada di sana tak terhindarkan lagi, tsya begitu marah, ia tak bisa mengontrol dirinya saat ini, ia meluapkan emosi nya yang terpendam selama satu minggu ini.
"Hiks, hiks, hiks kau jahat zen, kau dulu menjadikan ku taruhan dan aku memaafkan mu dan memberimu kesempatan, setelah kita menikah kau membuang ku begitu saja hiks hiks, kau jahat.." air mata nya sudah tak bisa di bendung lagi, amarah dan air mata kini tumpah menjadi satu.
Zen mendekat ke arah istrinya yang menbanting semua barang barang miliknya, mendekap istrinya dengan erat meskipun tsya memberontak, memukul dada nya dengan keras, mengingit lenggan zen dengan keras tapi zen tetap tak peduli dengan hal itu. Ia tetap membawah istrinya agar terdiam dalam dekapan eratan nya.
" kau jahat, aku benci dengan mu zen hiks hiks.." kata tsya dengan deraian air mata nya dalam dekapan suami nya.
" aku mencintai mu sayang.." zen membalas umpatan istrinya dengan ungkapan cinta nya.
" aku tak ingin berbagi suami dengan wanita lain hiks, jika kau ingin wanita sempurna maka ceraikan aku dulu hiks."
" ada anak atau tidak asal kita bersama hidup kita akan sempurna sayang,mana bisa jiwa ku yang satu hilang, aku akan ikut mati nanti jika jiwa ku menghilang, kau adalah jiwa ku, matahari ku yang selalu menerangi jalan gelap ku, dari dulu sampai sekarang aku mencintaimu tak pernah berubah, kita memiliki anak atau tidak tak masalah bagi ku, kita bisa mengapdopsi nya, kita bisa berbagai cara untuk mendapatkan seorang anak tanpa harus dari darah ku sayang, ku mohon jangan memintak ku untuk menceraikan mu, aku akan mati jika kamu benar benar pergi lagi dari ku.." perkataan lembut zen menghentikan amukan singga betina, tsya memahami setiap ucapan suaminya dengan tulus.
" aku minta maaf jika kamu mengira aku mengabaikan mu, aku hanya tak sanggup menatap mata mu yang selalu merasa kasihan pada ku karna aku tak bisa memiliki keturan darah daging ku, aku tak ada niatan untuk berselingkuh atau meninggalkan mu sayang, aku di ruang kerja mencari dokter yang terbaik untukmu, dan briyan yang membantu ku selama ini. Kau boleh menanyakan nya pada briyan, aku tak ada main wanita mana pun percayalah pada ku.." penjelasan panjang zen membuat tsya tetap terdiam, antara percaya atau tidak apa yang dikatan zen pada nya.
Zen tetap mendekap nya dengan erat meskipun singga nya sudah tak mengamuk lagi, singga betina nya terdiam tak mengatakan apapun, ia mencoba percaya dengan apa yang di katakan suaminya.
__ADS_1