
“ sayang ikut aku..” kata zen dengan sedikit menarik tanggan tsya.
Mereka berdua berjalan menujuh sebuah kamar milik dari zen. Aula hotel yang mewah ini adalah milik dari zen, yang waktu kemarin zen dan tsya hampir melakukan hal itu karna tsya sedang dalam keadan pengaruh obat.
“ ada apa dengan pipimu ini..” zen yang langsung bertanyak kepada tsya ketika mereka tiba di sebuah kamar mewah.
“ tak apa..” jawab singkat tsya.
“ bagaimana tak apa sayang, ini merah. Seperti bekas tamparan..” kata zen lagi dengan menyentuh pipi tsya dengan lembut. “ ada apa ana jangan sembunyikan apapun dari ku..” sambungnya lagi dengan suara yang masih khawatir.
“ hmm di tampar kak nanda.”
“ apa?, berani berani nya dia..” kata zen dengan murka.
Zen yang mengambil ponsel nya dan segera menghubungi malik yang juga berjaga di pintu masuk. “ malik hukum nanda dan berikan pad-“
Tut
“ sayang aku ga pa pa..” kata tsya ketika ia berhasil mematikan panggilan tersebut.
“ bagaimana ga pa pa sayang, lihat lah ini pipimu merah.”
“ sudahlah zen, aku sudah tahu ini bakal terjadi.”
Perkataan tsya membuat zen memeluk tsya dengan erat. “ auwhh..” suara rintihan kesakitan yang keluar dari bibir tsya membuat zen melepaskan pelukan nya.
“ apa ada yang sakit?, dia melukai mu di mana lagi?” suara zen yang penuh ke khawatiran.
“ punggung ku sangat sakit, aku yakin punggung ku memar. Tadi dia medorongku hingga punggung ku terbentur..” perkataan tsya membuat zen bener bener murka.
‘ akan ku balas lebih menyakitkan dari ini’ batin zen.
“ kita harus kedokter sayang untuk mengobati punggung mu atau aku aja yang mengobatinya..” goda zen.
__ADS_1
“ apa sih, ayo keluar..” ajak tsya dan di hentikan oleh zen yang memeluk tubuhnya dari arah belakang.
“maafkan aku karna aku kamu terluka dan terimah kasih sudah mau menerimah ku kembali, mungkin aku bukan laki laki yang sempurna dan aku masih banyak kekurangan nya tapi aku janji akan membuat mu bahagia dengan cara ku. aku tak akan membuat mu menetaskan air mata lagi. Jika hal itu terjadi kau bisa menghukum ku dengan pistol yang ada di kaki mu sekarang..” kata zen yang membuat tsya sedikit terkejut bahwa ia tahu ada sebuah pistol di kaki nya.
Tsya membalikan badan nya hingga mereka berhadapan. “ bagai- bagaimana bisa kamu tahu ada pistol di kaki ku..” tanyak tsya.
“ yang kamu tangkap dari ucapan ku hanya bagaimana aku tahu ada pistol di kaki mu sayang..” ucap zen dengan kecewa.
“ hahaha, dengarkan aku zen, aku dan kamu sekarang menjadi kita, apapun yang kamu rasakan aku akan merasakan juga, kamu terluka aku pun juga akan terluka, kamu sedih aku juga sedih, kamu bahagia aku juga bahagia. Kebahagian ku adalah jika kita selalu bersama.”
“ terkadang mungkin aku egois, aku suka marah, kita akan bertengkar tapi jangan pernah tinggalkan aku. Tetaplah di sisiku.”
“ aku mencintaimu zen adtya adam..” jawab tsya lagi dengan senyum.
Zen dengan segera mencium bibi* ranum tsya dengan lembut, dan tsya tentu saja membalas nya. ciuman cinta yang tulus membuat mereka tersenyum dalam ciuman tersebut. Saling berpelukan dengan hangat setelah ciuman mereka terlepas.
*******
“ mppppp..” suara nanda ketika orang orang malik membius nya dan dalam hitungan menit ia sudah tak sadar kan diri dan dengan segera mereka membawah nanda kedalam markas mereka. Nanda di dudukan di sebuah bangku yang tanggan dan kaki kini sudah di ikat dengan tali.
“ lepaskan aku siapa yang menyuruh kalian..” teriak nanda ketika ia tersadar dari pingsan nya. nanda tahu betul laki laki yang tengah berbicara dengan seseorang melalui telfon.
“ malik, kau malik kan lepaskan aku..” teriak nya lagi.
“ nona jangan berisik, aku bisa merobok mulut mu dengan tanggan ku jika kau tetap berisik seperti ini..” kata malik dengan tegas setelah ia menyelesaikan panggilan itu. Kata kata malik membuat nanda terdiam dan tak mengatakan apapun meskipun di wajahnya tampak jelas kemarahan.
Sedangkan di kamar mewah tersebut, ada wanita cantik yang sedang tertidur dengan lelap dalam dekapan laki laki yang semalam menjadikan nya tunangan nya. zen dengan pelan tadi menganggat panggilan dari malik yang mengatakan bahwa wanita itu sudah ada di markasnya.
Zen dengan masih mendekap wanitanya dengan erat seakan takut kehilangan. “ zen aku susah bernafas jika kamu memeluk ku dengan erat..” protes tsya membuat zen melepaskan nya.
“ apa aku membangunkan mu..” tanyak polos zen.
__ADS_1
“ bagaimana aku tak bangun jika aku susah bernafas sayang.”
“ mau aku beri nafas buatan hem..” goda zen yang membuat tsya malu seketika.
“ kamu terlalu mesu... mmmphhh..” kata kata tsya tak bisa di teruskan karna zen sudah menyegel bibirnya dengan bibir zen.
Saling meluma* , saling membalas ,saling mengoda membuat gairah mereka terbangun dari tidurnya. Mereka semalam hanya tidur dengan saling memeluk tanpa melakukan apapun, dan itu membuat zen harus tersiksa. Sedangkan pagi ini sesuatu yang bangun karna ciuman panjang mereka yang ciptakan.
Gairah panas menjalar ketubuh mereka masing masing, decapan decapan mereka ciptakan dari bibi* mereka yang bertemu, tanggan zen yang sudah tak lagi diam di tempat, tanggan nya masuk kedalam baju tidur yang tsya gunakan.
Menyentuh, mengoda, mengelus yang zen lakukan membuat tubuh tsya melemas seketika. Andai mereka berdiri dapat di pastikan bahwa ia akan jatuh di lantai.
Ciuman yang panjang, saling meluma* dengan lembut saling menyesap lida* saling menginggit pelan membuat sesuatu yang bawah di sana sudah mengeras dengan sempurna. Tanggan zen dengan pelan masuk ke dalam bra mengoda putin* yang juga sama sama mengeras. Merema* nya membuat sang pemilik mendesah dalam ciuman mereka.
“ aghhh.. zen..” kata tsya dengan pelan.
“ panggil nama ku sayang..” kata zen dengan lembut. Kini ciuman tersebut berpindah ke leher jenjang nya untuk meninggalkan beberapah tanda kepemilikan di sana.
“ sayang.. aggh.. say-“ tsya hanya bisa mendesah ketika mendapatkan perilaku zen yang membuat akal sehat nya hilang.
“ damn!! This is really driving me crazy honey..” umpat zen membuat tsya tertawa dengan malu.
( sial. Ini sungguh membuat ku gila sayang )
Zen mengesehkan benda pusakanya yang masih terlapisi celana dan pakian tsya juga masih lengkap yang bagian bawahnya, sedangkan yang bagian atas sudah terlepas dengan sempurna.
“ zen..” panggil tsya dengan suara yang serak.
“ sayang, please leave it like this, i can go crazy if we don’t take it out, I promised I won’t enter you before we get married..” kata zen dengan berada di atas tsya.
( sayang ku mohon biarkan seperti ini, aku bisa gila jika kita tak mengeluarkan nya, aku sudah berjanji tak akan memasukimu sebelom kita menikah)
tsya tahu betul jika zen sudah menahan hasrat nya dari kemarin, bahkan sudah lama hasrat itu. Tsya hanya menganggukan kepalanya dan zen dengan segera mencium kembali bibi* tsya dengan sedikit rakus seperti orang yang haus.
Zen dengan mengesekan, menekan benda keras tersebut ke bagian inti* tsya yang masih di lapisi kain dengan sempurna, hanya saling menekan saling mengoda membuat tubuh mereka bergetar dengan hebat.
__ADS_1
“ agrhhh say..ang..” desahan tsya dan zen yang hampir bersamaan menandakan sesuatu cairan yang sudah mereka keluarkan di dalam ****** ***** mereka masing masing.