Cinta Lama Berlabuh Kembali

Cinta Lama Berlabuh Kembali
Penantian


__ADS_3

Tsya dan zen tentu saja hari harinya bahagia, sejak di kabarkan dia hamil suaminya itu membatasi ruang geraknya, melarang nya masuk ke dalam perusahan, memindahkan kamar pribadinya yang di atas sekarang berada di bawah.


Zen tentu saja bahagia, karena ini adalah keinginan mereka, memiliki seorang bayi, seorang anak yang menyempurnakan keluarga mereka.


Zen tak masalah jika harus begadang setiap malam hanya untuk menggosok punggung istrinya yang terasa pegal setiap hari nya.


" hubby tidurlah. Kamu juga butuh istirahat.." tsya merasa kasihan pada suami nya yang harus terjaga hanya untuk menggosok punggungnya.


" tak apa sayang, aku tak lelah."


" hubby terima kasih untuk semuanya, kamu tak pernah marah marah jika aku ngidam yang aneh aneh, atau pun minta makan tengah malam, terima kasih semua nya.." tsya mengucapkan dengan menatap suaminya, dia ingat betul waktu itu usia kandungannya masih enma bulan, dia membAngun suaminya hanya karena ingin minum jus jambu di tengah malam.


" tak perlu berterima kasih sayang, seharusnya aku yang berterima kasih pada mu. Karena kamu sudah mau mengandung anak kita, lelah yang aku alami selama kamu hamil, juga tak sebanding dengan apa yang kamu alami. Kamu harus sudah berjalan, susah makan, tak bisa kemana pun, harus membawa anak kita yang berada di dalam perutmu, bangun tengah malam karena lapar, harus bolak balik ke kamar mandi. Semua yang aku lakukan tak sebanding dengan kamu sayang.." zen menangkap pipi istrinya lalu mencium kening istrinya.


" anak kita akan menjadi kesempurnaan rumah tangga kita hubby, aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan kandungan ku, meskipun aku harus terkurung selama sembilan bulan di dalam kamar, itu tak jadi masalah bagiku, karena aku juga menginginkan sosok bayi di tengah tengah kita.." Kebahagian mereka saat ini tak ada tandingan nya. Bahkan demi sang buah hati, zen rela berpuasa berbulan bulan hanya untuk ingin mempertahankan anak yang berada di perut istrinya.



Pagi ini entah kenapa tubuh tsya begitu lemas. Jika dilihat dari bulan pertama dan bulan sekarang tsya tak pernah merasakan lemas. Usia kandungan tsya saat ini sudah sembilan bulan. Perut yang membuncit menyulitkan dia untuk beraktifitas.


" sayang ada apa, kenapa kamu pucat sekali.." zen melihat istrinya yang masih berbaring di atas kasur.


" tak apa hubby, aku hanya merasa lelah."


" apa kita ke rumah sakit?"


" tidak perlu, ini biasa terjadi di trimester akhir."


" sungguh tak apa sayang, aku takut kau dan anak kita kenapa kenapa."


" tak apa anak kita kuat, peganglah.." tsta membawah tangan zen di perutnya yang membesar.


" anak papa, jangan nakal ya, jaga mama untuk papa oke. Papa akan bekerja, papa akan membawahkan mainan yang banyak untuk mu.." tsya tersenyum melihat suaminya yang selalu mengobrol dengan anak nya yang masih dalam perut.


Zen dengan berat hati meninggalkan istrinya, jika saja tak ada rapat di agency nya yang sangat mendesak, mungkin dia tak akan pergi kesana.


Zen dengan segera menghubungi semua pemegang saham untuk segera datang karna dia akan segera pulang jika semuanya selesai. Jonathan yang mungkin akan terlambat karena dia sedang patah hati di tinggalkan kekasihnya yang hampir sembilan bulan tak mau menemui nya. Bahkan semua akses dirinya datang ke tempat kekasih nya juga ditutup oleh orang tuanya.


" jonathan ayolah, kenapa kau ini. Aku akan segera pulang ketika semua nya sudah selesai.." zen mengomel pada sahabat nya itu karena dia hanya berbaring di sofa ruangan nya tanpa mau berdiri dari sana.

__ADS_1


" aku enggan ke rapat itu, bisa diwakilkan kris saja."


" astaga, kita akan bertemu dengan model baru yang akan tanda tangan kontrak jo."


" tanpa aku pun kalian bisa."


" astaga, ya sudah lah biar aku saja yang kesana.." zen akhirnya pergi dari sana.


Sebelum ia masuk kedalam ruangan besar yang sudah ditunggu model terkenal dan beberapa orang yang menyaksikan penandatangan kontrak tersebut, ponsel zen bergetar.


Zen merogoh saku nya dan melihat istrinya yang menghubunginya. " sayang ada apa?"


" hub...by ar..ghh peru..t ku sak..it, aku mengeluarkan banyak darah, cepatlah datang, aku berada di jalan mau kerumah sakit.." nagas zen sekana berhenti ketika mendengar suara rintihan kesakitan yang dialami istrinya.


Zen tentu saj berbalik arah dengan berlari, masuk kedalam ruangan nya dengan tergesa gesa, jonathan yang disana menatap bingung.


" jo kau harus datang kesana, aku mau kerumah sakit, istriku mau melahirkan.." ucapnya dengan panik, tangannya juga mengetik pesan pada bryan agar menunggu istrinya di depan lobby.


" cepatlah berangkat, biar aku yang menangani di sini."


Zen yang segera menuju parkiran, melajukan mobilnya dengan cepat, menerobos lampu merah untungnya tak ada kecelakan. Zen seraya jantungnya berdetak cepat ketika melihat mobil istrinya terparkir di sana.


Zen masuk dengan sedikit berlari, zen melihat alicia yang duduk disana menunggu dari luar.


" tsya di dalam, sedang ditangani dokter."


" briyan?"


" hem, dia juga bersama dokter ani."


Tak lama brian keluar. " bos masuklah, nona ingin kamu di san.." briyan mengatahkan nya dN zen segera masuk.


Zen melihat istrinya yang berbaring miring, dengan mengusap perutnya, tsya meringis menahan kesakitan pada perutnya.


" sayang.." sapa zen dengan mencium kening istrinya.


" hubby,uft.. Uft.." jawabnya dengan tersenyum.


` ya tuhan dia tetap tersenyum pada ku, meskipun dia merasakan kesakitan seperti itu` batin zen.

__ADS_1


" mana yang sakit?"


" tidak ada yang sakit hubby, uft..uft.." tsya mencoba mengatur nafasnya. Menahan rasa sakitnya dengan mencengkam tanggan suaminya.


" pukul aku, cakar aku, atau gigit aku ketika kamu merasakan kesakitan yang sangat, agar kita sama sama merasakan kesakitan. Meskipun semuanya tak sebanding dengan rasa sakit yang kamu dapatkan."



" ini kenikmatan tersendiri hubby, aku tak apa jika harus merasakan kesakitan seperti ini.." senyuman tulus nampak di wajah tsya.


Keringat keluar dari dahinya yang begitu banyak, cengkraman di tangan tsya kini semakin kuat, zen yakin tangannya berdarah. Tapi dia tak mengeluh sedikitpun.


Dokter ani dan beberapa perawat wanita datang, memeriksanya. " nyoya sepertinya akan segera melahirkan, kepalanya sudah nampak.." ucapan sang dokter membuat zen melotot ke arah nya.


" dokter apa harus keluar dari bawah sana?, kenapa tak di operasi saka.." zen bertanyak dengan katang membuat semuanya menatap ke arah zen.


" tuan kita akan menganjurkan untuk melahirkan secara normal, jika tak bisa maka kita akan secara operasi."


" uft..uft.. Dokter jangan hiraukan dia. Aku sudah tak tahan.. Arghh.." tsya sudah nampak muka menged**.


" bagus nona, terus pelan pekan, atur nafas nya, dorong sekaki kagi nona.." dokter ani memberikan pengarahan.


Tsya menged** dengan kuat, cengkraman ditangan zen juga kuat. Darah segar keluar dari pergelangan zen saat ini


" argh,, uft..uft..uft.. Arghhhh."


" sekali lagi nyoya."


" arghhhh….."


Oek.. Oek.. Oek


Setelah dengan sekuat tenaga akhirnya bayi mungil cantik itu keluar dengan tangisan yang meluluhkan hati siapa saja. Tsya mengatur nafasnya, zen terdiam, air matanya menetes, ia mencium kening istrinya dengan lama.


" terimakasih sayang terima kasih sudah mau melahirkannya dan mempertaruhkan nyawa mu untuk anak kita.." bisiknya.


" tuan tangan anda berdarah.." ucapan sang suster membuat mata tsya menatap suaminya.


" apa aku menyakiti tanganmu hubby.." tsya bertanya dengan mengatur nafasnya.

__ADS_1


" tak apa sayang, ini tak sebanding dengan rasa sakitmu." Zen menutupi tangannya yang sudah banyak darah keluar.


" tuan zen, nyoya tsya selamat anak anda perempuan, dia sehat dan sangat cantik. Saat ini putri anda masih dibersihkan.." dokter ani yang tau perjalanan mereka mendapatkan bayi, merasa sangat bahagia juga. Akhirnya mereka bisa memiliki bayi sendiri.


__ADS_2