
Pagi yang cerah tapi tak secerah hati ku. Aku bangun dari tidur ku ketika mendengar suara yang berisik dari bawah. Aku membuka mata dan segera bangun. Aku langsung turun dan memastikan siapa yang berdebat di pagi hari.
Terdengar semakin kencang. Sumber suara dari ruang keluarga. Aku tak langsung membuka pintu aku hanya mendengar kan apa yang mereka debatkan. Kak bean dan papa yang berdebat. Sedangkan mama hanya duduk di tengah* mereka.
" Aku tetap tidak setujuh kalau papa dan mama menjodohkan elmas dan sean ". Ucap kak bean
" Papa akan tetap menjodohkan mereka ". Suara papa yang tetap tegas.
" Paa ,, sean memiliki istri ,, papa jangan konyol menjadikan elmas istri keduanya ".
" Siapa yang jadi istri kedua,, dia akan berpisah dari istrinya ". Elak nya sang papa.
Aku hanya mendengarkan di balik pintu yang sedikit terbuka.
" Aku tetap tidak suka paa,, kemarin aku menyetujuh mereka di jodohkan ,, karna aku tak mengerti kalau sean memiliki istri,, maa jelaskan pada papa ".
" Jangan bawah* mama ,, mama hanya akan menurut pada elmas ,, jika elmas tak menyetujuhi maka mama akan mendukung elmas tapi jika elmas mau menunggu sean bercerai maka mama akan mendesak sean agar segera berpisah ". Ucap nya dengan santai.
" Mama tidak bisa seperti itu ". Ucap kak bean.
__ADS_1
" Papa tetap akan menjodohkan mereka tidak ada bantahan dari kamu maupun elmas ". Suara nya papa dan final nya mereka berdebat.
Aku yang dari tadi hanya mendengarkan nya tercengang atas ucapan sang papa. " Kenapa papa bersikukuh untuk menjodohkan ku ". Ucap ku dalam hati.
Aku masuk tanpa mengetuk pintu dan mereka semua terkejut ketika aku berjalan masuk.
" Nah,, kebetulan elmas di sini ,, kita bisa menanyakan padanya langsung". Ucap nya kak bean. " Katakan el bahwa kamu tak menyetujui perjodohkan kalian ". Kak bean menayakan hal itu.
" Cukup bean ". Bentak papa. " Jangan tanyak kan hal yang aneh".
" Gak ada yang aneh paa,, elmas harus tau dan elmas berhak menentukan pilihannya ". Dengan nada tak kalah tinggi
Mama berdiri menghampiri ku dan mengajak ku duduk. " Tenanglah sayang kamu pasti paham tentang mereka berdua".
" Elmas katakan bahwa kamu tak menyetujuhi perjodohkan kalian". Ujar kak bean
" El,, kamu masih memiliki janji dengan papa bahwa papa akan memberikan syarat dan kamu harus menyetujuhinya ".
Aku menatap mereka berdua secara bergantian. Aku hembuskan nafas ku dengan pelan.
__ADS_1
" Kak bean tenang lah,, aku bisa mengatasi nya ". Ucap ku sebelom melanjukan lagi.
" Papa aku tak lupa dengan itu semua,, aku akan menerimah perjodohan itu asal sean sudah benar* resmi bercerai ". Aku menghentikan ucap an ku. " Aku tak akan menerimah dia jadi calon suami ataupun kekasih jika dia belom jadi duda ,, itu keputusan ku ". Aku berbicara tegas lalu pergi.
Aku keluar dari ruangan itu,, menutup pintu dengan sedikit membanting. Aku benar* lelah dengan ini semua. Aku masuk kedalam kamar dan segara mandi. Selesa mandi dan ganti baju. Memakai baju putih dan menguncir rambut memakai sedikit polesan make up aku keluar dari kamar.
Aku berjalan ke arah kamar mama untuk meminta ijin keluar rumah.sebelom tiba di kamar nya. Aku mendengar suara bel pintu di tekan seseorang. Akhirnya Aku berjalan membuka pintu.
" kamu ngapain di sini ". Tanyak ku.
" Aku ingin bertemu om richand,, tadi om richand menghubungi ku, ada hal yang ingin beliau bicarakan ". Ucapnya sambil tersenyum.
" Kamu tak ajak masuk tamu kita el ". Suara papa dari belakang punggung ku.
Aku menoleh ke arah papa. " Baiklah karna sudah ada papa,, aku harus pergi ,, karna aku harus ke butik , aku pamit paa ".
" Hem ,, hati* sayang dan kamu sean masuklah ,, ada yang ingin om bahas ".
__ADS_1
Aku pun pergi dan masuk kedalam mobil. Dan melajukan mobil dengan pelan.